
Seperti biasa, pagi di Pulau Amsleng Sufir Matdrakab seharusnya dilewatkan dengan berbagai kesibukan. Dan kesibukan paling utama bagi Pram di atas segalanya ada dua, yakni menyambut matahari terbit di atas pohon bersama Kharon dan melatih jurus-jurus lama serta mempelajari jurus yang baru. Untuk kedua hal tersebut Pram selalu bangun lebih awal. Namun, tidak dengan pagi ini. Matahari bahkan telah terbit dan Pram masih terlelap di atas lantai beralaskan tikar, meringkuk karena dinginnya suhu, begitu juga dengan Kharon. Lelaki itu biasanya selalu dua jam lebih dahulu bangun sebelum Pram.
Pagi bagi Kharon berkali-kali lebih repot ketimbang paginya Pram. Siluman harimau putih itu sudah seperti ibu-ibu, repot bukan main. Mulai dari menyapu, mengepel, mengganti air pada vas bunga, menyikat kamar mandi, memasak, merapikan tempat tidur, mengelap perabot rumah, dan lain sebagainya. Sedangkan Pram, ia masih sibuk bermimpi saat Kharon telah berpeluh-peluh. Namun Kharon tidak pernah mengeluh ataupun kesal karenanya. Ia juga tidak pernah membangunkan Pram. Kharon selalu menuggu Pram untuk bangun dengan sendirinya.
Baik Pram ataupun Kharon hingga matahari telah bersinar terang masih belum juga bangun, sebab keduanya baru tertidur ketika matahari telah siap untuk terbit. Dan setelah mengalami malam atau lebih tepatnya dini hari yang menguras emosi, membuat keduanya masih belum ingin membuka mata.
“Tok...tok....tok...” suara pintu diketuk.
Tapi Pram dan Kharon seperti tak mendengar suara ketukan pintu itu. Keduanya masih tidur pulas berdampingan.
Lantas pintu kembali diketuk dengan tekanan yang lebih kuat, sehingga bunyi yang dikeluarkan menjadi lebih nyaring. Tapi Pram masih terpejam matanya tanpa bergerak sedikitpun. Sedangkan Kharon, ia sempat mengubah posisi tidurnya. Tapi sepertinya lelaki itu juga tidak mendegar ketukan pintu.
Dan untuk ketiga kalinya pintu diketuk lagi. Kali ini dengan suara panggilan untuk Pram yang sangat nyaring. Dan akhirnya berhasil. Namun, bukan Pram yang terbangun, melainkan Kharon. Lelaki itu langsung refleks berdiri dan segera memindahkan Pram ke tempat tidurnya dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuh.
Kharon menyahut pada panggilan itu dan meminta pemanggil untuk menunggu sejenak.Kharon sangat mengenal siapa pemilik suara itu. Itu adalah suara yang sama dengan yang dimiliki oleh lelaki yang sempat membuatnya berniat untuk meninggalkan Pram. Lelaki yang tanpa segaja telah membuatnya berulangkali cemburu dan kesal. Ya, itu adalah suara Philemon.
Kharon menarik nafas panjang sebelum membuka pintu. Ia sepertinya tengah menyiapkan diri untuk melihat kembali wajah seseorang yang selalu membuatnya tak tega untuk tetap bersama Pram, meski ia sangat ingin.
“Ron, apa itu kau?” tanya Philemon yang telah hampir kembali ke rumahnya karena putus asa terlalu lama menunggu. Ia bahkan sempat mengira Pram dan Kharon sedang keluar.
“Iya, tuan. Tunggu sebentar." kata Kharon setengah berteriak.
Kreeeek.....
Pintu telah terbuka. Dan benar dugaan Kharon. di balik pintu itu ada Philemon dengan membawa sebuket bunga. Itu adalah buket bunga yang sungguh indah. Lebih indah dari buket bunga yang dibuat Philemon sebelumnya, apalagi jika dibandingkan dengan buatannya, sungguh tidak sebanding walau hanya seujung kuku.
Kharon tersenyum miris mendapati lelaki lain telah dengan rajin membuatkan buket bunga yang begitu memesona untuk kekasihnya di pagi hari. Sedangkan dirinya, ia baru saja bangun dan belum melakukan apapun selain membasuh muka.
Buket bunga itu hanya terdiri dari satu jenis bunga saja, yakni mawar, namun dengan warna yang beragam. Mungkin itu karena kemarin Philemon mengira bunga mawar yang telah layu masih disimpan sebab Pram menyukai mawar. Padahal bukan begitu. Bunga mawar itu tetap disimpan karena pemberi bunga bukan karena bunganya.
Kharon yakin seratus persen, jika bunga mawar aneka warna itu ada di tangannya, dan ia yang menyusun bunga-bunga tersebut menjadi sebuah buket, tentu hasilnya tidak akan sebagus buatan Philemon. Bunga mawar yang indah akan kehilangan keindahannya jika berada di tanganku, begitu benak Kharon berkata.
“Di mana Pram? Apa dia masih tidur?” tanya Philemon ketika baru saja menyembulkan wajahnya dari balik pintu.
“Apa itu buket bunga untuk Pram?” Kharon menanggapi pertanyaan Philemon dengan pertanyaan juga.
“Iya, dimana dia sekarang?” Philemon memandang buket bunga yang ia buat sejenak, lalu celingukan mencari batang hidung Pram di meja makan.
