After Death

After Death
Bagian 46: Kehancuran Hutan Białowieża



Senja di Cato memang tak seindah di Białowieża. Sebaliknya, berada di semak bambu kuning saat senja terasa mencekam. Pram seperti sedang dipandang oleh mata-mata kemung. Mungkin karena tempat itu adalah gerbang masuknya apapun dari dimensi lain, ia merasa ada banyak hal yang berseliweran menabraknya.


Kharon yang telah keluar dari tubuhnya buru-buru memeluknya erat. Bulu sayap Eliztanu pun lekas-lekas ia tiup.


"Antarkan kami ke Hutan Białowieża."


Dalam sekejap mereka sampai di Białowieża. Namun, Pram dan Kharon hampir-hampir tak mengenali habitat bison eropa itu.


Separuh lebih hutan telah gersang. Aneka pohon yang tinggi menjulang telah tumbang. Kharon melihat peri-peri menangis. Bangkai hewan-hewan berserakan. Udara yang biasanya selalu lembab, kini terasa sangat panas.


Pram menatap nanar. Ia menggenggam erat tangan Kharon.


"Duduklah di sini. Aku akan memanggil Eliz." Pram duduk di atas kayu pohon oak yang tumbang sambil terus mengamati seluruh permukaan hutan yang tampak di matanya. Ia belum bisa memercayai penglihatannya.


Kharon duduk bersila sambil memejamkan mata. Kesedihan dan kecemasan tersangkut jelas di raut wajahnya.


Eliztanu datang dengan wajah sumringah. Sangat jauh berbeda dengan kenampakan di wajah Kharon.


"Bagaimana bisa kau tetap tersenyum begitu?" Kharon berkata dengan sedikit marah. Ia bahkan tidak mampu hanya berkata dalam batin, membuat Pram terkejut.


Sejujurnya, Kharon tengah sangat marah pada dirinya sendiri. Mengapa ia justru pergi meninggalkan sahabatnya di saat bantuannya sungguh dibutuhkan.


"Tenanglah Kharon. Apa kau tak melihat kebahagiaanku karena masih bisa melihatmu? Aku sungguh senang kau menjaga Pram dengan baik."


Eliztanu menceritakan betapa besarnya serangan yang diluncurkan anak buah Bemius. Ia tak mampu membayangkan apa yang akan terjadi jika Bemius turut hadir dalam serangan itu. Mungkin Białowieża akan hilang seutuhnya, tak tersisa.


Jin-jin jahat dan siluman dengan berbagai wujud datang setelah hujan bola api diluncurkan. Mereka menangkap para peri penjaga. Tidak seperti Eliztanu yang memiliki banyak kekuatan sebagai pemimpin para peri hutan, peri-peri biasa tidak memiliki kemampuan istimewa, selain hanya melindungi apa yang menjadi tanggung jawab mereka. Para peri hutan tidak memiliki ilmu pertahanan diri.


"Apa mereka juga melukaimu?" Pram melihat Kharon menahan tangis.


"Sedikit." jawab Eliz masih dengan senyum.


"Apa mereka juga yang membuat sayapmu hilang?"


Eliztanu hanya tersenyum.


"Ayolah Eliz. Berhentilah terlihat kuat di hadapanku. Apa kau kira aku tak tahu kalau kau sedang tidak sehat?"


Saat mengetahui bahwa Eliztanu adalah pemimpin para peri, pasukan jin dan siluman Bemius berusaha untuk mendapat informasi tentang keberadaan Pram.


Eliztanu hanya mengatakan bahwa Pram telah pergi karena salah seorang temannya sakit. Lantas, seorang panglima jin mencoba mengendus jejak untuk memastikan apakah Pram masih di Bumi atau kembali ke Cato.


"Aku tak tahu bagaimana caranya, tapi mereka tahu kalau kalian ada di Cato."


"Apa kau memberi tahu mereka kalau kami berteleportasi menggunakan bulu sayapmu?"


Eliztanu mengangguk. Sebagai seorang peri, ia memang tidak bisa berbohong. Ia hanya mampu menutupi informasi tanpa berbohong. Namun, jika terus didesak dengan pertanyaan yang tepat, rahasia sekalipun akan ia ungkapkan.


***


Sekali lagi, mohon dukung penulis dengan cara tinggalkan like, komen, dan share novel ini ke teman-teman. Terima kasih 😍😍😍