After Death

After Death
Bab 159: Menjadi Buronan



Pagi pagi sekali semua orang telah sibuk menyiapkan keperluan yang harus dibawa. Kharon telah membawa banyak sekali daging. Ia juga telah mengasah cakar bajanya semalam penuh hingga kini cakat cakar itu berkilauan saking tajamnya.


Dengan cakarnya itu, Kharon dapat mencabik cabik tubuh musuhnya hingga tewas.


Demikian pula dengan Philemon. Ia juga mengasah mata tombaknya semalaman. Tidak hanya itu, Philemon menaburkan racun pada mata tombaknya sehingga pada bagian tubuh apapun yang terkena tombak, musuh akan mati.


Di lain sisi Raja Ramadhana meracik penawar bibit racun pencabut nyawa. Lantas memindahkan bibit racun yang terdapat dalam peti ke bungkusan kain putih yang ia ikatkan ke pinggangnya.


Sang raja telah memiliki siasat agar efek racun yang mematikan para pengikut Bemius, terkesan sebagai sebuah wabah. Sehingga tidak ada pihak yang akan curiga. Sebenarnya itu adalah cara yang dilakukan Bemius dulu untuk menyerang kerajaan Shaman. Dan kini ia menirunya. Raja Ramadhana tersenyum yakin akan memenangkan peperangan, atau setidaknya berhasil menyelamatkan seluruh penduduk Shaman yang masih bertahan hidup.


Sementara itu, Pram menyiapkan banyak sekali busur panah untuk menghabisi para jin dan siluman jahat. Ia juga membawa buku Anak Purnama Ketujuh sebagai pedoman. Ia memang belum menguasai semua isi buku yang sangat tebal itu, tapi ia selalu berusaha untuk bisa.


Dan melihat semua orang begitu semangat menyiapkan diri, ia menjadi tak sabar untuk membasmi kejahatan. Semua rasa takutnya mulai terkikis dan digantikan dengan niat ingin berbuat kebajikan.


Saat semua telah siap, Raja Ramadhana memanggil semua orang dan diajak berdiri melingkar. Lalu bergandengan tangan, menyiapkan diri untuk berteleportasi ke Anastasia.


Raja Ramadhana yang menjadi pemimpin teleportasi sebab meskipun Pram dan Kharon tahu letak Anastasia, mereka tidak bisa mengeluarkan diri dari Pulau Amsleng Sufir Matdrakab.


Saat tiba di Anastasia ternyata teleportasi mendarat di semak bambu kuning yang memang merupakan pintu gerbang makhluk makhluk dari dimensi lain untuk masuk. Lantas semuanya menggunakan penyelubung ekstra yang dibuat oleh Philemon agar mata mata Bemius tak dapat mendeteksi kedatangan mereka. Tidak lupa pula Philemon membagikan ramuan yang bisa menetralkan udara di Anastasia, sehingga mereka yang merupakan pengunjung dari Shaman mampu bertahan tanpa menguras energi.


"Apa kau mengenal wajah ini, tuan?" seorang lelaki tua yang membawa kertas pengumuman berisikan potret Pram menghampiri Philemon.


Kharon langsung mendekap Pram hingga wajah gadis itu melekat di dadanya. Tentu saja Pram ingin berontak karena terkejut dan sulit bernafas.


"Sayang sekali, aku tidak tahu tentang orang yang Anda cari." kata Philemon berbohong. Ia sangat bersyukur ketika itu Pram dan Kharon berada agak jauh darinya. Juga bersyukur sebab bukan Kharon yang ada di posisinya, jika tidak semua orang akan susah sebab siluman harimau putih itu tak bisa berbohong. Philemon tersenyum.


Ya, Di Anastasia Cato Pram adalah seorang buronan yang telah lama dianggap melarikan diri karena memiliki tunggakan denda yang jumlahnya sangat banyak, sedangkan saldo rekening pahala miliknya telah minus banyak sekali. Potretnya bahkan tertempel di banyak bagian kota, seperti di papan pengumuman, di pohon, dinding, tiang listrik, dan lain sebagainya.


"Apa kau ingin aku mati karena tak bisa bernapas?" kata Pram dongkol sambil merapikan rambutnya.


