After Death

After Death
Bagian 17 : Siluman Peliharaan Sang Penolong



Ketika Prameswari sudah berada di


titik muak dan pasrah akan hidupnya, hutan bakau bergoyang-goyang seolah ada


raksasa yang mendekat. Kawanan monyet tanpa bulu mulai meringkik dan


bergerombol di belakang siluman ular yang masih melilit tubuh Prameswari. Siluman


ular merasakan aura dari siluman yang jauh lebih hebat darinya, dia mulai merasakan


hawa takut dan lilitannya pun mulai melemah. Pram merasa sedikit lega dadanya, tapi perasaannya masih bercampur aduk. Ada kemungkinan ia diselamatkan, ada kemungkinan juga ia akan berpindah tangan ke siluman yang lebih menyeramkan lagi.


            Seekor Harimau Putih dengan bulu semi biru safir datang dengan sangat mengagetkan. Tubuhnya yang setinggi dua


setengah meter dengan panjang tiga setengah meter membuat pohon bakau yang dilewatinya terkoyak dan berantakan. Harimau itu mengaum marah ke arah siluman ular.


            “Lepaskan bocah itu dan kubiarkan Kau tetap hidup!” Suara Harimau Putih itu berat dan berwibawa, Pram merasa sepertinya dia akan ditolong karena hawa yang dibawa harimau itu terasa hangat.


            “Apa imbalan yang akan Kau berikan pada kami?” Siluman Ular Kobra itu sudah jelas-jelas merasa ketakutan, tapi dia berpura-pura tegas dan dingin, ia tak ingin nampak menjadi pengecut di mata


para anak buahnya.


            “Seharusnya keselamatanmu dan kawananmu itu adalah imbalan yang setimpal. Tapi baiklah, akan kuberi imbalan untukmu. Ada sebuah pusaka di kedalaman hutan Bakau ini, Batu Mustika Merah. Pusaka itu akan membantumu bertahan hidup dari serangan Siluman hebat lainnya, keberadaannya akan kau ketahui setelah kau melakukan petapaan 40 hari 40 malam. Sebagai imbalan balik, Kau tak boleh bercerita pada siapa pun tentang pertemuanmu dengan bocah ini.”


            “Cuih… Bagaimana aku tahu bahwa Kau sedang tak berbohong?”


            “Siluman Ular, siapa namamu? Bodoh sekali Kau, tidakkah Kau lihat diadem yang melingkar di kepalaku ini? Dasar siluman bodoh!”


            Siluman ular mendongak ke atas, ke kepala harimau putih yang ternyata memang dililit sebuah diadem perak dengan ukiran naga. Itu adalah simbol kejujuran, atau bisa dikatakan Siluman Harimau tersebut telah diikat dan dikutuk untuk selalu berkata jujur. Maka bisa dipastikan Harimau Putih itu merupakan siluman yang menjadi Khodam manusia, atau juga Khodam bangsa Jin juga. Khodam adalah pendamping, atau pelindung, biasanya memang dari golongan siluman buas yang ditaklukkan.


            “Baiklah aku mempercayaimu. Ini,


ambil bocah ini dan terserah mau kau apakan!” Siluman Ular tersebut mengulurkan tubuh Prameswari menggunakan ekornya yang masih panjang. Sementara itu Siluman


Harimau Putih membungkukkan kepalanya hingga sampai ke dasar tanah berawa hutan bakau.


            “Tuan, nailah ke punggungku. Jangan lupa ambil dulu barang bawaanmu tadi.” Siluman Harimau berkata sambil melirik ke kalung baja yang terletak beberapa jengkal kaki dari Prameswari berdiri.


            Merasa bahwa ia sedang berada di


pihak yang aman, Pram segera mengambil kalung liontin itu dan bergegas meloncat


***


            “Tuan puteri, perkenalkan, namaku Kharon. Pemilikku terdahulu selalu menceritakan tentang akan datangnya Tuan Puteri ke negeri Shaman. Setelah pemilikku menghilang, aku terpisah darinya dan sekarang tidak sedang memiliki tuan. Jika berkenan, aku akan menemani Tuan


puteri. Aku senang dengan chakra yang Tuan Puteri pancarkan, auranya selaras


dengan energyku sehingga kurasa kita akan berjodoh jika bersama.”


            “Berjodoh bersama? Maksudmu?” Prameswari bertanya sambil menikmati tunggangan yang diberikan siluman itu. Rasanya lembut dan empuk. Seperti sedang tengkurap di boneka dengan bulu-bulu lembut dan harum.


            “Oh, maaf membuatmu bingung. Jadi begini, masing-masing siluman itu memiliki energy yang berbeda-beda. Ada kalanya energy yang dipancarkan siluman itu tidak selaras dengan energy yang dipancarkan pemiliknya. Lambat laun hal tersebut akan berpotensi membuat tubuh pemiliknya rapuh dan penyakitan karena setiap saat tubuhnya harus memproduksi energy khusus untuk menetralisisir ketidakselarasan tersebut. Jika energy manusia atau Jin selaras dengan energy Khodamnya, mereka akan langgeng sebagai tuan dan pendamping.”


            “Bagaimana Kau tahu bahwa energy kita selaras?”


            “Aku yakin tadi Tuan pasti merasakan hawa hangat yang menyenangkan saat aku datang di hutan bakau. Itu tandanya energy kita sudah saling bersinergy. Lagipula saya lihat Tuan sama sekali tidak memiliki kekuatan Ghaib, tentu itu sangat berbahaya mengingat yang memburu Tuan adalah makhluk dari segala kalangan. Baik yang lemah maupun yang kuat.”


            “Yang ular siluman itu menurutmu


termasuk kuat atau lemah?”


            “Itu setara dengan anak kecoa kalau di duniamu yang dulu!”


            “Lhaah… Ketemu yang seperti dia saja aku sudah tak bisa berbuat apa-apa, apalagi yang kuat.”


            “Jadi begini, untuk makhluk-makhluk kelas rendahan seperti yang tadi itu, mereka biasanya lebih cenderung melukai fisik. Sementara


bagi makhluk halus dengan kekuatan tinggi, mereka bisa melukai mental atau


merusak chakra kita. Luka fisik bisa dengan cepat diobati jika kita bisa memusatkan energy yang kita punya. Sementara luka batin atau kerusakan chakra itu sangat rumit untuk disembuhkan. Kau mungkin tak menyadari, di Bumi ada begitu banyak sekali orang jahat atau gila atau psikopat, tak jarang kelainan-kelainan seperti itu merupakan campur tangan kami.”


            “Waah… Aku tak tahu apa-apa


sepertinya. Bahkan mengapa aku dijadikan buronan pun aku tak tahu.”


            “Baiklah, nanti kucarikan tempat


yang aman, dan akan kuceritakan dari awal.”