After Death

After Death
Bab 165: Pembebasan Pram



Lucy menarik napas panjang saat memasuki kantor kepala distrik. Sementara Kharon, ia mulai gelisah sebab sudah terlalu lama berada jauh dari Pram. Ia sangat khawatir jika ada penghuni Cato lainnya, misalnya sipir, yang juga tergiur dengan tawaran Bemius sehingga bersedia melakukan perjanjian untuk menyakiti Pram. Tapi ia kemudian meredam sendiri kegelisahannya itu dengan pikiran bahwa Pram kini bukanlah Pram yang dulu. Kekasihku sudah bisa menjaga dirinya sendiri, begitu kata Kharon dalam hati.


“Lucy, aku mohon di dalam nanti seandainya ayahmu tetap ingin kasus Pram dilanjutkan, tolong kau bujuk dia agar cepat cepat membebaskan Pram dari penjara serta mengizinkan Pram untuk berjuang membantu masyarakat Shaman.” kata Kharon dengan wajah serius.


“Tentu Kharon, aku janji padamu, Pram akan bebas.” kata Lucy mantap membuat Kharon tersenyum lega.


Tok... tok... tok...


Lucy langsung masuk bersama Kharon tanpa menunggu aba aba dari ayahnya.


“Ada apa Lucy? Apa kau menemukan sesuatu?” tanya Kepala Distrik yang melihat wajah Lucy yang tampak lesu sekaligus gelisah.


Lucy menceritakan semuanya. Mulai dari keberadaan Dante sebagai petugas kematian Cato yang tak kunjung kembali, hilang bersama semua datanya, tentang penambahan saldo rekening nyonya Rui Paloh beserta sikapnya yang tidak seperti biasanya, dan lain sebagainya. Semua cerita itu membuat Kepala Distrik menggeleng berulang kali.


“Kita harus bergerak cepat ayah. Bemius sudah membobol data kita, maka setelah ini apa lagi? Aku tidak ingin kalau apa yang terjadi pada Negeri Shaman akan menimpa kota kita juga, bahkan Anastasia secara keseluruhan.” ucap Lucy sambil menahan tangis.


“Memangnya ada apa dengan Shaman?” tanya Kepala Distrik yang hampir tak percaya pada pendengarannya.


Ayah Lucy sudah menjabat hampir sepuluh tahun. Dan selama ini semua baik baik saja, selalu berjalan sebagaimana mestinya. Tak heran jika kabar buruk yang dibawa puterinya itu membuatnya sulit untuk percaya.


“Shaman sudah hancur. Semua rakyat ditahan. Banyak yang meninggal. Seluruh negeri diambil alih oleh para jin dan siluman hitam. Jika tidak bergerak cepat, maka seluruh penduduk Shaman akan mati karena penyiksaan yang dilakukan di dalam penjara.” jawab Raja Ramadhana tanpa berkedip dan tanpa melihat ke arah Kepala Distrik yang kini memandangnya iba.


“Pram tidak bersalah, ayah. Sebaliknya, dia adalah harapan untuk bisa mengalahkan para jin dan siluman hitam. Juga harapan bagi Cato bahkan Anastasia untuk terbebas dari ancaman kehancuran. Jika Pram tetap di sini, bukan tidak mungkin jika suatu saat Bemius juga akan menyerang Anastasia secara terang terangan. Lalu yang bisa kita lakukan hanya menyesal sebab semuanya telah terlambat.” kata Lucy menjelaskan.


Kepala Distrik menelan ludah. Sebenarnya ia masih tak habis pikir, bagaimana bisa putra dari seorang raja justru menjadi monster yang menghancurkan kerajaan ayahnya sendiri.


“Baiklah, aku akan pergi langsung ke Kantor Peradilan dan membebaskan Pram. Juga meminta kepala peradilan untuk mengabaikan semua hitungan denda baik yang sudah terlewat ataupun yang akan terjadi.” tegas Kepala Distrik.


Jawaban dari Kepala Distrik itu jelas membuat Kharon, Philemon, dan Raja Ramadhana tersenyum senang dan tidak berhenti mengucapkan terima kasih.


Kepala Distrik, Lucy, dan rombongan dari Shaman pun bersama-sama mendatangi kantor peradilan. Semua petugas peradilan, termasuk kepala peradilan, sangat terkejut dan was was atas kedatangan Kepala Distrik sebab mereka menyangka ada inspeksi dadakan. Maka para pegawai yang semulai santai santai saja, langsung duduk sigap dan terlihat sangat serius mengerjakan tugas masing masing, tanpa ada ocehan dengan sesama pegawai, ataupun dengkuran di meja kerja.


