
Philemon membawa Raja Ramadhana bersembunyi di sebuah goa yang merupakan salah satu tempat singgahnya. Ia merebahkan tubuh ayahnya yang tidak berdaya di atas sebuah batu panjang yang menyatu pada dinding goa yang berwarna putih dengan butiran batu kecil kecoklatan. Seperti roti tiramisu dengan coklat putih dan taburan mete. Di dalam goa, kelembabannya sangat bagus, tidak pengap, bersih, dan terdapat mata air yang jernih.
Philemon lantas mencoba mengobati ayahnya. Serangan dari Bemius telah menyebabkan detak jantung sang raja melemah.
Philemon mengambil tas putih yang terbuat dari kain yang selama ini selalu ia bawa. Ia mencari sesuatu yang barangkali dapat digunakan untuk mengobati ayahnya.
"Bertahanlah ayah, aku akan mencarikan obat untukmu. Bertahanlah demi penduduk Shaman. Bertahanlah demi aku." kata Philemon setelah membalik dan mengguncangkan tasnya ke bawah sehingga membuat beberapa isinya jatuh.
Philemon membuat garis perlindungan yang mengitari ayahnya seperti halnya garis yang ia buatkan untuk Pram dan Kharon. Kemudian pergi ke hutan tak jauh dari goa.
Philemon mencari dedaunan yang hendak dijadikan ramuan obat untuk ayahnya dengan terburu-buru. Ia takut kalau luka ayahnya memburuk dan bisa membuat sang raja itu tak mampu bertahan.
Ia beberapa kali memetik beberapa daun yang berbeda dengan sesekali mengelap pipinya yang basah. Maklum saja, Philemon telah sangat lama tak bertemu ayahnya, tepatnya sejak kudeta Bemius gagal. Dan kini ia menjumpai ayahnya dalam keadaan yang kritis. Ia mengingat semua saat-saat kebersamaan di kerajaan dulu. Ia tak pernah tak tertawa saat ayahnya menceritakan sebuah lelucon.
Setelah beberapa menit terlewat, Philemon bergegas kembali ke dalam goa. Di sana ia langsung menumbuk semua dedaunan yang barusan ia petik. Saat telah cukup halus, Philemon memaksa tubuh lemah ayahnya yang masih belum sadarkan diri untuk memakan ramuan tersebut. Ia lalu membiarkan tubuh ayahnya beristirahat. Dengan sangat tabah dan setia, Philemon duduk di samping ayahnya yang masih terbaring.
Setelah hampir 6 jam tak sadarkan diri, Raja Ramadhana mulai menggerak-gerakkan kedua tangannya. Menggerakan jari jemarinya. Philemon yang turut terlelap di sampingnya menjadi terbangun karena tangan ayahnya itu tak pernah ia lepaskan. Selalu ia genggam.
"Ayah. Ayah. Ayah sudah bangun?" Philemon tersenyum bahagia. Kedua matanya berbinar-binar memancarkan syukur.
Raja Ramadhana tak menjawab. Beliau yang masih belum membuka matanya, hanya mengernyitkan dahi dan memegangi kepalanya.
"Ayah." kali ini seruan dari Philemon berhasil membuatnya membuka mata, bahkan beranjak duduk.
"Ayah, ini aku anakmu."
Raja Ramadhana menatap Philemon lekat-lekat. Lantas mengelus wajah itu. Itu adalah wajah yang telah lama tidak ia jumpai. Wajah yang setiap hari ia rindukan, wajah yang selalu ia nanti kedatangannya, itu wajah anaknya. Benar-benar anaknya.
"Philemon!" kata Raja Ramadhana masih dengan lirih seraya memeluk erat Philemon.
"Kau telah kembali?" sang raja melepaskan pelukannya dan kembali menatap lekat Philemon. Ia masih tak menyangka bisa bertemu kembali dengan putra keduanya itu.
"Iya ayah. Aku kembali untuk menyelamatkan ayah. Aku sangat merindukan ayah."
Raja Ramadhana memeluk kembali Philemon. Air mata haru mengiringi seluruh rindu yang larung bersama jumpa.
"Apa kau baik-baik saja?"
Philemon mengangguk dan mengusap air matanya.
"Kemana saja kau selama ini? Ayah tidak pernah sehari pun tanpa mengharap kau datang menemui ayah."
"Maafkan aku ayah, aku telah membuat ayah bersedih. Aku memang bukan anak yang berbakti."
Raja Ramadhana menggeleng dan mengajukan kembali pertanyaan yang selama ini mengganjalnya.
"Tidak ayah. Berhentilah berpikir demikian. Sekarang lebih baik ayah beristirahat kembali. Nanti kalau kondisi ayah sudah lebih baik, kita lanjutkan percakapan kita, ayah."
Raja Ramadhana merebahkan kembali tubuhnya. Ia menuruti kata Philemon, karena memang saat dipakai duduk saja tubuh terasa sakit, kepala berat, mata berkunang-kunang, dan dadanya sedikit sesak.
"Bisakah ayah tetap terbangun, nak? Ayah masih ingin melihat wajahmu. Sudah sangat lama kau pergi. Kau kini sudah tumbuh menjadi pria dewasa."
Philemon mengangguk.
"Philemon, bisakah kau ceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi hingga kau pergi meninggalkan kerajaan dan tak kunjung kembali. Dan kemana saja kau selama ini? Ayah telah mengerahkan pasukan untuk mencarimu, tapi kau tak kunjung ditemukan."
"Aku akan menceritakan semuanya ayah, semua yang aku simpan sendiri.
