After Death

After Death
Bab 110: Mantra Mayat Tidur



Philemon langsung melepaskan tangan Raja Ramadhana dan berlutut sembari menelangkupkan kedua tangannya di depan wajah, seperti orang yang sedang mohon ampun.


"Jika ayah tidak memaafkanku karena aku tak mengantar ayah ke kerajaan Shaman, aku tak peduli. Bahkan kalau ayah tidak menganggapku anak lagi, aku tak masalah. Bagiku yang terpenting adalah keselamatan ayah. Aku selalu menutup malam dengan penyesalan yang tidak berhenti karena membiarkan ibu meninggal dengan tragis di tangan kakak. Aku tidak mau menyerahkan nyawa ayah pada Bemius. Jika dia bisa membunuh ibu yang dia sayangi dengan kejam, aku tak bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan untuk membunuh ayah."


Pram berjalan mendekati Raja Ramadhana yang berdiri beberapa meter dari tempatnya duduk. Ia meraih dan menggenggam tangan sang raja.


"Raja, cobalah posisikan diri Anda sebagai tuan. Jika aku di posisi yang sama dengan tuan Philemon, aku pasti akan melakukan hal yang sama pula."


"Tapi Pram, kau tidak mengerti. Ini soal tanggung jawab dan amanah. Raja macam apa yang melarikan diri saat rakyatnya susah? Dan mungkin mereka kini berharap aku datang untuk menyelamatkan mereka."


Pram menghapus air mata Raja Ramadhana sambil menjinjit kepayahan karena selisih tinggi badan yang cukup jauh. Lalu memeluknya sebagai seorang anak.


"Aku yakin mereka tidak ingin melihat rajanya merasakan sakit yang mereka rasakan. Mungkin mereka memang berharap Anda datang menyelamatkan, tapi jika yang terjadi justru sebaliknya. Justru Anda turut ditahan dan disiksa, pasti mereka mengutuki diri sendiri dan menyesal telah mengharapkan pertolongan Anda. Apa Anda ingin melihat mereka sedih dan merasa bersalah dalam keadaan yang sudah sangat menderita?"


Raja Ramadhana menggeleng dan memeluk Pram erat layaknya seorang ayah pada putrinya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan, Pram?"


"Ikutilah apa yang dikatakan tuan Philemon. Aku yakin tuan juga tidak ingin melihat penduduk Shaman terus menderita, aku yakin sama seperti Anda, tuan Philemon juga ingin menolong penduduk Shaman. Tapi dengan keadaan kita sekarang, hanya ada satu hasil akhir yang sudah pasti akan terjadi, yaitu kekalahan. Dan jika sekali saja kita kalah dari Bemius, aku yakin tidak akan ada kesempatan untuk menyelamatkan penduduk Shaman."


"Apa sungguh begitu?"


"Iya, raja. Begitulah yang akan terjadi."


Raja Ramadhana mendekati putranya yang masih berlutut dan menunduk. Ia mengusap rambut Philemon dengan lembut dan memintanya untuk berdiri. Ayah dan anak itupun berpelukan menghapus luka yang mereka pikul selama ini. Dan Pram mengajak Kharon untuk turut serta dalam pelukan itu. Philemon senang karena Pram membantunya menjelaskan pada ayahnya tentang maksud yang ia inginkan.


"Ada apa ini?" suara Dante yang datang tiba-tiba membuat semua orang terkejut dan menoleh ke arahnya. Kharon, Pram, Raja Ramadhana, dan Philemon pun refleks secara bersamaan membaca mantra "Mayat Tidur" dan meniupkannya ke arah Dante.


Bruuukk!!


Dan petugas kematian dari Cato yang baru saja terbangun itupun seketika ambruk tertidur lagi.


***


Philemon mengeluarkan beberapa lembar daun yang berbeda jenis dan menumbuknya hingga lembut.


"Ini ramuan yang bisa kami gunakan untuk membuat atmosfer dan energi di Anastasia Cato terasa seperti di Shaman. Jadi, energi kami yang bukan penduduk asli Cato tidak terkuras sia-sia."