“Di mana tahanan yang bernama Prameswari?” tanya Kepala Distrik kepada Kepala Sipir.


“Itu di sana, Pak. Ma...mari saya tun...jukkan.” jawab Kepala Sipir terbata bata.


Kepala Sipir begitu takut sebab beberapa saat lalu seorang sipir perempuan yang menjaga penjara Pram, terlibat perkelahian dengan Pram. Sipir perempuan itu bahkan hingga memprovokasi sipir sipir lainnya untuk turut menyerang Pram. Ada sekitar enam sipir yang terlibat dalam usaha pengeroyokan terhadap Pram. Tapi bukannya berhasil menghajar Pram, justru merekalah yang menerima luka lebam akibat perlawanan yang dilakukan Pram.


Lalu, ia sebagai Kepala Sipir langsung memarahi Pram dan membela anak buahnya tanpa melihat duduk perkaranya. Kepala Sipir itu semakin cemas karena mengingat apa yang telah ia lakukan, yakni memborgol tangan dan kaki Pram dalam penjara, sebagai hukuman dan pemberian efek jera.


“Pram!” teriak Kharon yang melihat Pram terduduk dengan kepala menunduk.


Pram pun lekas bangkit dan berdiri sambil memasang senyum sumringah. Perempuan itu sebelumnya tertunduk lesu bukan karena perlakuan kasar yang ia terima, melainkan karena besarnya rasa rindu yang tertahan di hatinya kepada Kharon, kekasihnya.


“Apa yang terjadi? Mengapa tangan dan kakimu diborgol?” tanya Lucy menyelidik. Kepala Sipir langsung menunduk.


“Siapa dia?” tanya Pram kepada Kharon penasaran dan sempat cemburu.


“Oh, kenalkan aku dari Dewan Pengawas Cato, Lucy. Dan ini ayahku, Kepala Distrik Cato.” ucap Lucy tersenyum lebar sambil mengulurkan tangannya.


“Lepaskan Pram sekarang juga.” perintah Kepala Distrik membuat sipir perempuan yang tadi menyerang Pram langsung membuka kunci penjara sekaligus borgol dari tangan dan kaki Pram.


“Apa yang terjadi denganmu? Mengapa wajahmu lebam lebam seperti telah menerima pukulan?” tanya Kepala Distrik sambil mengernyitkan dahi karena keheranan. Sementara Kepala Sipir sedang berdebar debar khawatir kesalahannya akan terungkap.


“Aku telah memukulinya.” sergap Pram sontak membuat semua orang menoleh ke arahnya.


“Aku tak tahu apa yang terjadi pada orang orang di sini. Mereka seperti orang yang sedang kerasukan. Apa, aku tak berbuat apapun, tapi mereka menyerangku begitu saja. Bukan hanya perempuan ini, lima sipir lainnya juga babak belur. Aku sempat tersulut dan hampir ikutan gila seperti mereka sampai pria gendut ini datang memisahkan kami. Dia langsung memarahiku dan mengeluarkan berbagai macam umpatan. Lalu, seperti yang kau lihat Lucy, tangan dan kakiku diborgol olehnya.” kata Pram ceplas ceplos tanpa jeda sambil berulang kali menunjuk ke arah Kepala Sipir.


Sekejap saja Pram telah membuat Kepala Distrik kagum atas keberaniannya, juga kejujurannya.


“Apa aku bebas sekarang?” tanya Pram semangat saat borgol di kaki dan tangannya telah diambil oleh sipir.


“Ya, kau bebas.” jawab Kepala Distrik sambil tersenyum.


Pram melompat lompat kegirangan. Ia juga memeluk semua orang. Bahkan juga Kepala Sipir yang memborgolnya, serta sipir perempuan yang menyerangnya.


“Ini adalah hari paling gila. Aku yang biasanya menjadi orang paling gila, dipertemukan dengan orang orang yang lebih gila.” kata Pram tanpa sungkan. Dan semua orang yang mendengar ucapannya menjadi tertawa.


Di tengah keriuhan dan gelak tawa, Kharon mendekat ke arah Lucy dengan wajah yang sangat serius.