Saat hari penyerangan yang dilakukan Bemius untuk menggulingkan kekuasaan ayah sebagai seorang raja, aku telah mengetahui rencana itu beberapa hari sebelumnya. Tapi aku tak mengatakan apapun pada ayah karena tak memiliki cukup bukti. Aku juga tak ingin menyakiti hati ibu. Aku tahu, jika ibu tahu putra kesayangannya akan menyerang ayahnya sendiri, tentu ibu akan sangat bersedih. Selain itu, aku takut pada Bemius. Saat itu kekuatanku belum seberapa, tak sebanding dengan kekuatan kakak.
Maka aku memutuskan untuk fokus menyelamatkan ayah, kalau-kalau ayah terluka. Dan meminta bantuan para panglima untuk memperkuat pertahanan, termasuk meningkatkan perlindungan pada ayah dan ibu. Ya ayah, aku lebih memilih menceritakan rencana kudeta yang dilakukan kakak pada mereka dan meminta mereka untuk merahasiakannya. Mereka pun menyusun suatu strategi agar Bemius gagal melakukan kudeta, termasuk di antaranya meminta bantuan dari negeri lain.
Tapi aku sangat menyesal karena ketakutanku untuk mengatakan semua harus ditebus dengan kematian ibu. Kematian yang sangat tragis dan selalu membuat hatiku sesak dan tenggorokanku sakit saat mengingatnya. Aku mengerti bahwa kematian ibu akan membuat ayah sangat bersedih. Tapi aku tak bisa tetap tinggal di kerajaan untuk menguatkan ayah, aku sangat takut.
Bemius berkali-kali mengirimkan pesan berisi ancaman padaku. Ia akan membunuhku jika aku tak pergi dari kerajaan. Dan akhirnya, saat keberanianku benar-benar telah hilang, aku memutuskan untuk pergi diam-diam meninggalkan ayah.
Selama aku pergi, aku berpindah-pindah tempat dari satu kota ke kota lain. Dan ini adalah salah satu tempat singgahku, ayah. Mungkin itu sebabnya ayah kesulitan untuk menemukanku.
Aku hidup nomaden karena Bemius terus mengincarku. Mata-matanya ada di mana-mana. Dan saat mereka tahu di mana keberadaanku, pasti mereka akan menangkapku. Ya ayah, aku takut pada ancaman kakak karena ia tidak pernah main-main dengan ucapannya. Beberapa kali aku hampir mati karena serangan Bemius.
Dalam beberapa kesempatan aku memberanikan diri untuk menemui ayah. Tapi lagi-lagi upayaku gagal karena anak buah Bemius ada di seluruh sudut negeri. Mereka sangat ahli dalam ilmu menyamarkan diri.
Dalam pelarianku, aku sampai di Gyan Bhandar. Sebuah perpustakaan tua di Bumi. Ya ayah, pelarianku bukan hanya di seluruh negeri Shaman, aku bahkan hingga lari ke Bumi.
Di sana, di perpustakaan itu tersimpan buku Anak Purnama Ketujuh, ayah. Aku tak sengaja menemukannya. Petugas yang menjaga tempat itu tengah membersihkan buku itu saat aku tiba di sana.
Lantas aku mengambil dan menyimpan serta menjaga buku itu. Aku meletakkannya di dalam pusaka Kyai Anteh agar tidak terlihat oleh siapapun, kecuali olehku sebagai pemilik pusaka itu. Aku sering tinggal di sana untuk menunggu menyerahkan buku itu kepada pemiliknya, yakni seorang gadis Bumi yang telah mati dan bangkit di Anastasia Cato. Gadis itu lahir di purnama ketujuh penanggalan Shaman. Ia dilahirkan di Bumi dari rahim seorang perempuan bernama Arimbi. Entah bagaimana dalam tubuh gadis itu mengalir darah manusia sekaligus jin.
Dan setelah sekian lama menunggu, aku baru bertemu dengannya beberapa hari lalu. Juga Kharon, siluman harimau putih yang merupakan khodam dari sahabat ayah, yang dulu sempat tinggal di istana setelah sang tuan meninggal. Kharon kini menjadi khodam Prameswari ayah."
"Maafkan aku nak, sebagai ayah seharusnya akulah yang mesti melindungimu. Bukan malah sebaliknya. Ayah menyesal karena membiarkan dirimu menderita. Ayah benar-benar minta maaf, nak. Coba saja dulu ayah mendengar kata hati ayah untuk membunuh Bemius. Tentu semua bencana dan musibah ini tak akan terjadi. Sayangnya, ayah mengabaikan semua petunjuk dan kata hati ayah, dan lebih mengutamakan perasaan ayah."
"Sudahlah, ayah. Sekarang ayah tidurlah. Aku akan mempertemukan ayah dengan sang anak purnama saat ayah sudah membaik."
Philemon tersenyum, mengundang senyum di wajah Raja Ramadhana.
Perpisahan keduanya sebagai seorang ayah dan anak telah menyisakan banyak luka di hati masing-masing. Dan kini takdir telah mempertemukan mereka kembali. Keduanya bahkan sekarang tampak sebagai sahabat karib yang sebaya.
Namun, Philemon dan Raja Ramadhana belum tahu tentang kebengisan yang dilakukan Bemius di negeri Shaman setelah pelarian mereka. Putra sekaligus kakak laki-laki itu telah mencapai kejahatan paling puncak. Bemius bahkan sudah seperti tak memiliki hati memperlakukan penduduk Shaman dengan semena-mena.