After Death

After Death
Bab 124: Lelaki Receh



Pram memang merasa sangat senang menerima buket bunga dari Philemon. Sungguh indah dan wangi. Ia masih ingat terakhir kali menerima buket bunga adalah dari pacarnya di bumi. Dan ia sama sekali tak tahu bahwa buket bunga itu sekaligus sebagai karangan bunga untuk kematiannya.


Meski sudah tak menaruh marah atau dendam pada Pangli, dada Pram selalu sesak ketika mengingat lelaki itu. Lelaki yang menukar nyawanya dengan paket liburan ke luar negeri, sungguh menyedihkan. Dasar pria receh, benak Pram.


Dan kata receh sontak membangunkan lamunannya. Ia teringat pada Kharon. Entah kemana lelaki itu menghilang, tak muncul hingga membuatnya kangen.


"Phil, dimana Kharon? Aku tak melihatnya sejak semalam. Apa dia tidak khawatir padaku? Khodam macam apa dia yang meninggalkan tuannya begitu lama dalam keadaan lemah begini!" gerutu Pram tanpa jeda. Membuat Philemon tersenyum melihat gadis yang ia cintai demikian lucu dan menggemaskan. Pram terlihat semakin manis saat mengomel.


"Phil! Apa kau tak mendengarku?" bentak Pram kesal melihat Philemon hanya tersenyum dan tak kunjung menjawab pertanyaannya. Pram dan Philemon memang semakin akrab hingga Pram sudah tak canggung lagi untuk mengomel, membentak, marah, dan lain sebagainya kepada Philemon.


"Oh, dengar, dengar. Aku mendengarmu Pram. Aku hanya...." Philemon ingin mengungkapkan apa yang ia rasakan dengan jujur, dan ia mengambil jeda untuk itu.


"Hanya apa?" Pram segera menyergap.


"Aku hanya terlalu terpesona melihatmu menggerutu seperti tadi. Kau terlihat sangat manis." kata Philemon sambil menunduk malu dan sesekali melihat ke arah Pram.


Pram terdiam. Ia sama sekali tak mengira Philemon akan berkata demikian. Meski ia senang dengan pujian itu, Pram pikir tentu akan lebih menyenangkan jika yang berkata demikian adalah Kharon, kekasihnya.


"Kau ini!" Pram merasa perlu menepuk lengan Philemon untuk mencairkan suasana yang hening beberapa saat.


Philemon tersenyum dan mengelus lengannya, bukan karena sakit, tapi karena ia ingin memegang bekas tangan Pram.


"Berjanjilah bahwa kau tidak akan memarahi Kharon. Dia adalah orang yang menolongmu saat kau tenggelam di sungai." kata Philemon masih dengan senyum.


"Benarkah?" Pram memang tak mengingat peristiwa itu karena sesaat setelah tenggelam, ia langsung pingsan.


"Iya, Pram. Mungkin Kharon terlalu kaget dengan peristiwa kemarin. Setelah menolongmu, wajahnya tampak pucat."


Pram terdiam. Ia menghawatirkan Kharon. Lelaki itu terkadang begitu menjengkelkan karena seringkali bertingkah sok kuat. Pram takut khodamnya itu tak menampakkan batang hidungnya karena terluka.


"Kau ini kemana saja? Pergi tak bilang-bilang, tanpa pamit, tanpa permisi. Dasar!" Pram mengucapkan semua kata-kata itu dengan nada tinggi.


Kharon memang kembali karena tidak bisa lagi menahan rindu. Dan di saat yang sama Raja Ramadhana juga sedang menuju tempat tinggal Pram membawa sekeranjang buah-buahan segar. Termasuk di antaranya apel merah yang mengingatkan Kharon pada buket bunga yang ia buang.


"Kau sedang pingsan. Kalau aku pamit percuma, kau tidak akan tahu." jawab Kharon dengan nada datar.


"Kan bisa bilang pada Phil. Kau memang selalu merepotkan. Lalu kenapa tak cepat kembali? Apa kau baru akan kembali saat aku keluyuran mencarimu? Apa kau kira aku tidak capek? Berhentilah bertingkah receh!" Pram memberondong semuanya tanpa jeda sedikit pun hingga nafasnya tersengal. Ia juga sama sekali tak menurunkan nada.


"Apa kau marah?" tanya Kharon dengan nada yang sama datarnya sambil mengangkat alis kanannya.


"Eeem, tidak." Pram menggeleng. Ia tak tahu mengapa ia bertingkah seperti orang yang sedang marah. Membuat Philemon dan Raja Ramadhana yang terdiam menjumpai Pram demikian sewot, kini jadi tertawa.


"Dasar, receh!" Kharon berjalan melewati Pram dan membiarkan tubuhnya terjatuh di atas tempat tidur Pram. Tentu saja berhasil membuat Pram kesal.


"Hei! Lelaki receh! Pergi kau dari tempat tidurku!" Pram berlari menyusul Kharon dan menghujani siluman harimau putih itu dengan bantal.


Tingkah Pram lagi-lagi membuat ayah dan anak tertawa. Sang raja bahkan hingga memegangi perutnya dan juga menitikan air mata. Philemon yang baru menjumpai sang ayah terlihat demikian gembira setelah sekian lama, menjadi sangat bahagia. Ia tak menyangka bisa melihat ayahnya tertawa lepas seperti itu lagi setelah kematian ibunya. Ia kemudian melihat wajah Pram, wajah orang yang telah menghadirkan kembali tawa indah ayahnya.


"Pram, hentikan! Apa kau tidak malu melakukan semua ini di depan tuan Philemon dan Raja Ramadhana?" kata Kharon dengan nada agak tinggi.


"Buat apa aku malu. Mereka sekarang kawanku. Phil! Paman! Ayo bantu aku menakhlukan siluman ini! Dia sungguh kasar dan beringas. Hahaha!" teriak Pram membuat Philemon dan Raja Ramadhana turut serta membantunya, terlibat dalam perang bantal, mengeroyok Kharon.


Pram memang telah sangat akrab dengan sang raja. Saat tahu Philemon menerima sebutan baru dari Pram, Raja Ramadhana juga menginginkannya. Sang raja  sebetulnya ingin Pram memanggilnya dengan sebutan ayah saja. Tapi Pram merasa kurang nyaman dan lebih memilih memanggil raja Shaman itu dengan sebutan paman.


Kharon sebenarnya tahu, bahwa semua ocehan Pram tadi adalah perwakilan dari rasa kangen. Dan tentu saja itu membuat hati Kharon bahagia. Rasa-rasanya sudah bertahun-tahun ia tidak mendengar omelan Pram, ia sungguh rindu.