“Lucy, cobalah kau periksa saldo rekening semua sipir yang terlibat dalam penyerangan Pram. Aku yakin kau akan menemukan masuknya dana di sana.” bisik Kharon pada Lucy, membuat perempuan yang seumuran dengan Pram itu mengangguk mengerti.


“Jika ucapanku benar, lakukanlah penyelidikan terhadap mereka, juga pada nyonya Rui Paloh. Semoga itu bisa memberimu jawaban dan membantumu untuk menjaga kota ini dari penguasaan Bemius. O, iya jangan lupa mintalah ayahmu untuk memperketat keamanan dan memeriksa setiap orang. Juga melakukan penjagaan di semak bambu kuning.” kata Kharon lagi.


 


***


Bemius memandangi lukisan wajah ibunya yang tergantung di dinding. Ia mengusap potret perempuan yang sangat ia sayangi itu dengan lembut dan senyum tulus.


“Ibu, apa ibu masih marah padaku? Aku sungguh tak bermaksud untuk membunuhmu ibu. Maafkan aku. Dan tolong, tolong ibu sampaikan kepada ayah bahwa aku sangat merindukannya. Rasanya aku sudah ingin melihat jantung ayah menghiasi ruangan ini. Dan bila hal itu telah benar benar terjadi, ibu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan membiarkan lelaki itu mati dengan tenang menyusul ibu. Aku akan membuat ia mengerti bagaimana rasanya menderita. Benar ibu, aku memang akan memasukkannya ke dalam selubung roh. Sehingga ayah akan tahu susahnya bekerja.” kata Bemius sambil mengeluarkan air mata.


“Aku dan ayah memiliki jalinan batin yang cukup kuat, ibu. Aku merasa ayah akan segera berkunjung dalam waktu dekat. Meski dia sangat payah sebagai seorang ayah, aku masih akan menganggapnya ayah saat dia sudah mati. Aku tidak akan mengingkarinya. Bahkan aku berjanji akan menyambut kedatangannya dengan banyak kejutan.”


Bemius memang telah sangat siap jika sewaktu waktu Pram dan rombongan akan datang menyerang. Persiapan Bemius telah mencangkup semua wilayah, baik yang berada di Anathemus maupun yang ada di Shaman.


Bemius berjalan menghampiri lukisan wajah ayahnya. Bemius hanya berdiam saja sambil terus menatap mata dalam potret ayahnya dengan tajam. Dan setelah sekian lama mematung, Bemius tersenyum getir sambil menolehkan kepalanya ke samping kanan.


“Aku mengenalmu jauh lebih baik daripada kau mengenal dirimu sendiri. Sama sepertiku, kau adalah seorang raja yang baik. Kau tidak akan pernah meninggalkan rakyatmu selamanya. Apalagi setelah kau tahu bahwa mereka sangat membutuhkanmu. Jadi, jika kita memang memiliki banyak kesamaan, seperti yang sering dikatakan orang orang bahwa aku mirip denganmu, lalu mengapa kau selalu ingin membunuhku?” Bemius mengelap pipinya yang basah.


Ia lantas duduk di kursi kayunya sambil memejamkan mata. Ia membayangkan wajah ibunya. Dan entah bagaimana ia kemudian mencoba menerka dalam hati seperti apa wajah Pram.


Bemius kemudin tertawa kecil. Merasa sangat konyol.


Jika kemarahannya dan rasa ingin membunuhnya kepada sang ayah sangat besar, tentu itu adalah hal yang wajar. Sebab sang ayah telah menjadi musuhnya sejak kecil. Sedangkan Pram, Bemius bahkan tidak tahu bagaimana wajah perempuan itu. Setiap kali ia melakukan penerawangan kepada Pram, selalu saja tidak bisa. Perempuan itu dilindungi oleh kekuatan besar. Itu sebabnya, Bemius memerlukan alat untuk bisa mendeteksi keberadaan Pram, seperti duplikat kalung medalion yang sempat dibawa Pram, informasi melalui Dante, dan lain sebagainya.


Sebagai seorang yang terkenal kejam dan tidak memiliki hati nurani, sebenarnya Bemius memiliki perasaan yang sangat lembut. Buktinya, sebagai seorang raja, ia tidak pernah membiarkan rakyatnya menderita. Sedangkan sikapnya yang sangat jauh berbeda kepada para penduduk Shaman, tidak lain adalah karena dendam dan kemarahan Bemius kepada Raja Ramadhana yang kadarnya telah melampaui batas.