
Raja Ramadhana tersenyum senang melihat Pram dan Kharon antusias ingin mendengar cerita darinya. Dalam hatinya, sang raja sempat berpikir akan sangat menyenangkan jika memiliki anak-anak yang seperti Pram dan Kharon. Tentu rasa sedih tidak akan sempat datang meski istri tersayang telah pergi.
Angin di tepi pantai Laguna Fanafuti bertiup kencang. Daun-daun kelapa bergoyang-goyang menambah sejuk. Sebelum melanjutkan ceritanya, Raja Ramadhana mempersilakan Pram dan Kharon untuk menyantap oleh-oleh yang dibuat sendiri oleh Philemon.
“Jadi, tadi tuan Philemon ke sini? Sayang sekali aku tak sempat menyapanya.” kata Pram penuh sesal. Ia memang merasa sangat berutang budi pada Philemon. Itu sebabnya kehadiran Philemon menjadi hal yang membahagiakan baginya.
“Apa ini?” tanya Pram menerima buntelan dari sang raja.
“Bukalah.”
Saat buntelan terbuka, Pram terkejut melihat dua bungkus bubur kacang hijau dipadu ketan hitam diselimuti santan kental ada di hadapannya. Ia tak menyangka akan bisa menyantap makanan favoritnya itu. Maka, tak butuh waktu lama baginya untuk menghabiskan oleh-oleh istimewa itu.
“Ambilah.” Kharon menyodorkan bubur kacang hijau miliknya.
Pram hanya memandang Kharon tanpa menyambut pemberiannya.
“Heem, ayo makan. Habiskan.” Kharon menyodorkan lagi oleh-oleh yang diberikan Philemon pada Pram dengan tersenyum.
Kali ini Pram menerimanya dengan semangat dan dengan cepat menghabiskannya.
“Sudah habis. Sekarang Anda bisa mulai bercerita lagi.”
Kharon menggeleng melihat Pram yang jelas-jelas berusaha menutupi kerakusannya dengan dalih ingin segera mendengar cerita Raja Ramadhana.
“Kalian berdua memiliki ikatan yang kuat karena terhubung oleh seorang yang sama-sama penting bagi kalian berdua. Apa kalian kenal Mahanta Sadawira?”
Pram melotot mendengar Raja Ramadhana menyebut nama kakek buyutnya. Sedangkan Kharon, ingatannya kembali ke masa lalunya saat sang tuan masih hidup. Teringat pada semua kebaikan dan ketulusan tuannya.
“Seperti yang paduka ketahui, itu adalah nama tuan hamba sebelumnya.” jawab Kharon lirih menahan rindu.
“Apa?” Pram berteriak sambil menoleh ke arah Kharon.
“Bisakah kau pelankan suaramu?” kata Kharon sedikit dongkol karena suara Pram yang entah ke berapa kali telah mengejutkannya.
“O, maaf, maaf. Aku hanya terkejut.”
“Tapi kau tak perlu membuat orang lain ikut terkejut.”
“Raja, itu adalah nama kakek buyutku.”
“Apa?” kali ini Kharon yang berteriak. Membuat Pram refleks menyumpal telinganya.
“Maaf, maaf. Aku sangat terkejut mendengarnya.” Kharon meringis untuk mengurangi kedongkolan di wajah Pram. Sedangkan Raja Ramadhana berusaha keras agar tawanya tidak semakin keras.
“Oh, kalian sungguh lucu. Selama bersama kalian, entah berapa kali aku sampai mengeluarkan air mata karena tertawa.”
“Apa yang kau katakan itu benar, Pram?” Kharon masih sulit menerima kebenaran yang jelas nyata itu.
“Ya, tentu saja. Aku memang tidak pernah melihat wajahnya karena ayah selalu melarang kami untuk mengunjungi kakek buyut di desa, entah mengapa. Tapi aku masih ingat jelas, ibu menyebut nama itu sebagai kakek buyutku. Kakek buyut dari ibu. Jadi, kau khodam dari kakek buyutku?”
“Iya, Pram. Kakek buyutmu adalah tuanku yang baik hati yang sering aku ceritakan padamu.
Jin yang menjadi khodam seseorang biasanya memang akan menempel pada keturunan dari orang tersebut saat sudah meninggal, entah ke anak, ke cucu, atau bisa juga ke kerabat terdekat, seperti keponakan, sepupu, dan lain sebagainya asalkan ada kecocokan, terdapat kesamaan energi. Demikian pula yang terjadi pada Pram yang memiliki Kharon sebagai khodamnya, karena Kharon adalah khodam dari kakek buyutnya.
“Aku siluman, Pram. Kami bangsa siluman memiliki hitungan usia sendiri, tidak sama sepertimu ataupun jin.”
“Begitu, ya.” Pram mengangguk-ngangguk keheranan.
“Raja Ramadhana dan keluarganyalah yang menerimaku saat aku kebingungan karena ditinggal oleh tuan Sadawira. Aku tidak menempel pada cucu kesayangan tuanku Sadawira yang selalu beliau ceritakan padaku, nyonya Arimbi....”
“Hei, itu nama ibuku.” teriak Pram memotong pembicaraan Kharon dan lagi-lagi berhasil membuat sang khodam terkejut.
“Pram, dengarkan dulu ceritaku sampai selesai.”
Pram meringis dan Raja Ramadhana kembali menahan tawa.
