
Berkat ulah anak buah Bemius kini Shaman benar-benar mengalami krisis kesehatan dan keamanan. Korban meninggal karena keracunan air sungai semakin banyak. Meski larangan untuk tidak menggunakan air sungai sudah diikuti dengan dipasangnya garis merah di sepanjang pinggiran sungai oleh petugas keamanan, tetap ada penambahan korban karena keterbatasan pengetahuan para korban terhadap berita yang disampaikan pihak kerajaan.
Di hari pertama total seluruh korban mencapai 236 jiwa, 189 di antaranya jin, dan 47 siluman. Di hari kedua angka kematiannya berkurang menjadi 53 jiwa, 42 jin dan 11 siluman. Korban yang meninggal di hari kedua rata-rata adalah yang telah berusia lanjut atau yang masih anak-anak. Para lansia tetap meminum air sungai karena tidak tahu, sedangkan anak-anak mereka pergi ke sungai diam-diam untuk berenang dan tanpa sengaja meminum airnya. Sementara itu, korban dari golongan binatang selama dua hari telah mencapai 312 ekor, tidak termasuk ikan dan binatang lainnya yang berhabitat di sungai.
Sedangkan penjarahan bank yang menyebabkan bank pailit dan tutup tidak hanya memunculkan demonstrasi, tetapi juga menimbulkan banyaknya angka kriminalitas, termasuk pembunuhan pejabat bank. Banyak penduduk yang akhirnya tak berani keluar rumah. Mereka lebih memilih mengurung diri agar selamat. Akibatnya, roda perekonomian di Shaman, terutama wilayah yang dekat kerajaan, tidak berputar sebagaimana mestinya.
Raja Ramadhana sangat cemas melihat rakyatnya menderita dan diliputi ketakutan. Akhirnya, setelah melalui rapat bersama para petinggi kerajaan, diputuskan untuk melakukan konferensi pers yang disiarkan langsung di semua stasiun tv negeri Shaman.
"Para penduduk Shaman yang saya cintai, pertama saya ucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidakstabilan di negeri ini. Sebagai seorang raja, sayalah yang paling bertanggung jawab untuk semua kegaduhan ini. Musibah yang datang tidak bisa saya halau. Sebagai raja, saya sangat menyesal karena belum bisa melindungi kalian dengan maksimal. Melalui konferensi pers ini saya sampaikan, bagi para pengelola bank yang mengalami penjarahan, pihak kerajaan siap memberikan pinjaman untuk ganti rugi nasabah dan modal pengembangan usaha lagi. Saya harap besok tidak ada lagi demonstrasi. Bagi para korban keracunan air sungai, kami akan memberikan santunan. Silakan mendatangi Balai Pusat Kesehatan dengan membawa surat keterangan kematian. Kami mohon maaf karena sampai saat ini kami belum menemukan zat yang mampu menetralisasi racun tersebut. Oleh sebab itu, kami menghimbau untuk tidak menggunakan air sungai sampai kami mengumumkan kembali waktu yang tepat untuk bisa digunakan sebagaimana biasanya. Dimohon untuk saling menjaga dan mengingatkan sesama penduduk Shaman. Terima kasih atas pengertian kalian semua. Semoga kebaikan melingkupi kita dan Shaman kembali aman."
Raja Ramadhana menyampaikan pidatonya dengan sedih yang tersangkut jelas di wajahnya. Dalam batinnya Raja Ramadhana mengatakan bahwa mungkin semua akan lebih baik jika Tri Laksmini ada bersamanya waktu itu.
Ketika Raja Ramadhana beranjak turun dari podium, tiba-tiba sebuah anak panah api mengenai podium hingga memicu ledakan. Semua jin dan siluman yang ada di dalam gedung berhamburan keluar. Raja Ramadhana yang hampir terkena ledakan mendapat pengawalan ketat menuju kerajaan. Gedung pertemuan tersebut berada tepat 400 meter di depan kerajaan.
