After Death

After Death
Bab 120: Kemalangan Demi Kemalangan II



Ghozie mondar-mandir di depan ruang UGD. Ia mengingat-ingat apa yang menyebabkan ayahnya muntah darah. Tidak hanya itu, ayahnya juga tidak mengatakan apapun. Ia sangat berharap ayahnya akan marah seperti biasanya waktu itu, bahkan ia akan lebih senang jika Suwignyo memukulinya ketimbang tergolek lemas tak berdaya.


Ghozie memegangi perutnya, ia baru ingat kalau belum ada sesuatu apapun yang mengganjal perutnya malam ini. Sedangkan jam di tangannya sudah menunjuk pukul 23.05. Ghozie kemudian berlari keluar rumah sakit untuk mencari makan. Ia berjanji akan memakan apapun yang ia temui tanpa pilih-pilih. Dan sebuah gerobak penjual mie datang. Ia memesan seporsi mie kuah dan langsung menghabiskannya dengan sangat lahap. Ghozie tampak langsung menelan mie tersebut tanpa dikunyah. Membuat penjualnya melongo dan mengira bahwa pembelinya itu sudah tidak makan selama berhari-hari. Padahal Ghozie bertingkah demikian hanya agar bisa segera kembali menunggui ayahnya keluar dari ruang UGD. Ia sama sekali tak menghiraukan rasa mie yang sedang ia makan.


“Halo? Ya, benar. Apa?” Ghozie yang tengah minum langsung terbatuk mendengar berita yang baru ia peroleh.


Malam itu, Ghozie menerima telepon dari pihak kepolisian yang mengabarkan bahwa terjadi penjarahan di kantor milik perusahaannya. Para pencuri yang berhasil kabur melukai dua satpam yang mencoba untuk menangkap mereka. Ghozie diminta segera ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.


Ghozie sangat bingung. Ia masih harus tetap di rumah sakit karena ayahnya belum juga keluar dari ruang UGD. Tapi ia juga harus segera ke kantor polisi, dan memastikan satpam-satpamnya telah dirawat, juga memastikan aset apa saja yang telah dicuri. Belum lagi ia juga mesti memastikan bahwa adiknya memang telah dimakamkan dengan layak.


Dan bruuuuk, Ghozie pingsan. Penjual mie berteriak minta tolong dan Ghozie dilarikan ke rumah sakit.


***


Ghozie memegangi kepalanya. Beberapa kali ia nyengir kesakitan. Meski begitu tubuhnya bersikeras ingin duduk.


“Berbaringlah, Pak. Anda masih sangat lemah.” kata seorang perempuan berbaju serba putih.


“Ti..tidak bisa, Sus. Ayahku su..dah me...nunggu, adikku ju..ga telah menungguku di pe...ma..ka..man. Lalu polisi, iya, po...lisi juga. Se...mua o..rang sedang me...nungguku.” Ghozie tertatih menyelesaikan kalimatnya dan kembali pingsan.


Perawat Ana memandangi lelaki yang sedang tidak berdaya di depannya. Ia menebak bahwa usia lelaki itu masih sangat muda. Bisa jadi dia belum menikah, pikir suster Ana. Tapi wajahnya terlihat sangat lelah dan tertekan.


Perempuan itu memandangi Ghozie lekat-lekat. Lelaki macam apa yang sedang berbaring di depannya itu. Tampak bahwa ada begitu banyak masalah yang sedang dipikul. Mengapa masalah muncul dalam hidupnya secara bersamaan. Kira-kira seperti itulah batin suster Ana.


“Anda sudah sadar?” kata suster Ana sambil tersenyum mendapati Ghozie membuka matanya.


“Aaahh, ada di mana aku ini?” Ghozie nyengir kembali dan mengerutkan dahinya. Tangannya juga tidak beranjak dari kepala.


“Anda masih di rumah sakit. Anda pingsan di jalan tadi. Orang-orang yang mengantarkan Anda ke mari.”


“Di mana ayahku?” Ghozie melotot dan bertanya dengan nada agak tinggi. Lalu ia kembali tampak kesakitan memegangi kepalanya.


“Ayah? Masyarakat sekitar menemukan Anda pingsan seorang diri.”


“Apa ini rumah sakit Bhakti Dharma?”


“Ya. Benar.”


“Ayahku sedang dirawat di UGD.”


“O, ya? Siapa dan sakit apa dia?”


“Suwignyo, pasien muntah darah yang datang malam tadi.”


“Tunggu sebentar. Tetaplah berbaring. Saya akan mencari informasi tentang Bapak Suwignyo untuk Anda. Jangan pergi ke mana-mana ataupun berusaha untuk duduk. Oke? Tetaplah berbaring.” suster Ana hendak berjalan keluar ruangan. Tapi langkahnya tertahan karena Ghozie memegang tangannya.


“Terima kasih, sus.” Ghozie tersenyum atas bantuan yang diberikan suster Ana. Ia sangat bersyukur karena ada yang menolongnya saat tubuhnya sudah meminta untuk beristirahat.


Ghozie memandangi selang yang menempel di tangannya. Ia tersenyum sinis karena merasa sangat konyol. Di saat semua sedang membutuhkannya, ia justru tidur santai di rumah sakit, begitu benak Ghozie. Ia benar-benar merasa sangat lemah dan tidak berguna.


“Halo, dok. Maafkan aku karena menelpon sepagi ini. Apa semua berjalan lancar?” Ghozie berhenti berbicara dan menyimak jawaban dokter Hermawan. Tangan kanannya memegang ponsel dan tangan kirinya memegang kepala.


