After Death

After Death
Bab 127: Percakapan Dini Hari



Pram menangis karena ia merasa telah melakukan kesalahan besar di pagi yang ia lewatkan tanpa Kharon itu. Ia menduga khodamnya itu melihat semua adegan antara dirinya dan Philemon soal buket bunga. Tapi Kharon yang tengah fokus mengobati Pram tak melihat gadis itu sedang menangis tanpa bersuara.


"Sudah. Kau bisa menggunakan teknik penyembuhan diri sendiri nanti agar lukanya cepat hilang." kata Kharon dengan senyum dan melihat ke arah Pram.


"Pram, apa ini sakit?" lelaki itu sangat mudah panik kalau melihat Pram menangis.


Pram menggeleng lalu memeluk Kharon dengan erat.


"Apa kau baik-baik saja, Pram?" Kharon mengucapkan kalimatnya dengan ragu-ragu. Tak biasanya Pram menangis untuk luka kecil begitu. Perempuan itu selalu kuat fisiknya menahan luka.


"Apa tadi pagi aku membuatmu cemburu?" Pram masih sesenggukan.


"Siapa yang mengatakan itu padamu?" Kharon memegang kedua pundak Pram dan menatap gadis yang sedang tertunduk itu.


"Maafkan aku, Ron. Tidak semestinya aku bersama lelaki lain. Tidak seharusnya aku menerima pemberian pria lain. Itu pasti akan menyakitkanmu, dan aku malah tetap melakukannya." kata Pram lirih.


"Sudahlah Pram. Aku tak apa. Aku juga tidak marah padamu. Sekarang biar kubuang saja ya buket bunga ini." Kharon berkata sambil mengangkat beberapa tangkai bunga.


"Jangan, jangan. Aku mohon jangan lakukan itu Ron." Pram buru-buru mengambil beberapa tangkai mawar dari tangan Kharon.


"Pram, tapi kau tak perlu melakukan ini semua. Aku tak masalah jika kau menyimpan buket bunga dari tuan Philemon dan membuang bunga ini. Buket bunga ini sudah layu dan buruk. Memang pantasnya dibuang." kata Kharon dengan nada biasa. Ia sungguh tak marah kalau Pram membiarkan bunga itu di tong sampah.


"Tidak, tidak. Kau sudah membuatnya dengan susah payah. Ini pasti buket bunga pertama yang pernah kau buat. Aku tidak akan melewatkannya begitu saja. Bagiku buket bunga ini sangat berharga, Ron. Aku bersyukur mengetahui ini sebelum bunga-bunga kering. Jadi, aku mohon, biarkan aku melakukan yang ingin aku lakukan Ron. Ini bukan untuk menyenangkan atau menghibur perasaanmu. Ini untuk diriku sendiri. Aku akan merasa sangat bersalah jika tidak melakukan ini." Pram berkata dengan cepat namun lirih saja. Justru membuat hati Kharon luluh dan terenyuh.


"Sebetulnya aku telah menyusun buket bunga lebih dari sepuluh kali, Pram. Dan yaaah hehe inilah susunan bunga terbaik yang bisa aku rangkai." Kharon sedikit menunduk karena malu.


Pram tidak berkata apapun. Ia bergegas meraih kedua tangan Kharon dengan wajah panik. Ia membuat tangan Kharon terbuka hingga terlihat kedua telapaknya seperti seorang yang tengah berdoa. Pram mengelus setiap sayatan duri di tangan Kharon yang jumlahnya sangat banyak lantas mengecupnya. Telapak tangan itu hampir dipenuhi oleh bekas sayatan duri mawar.


Ya, dalam buket bunga buatan Kharon hanya ada bunga mawar dengan dua paduan warna. Mawar biru di tengah dan dibungkus mawar merah di tepi. Mawar biru yang ia petik adalah mawar pilihan dengan kelopak bunga yang lebih besar dari yang lainnya.


Kharon sangat tak menyangka akan mendapat apresiasi dari Pram sampai sebegitunya. Ia sungguh tidak mengharapkan itu semua. Tapi ia sangat bahagia menerimanya.


"Mengapa kau tak masuk saja dan memberikan buket bunga ini padaku?" kata Pram sambil memegang kedua tangan Kharon.