"Tsuuuut, pelankan suaramu. Apa kau tak melihat ada seorang lelaki tua yang menghampiri tuan Philemon dan bertanya...."


"Mana aku tahu." sergap Pram memotong ucapan Kharon.


"Lelaki tua itu mencarimu Pram dengan membawa selebaran yang menyertakan fotomu." kata Philemon menjelaskan.


"Sungguh? Mengapa dia mencariku? Aku benar benar tak memiliki keluarga atau sahabat di tempat ini. Aku hanya mengenal Dante saja." ucap Pram keheranan.


"Aku, jadi DPO? Bagaimana bisa?" tanya Pram semakin tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Itu sebabnya tadi Kharon mendekapmu, agar orang yang sedang mencarimu tidak dapat melihat wajahmu." kata Raja Ramadhana memberi kesaksian.


"Apapun alasannya kita berempat sama sekali tidak tahu menahu soal itu. Terus berhati hati hingga kita sampai ke Lembah Namea." kata Kharon mengingatkan.


Pram, Kharon, Philemon, dan Raja Ramadhana melanjutkan perjalanan menuju ke Lembah Namea. Sepanjang jalan Pram menggunakan penutup mulut untuk setidaknya menyamarkan wajahnya.


Namun di tengah perjalanan, Pram terpaksa membuka cadarnya untuk minum sejenak karena hari memang sangat terik. Saat ini di Anastasia Cato memang sedang musim panas. Suhu udara di musim ini bisa mencapai 45 derajat Celcius.


Saat sampai di danau orakel, Philemon dan Raja Ramadhana terkejut dengan ikan pemangsa daging yang dimaksud Pram dan Kharon. Ikan ikan itu sungguh mengerikan dengan gigi giginya yang tajam.


Setelah melemparkan daging ke arah jauh, keempat orang itu pun masuk ke dalan danau dan berenang dengan semangat yang tinggi.


Kharon melemparkan kembali daging yang ia bawa. Ikan ikan itu bisa menghabiskan daging lebih cepat dari prediksi.


"Ayo cepat! Ini adalah daging terakhir! Ayunkan tangan lebih cepat sebelum mereka menghabiskan daging ini." kata Kharon mengingatkan.


Kharon sangat panik sebab ia sendiri merasakan bahwa kini berenang di danau orakel terasa sangat berat dan melelahkan, tidak seperti waktu pertama kali dulu.


"Tuan Philemon, lekas gendong paduka raja!" teriak Kharon memberi aba aba sebab ikan ikan itu mulai mendekati mereka.


"Pram ayo cepat naik!" kata Kharon meminta Pram untuk naik ke punggungnya.


Dan setelah melewati masa masa yang menegangkan, kini akhirnya Philemon dan Raja Ramadhana sudah sampai di tepi danau. Demikian juga Kharon dan Pram, meski sebelumnya Pram harus memukul beberapa ekor ikan yang telah dekat agar tidak menggigit mereka. Gadis itu sempat berteriak histeris ketika ada seekor ikan hendak menggigit kaki kanannya. Dan Kharon yang mengetahui hal itu justru tertawa cekikikan. Membuat ia menerima beberapa pukulan dari Pram di kepalanya.


"Apa kau sudah gila? Kakiku hampir dimakan ikan, bukannya membantu kau malah tertawa." tanya Pram dengan kemarahan kepada Kharon.


"Aku tertawa bukan karena ikan itu mau memakan kakimu. Aku tertawa sebab mendengar kau berteriak teriak." Kharon masih menahan tawa.


"Ikan itu sangat mengerikan. Aku yakin seseorang yang mengalami hal sama denganku pasti akan berteriak. Lalu apa yang membuatnya lucu hingga kau merasa pantas untuk tertawa?" Pram semakin dongkol mendengar ucapan Kharon.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan saat bertemu dengan Bemius? Apa kau juga akan berteriak teriak seperti tadi? Atau dengan teriakan yang lebih keras? Karena Bemius tentu jauh lebih mengerikan ketimbang ikan ikan tadi." kata Kharon dengan wajah serius.


Pram hanya diam terpaku mendengat pertanyaan itu. Ia tidak mampu menjawabnya dan mulai membayangkan tentang apa yang akan terjadi.