
Situasi Gyan Bhandar di siang hari masih sama. Meski perpustakaan buka dan ada banyak pengunjung yang datang, tetap saja sunyi karena para pengunjung patuh pada aturan untuk menjaga ketenangan perpustakaan. Pram dan Kharon masih belum beranjak dari Gyan Bhandar karena Kharon masih dalam masa pemulihan. Lukanya benar-benar parah.
Enam jam setelah Kharon meminum obat yang diberikan Philemon, ia sudah sadarkan diri namun belum mampu duduk. Luka diperutnya sangat dalam. Alhasil, Pramlah yang bolak-balik keluar masuk perpustakaan untuk membeli makan dan minum. Pram telah bisa membuat selubung perlindungan diri. Philemonlah yang telah mengajarinya. Dalam perjalannya mencari logistik, Pram selalu menahan nafasnya. Hanya sesekali saja ia menghirup dan mengeluarkan udara. Hal itu untuk memperkuat perlindungannya dari anak buah Bemius yang sangat kejam dan tak berperasaan.
Dalam sakit, Kharon tak banyak bicara. Ia hanya tersenyum untuk semua yang dikatakan Pram. Gadis itu telah merawatnya dengan sangat baik dan sabar, juga lembut. Pram selalu membacakan buku cerita humor yang ada di perpustakaan. Kharon selalu terkesan dengan semua ceritanya, atau sebetulnya terkesan pada orang yang bercerita.
Pram belum menceritakan apapun soal Philemon, juga soal buku Anak Purnama Ketujuh yang telah ada di tangannya. Pram tak ingin membuat kejut pada Kharon. Meski sangat ingin bercerita, ia sabar menunggu khodamnya itu pulih.
Dan kini, saat Kharon sudah tampak lebih bugar dan sudah mulai bisa berbicara, Pram berencana untuk menceritakan semuanya. Ia duduk di sebelah Kharon yang tengah duduk dan membaca sebuah buku resep olahan daging.
"Pram." kata Kharon lirih sambil menutup buku yang ia baca dan menoleh ke arah Pram.
"Iya."
"Aku telah berjanji padamu untuk menceritakan soal buku Anak Purnama Ketujuh saat kita tiba di perpustakaan. Kau ingat?" kata Kharon seperti tahu isi hati Prameswari.
Pram mengangguk.
"Maafkan aku Pram. Buku itu tak ada di sini. Aku telah mencarinya, tapi tak juga ketemu. Aku tak tahu apakah buku itu sudah ada yang mengambilnya sebelum kita, atau penglihatan Dewi Thalassa yang salah, atau bisa juga aku melewatkan beberapa judul buku karena terlalu ngantuk. Aku janji, saat aku sudah lebih bugar dari sekarang, aku akan mencari lagi buku itu di setiap rak yang ada di perpustakaan ini. Kau boleh duduk saja, atau jika tidak keberatan membantu mencari lagi juga tak apa." Kharon terbatuk. Wajahnya sedikit meringis menahan sakit.
"Kan kau sampai terbatuk. Itu adalah perkataan terpanjangmu setelah penyerangan dari Bemius. Tahan dulu ya, jangan terlalu banyak bicara." Pram mengambilkan sebotol air minum untuk Kharon.
"Aku punya sesuatu untukmu." Pram mengambil sebuah buntelan kain berwarna hijau. Ia membukanya. Tampak sebuah buku kuno.
"Buku Anak Purnama Ketujuh?" Kharon melotot melihat buku yang dicarinya ternyata telah ditemukan. Tapi ia masih belum percaya pada penglihatannya. Ia mengucek kedua matanya beberapa kali. Dan buku itu tetap ada di depannya.
"Tapi...."
"Bagaimana bisa aku mendapatkannya?" Pram memotong pembicaraan Kharon.
"Ron, sekarang kau dengar saja semua ceritaku tanpa berkata apapun jika tidak penting."
Kharon mengangguk. Ia mengerti maksud Pram agar tidak terlalu banyak bicara dahulu.
"Saat itu anak buah Bemius menghajarmu tanpa ampun. Bahkan saat kau sudah tak sadarkan diri, dan darahmu hampir membuat seluruh buku di perpustakaan ini hanyut, mereka masih terus saja melukaimu. Sampai sekarang aku sangat takut saat mengingat semua yang terjadi pada waktu itu."
Kharon tersenyum mendengar Pram mulai melebih-lebihkan ceritanya.
"Aku memohon pada pemimpin mereka agar menolongmu yang sedang terluka, tapi aku malah dilempar dan jatuh tepat di sampingmu."
"Stop! Sudah kubilang tidak usah mengatakan apapun yang tak penting, oke!" lagi-lagi Pram memotong ucapan Kharon. Kemudian melanjutkan ceritanya.
"Lalu tiba-tiba ada sebuah panah berwarna perak yang melukai seorang jin. Anak buah Bemius mencari si empunya panah, tapi tak ketemu. Dan entah bagaimana orang misterius itu membawa kita bersamanya tanpa sepengetahuan anak buah Bemius.
Saat para pengikut Bemius itu pergi, aku mendapati diriku juga dirimu telah berada di tempat yang sama yang bersimbah darah yang keluar dari tubuhmu. Aku sendiri tak tahu kemana orang misterius itu membawa kita pergi dan bersembunyi.
Kemudian dia menanyakan beberapa hal padaku. Aku menjawab apa adanya. Lalu ia seperti mengambil sesuatu yang tak tampak olehku. Dan meletakkannya di sini. Beberapa detik kemudian buku ini sudah ada di hadapanku persis seperti sekarang. Dia bilang, buku ini disimpan dalam pusaka.... Aku lupa namanya."
"Kyai Anteh?"
"Ya benar. Bagaimana kau tahu?"
"Biasa." kata Kharon penuh kebanggaan.
"Karena pusaka itulah, tak ada satu pun yang bisa melihat buku itu, kecuali orang itu sendiri. Jadi meskipun buku ini ada di antara rak-rak ini, sampai mata kita keluar sekalipum, tak mungkin buku ini bisa kita temukan. Orang melihatnya saja kita tak mampu.
Bersama buku ini, dia memberiku sebuah kunci untuk membuka segel ini. Dia memintaku untuk membuka segelnya saat kau telah sadar. Tapi aku tak ingin mengganggu proses pemulihanmu. Jadi baru aku katakan semuanya sekarang."
Kharon meletakkan buku Anak Purnama Ketujuh di pangkuannya. Ia mengusap sampul buku itu, sangat sederhana, tak ada gambar atau karakter tertentu, hanya sedikit ukiran di pojokan buku. Sangat tebal tapi tidak berat. Judul tulisan dirajut dari benang berwarna emas, sangat rapi.
"Bagaimana Ron, apa aku bisa membukanya sekarang?"
Kharon mengangguk. Baik Pram maupun Kharon sama-sama was-was saat hendak membuka segel buku. Dan saat segel telah terbuka dan sampul dibalik, muncul cahaya keemasan dari dalam buku. Sinar itu bahkan membuat Pram dan Kharon refleks sedikit memalingkan muka.
Keduanya lantas saling memandang dan tersenyum.
"Apa kau siap menjelajahi buku ini, Pram?"
"Aku sangat bernafsu membalaskan luka di tubuhmu. Mereka harus tahu, dengan siapa mereka berhadapan."
Kharon tertawa sambil memegangi perutnya yang masih terasa sakit. Sontak membuat Pram mengambil buku itu dari pangkuannya.
"Apa kau baik-baik saja?"
Kharon tak mengatakan apapun. Hanya tersenyum dan memeluk erat Pram.