“Begitu ya. Terima kasih, dok. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika tidak ada dokter yang membantuku.... O, ayah? Aku masih belum tahu dok. Hehe, aku baru sadar dari pingsan....O, tidak dokter, tidak perlu. Aku sudah baik-baik saja. Di sini juga ada seorang perawat yang membantuku....Ya, aku akan menelpon jika membutuhkan bantuan dokter lagi. Terima kasih banyak, dok.” Ghozie mangguk-mangguk dan menggeleng-geleng saat bercakap-cakap dengan dokter Hermawan.


Ia meletakkan ponsel di atas meja dengan perasaan yang lebih lega karena tahu bahwa mayat Candy telah dimakamkan dengan baik di samping makam ibunya. Ia lantas memejamkan mata sejenak. Beban yang berkurang membuat rasa kantuknya datang.


Tuuuut.....tuuuut....tuuuuut....


Nomor hp kedua satpamnya tidak dapat dihubungi. Mungkin keluarga mereka sedang sibuk hingga tak sempat mengecas hp yang kehabisan daya, atau bisa juga ponsel satpam-satpamnya itu turut digondol maling, Ghozie menebak-nebak dalam pikirannya.


“Apa Anda tidak tidur?” suara suster Ana mengagetkan Ghozie.


Ghozie tersenyum dan menggeleng.


“Aku ingin memastikan satpam-satpam di kantorku sudah dirawat dengan baik. Tapi, aku belum bisa menghubungi mereka. Aku akan menelpon polisi nanti.” kata Ghozie sambil tanpa berhenti memegangi kepalanya. Ia heran mengapa kepalanya sering pening sejak bangun dari pingsan.


“Saya tidak tahu apa yang terjadi dalam hidup Anda. Tapi saya turut prihatin atas semua kesulitan-kesulitan itu.”


“Terima kasih, suster....”


“Ana.”


“Suster Ana. Terima kasih juga telah mencari informasi tentang ayahku. Jadi, bagaimana keadaan ayahku sekarang. Apa dia masih di UGD?”


“Berbaringlah, jangan memaksakan diri untuk duduk dulu. Bapak Suwignyo telah melewati masa kritisnya. Beliau sekarang berada di ruang VIP kamar Mentari. Jika diizinkan dokter, nanti akan saya antar Anda ke sana. Sekarang saya akan panggilkan dokter untuk memeriksa Anda, sekaligus meminta izin untuk bisa menengok ayah Anda.”


Suster Ana berlalu meninggalkan Ghozie sendiri lagi. Ghozie ingin sekali menelpon polisi dan menanyakan kasus pencurian di kantornya. Tapi ia masih merasa sangat lemas. Ghozie menutup mata sesaat, lalu terbuka lagi karena mendengar suara langkah kaki mendekat.


“Tidurlah saja. Saya akan memeriksa kondisi Anda sekarang.” kata seorang dokter muda yang mengenakan kaca mata.


Ghozie mencoba memejamkan matanya kembali. Dan terbangun lagi saat dokter itu pergi meninggalkannya bersama suster Ana.


“Tensi Anda sangat rendah. Bahkan harusnya Anda masih pingsan saat ini. Dokter belum mengizinkan Anda ke mana-mana. Tapi kalau Anda mau, saya bisa meminta pihak rumah sakit agar Anda dirawat di kamar yang sama dengan Bapak Suwignyo.”


Ghozie mengangguk pelan. Ia merasa kepalanya pening dan berputar-putar saat melakukan sedikit saja gerakan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halo kakak-kakak readers, mohon izin untuk promosi novel author di sini ya… Skip aja kalau kurang berkenan hehe,


 


Well selain di akun Banin SN, author juga punya akun lain yaitu Hashirama Senju. Nah berikut novel-novel author yang barangkali kakak-kakak berminat juga untuk membacanya:


1.       Pendekar Pedang Naga, novel ini ada di akun Hashirama Senju. Novel genre pendekar/wuxia yang pertama saya tulis.


2.       After Death, novel yang sedang kalian baca ini hehe.


3.       Kumpulan Cerpen Menang Lomba, tulisan ini ada di akun Hashirama Senju. Bukan jenis novel tetapi kumpulan cerpen. Di sana saya memposting kumpulan cerpen saya yang pernah memenangkan lomba baik skala lokal maupun Nasional, ada juga beberapa cerpen yang pernah dimuat di media. Silakan baca-baca untuk sekadar menambah referensi kakak-kakak sekalian.


4.       Menikah karena Taruhan, novel ini ada di akun Banin SN. Ini adalah novel bergenre Adult Romance yang pertama saya buat, meskipun bergenre Adult Romance, saya berencana memberikan konflik-konflik rumit atau informasi-informasi yang bermanfaat yang saya rangkum di dalam sana.


5.       Pacar Kecilku, novel ini ada di akun Banin SN. Sementara novel ini Hiatus dulu karena butuh banyak bacaan untuk melanjutkannya. Seperti sebagaimana yang saya tulis di Bulrb, novel ini mengangkat tema tentang Mental illness dan beberapa pengetahuan tentang ilmu psikologi lainnya, jadi saya butuh banyak bacaan lagi untuk melanjutkannya (dan sekarang belum ada waktu hehe)


 


Well, itu dia tulisan-tulisan saya yang ada di platform Noveltoon/Mangatoon. Mohon maaf sekali karena promosi panjang lebar di sini^^