"Heeem, aku tidak cukup berani untuk melalakukannya. Aku lihat kau sangat bahagia menerima buket bunga dari tuan Philemon yang sangat indah itu. Aku tak ingin merusak suasana hatimu dengan memberikan rangkaian bunga yang sangat buruk seperti ini. Maafkan aku ya, Pram." kata Kharon lirih dan penuh sesal.


Pram memeluk lelaki itu dengan senyum dan air mata. Ia begitu menyayangi Kharon dan merasa sangat beruntung memiliki kekasih sepertinya, yang begitu mementingkan kebahagiaan Pram dan mengabaikan kebahagiaannya sendiri. Pram yakin bahwa pagi itu Kharon pasti sungguh kesal.


"Kau memang lelaki receh yang bodoh. Tapi aku sungguh mencintaimu."


"Iya, kau memang benar." kata Kharon sambil tersenyum.


Pram menatap Kharon.


"Kau tahu, pagi itu aku sangat berharap buket bunga itu darimu. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain menerima buket bunga dari kekasih di pagi hari. Hari pasti akan lebih cerah jika dimulai dengan begitu."


"Apa buket bunga ini terlalu buruk, Pram?" kata Kharon sambil membantu Pram membersihkan setangkai demi setangkai bunga mawar yang tadi sangat ingin ia buang lagi.


"Siapa yang mengatakan itu padamu? Ini adalah buket bunga terindah yang pernah aku lihat karena dibuat dari segenap hati dan ketulusan. Bukankah katamu yang membuat matahari terbit tampak indah adalah suasana hati orang yang memandangnya. Suasana hatiku sangat berbunga-bunga ketika melihat buket bunga ini."


"Kau ini, pandai sekali membual." Kharon mengatakannya dengan malu-malu karena kata-kata manis Pram. Ia juga merasa perlu menepuk lengan Pram, hingga membuat gadis itu terkejut dan sedikit oleng.


"Pram, bagaimana perasaanmu pada tuan Philemon?" Kharon memberanikan diri menanyakan hal itu pada Pram.


"Perasaan? Maksudmu?"


"Ya, apa yang kau rasakan saat ada di samping tuang Philemon, saat ia memberikan perhatian padamu. Bagaimana perasaanmu? Apa kau senang, gembira, atau apa gitu?" Kharon berusaha keras menyembunyikan kegelisahannya.


"Kau tahu Ron. Aku sungguh senang dipertemukan dengan tuan Philemon. Kehadirannya menjadi pengobat rinduku pada Ghozie." jawaban Pram sontak membuat Kharon tersenyum lega dan bahagia karena kekasihnya itu hanya menganggap putra bungsu Shaman sebagai seorang kakak, tidak lebih.


"Lalu, lalu..." Kharon tidak cukup berani untuk menuntaskan kalimatnya. Tapi ia sungguh ingin menanyakan hal itu.


"Lalu apa? Berkatalah dengan benar, Ron."


"Lalu, bagaimana jika Raja Ramadhana menginginkanmu menjadi menantunya?"


"Aww!" Pram tertusuk duri lagi. Kali ini dengan darah keluar yang lebih banyak, sepertinya lukanya lebih dalam.


"Kau ini! Apa pertanyaanku tadi terlalu mengejutkanmu hingga membuatmu begini lagi."


Kharon mengisap darah dari jari tengah Pram, lantas memuntahkannya ke dalam ember. Dan dengan cepat mengganti air dalam ember ketika jari Pram tak lagi mengeluarkan darah.


"Mengapa kau sering berandai-andai dan menyulitkanku dengan pertanyaan yang belum tentu terjadi?"


"Jawablah saja, Pram." lirih suara Kharon.


Pram menatapnya. Ia melihat ada kegelisahan dan juga kesedihan di wajah Kharon. Entah apa yang ada dalam pikiran lelaki itu, benak Pram. Tapi ia tak suka melihat khodamnya itu muram.


"Kalau paman Ramadhana mengangkatmu sebagai putranya, aku akan senang hati menuruti keinginan paman untuk menjadi menantunya." kata Pram dengan senyum sumringah. Membuat Kharon tersenyum pula mendengar jawaban yang sangat manis itu.


"Kalau tidak?" tanya Kharon membuat Pram menahan kesal mendengarnya.