After Death

After Death
Bagian 44: Kembali Ke Anastasia Cato



 


Di Cato hari masih siang. Pram, Dante, dan Kharon mendarat di taman kota tepatnya di antara semak bambu kuning. Pram ingat betul, itu adalah tempatnya bertemu dengan genderuwo.


"Mengapa kita harus mendarat di sini?" Pram masih ngeri jika mengingat dirinya sedang ngobrol dengan genderuwo di tempat itu.


"Mana aku tahu. Mungkin ini adalah gerbang masuk ke Cato bagi orang-orang yang berasal dari dimensi lain."


"Aku hampir digondol genderuwo karena ke tempat ini. Untung saja ada seorang gelandangan yang menyelamatkanku dan memberiku kalung medalion teleportasi itu."


"Pram, sambung ceritamu nanti saja. Sekarang aku akan menyatu denganmu. Lantas membawa Dante ke rumah sakit terdekat." kata Kharon sedikit terengah. Kondisinya yang kelelahan membuatnya tak mampu menahan diri sebagai individu di Cato. Ia membutuhkan tubuh Pram untuk bertahan.


Di rumah sakit, demam Dante menurun. Meski belum sadarkan diri, Dante terlihat lebih sehat dan tak sepucat tadi. Kharon meminta Pram untuk duduk di sofa dan melanjutkan pembicaraannya tadi.


"Kau tadi mengatakan bahwa kau diselamatkan oleh seorang gelandangan?"


Pram mengangguk.


"Lalu gelandangan itu juga yang memberimu medalion teleportasi?"


Pram mengangguk lagi. Seorang perawat yang sedang memeriksa infus Dante melihat Pram seperti seorang yang tak waras. Mengangguk-angguk sendiri seolah menjawab pertanyaan seseorang.


Perawatan tersebut kemudian bergegas pergi.


"Kau membuat perawat itu takut. Cobalah untuk menjawab dalam batin atau berbicara padaku tanpa menumbulkan kecurigaan."


"Baiklah." jawab Pram lirih.


"Apa gelandangan itu mengatakan sesuatu padamu?"


"Banyak. Tapi sebelum ia menghilang, ia memintaku untuk terus bersama Dante."


Kharon terdiam. Ia mencoba untuk menarik satu per satu benang kusut yang ada di pikirannya.


Pertama, informasi tentang keberadaan Pram sebagai anak yang lahir di purnama ketujuh penanggalan Shaman pertama kali diperoleh dari gelandangan yang merupakan anak buah Bemius.


Kedua, gelandangan jugalah yang memberikan kalung medalion teleportasi yang ternyata membuat anak buah Bemius selalu menemukan persembunyian mereka ketika mereka menggunakannya.


Ketiga, mengapa gelandangan yang menemui Pram di semak bambu kuning meminta agar Pram selalu bersama Dante. Kalau memang gelandangan itu ingin ada pihak yang melindungi Pram dari jin jahat, tentu ia tahu bahwa Dante hanya petugas kematian yang tak punya kemampuan melindungi diri atau mendeteksi keberadaan jin jahat dan sebagainya.


Semua kekusutan itu masih belum menemukan jawaban. Tapi Kharon yakin akan segera menemukannya. Selagi belum ada bukti kuat, ia berusaha untuk menepis semua kecurigaannya pada Dante.


"Pram, senja nanti kita harus kembali ke Hutan Białowieża."


"Tapi Dante bahkan belum sadar."


"Kita pergi tanpa Dante."


"Tapi..."


"Biarkan Dante di sini beristirahat hingga benar-benar pulih. Kau tentu tahu bahwa ia tak memiliki sedikit pun kekuatan untuk menahan serangan Bemius. Aku khawatir, sakitnya Dante juga karena pengaruh jin jahat. Setidaknya jika tidak bersama kita, ia akan lebih aman."


 


Sekitar pukul 16.00 waktu Cato, Dante membuka matanya. Ia memegang kepalanya sambil memandangi sekitar. Pram berdiri di sampingnya.


Ketika sadar ia sudah tak lagi di hutan, melainkan di Anastasia Cato, Dante langsung duduk.


"Pram, apa kita sungguh ada di Cato?"


"Tenanglah, Dante. Kau masih harus istirahat. Kita sekarang sudah di Cato." Pram membantu Dante berbaring.


"Syukurlah. Aku hampir mati malam itu karena takut."


"Di mana? Waktu kita masih di Białowieża?" suara Pram yang lembut berubah menjadi besar dan lantang


"Iya, aku terbangun karena bersin.Tapi kalian tidak ada. Aku justru melihat ada sesosok entah apa, yang sangat menyeramkan. Aku tak pernah melihat sesuatu yang seperti itu sebelumnya."


Dante menarik selimutnya hingga menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya. Jelas-jelas ia masih sangat ketakutan.


"Aku dan Pram pergi sebentar waktu itu. Karena kau terlihat pulas, kami tak tega membangunkan. Toh pikir kami, kami akan segera kembali."


"Memang apa yang kau lihat, Dante?" suara Pram kembali lembut.


"Entahlah, Pram. Aku sendiri tak tahu harus menyebutnya apa. Dia sangat kecil, dengan wujud hampir sama dengan kita. Sedikit berbeda adalah bentuk telinganya. Dan dia tidak memiliki kaki. Dia terbang mengejarku. Matanya semua hitam dan dia menggunakan gaun merah berbau anyir darah." suara Dante sedikit parau menahan takut. Beberapa kali ia bahkan menutup kepalanya dengan selimut.


Mendengar jawaban Dante, Kharon tercengang dan membawa tubuh Pram mundur beberapa langkah.