"Tuan Philemon memang pandai, bisa membuat aneka ramuan yang sangat bermanfaat". Pujian dari Pram itu langsung membuat wajah Philemon merah.


" Nah, ini berikan pada Kharon."


"Tidak perlu tuan. Tubuh Kharon akan menyatu dengan tubuhku."


"Menyatu?" kata Philemon terkejut.


"Maksudku, dia akan merasuk ke dalam tubuhku. Jadi dia tidak tampak dari luar. Dengan begitu, dia juga akan lebih bisa menjagaku, dan berhati-hati jika ada sesuatu yang mencurigakan."


"O, begitu. Baguslah, aku bisa lebih tenang jika Kharon selalu ada bersamamu."


"Tuan Philemon tidak perlu khawatir, dia menjagaku dengan baik. Meskipun dia sangat kasar dan sering membuatku jengkel, aku lebih tenang dan berani karena ada dia dalam tubuhku."


Kharon yang sedari tadi mendengar dialog antara Pram dan Philemon hanya berani melihat dari balik gubuk. Ia tidak mau mengganggu. Terlebih, Kharon merasa bahwa tuan Philemon memiliki rasa pada Pram.


Kharon terkadang mengutuki dirinya sendiri karena terlalu peka terhadap rasa, rasa apapun. Kecuali rasa cinta Pram padanya karena ia terlalu fokus pada keselamatan gadis itu. Karena Kharon seringkali tahu perasaan orang yang sebenarnya, ia menjadi tidak bisa pura-pura tidak mengerti. Padahal ia ingin sekali tidak peduli pada rasa cinta milik siapapun kepada Pram, kecuali rasa cinta miliknya sendiri.


***


Dante telah bangun. Ia memegangi kepalanya yang terasa pening karena tiba-tiba terjatuh saat kesadarannya belum kembali seutuhnya. Mantra yang ia terima otomatis membuat dirinya lupa terhadap apa yang telah terjadi. Namun, yang membuat semua orang heran adalah, Dante jelas-jelas terkena mantra mayat tidur dari semua orang, tapi ia bisa bangun di pagi hari. Itu artinya ada penangkal sihir di tubuh lelaki itu sehingga sihir yang kuat sekalipun tidak akan bekerja secara maksimal di tubuhnya atau dengan kata lain sihir yang diberikan hanya berpengaruh sekejap saja. Dan yang memiliki ilmu penangkal sihir hanyalah jin, siluman, atau manusia sakti yang telah menguasai banyak ilmu. Pram bahkan belum mampu menguasai ilmu tersebut.


Dari hal itu, jelas sudah bahwa dalam upaya penjemputan Pram untuk kembali ke Anastasia Cato itu memang melibatkan kekuatan dari pihak lain, yang kemungkinan besar adalah pihak Bemius.


"Kau sudah bangun Dante?" tanya Pram seolah tak terjadi apapun tadi malam.


"Mungkin kau terlalu lelah. Jadi kepalamu pusing karena kau kurang istirahat."


"Iya mungkin, ya. Tapi entah mengapa aku merasa tidur saja saat tiba di sini."


"Mungkin karena di sini udaranya sejuk dan segar. Sehingga tubuhmu menjadi lebih relaks." kali ini Pram tersenyum sambil menahan tawa.


"Apa ada sesuatu yang lucu dariku Pram?" Dante tampak memperhatikan dirinya sendiri. Ia juga meraba mukanya barangkali menemukan hal yang membuat Pram ingin tertawa.


"Tidak ada Dante. Aku hanya tertawa karena setelah sekian lama berpisah kita bisa bertemu lagi."


"Oo, iya. Aku juga tidak menyangka Pram." Dante tersenyum. Ada gurat kesedihan di wajahnya.


Pram duduk di hadapan Dante dan menatap lelaki itu dengan sungguh-sungguh.


"Dante, terima kasih untuk semuanya."


"Terima kasih?"


