After Death

After Death
Bab 149: Melihat Keluarga



Pram melepaskan pelukannya dari Kharon ketika ia merasa telah kuat. Gadis itu membulatkan keinginannya untuk melihat kondisi keluarganya. Ia berterima kasih kepada ketiga lelaki yang ada di sampingnya karena selama ini mereka telah setia menemani Pram dalam keadaan apapun.


Hari di Pulau Amsleng Sufir Matdrakab telah siang. Setelah Pram menyelesaikan prosesi pemanggilan roh dewi pencabut nyawa, keadaan di sekitar pulau itu pun secara otomatis langsung kembali normal. Tidak ada lagi angin ribut, awan hitam juga petir yang menyambar. Namun seperti tengah menangis lega, di pulau itu kini sedang turun hujan rintik. Pram, Kharon, Philemon, dan sang raja pun berlari masuk ke dalam rumah. Mereka sepakat untuk makan siang bersama di tempat tinggal Pram. Dan telah jelas siapa yang akan menjadi juru masaknya, sudah barang tentu Kharon, lagi.


Semua orang pasrah pada menu makanan yang akan dibuat Kharon. Dan siang ini terhidang ikan gurame bakar lengkap dengan sambal pete yang pedas. Lelaki itu juga membuat nasi uduk yang sengaja ia bungkus dengan daun pisang. Semua orang memuji masakan Kharon yanv nikmat. Bahkan semuanya juga merasa kurang pada porsi pertama. Hingga mereka mengambil lagi nasi uduk untuk disantap.


Sementara yang lain makan untuk piring kedua, Kharon kembali ke dapur dan membuat es cendol selasih yang segar. Ia sengaja meletakkan es tersebut pada gelas gelas jumbo agar setiap orang merasa puas setelah menghabiskan satu gelas es, dan tidak merengek meminta lagi es gelas kedua.


Sepanjang memasak dan makan, Kharon tak tampak tersenyum. Hanya sesekali saja saat tanpa sengaja pandangan matanya bertemu dengan mata mata ketiga orang di sekitarnya. Wajah masamnya itu bukan tanpa alasan.


Entah bagaimana Kharon memiliki firasat buruk pada keluarga Pram. Mungkin hal itu juga dipengaruhi oleh pengalamannya selama mendampingi Sadawira membantu orang orang yang kesusahan karena ulah jin dan siluman hitam. Semua orang yang memiliki kasus serupa dengan keluarga Pram, yakni memiliki ikatan perjanjian dengan jin hitam, tidak ada satu pun yang lolos sempurna. Selalu ada bagian keluarga yang berakhir mengenaskan. Dan Kharon tentu tidak ingin melihat Pram bersedih sebab mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Diam dan tak tahu apa apa terkadang memang lebih membahagiakan, kata Kharon dalam benaknya.


Kharon menduga kalau Pram sampai tahu keadaan keluarganya saat ini, pasti ia akan menangis lagi. Dan ia selalu benci melihat gadis itu menangis.


Kharon lantas berjalan menuju jendela setelah meletakkan es cendol selasih di meja makan. Tanpa berkata apapun. Philemon yang merasa kalau Kharon sedang gelisah, turut serta mengikuti Kharon berjalan menuju jendela. Waktu itu jendela masih tertutup. Lalu, Kharon membukanya meski kini hujan turun agak lebat.


Lelaki utu memejamkan matanya dan menghela nafas panjang. Ia seperti tengah menyiapkan batin untuk menghadapi peristiwa yang akan terjadi. Philemon yang berdiri di sampingnya, memandangnya lekat lekat. Dan langsung membuat Kharon terkejut ketika siluman harimau putih itu membuka matanya.


"Apa ada sesuatu yang mengkhawatirkan?" tanya Philemon tanpa menggeser pandangannya.


Kharon tersenyum. Ia berusaha menutupi kegelisahannya. Dan menahan mulutnya agar tidak ember.


"Kau tahu Ron, hujan selalu mengingatkanku pada ibu." kata Philemon kemudian sambil memindakan pandangannya ke hujan. Ia paham kalau Kharon sedang tak ingin menceritakan suasana hatinya. Maka, Philemon langsung mengubah topik pembicaraan.


"Ratu Tri Laksmini adalah orang yang baik." kata Kharon kemudian.


