After Death

After Death
Bab 126: Memungut Hadiah yang Terbuang



Setelah Pram begitu senang mengetahui fakta bahwa ia adalah gadis yang menerima ciuman pertama Kharon, Pram rasa-rasanya sudah tidak bisa lagi terlelap. Begitu juga dengan Kharon, menceritakan hal yang terjadi saat penyelamatan Pram yang pingsan karena tenggelam membuatnya kembali ingat pada wajah Philemon yang menatapnya dengan tatapan tidak biasa karena ia telah mencium Pram dengan memberikan nafas buatan. Akhirnya, kedua orang yang saling mencinta itu sama-sama terduduk di kesunyian malam.


Kala itu mereka membuka kedua daun jendela yang lebar, membuat tubuh mereka yang duduk di baliknya terkena angin. Sinar bulan pada sepertiga malam di Pulau Amsleng Sufir Matdrakab sungguh lebih dari mempesona. Cahayanya yang temaram mendatangkan kehangatan di hati insan yang menatapnya. Dan malam semakin memukau dengan kilauan bintang yang berkedip-kedip berserakan di seluruh langit.


"Itu adalah sinar bulan terindah yang pernah aku lihat." kata Pram sambil meletakkan dagunya di jendela.


"Menurutmu bagaimana, Ron? Indah kan?" Pram menoleh pada Kharon yang mendongak menatap langit.


"Iya mungkin." kata Kharon ragu-ragu.


"Mungkin?" Pram mengernyitkan dahi dan menegakkan badannya.


"Entahlah Pram, tapi aku dari dulu memang lebih suka bintang. Meski dia tak terlihat menonjol, setidaknya ia berkilau dengan sinarnya sendiri. Bukan meminjam atau mengambil milik yang lain. Memang dia tidak begitu istimewa karena ada banyak jumlahnya di langit. Tapi bagiku dia sangat istimewa karena telah mampu bertahan dengan cahayanya sendiri, meski mungkin tidak ada orang yang menganggapnya ada. Bahkan menoleh ke arahnya saja tidak." kata Kharon semakin lirih tanpa melihat ke arah Pram. Ia baru menoleh ke kiri melihat Pram saat mendengar isakan pelan.


"Pram, kau menangis?" wajah Kharon langsung cemas.


Pram tidak menjawab. Ia masih sibuk mengelap air mata dan ingusnya. Beberapa kali nafasnya juga terdengar sesak. Kharon bingung. Ia sangat khawatir Pram kenapa-kenapa. Tapi ia memilih untuk diam saja menunggu gadisnya itu lebih tenang sehingga dapat menjawab pertanyaannya.


Kharon memeluk Pram berharap akan memberikan ketenangan pada perempuan itu.


"Kata-katamu mengingatkanku pada Ghozie. Dia tetap setia di samping ayah meski ayah sama sekali tak menganggapnya ada. Suami ibuku itu terkadang bersikap terlalu keras padanya. Dan mengingat Ghozie membuatku teringat pada Candy. Bagaimana dia sekarang? Apa jin dan siluman jahat itu telah meninggalkan jasadnya atau belum? Jika sudah, artinya Candy sudah benar-benar mati dan kini tengah menderita di penjara roh. Tapi kalau mereka belum pergi juga dari tubuh Candy, apakah Candy tetap hidup dengan keadaan jasad yang membusuk? Aku merasa ngeri membayangkan tubuh Candy membusuk dan dimakan belatung. Itu sangat menyedihkan, Ron." Pram kembali terisak.


"Sudahlah, Pram. Semua akan baik-baik saja." Kharon menepuk-nepuk punggung Pram. Ia menyesal telah berceloteh ngelantur soal bintang. Sungguh merusak suasana.


"Maafkan aku, Pram. Sering membuatmu bersedih." kata Kharon lirih.


Pram masih menangis tersedu di dalam pelukannya. Ia benar-benar tidak tega mengingat wajah seluruh anggota keluarganya. Sangat tragis.


"Kau tahu, tadi pagi aku membuatkanmu buket bunga." kata Kharon dengan nada riang. Ia berusaha mengalihkan pembicaraan. Tapi ia kembali menyesal karena yang keluar dari mulutnya justru hal yang sangat ingin ia sembunyikan. Ia sangat yakin itu semua karena pengaruh dari diadem naga perak. Dasar diadem s*alan, benaknya.


Pram langsung melepas pelukan Kharon, menghapus air matanya dengan terburu-buru, dan tampak seketika mengubah raut wajahnya. Kali ini Kharon mendapat firasat yang tidak kalah buruk. Ia sangat yakin gadis itu akan mengajukan banyak pertanyaan padanya.


"Benarkah? Berarti tadi pagi kau ke rumah? Mengapa aku tak melihatmu?" kata Pram penuh semangat. Kharon telah berhasil mengubah suasana hatinya.


"Aku tak masuk." jawab Kharon singkat sambil mulai berjalan menjauh dari Pram. Dan seperti biasa, gadis itu mengekor dan memunculkan wajahnya di depan wajah Kharon.


"Mengapa kau tak masuk? Aku sudah menunggumu semalaman." Pram mengernyitkan dahi.