"Selama ini kau telah sangat baik padaku. Padahal kita tidak memiliki hubungan darah. Sedangkan saudaraku di Bumi dulu, yah sudahlah. Kebaikan memang tidak mengenal pertalian darah."


Dante tersenyum. Tapi gurat kesedihan di wajahnya semakin tampak.


"Kau tahu Dante, sebelum membunuhku, kakakku Ghozie bersikap sangat baik padaku. Aku bisa merasakan bahwa malam itu dia begitu sayang padaku. Tapi siapa sangka." Pram memeluk petugas kematian itu. Dari balik punggung Dante tampak bahwa Pram sedang menangis. Ia menyesal karena membiarkan Bemius mengubah lelaki lugu dan baik seperti Dante menjadi seorang yang mau terlibat untuk mencelakai orang lain. Sementara di balik punggung Pram, Dante juga mengusap pipinya. Walau bagaimana pun, Pram pernah membuat hidupnya di Cato menjadi lebih menyenangkan.


"Kau menangis, Pram?" tanya Dante saat Pram melepas pelukannya.


"Entah mengapa, aku merasa akan terjadi hal buruk padaku. Saat seperti itu, aku selalu teringat pada wajah orang-orang yang aku sayangi yang membiarkanku sekarat di depan mereka."


Dante memeluk erat gadis yang pernah ia harapkan untuk menjadi istrinya di Cato itu dengan erat. Ia sudah ingin mengatakan yang sebenarnya pada perempuan itu, tentang keterlibatannya selama ini dalam pencarian keberadaan Pram, tentang rencana Bemius, dan juga tentang hal buruk yang sudah menanti Pram di Cato. Tapi ketika ia hendak mengatakan semuanya, mulutnya seperti terkunci.


"Sudah, ayo keluar. Semua orang sudah menunggu kita untuk sarapan."


"Maafkan aku Pram."


"Maaf? Untuk apa? Kau sama sekali tidak bersalah padaku Dante, sebaliknya justru aku banyak berutang budi padamu."


Dante tersenyum dan memeluk kembali Pram. 


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halo kakak-kakak readers, mohon izin untuk promosi novel author di sini ya… Skip aja kalau kurang berkenan hehe,


 


Well selain di akun Banin SN, author juga punya akun lain yaitu Hashirama Senju. Nah berikut novel-novel author yang barangkali kakak-kakak berminat juga untuk membacanya:


1.       Pendekar Pedang Naga, novel ini ada di akun Hashirama Senju. Novel genre pendekar/wuxia yang pertama saya tulis.


2.       After Death, novel yang sedang kalian baca ini hehe.


3.       Kumpulan Cerpen Menang Lomba, tulisan ini ada di akun Hashirama Senju. Bukan jenis novel tetapi kumpulan cerpen. Di sana saya memposting kumpulan cerpen saya yang pernah memenangkan lomba baik skala lokal maupun Nasional, ada juga beberapa cerpen yang pernah dimuat di media. Silakan baca-baca untuk sekadar menambah referensi kakak-kakak sekalian.


4.       Menikah karena Taruhan, novel ini ada di akun Banin SN. Ini adalah novel bergenre Adult Romance yang pertama saya buat, meskipun bergenre Adult Romance, saya berencana memberikan konflik-konflik rumit atau informasi-informasi yang bermanfaat yang saya rangkum di dalam sana.


5.       Pacar Kecilku, novel ini ada di akun Banin SN. Sementara novel ini Hiatus dulu karena butuh banyak bacaan untuk melanjutkannya. Seperti sebagaimana yang saya tulis di Bulrb, novel ini mengangkat tema tentang Mental illness dan beberapa pengetahuan tentang ilmu psikologi lainnya, jadi saya butuh banyak bacaan lagi untuk melanjutkannya (dan sekarang belum ada waktu hehe)


 


Well, itu dia tulisan-tulisan saya yang ada di platform Noveltoon/Mangatoon. Mohon maaf sekali karena promosi panjang lebar di sini^^