Serangan tiba-tiba itu diikuti dengan lemparan bom molotov di sekitar gedung dan pemukiman penduduk. Kebakaran dan kerusakan terjadi di mana-mana. Semua penduduk yang ke luar rumah untuk menyelamatkan diri, disambut oleh segerombol jin dan siluman hitam yang bersiap untuk melenyapkan mereka jika mereka hendak kabur. Tentu saja semua tunduk dan patuh pada instruksi yang diberikan. Mereka digiring masuk ke dalam kerangkeng besi portabel yang ukurannya sangat besar.
Selagi para pasukan Bemius menyebar di seluruh kota tempat kerajaan Shaman berdiri untuk memburu para penduduk, para petinggi dan panglima kerajaan Anathemus fokus melakukan penyerangan terhadap Raja Ramadhana dan para pelindung beliau. Satu per satu pengawal, petinggi dan panglima kerajaan Shaman gugur. Namun, Raja Ramadhana tidak kunjung mampu ditakhlukan. Meski tangan sang raja belum sembuh sempurna, kesaktian beliau bahkan membuat beberapa panglima Bemius mati.
Bemius yang sedari tadi hanya menikmati kegusaran di wajah Raja Ramadhana dari kejauhan, kini mulai tak sabar untuk turut melakukan penyerangan. Ia sangat marah melihat ayahnya membunuh para pengikut setianya. Ia pun menghela nafas panjang dan terbang menghampiri ayahnya seraya meluncurkan sebuah serangan. Sekarang ia memburu jantung ayahnya, sudah tidak peduli ayahnya mati atau hidup, tidak ada lagi keinginan untuk menjadikannya tawanan. Ia hanya ingin satu, memakan mentah-mentah jantung ayahnya.
Raja Ramadhana yang fokus menghadapi puluhan serangan dari para petinggi Anathemus yang mengitarinya, tidak mampu mengelak dari serangan tiba-tiba yang diluncurkan Bemius. Seketika itu juga sang raja yang sedang melayang di udara jatuh terhempas ke tanah.
Bemius tersenyum senang melihat ayahnya terkapar sambil memegangi dada. Para panglima dan pengawal Raja Ramadhana yang masih hidup langsung berupaya untuk menyelamatkan sang raja yang sudah tidak berdaya namun masih sadarkan diri. Dan seketika itu pula mereka terlempar jauh berkat tiupan topan yang disemburkan Bemius.
Namun, dalam upayanya untuk mendapatkan ayahnya, Bemius terlalu fokus pada kegembiraan dan kecongkaannya, hingga tak menyadari ada seorang penyusup berbaju serba hitam menggendong Raja Ramadhana dan membawanya pergi dengan cara menghilang. Meski wajah penyusup itu tertutup dan hanya melihatnya dalam satu kedipan mata, Bemius mengenal dengan baik siapa jin yang telah menggondol ayahnya. Penyusup itu adalah jin yang sama yang menggagalkan kudeta yang ia lakukan terhadap ayahnya bertahun-tahun yang lalu. Itu adalah jin yang dulu mengancam posisinya sebagai pewaris tahta kerajaan Shaman. Ya, itu adalah Philemon, saudara laki-lakinya yang bekali-kali gagal ia bunuh.
Bemius berusaha mengikuti jejak Philemon, tapi ia tak menemukan apa-apa. Adik yang telah lama pergi dan tidak pernah berani muncul di hadapannya itu, ternyata kini telah berilmu tinggi. Meski ia sangat marah kehilangan Raja Ramadhana, bukan Bemius namanya jika terlalu lama larut dalam emosi dan tak mengatur ulang rencananya. Ia berhasrat untuk membuat hati ayahnya tetap tersangkut di kerajaan karena melihat dirinya menyengsarakan para penduduk Shaman. Jauh lebih sengsara dari apa yang telah ia lakukan sebelumnya.