"Masih tidur? Tidak biasanya Pram sesiang ini belum bangun juga. Apa dia sedang sakit?" tanya Philemon hendak berjalan menghampiri Pram di tempat tidur dengan wajah yang tampak cemas.
"Tunggu tuan. Lebih baik tuan menunggu saja di meja makan. Akan aku buatkan teh kesukaan tuan. Pram tadi malam kurang tidur. Dia terbangun karena lapar, dan baru bisa tidur lagi saat matahari sudah mau terbit. Jadi, mohon maaf, kalau bisa biarkan dia bangun dengan sendirinya, tuan." Kharon berkata lirih tapi tegas.
Sebenarnya ia sedang menyimpan dongkol karena Philemon telah terlalu mengkhawatirkan kekasihnya, Pram. Padahal ia pasti akan menjaga Pram dengan sebaik mungkin. Namun, lagi lagi Kharon menyalahkan dirinya sendiri sebab dirinyalah yang membuat Philemon tak juga mengerti bahwa Pram adalah pacarnya.
Dan ketika ia ingin menceritakan semuanya, ia selalu ingat saat lelaki di hadapannya itu menolongnya. Bahkan Philemon juga yang membantunya lolos dari anak buah Bemius ketika masih di Perpustakaam Gyan Bhandar dulu. Kharon yang sudah yakin akan mati itu seperti mendapat keajaiban saat menyadari matanya terbuka bisa melihat Pram yang menjaganya dengan setia. Ia benar benar tak menyangka jika bisa lolos dari maut yang seolah telah nyata di hadapannya. Jika saat itu Philemon tak menolongnya, ia tentu tidak akan bisa lagi melihat Pram untuk selamanya.
Philemon menuruti perkataan Kharon untuk membiarkan Pram tetap tertidur dan duduk menunggu secangkir teh paling nikmat dari Kharon. Sementara Kharon, ia membuat teh dengan hati tak karuan. Lagi lagi untuk yang ke sekian kalinya hatinya bergejolak saat mengingat kewajibannya untuk membuat pengakuan atas hubungannya dengan Pram. Karena setelah merenung dan mempertimbangkan semuanya, lelaki itu memutuskan untuk terus ada di sisi Pram.
Tapi sialnya, Kharon tahu bahwa Pram adalah cinta pertama Philemon. Dan ia tidak bisa berpura pura tidak tahu alias tidak peduli. Hal itu membuat langkahnya untuk bersama Pram menjadi sedikit berat, karena ia tak tega membayangkan sakit hati yang akan diderita Philemon. Kehilangan cinta pertama. Dan ia sungguh merasa menjadi seorang yang tak tahu balas budi jika membuat lelaki yang telah menyelamatkan nyawanya itu patah hati. Kesialan lainnya, entah bagaimana setiap kali ia ingin menceritakan semuanya, ada saja yang membuat Kharon mengurungkan niatnya itu.
"Silakan, tuan." Kharon meletakkan secangkir teh hangat di atas meja tepat di depan Philemon.
"Terima kasih, Ron. Kau selalu memperlakukanku dengan sangat baik, tak pernah berubah sedikit pun meski telah bertahun-tahun berlalu."
Kharon menelan ludah. Pernyataan Philemon itu sepertinya sudah tidak akan relevan lagi. Kharon berniat memberi tahu Philemon tentang semuanya pagi itu.
"Tuan Philemon terlalu berlebihan. Semua yang hamba lakukan memang semestinya dilakukan." kata Kharon dengan seutas senyum di wajahnya.
"Tidak Kharon. Aku terkadang sering membayangkan andai saja aku punya seorang kakak sepertimu. Mungkin hidupku akan lebih bahagia." kata Philemon sambil menerawang jauh. Tatapannya membentur pada pohon di luar jendela yang terbuka.
Kharon hanya diam. Ia tak tahu harus berbuat apa, berkata bagaimana. Ia hanya menatap Philemon yang tengah memikirkan sesuatu yang ia yakini itu adalah Bemius, kakak kandungnya.
"Sejak kecil sebagai seorang adik, aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang kakak. Yang kurasakan justru sebaliknya, dan semua semakin menjadi jadi ketika aku beranjak remaja. Aku tak mengerti mengapa Bemius begitu membenciku dan selalu mengincar kematianku.
Padahal aku selalu ingin hidup bersama dengan rukun dan menyenangkan, merasakan indahnya bercengkerama dengan kakak. Bermain bola, memancing, belajar memanah, dan lain sebagainya bersama-sama. Tapi, dulu saat kami masih sama-sama tinggal di kerajaan, Bemius lebih suka menghabiskan waktu dengan ibu.
Dan bila aku datang untuk ikut serta, Bemius selalu pergi dengan berbagai alasan. Bahkan terkadang pergi begitu saja tanpa berkata apapun, juga tanpa melihatku. Itu sebabnya aku lebih sering memilih untuk tidak bersama ibu, dan secara diam diam memandangi mereka dari jauh." kata Philemon sambil menahan air mata mengingat masa lalunya.
Dan ya, sudah bisa ditebak. Hal seperti itulah yang membuat Kharon menunda niatnya untuk menceritakan hubungannya dengan Pram. Ia tak mungkin tega menambah kesedihan Philemon dengan semua cerita cintanya. Kharon selalu heran mengapa hal seperti itu selalu muncul persis ketika ia hendak bercerita soal Pram adalah pacarnya.