"Ibu selalu mengajak aku dan Bemius untuk main hujan. Tapi aku selalu menolak. Aku tak tahu mengapa aku tak suka terkena air hujan. Padahal katanya setiap rintik hujan selalu berhasil mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan pada orang yang ditimpa. Setidaknya itu memang benar dari hasil pengamatanku pada ibu dan juga Bemius. Mereka tak bisa berhenti tertawa ketika main hujan." kata Philemon dengan pandangan menerawang jauh menembus hujan.


"Setiap individu tidak pernah sama. Dan tidak pelu memaksakan diri untuk sama." komentar Kharon singkat tanpa menoleh ke arah Philemon yang kini sedang memandangnya.


"Hei, kalian. Ayo sini! Pram akan menjajal jurus barunya." teriak sang raja. Raja Ramadhana selalu terlihat sangat bahagia setiap kali selesai menyantap masakan Kharon.


Kharon menarik napas sangat panjang hingga Philemon dapat mendengar hembusannya. Mereka berdua berjalan menghampiri Pram dan sang raja yang sedang duduk di atas lantai beralaskan tikar.


"Apa yang akan kita lihat untuk pertama kali, Pram?" tanya Philemon sambil tersenyum.


"Lakukanlah, Pram." sahut Raja Ramadhana.


"Tunggu." Kharon membuat semua orang terdiam. Lelaki itu berjalan menuju meja makan dan mengambil kotak tisu berwarna hijau. Lantas meletakannya di depan Pram.


"Pastikan kau telah kuat untuk melihat apa yang ingin kau lihat." kata Kharon memperingatkan dengan nada dan wajah yang sama sama datar.


Jelas jelas Philemon dan Raja Ramadhana tampak sedikit takut atas sikap Kharon yang dingin. Lelaki itu tidak biasanya sedingin ini. Ia selalu ramah dan murah senyum. Pram pun menelan ludah mendengar peringatan dari Kharon. Hatinya menjadi was was menerka-nerka apa yang telah terjadi pada keluarganya.


Pram mengatur nafasnya. Ia lantas dengan sendirinya melakukan gerakan yang sebenarnya belum pernah ia pelajari. Lalu Pram terlihat seperti sedang membaca mantra.


"Tunjukkan aku keadaan Ghozie." kata Pram kemudian dengan suara yang terdengar lain.


Dan dengan begitu mengejutkan sinar terang terpancar dari tengah dahi sedikit di atas kedua alis Pram. Sinar itu membentur dinding sehingga tampak seperti sebuah layar bioskop. Dengan sangat mengagumkan, di layar tersebut tampak gambar Ghozie yang sedang repot mencuci piring di sebuah tempat yang terlihat mewah.


Tapi Pram hafal benar bahwa itu bukan dapur rumahnya. Kemudian, terlihat juga seorang lelaki tegap yang mengenakan baju layaknya chef berbicara pada saudara laki lakinya itu. Dan seketika itu pula Ghozie membersihkan tangannya dan mengekori lelaki berbaju chef. Sepanjang jalan terlihat ada banyak sekali orang yang juga berbaju putih, itu adalah sebuah dapur yang sangat besar.


Ghozie membuka pintu coklat besar di hadapannya. Tampak banyak sekali meja dan kursi yang berisi banyak orang yang tengah sibuk makan. Keadaan yang terlihat di layar itu menunjukkan bahwa Ghozie sedang berada di restoran. Lalu buat apa Ghozie mencuci piring di restoran, tanya Pram dalam batin. Kharon menggenggam tangan Pram untuk menguatkan.


Ghozie menemui dua orang yang tengah duduk di antara para tamu lainnya, seorang laki laki, dan satunya lagi adalah perempuan. Pram merasa tidak mengenal dua orang tersebut. Ia hafal benar pada semua sahabat kakaknya. Dan dua orang yang sebaya dengan kakaknya itu sama sekali belum pernah ia lihat sebelumnya.


Lelaki yang tampak sangat akrab dengan kakaknya itu mengangkat tangannya seperti sedang memesan makanan.


 


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Author mohon dukungannya untuk menaikkan popularity novel baru author yg berjudul: Menikah Karena Taruhan.


Novel tersebut author ikutkan untuk lomba You are Writer 3 😉😉😉


Jika sempat, kakak2 bisa ninggal rate, like, atau komen ke novel tersebut... Makasih sebelumnya... InshaAllah After Death akan lebih rutin update 😍😍😍