"Aku... Aku..." Kharon bingung harus memulai jawabannya dari mana, agar ia tidak tampak sedang cemburu pagi itu.


"Lalu dimana sekarang buket bunga itu?" suara Pram meninggi. Membuat Kharon refleks meletakkan tangan kanannya ke mulut Pram.


"Mana?" Pram menarik paksa tangan Kharon. Sejak ilmu dan jurua yang ia kuasai bertambah, Pram memang menjadi lebih kuat.


"Pelankan dulu suaramu." kata Kharon berbisik sambil celingukan menengok rumah sebelah untuk memastikan Philemon dan Raja Ramadhana masih tertidur pulas.


"Mana buket bungaku?" Pram berbisik sambil menyodorkan tangan kanannya, meminta buket bunga.


"Kau ini, sulit sekali dikasih tahu. Sudah berapa kali aku bilang untuk memelankan suaramu? Apa kau tidak sadar, suaramu itu seperti petir. Burung di pepohonan saja terbang semua karena takut pada suaramu yang melengking itu."


"Kau sungguh menginginkannya?" Kharon ragu untuk berkata. Ia yakin bahwa semua yang ia katakan adalah kebenaran, mustahil baginya untuk berbohong. Jadi yang bisa ia lakukan hanyalah mengulur-ulur waktu sembari menyiapkan diri untuk menjawab.


"Cepat katakan dan jangan berputar-putar!" Pram membentaknya dengan berbisik. Gadis itu juga hampir mengeluarkan bola matanya karena dongkol pada kebiasaan Kharon yang selalu lama dalam menjawab pertanyaan utama.


"Di tong sampah." Kharon tertunduk lemas sambil menunjuk keluar.


Ia sangat terkejut karena Pram langsung berjalan keluar dan memungut buket bunga itu. Lantas tersenyum dan menciumnya.


"Apa yang kau lakukan, Pram?" tanya Kharon dengan nada yang sempat meninggi dan langsung ia rendahkan setelah melihat Pram meletakkan telunjuk di bibir.


"Mengambil apa yang menjadi milikku." Pram merapikan bunga-bunga yang agak ringsek.


"Gila. Sini berikan padaku!" Kharon mengulurkan tangannya.


"Tidak akan. Kau pasti akan membuangnya lagi." Pram mendekap bunga itu dengan hati-hati.


"Apa kau tak lihat bunga itu sudah kotor?" Kharon berkacak pinggang dengan satu tangan dan tangan yang lain mununjuk-nunjuk ke arah bunga.


"Lihat. Aku akan membersihkannya." Pram berjalan ke kamar mandi dan mengangkat seember air.


"Sekarang apa yang akan kau lakukan?" Kharon mulai duduk memegangi kepala.


"Membersihkannya." Pram tersenyum tanpa melihat ke arah Kharon.


"Kau ini, bebal! Buang saja buket bunga itu. Aku akan membuatkannya lagi untukmu jika kau menginginkannya." Kharon sangat dongkol. Dan ia sungguh kesal karena hanya bisa mengungkapkan kekesalannya dengan berbisik.


"Kau boleh membuat buket bunga lagi untukku. Tapi aku akan tetap membersihkan dan merawat bunga ini. Oke!" Pram sama sekali tak menghiraukan ocehan Kharon. Ia tahu saat ini khodamnya itu sungguh sangat kesal.


"Pram, aku akan membuatkannya sekarang. Oke? Tapi berhentilah membersihkan bunga-bunga yang sudah layu ini! Oke?" Kharon menghampiri Pram yang berdiri dan sibuk membersihkan bunga-bunga di meja.


Pram tak berkata apapun. Ia hanya melihat sebentar ke arah Kharon yang berdiri di sampingnya, lalu tersenyum. Setelah itu, Pram kembali membersihkan bunga-bunga.


"Pram." Kharon merengek seperti kanak-kanak minta permen.


"Pram, ayolah hentikan." suara Kharon semakin memelas. Tapi Pram hanya tersenyum dan fokus pada bunga-bunga yang ada di depannya.


"Mengapa kau repot-repot membersihkan bunga yang kotor dan layu ini? Kau kan sudah punya buket bunga yang jauh lebih indah dan wangi dari tuan Philemon." kata Kharon kesal hingga keceplosan.


"Aww!" rintih Pram pelan. Ia tertusuk duri mawar setelah mendengar perkataan Kharon. Dari jari telunjuknya muncul titik darah yang semakin lama semakin besar.


Kharon dengan sigap mengisap darah itu dan memuntahkannya ke ember air. Dan darah itu baru berhenti setelah ia mengulangi apa yang ia lakukan empat kali.


"Kau ini sungguh keras kepala. Sekarang lihat jarimu terluka. Kalau sudah begini ujung-ujung ya aku yang repot. Makanya kalau jadi orang jangan suka ngeyel. Ini ni akibatnya kalau ngelawan perintah calon suami." Kharon ngomel sambil menetesi obat luka ke jari Pram, lantas membalutnya dengan plester.


Pram menahan tawa mendengar ocehan Kharon. Tapi ia juga menitikan air mata di waktu yang sama.