After Death

After Death
Bab 116: Pulau Amsleng Sufir Matdrakab



Pram, Kharon, Raja Ramadhana, dan Philemon melingkar dan saling bergandengan. Semua orang selain Raja Ramadhana, sama sekali tidak tahu kemana mereka akan pergi.


"Tutup mata kalian dan tunggulah kejutan yang menanti. Aku yang bertugas mengemudi kali ini." kata Raja Ramadhana penuh semangat.


Setelah mencurahkan isi hatinya kepada Kharon, ia tampak lebih bahagia. Beban pikirannya menjadi sedikit berkurang. Dan semakin bahagia karena ia beserta anak-anak muda itu akan pergi ke tempat yang menyimpan banyak kenangan indah dalam hidupnya.


"Bukalah mata kalian. Kita sudah sampai." ucap Raja Ramadhana penuh semangat dengan senyum sumringah.


Semua orang membuka mata dan langsung takjub oleh sekitar. Pram bahkan merasa perlu untuk membuka mulutnya. Berkali-kali ia mengucap kata "wow" dengan intonasi yang tidak pernah pelan. Pram juga berjingkrak-jingkrak ke sana ke mari seperti sebuah biji randu yang telah kering dan tertiup angin.


Philemon yang merupakan anak kedua Raja Ramadhana pun sangat takjub dengan tempat terindah yang ada di hadapannya. Ia sama sekali tak tahu menahu soal tempat itu. Matanya memandang sekeliling hingga tanpa sadar telah membuat tubuhnya berputar. Sang raja memang merahasiakan tempat itu dari siapapun. Hanya ia dan istrinya yang tahu.


Sedangkan Kharon, tidak seperti Pram dan Philemon, kekaguman justru membuat ia hanya duduk terpaku. Tatapannya disita oleh sebuah pohon yang kokoh berbatang besar dengan diameter sekitar 5 meter. Pohon tersebut juga memiliki akar yang menjuntai dari atas ke bawah seperti pohon beringin. Pohon itu berwarna biru bercampur putih. Setiap akar yang menjuntai ke bawah seperti poni seorang gadis itu mengeluarkan sinar terang di ujungnya. Sinar itu berkedip-kedip seperti kunang-kunang dengan warna yang bergonta-ganti. Kadang merah, kuning, hijau, orange, dan juga ungu.


Anehnya pohon itu tidak memiliki daun. Seluruh batangnya seperti terbungkus bunga. Aroma dari bunga itu persis dengan bau tanah kemarau yang terkena hujan, bukan wangi, tapi mendamaikan.


Di sekeliling tempat itu tumbuh beraneka bunga. Namun setiap jalan setapak yang beralas batu sungai hitam selalu di samping kiri dan kanannya tertanam bunga mawar biru. Di tempat itu juga banyak sekali burung yang kicauannya seperti alunan shimfoni musik yang merdu.


Lalu, samar terdengar gemericik air dan suara katak yang tengah bernyanyi, teot teblung. Lagi, udara di sana juga pas, tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin. Langitnya selalu teduh, tapi tidak mendung.


Pram merebahkan tubuhnya di atas rumput hijau yang lembut. Wangi angin pada rumput itu sungguh menyejukkan. Seperti bau bunga jagung di ladang pada sore hari. Membuat Pram lupa pada semua duka dan masalahnya.


"Apa nama tempat ajaib ini, ayah?" tanya Philemon setelah berlama-lama hanya diam menikmati pemandangan yang disuguhkan.


"Ini adalah Pulau Amsleng Sufir Matdrakab. Pulau yang aku bangun selama sekitar dua belas tahun untuk ibumu, istriku terkasih, Tri Laksmini. Ini hadiah untuk ulang tahun pertama pernikahan kami. Tidak ada satu pun jin atau manusia yang tahu tempat ini kecuali ibumu. Kalian tidak akan bisa berteleportasi ke mari dengan cara biasa. Itu sebabnya aku meminta kalian untuk rileks mengikutiku saja."


"Wah, aku juga ingin memiliki tempat seperti ini sebagai hadiah dari suamiku kelak. Pasti akan sangat menyenangkan."


"Kalau kau mau, tempat ini bisa jadi milikmu, Pram."


"Benarkah, raja?" mata Pram membesar mendengar ucapan sang raja.


"Tentu saja, tapi kau harus menjadi menantuku dulu, menjadi istri Philemon. Hahaha"


Philemon dan Kharon kompak terbatuk. Mereka seperti tersedak oksigen.


Lantas jawaban ngasal sang raja itu, membuat semua orang diam dalam situasi yang tak mengenakkan.


"Oh, ayolah. Aku hanya bercanda. Maksudku tadi, kau ini kan sudah seperti anakku sendiri. Jadi, tempat ini secara otomatis juga jadi milikmu."


Pram tertawa terbahak-bahak. Sebelumnya nafasnya seperti mau berhenti karena terlalu terkejut mendengar pernyataan Raja Ramadhana. Bagi Pram, Philemon sudah seperti kakak laki-laki. Ia sangat senang pada Philemon karena keberadaannya mengobati rindunya pada Ghozie, kakak tersayang yang telah membunuhnya.


Namun, tidak demikian dengan Philemon. Hati lelaki itu bergetar kencang saat Raja Ramadhana mengucapkan cletukan yang sebetulnya benar-benar sang raja harapkan. Wajahnya sangat gugup. Dan dengan susah payah ia menutupi semua.


