After Death

After Death
Bab 55: Karma Hidup Ghozie I



Pram kini memandangi kakak pertamanya itu. Tidak seperti ketika melihat wajah itu di Pohon Amarah, Pram kini menatap kakaknya dengan nanar. Bahkan ia ingin sekali memeluk Ghozie untuk mendatangkan sedikit damai.


Pram membuntuti kakak lelakinya itu. Ia sudah tak peduli dengan jin dan siluman jahat yang menguasai seisi rumahnya. Bahkan Pram lupa bahwa Kharon, yang tak ikut masuk atau mendekati rumah karena biji emas sari padma raksasa hanya ada satu, telah menunggunya dengan was-was di sebuah jembatan radius 1 km dari rumahnya. Perhatian Pram kini benar-benar hanya pada Ghozie, saudara kandung yang selalu ia sayangi, yang merencanakan pembunuhannya dengan begitu keji.


Ghozie tak langsung ke kamarnya. Ia berdiri di depan foto keluarganya yang berukuran 2x3 meter. Mereka berjajar menghadap depan. Di potret itu, Ghozie berada di tengah memeluk kedua adiknya, Pram di kanan dan Candy di kiri. Ayahnya berada di samping Candy dan ibunya juga tengah memeluk Pram. Foto itu diambil ketika Pram masih kelas satu SD.


Ghozie mengelus potret Pram yang terlihat menawan sejak kecil dengan senyum lebar yang tersungging. Lantas bergegas menuju kamar ayahnya.


Pram melihat kamar ayahnya penuh sesak oleh siluman dan jin jahat. Banyak di antara mereka yang juga tinggal di beberapa titik dalam tubuh ayahnya.


Ghozie menyiapkan sebuah hidangan yang ia beli dari sebuah restoran khas Sunda. Tampak seperempat ayam ukep, secawan kecil sambal geprek, dan sepaket urap-urap, yakni dari daun pepaya dan toge plus sambal urapnya.


Praaak!


Ghozie memungut pecahan piring beserta makanannya, tanpa keluh atau gerutu apapun. Namun, Pram jelas-jelas melihat kakaknya itu mengeluarkan air mata tapi tanpa isak.


Ia kemudian menyodorkan sepotong bolu pandan kesukaan ayahnya setelah menahan sakit di tenggorokan.


"Maafkan aku jika belum bisa menjadi anak yang ayah inginkan. Namun, demi arwah Prameswari, makanlah ayah agar adikku itu bisa tenang di alam sana."


Ghozie tidak pernah bertindak kasar kepada ayahnya, meski dia bisa melakukannya dengan sangat mudah, melampiaskan dendam kanak-kanak yang memorinya dipenuhi oleh pukulan dan bentakan.


Ghozie selalu menganggap apa yang ia alami sebagai karma atas perbuatan kejinya kepada adik bungsunya yang sangat baik, Pram. Dalam kondisi bergelimang harta, Ghozie harus meneruskan bisnis ayahnya sekaligus menyelesaikan pekerjaan rumah seorang diri.


Sebelumnya Ghozie sempat berulang kali memiliki pembantu rumah tangga tiga orang. Seorang untuk membersihkan rumah dan mengurus kebutuhan sehari-hari, seorang lagi perawat untuk ayahnya, dan seorang lagi untuk menemani Candy. Namun, berulang kali pula para pembantu yang bekerja di rumahnya mundur sebab sering diganggu oleh jin jahat yang ada di rumahnya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyelesaikan semua sendiri saja. Kini Ghozie sudah tak punya waktu untuk nongkrong bersama teman-temannya. Bahkan ia sering tak sempat untuk makan dan minum.


Pram terisak mendapati kakak yang membunuhnya tepat di hari ulang tahunnya itu begitu menderita. Ia tahu benar bahwa Ghozie sangat takut dan marah kepada ayahnya yang selalu kasar padanya. Namun, Ghozie selalu memendam rapat semua amarah dan kekesalan pada ayahnya, sehingga ia seringkali diam menghadapi ayahnya.


Tentu apa yang dialami Ghozie ini sangat berat untuk dilewati karena ia harus bertemu dan bersabar merawat ayahnya setiap saat setiap waktu. Dan bahkan dalam kondisi yang begitu susah, ayahnya masih begitu kasar. Padahal jika Ghozie mau, Suwignyo, ayahnya, pasti sudah dititipkan di panti jompo bersama kursi roda yang selalu ditungganginya


"Hahaha!! Aaa...!! Ih..ih..ih..!" terdengar suara tawa, jeritan, dan tawa lagi dari kamar Candy.


"Ayah beristirahatlah dulu. Aku akan memastikan Candy baik-baik saja dan kembali tenang. Jika ayah membutuhkan sesuatu, tekanlah ponsel ini untuk meneleponku." Ghozie meletakkan ponsel dengan layar yang tak pernah padam di samping ayahnya. Hal itu pula yang ia lakukan saat meninggalkan ayah dan adiknya untuk mengurusi perusahannya. Ghozie kemudian meluruskan kaki ayahnya dan menyelimutinya.