“Anak semata wayang tuanku Sadawira telah lebih dulu meninggal bersama istrinya dalam sebuah kecelakaan. Dan nyonya Arimbi juga meninggal di waktu yang sama dengan waktu meninggalnya tuanku Sadawira. Aku merasa tak cocok pada energi dari semua kerabat tuanku Sadawira sehingga aku tidak mendampingi siapapun. Saat aku lontang-lantung kebingungan dengan luka parah pasca penyerangan jin hitam, tuan Philemon mengajakku pulang ke rumahnya. Karena tidak biasa sendiri dan masih diliputi duka atas kematian tuanku Sadawira, aku pun turut pulang. Selain itu, aku juga menyukai aura tuan Philemon. Saat itu aku tak tahu kalau tuan Philemon adalah putra dari rajaku yang agung, Raja Ramadhana.” kata Kharon melanjutkan ceritanya.
“Lalu, mengapa kau tak ikut tuan Philemon saja. Mengapa kau malah jadi khodamku?”
“Kami sesama penghuni negeri Shaman tidak bisa menjadi khodam satu sama lain. Aku sudah terbiasa hidup mendampingi manusia, bukan sebagai abdi dalem, pengawal, dan sejenisnya di kalangan para jin. Lagipula, aku pernah bercerita padamu soal wajahmu yang aku lihat di akhir bagian saat aku belajar ilmu ilusi. Dan tuanku Sadawira mengatakan bahwa itu adalah calon tuanku. Jadi, tak lama tinggal di kerajaan, aku memutuskan untuk sementara hidup mandiri sebagai jin bebas sambil terus mencari keberadaanmu.” kata Kharon panjang lebar menjelaskan sejarah hidupnya.
“Paduka, maafkan hamba karena telah berbicara kurang santun.” ucap Kharon mengingat semua kata-kata yang barusan ia katakan yang terlalu akrab karena terbawa suasana.
“Halaaah, pakai minta maaf segala. Kau kan memang tidak pernah santun. Sudahlah, biasa saja, tidak usah sok santun dan berbicara sebagaimana dirimu yang normal.”
Kharon ingin sekali menyumpal mulut Pram yang lagi-lagi membuatnya terlihat tidak baik di depan Raja Ramadhana.
“Jika berbicara pada orang yang santun, tentu saja aku akan santun. Begitu juga sebaliknya.” kata Kharon berniat membuat Pram tersinggung.
“Huuuuh, kau ini. Sekali saja biarkan aku menang tanpa balasan.”
Suasana menjadi riuh dengan tawa Pram, Kharon, dan Raja Ramadhana. Sang raja Shaman itu bersyukur karena di tengah kesusahan yang telah menimpanya, ia masih memiliki kesempatan untuk berbahagia bersama Pram dan Kharon.
“Tapi tunggu sebentar. Mengapa kau datang untuk menjadi khodamku justru saat aku sudah mati. Katamu kau biasa mendampingi manusia. Lha, kau malah datang saat aku sudah pensiun jadi manusia.”
“Kau sekarang masih tetap manusia Pram, manusia yang sudah mati.” Kharon berusaha mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin menyinggung perasaan Raja Ramadhana.
“Iya, yang dikatakan Pram benar, mengapa kau menghampiri Pram saat dia sudah tidak hidup lagi? Bukankah seharusnya kau langsung mendampingi Pram setelah Sadiwara meninggal? Dan bukankah seharusnya kau pergi mencari tuan baru yang masih ada pertalian darah dengan Pram saat Pram sudah tiada? Mengapa kau justru mengikuti Pram hingga sekarang?” Raja Ramadhana mengernyitkan dahinya karena merasa janggal dengan yang terjadi.
“Itu, itu, itu karena saat Pram masih hidup ada kekuatan hitam yang menghalangi hamba untuk bisa mendekat. Jadi saat hamba menyadari bahwa Pram telah terbebas dari kekuatan itu ketika dia telah meninggal, hamba langsung mendekat saat ada kesempatan. Terlebih hamba tahu, bahwa Pram sedang mengalami kesulitan di kehidupan barunya.” Kharon sedikit terbata menjawab pertanyaan sang raja. Ia menata kalimatnya agar tidak menyinggung karena ia sadar kalau dirinya tak bisa berbohong.
“Kekuatan hitam? Kekuatan hitam apa maksudnya?” Pram semakin bingung mendengar penjelasan Kharon.
“Apa itu ulah Bemius?” kata sang raja lirih, terdengar tengah menahan perih yang mendalam.
Kharon menunduk dan berusaha menahan mulutnya agar tidak mengatakan yang sebenarnya. Tapi toh akhirnya ia mengangguk juga secara otomatis.
“Maafkan aku Pram untuk semuanya.” suara Raja Ramadhana semakin lirih. Ia menatap Pram dengan berkaca-kaca karena membayangkan betapa susah gadis itu karena ulah putra pertamannya.
“Kenapa raja minta maaf padaku?” tanya Pram semakin bingung karena ia tidak tahu hubungan antara Raja Ramadhana dengan Bemius. Pertanyaan Pram juga membuat Kharon semakin menunduk, tidak ingin menyaksikan sang raja semakin sedih.
“Karena Bemius adalah kakak Philemon, putra pertamaku.”
Mulut Pram spontan terbuka. Ia lantas segera menggerakkan kedua tangannya untuk menutupi mulutnya.