"Di sini Pram bisa mendalami buku Anak Purnama Ketujuh dengan lebih fokus lagi. Dan aku juga bisa melatih otot-ototku yang telah kaku karena terlalu lama beristirahat. Philemon bisa sibuk mendampingi Pram berlatih. Kharon bisa menjadi juru masak yang baik. Hahahahaha... Tenang ada banyak persediaan makanan di sini. Mau sayur, buah, ikan, atau daging bisa dengan mudah didapat di pohon logistik."


"Apa? Apa ada pohon seperti itu, Raja?" kata Pram sangat terkejut dengan mata berbinar.


"Tentu saja. Aku membuatnya khusus untuk istriku terkasih. Di pohon itu berbuah aneka logistik yang kita inginkan." jawab Raja Ramadhana penuh kebanggaan.


"Apa ada juga pohon yang berbuah aneka kue?" tanya Pram dengan sangat antusias.


"Emm, kalau itu sayang sekali, tidak ada?" kata sang raja lirih. Membuat wajah Pram sedikit berubah karena kecewa.


"Apa ada kue yang kau inginkan, Pram?" tanya Philemon.


"Dia ingin makan macaron sejak lama, tuan." jawab Kharon


"O, iya? Kalau kau mau, aku bisa membuatkannya untukmu."


"Apa tuan Philemon bisa membuatnya?" tanya Pram penuh harap.


Philemon mengangguk dengan senyum lebar. Membuat Pram langsung memegang tangannya dan berjingkrak melompat-lompat.


Raja Ramadhana sangat senang melihat Philemon sudah lebih akrab dengan Pram. Sementara Kharon meminta izin pada sang raja untuk berjalan sambil melihat pemandangan sekeliling dengan suara lirih. Bukan hanya mengizinkan, Raja Ramadhana bahkan menawarkan diri untuk menjadi pemandu wisata.


"Oh, maafkan aku tuan. Aku membuat nafas tuan jadi tersengal. Aku hanya sedang kelewatan senangnya."


"Tidak apa Pram. Ayo kita memetik beberapa bahan baku untuk dibuat menjadi macaron."


"Iya, tuan. Sebentar." Pram celingukam mencari sesuatu.


"Ron?" kata Pram kemudian.


"Kharon pergi bersama ayah tadi. Mungkin berjalan-jalan melihat tempat ini."


"O ya? Bagaimana bisa aku tidak menyadari itu?"


"Jadi, bisa kita mulai berburu bahan untuk membuat macaron?"


"I...iya tuan." Pram masih celingukan berharap bisa melihat batang hidung Kharon. Ia sangat ingin membuat kue kesukaannya itu bersama Kharon. Berharap jika suatu saat mereka menikah, Kharon akan membuatkannya macaron. Pram janji, seperti apapun macaron yang dibuat Kharon, semua akan ia habiskan dengan penuh kebahagiaan. Tapi Philemon menarik tangannya untuk segera beranjak, membuat lamunannya soal hidup bersama Kharon berhamburan.


Pulau Amsleng Sufir Matdrakab memangvmenyimpan rahasia yang ajaib. Di sana seseorang yang sedang jatuh cinta bisa menjadi lebih berani untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, juga bisa sebaliknya. Jika seseorang sengaja menahan perasaannya untuk tidak ditunjukkan di tempat itu, maka yang tampak adalah sikap seolah tidak peduli.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halo kakak-kakak readers, mohon izin untuk promosi novel author di sini ya… Skip aja kalau kurang berkenan hehe,


 


Well selain di akun Banin SN, author juga punya akun lain yaitu Hashirama Senju. Nah berikut novel-novel author yang barangkali kakak-kakak berminat juga untuk membacanya:


1.       Pendekar Pedang Naga, novel ini ada di akun Hashirama Senju. Novel genre pendekar/wuxia yang pertama saya tulis.


2.       After Death, novel yang sedang kalian baca ini hehe.


3.       Kumpulan Cerpen Menang Lomba, tulisan ini ada di akun Hashirama Senju. Bukan jenis novel tetapi kumpulan cerpen. Di sana saya memposting kumpulan cerpen saya yang pernah memenangkan lomba baik skala lokal maupun Nasional, ada juga beberapa cerpen yang pernah dimuat di media. Silakan baca-baca untuk sekadar menambah referensi kakak-kakak sekalian.


4.       Menikah karena Taruhan, novel ini ada di akun Banin SN. Ini adalah novel bergenre Adult Romance yang pertama saya buat, meskipun bergenre Adult Romance, saya berencana memberikan konflik-konflik rumit atau informasi-informasi yang bermanfaat yang saya rangkum di dalam sana.


5.       Pacar Kecilku, novel ini ada di akun Banin SN. Sementara novel ini Hiatus dulu karena butuh banyak bacaan untuk melanjutkannya. Seperti sebagaimana yang saya tulis di Bulrb, novel ini mengangkat tema tentang Mental illness dan beberapa pengetahuan tentang ilmu psikologi lainnya, jadi saya butuh banyak bacaan lagi untuk melanjutkannya (dan sekarang belum ada waktu hehe)


 


Well, itu dia tulisan-tulisan saya yang ada di platform Noveltoon/Mangatoon. Mohon maaf sekali karena promosi panjang lebar di sini^^