After Death

After Death
Bab 130: Pengakuan Suwignyo



Pagi di rumah baru Ghozie juga terasa mencekam. Entah bagaimana rumah yang baru dihuni itu memiliki hawa yang membuat orang-orang begidik. Padahal Ghozie yang sebelumnya telah lebih dulu tinggal di rumah itu tak merasakan hal demikian sebelumnya. Hawa mencekam itu datang bersama dengan kedatangannya dan Suwignyo dari rumah sakit.


Namun, sedikit berbeda saat di depan rumah. Hawa mencekam tidak sekuat di dalam rumah. Ditambah lagi dengan segarnya udara karena pohon yang rimbun juga bunga-bunga. Sedikit mengurangi hawa aneh yang ada. Ghozie dan ayahnya pun lebih suka menghabiskan waktu di depan rumah. Bersantai di beranda sambil menikmati pemandangan sekitar rumah yang masih asri dan tampak hijau.


Pagi ini adalah pagi yang menegangkan bagi Suwignyo. Hal itu karena ia telah bertekad untuk menceritakan semuanya kepada putranya, Ghozie. Tentang semua kejahatan yang selama ini ia lakukan secara sembunyi-sembunyi.


Suwignyo menarik nafas panjang. Menenangkan hati dan pikirannya. Ia yakin bahwa Ghozie akan memaafkannya. Anak itu tidak akan marah padanya, dan pasti akan mengerti.


"Ghozie, bisakah kau kemari, nak." teriak Suwignyo berharap Ghozie segera datang menghampiri.


"Ada apa ayah?" terdengar suara Ghozie yang semakin mendekat. Lelaki itu merasa perlu untuk sedikit berlari, khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu pada ayahnya.


"Duduklah di samping ayah. Ada hal yang ingin ayah katakan padamu. Hal yang sangat penting."


"Baiklah, ayah tunggu sebentar. Aku akan mengambil beberapa potong ketela rebus dan segelas teh untuk ayah." kata Ghozie sambil beranjak mau menuju dapur lagi.


"Tidak perlu, nak." kata-kata Suwignyo sontak membuat langkah Ghozie terhenti, lantas kembali duduk di sebelah ayahnya.


"Apa ada yang menganggu pikiran ayah? Ayah tampak sedang gelisah?" tanya Ghozie melihat kecemasan dalam raut muka ayahnya.


"Kau benar, ayah memang sedang khawatir."


"Apa yang membuat ayah khawatir? Katakan ayah. Biar aku menyelesaikannya." ucap Ghozie sambil tersenyum.


"Kau, kau yang membuat ayah gelisah, Ghozie."


"Aku, ada apa denganku ayah? Apa aku melakukan kesalahan lagi hingga membuat ayah kesal? Jika iya, tidak apa ayah, aku siap melakukan hukuman apapun yang ayah berikan. Ayah hanya perlu mengatakannya saja."


"Tidak, nak. Tidak begitu masalahnya."


"Lalu?" Ghozie tampak bingung. Tapi ia tak suka melihat ayahnya gelisah. Maka ia selalu berusaha agar ayahnya itu selalu senang dan damai.


"Setelah ayah menceritakan semua padamu, mungkin kita tidak akan bersama lagi." Suwignyo tampak mengeluarkan air mata.


"Maksud ayah?" Ghozie mengernyitkan dahi.


"Mungkin ayah akan menyusul Candy dan juga Pram, juga ibumu."


"Kalau begitu, ayah tidak perlu menceritakan apapun pada Ghozie. Biarkan. Ayah simpan saja semuanya."


"Tidak bisa Ghozie. Hidup ayah akan menjadi tidak tenang jika terus menyembunyikan ini. Ayah akan terus merasa bersalah."


"Dengar Ghozie, ini adalah rahasia besar yang bahkan tidak diketahui oleh ibumu. Dan rahasia inilah yang menyebabkan keluarga kita menjadi sangat menderita seperti sekarang. Ayah ingin menyampaikan semuanya padamu. Tapi jika nanti selesainya cerita ayah lantas disusul dengan kematian ayah, ayah mohon kau akan kuat menghadapi hidup ini." air mata Suwignyo semakin deras mengalir. Ghozie yang sedari tadi mengusapnya juga mengelap ingusnya sampai menghabiskan banyak tisu, sangat terganggu dengan ucapan ayahnya.


"Mengapa ayah berkata begitu?" Ghozie juga sesekali mengusap air matanya sendiri dengan tangan kiri.


"Setidaknya kau tidak perlu repot merawat ayah yang tidak berguna ini."


"Aku lebih suka merawat ayah daripada harus hidup sebatang kara. Aku juga tidak pernah merasa repot merawat ayah. Aku merawat ayah dengan senang hati."


"Tapi hidupmu akan terus sial jika ayah masih ada bersamamu, nak."


"Bahkan jika harus sial sampai mati, aku rela asal ayah terus bersamaku."


Suwignyo tidak melanjutkan ucapannya. Ia membiarkan Ghozie memeluknya hingga putranya itu merasa lebih tenang. Ghozie memang sangat takut kehilangan ayahnya. Baginya, di dunia ini tidak ada satu pun yang berharga melebihi ayahnya. Meski Suwignyo yang dulu kerap membuat luka fisik dan batin pada dirinya, ia tidak pernah ingin meninggalkan ataupun ditinggalkan ayahnya. Keberadaan ayahnya membuat hidupnya menjadi lebih berarti.


"Ghozie duduklah." kata Suwignyo dengan nada yang lebih tenang.


Kali ini Ghozie tidak duduk di kursi samping ayahnya. Ia memilih untuk berjongkok di depan sang ayah. Kedua tangannya ia letakkan di atas lutut Suwignyo.


"Semua bermula ketika kau masih kecil. Kau tentu masih ingat bahwa kehidupan kita dulu begitu sulit. Jangankan untuk bersenang-senang, untuk makan saja kita kesulitan. Tapi semua berubah ketika adikmu Pram lahir. Semua bukan karena Pram pembawa keberuntungan, tidak seperti dirimu dan Candy. Saat Pram lahir kehidupan kita berubah drastis hingga bergelimang harta. Tapi itu bukan karena kau dan Candy tidak membawa keberuntungan bagi ayah, sama sekali bukan begitu. Meski ayah sering berkata demikian, itu bukanlah suatu kebenaran. Lalu mengapa ayah memperlakukan Pram seperti anak yang lebih istimewa? Sebetulnya itu bukan karena ayah tak sayang padamu dan juga Candy, ayah sama sekali tidak membedakan kalian bertiga." Suwignyo menghela nafas panjang. Ia meminta Ghozie mengambilkan minum untuknya. Dan setelah merasa lebih kuat, Suwignyo melanjutkan ceritanya.


"Sebetulnya semua karena ayah tahu bahwa adikmu itu akan mati di usia sangat muda. Ayah melakukan perjanjian dengan jin hitam, Ghozie. Dan dalam perjanjian itu ayah menginginkan kekayaan yang melimpah, sebagai gantinya mereka meminta nyawa Pram saat adikmu itu berusia 25 tahun." kata Suwignyo lirih.


Ghozie yang masih memegang gelas teh tanpa sengaja menjatuhkannya karena terlalu terkejut mendengar pengakuan ayahnya.


"Kau pasti terkejut. Tapi itu benar adanya Ghozie. Ayahmu ini telah melakukan pesugihan dan dengan tega menjadikan anaknya sendiri sebagai tumbal. Itu sebabnya ayah selalu bersikap sangat lembut pada Prameswari. Bukan karena lebih menyayanginya, tapi karena ayah selalu merasa bersalah pada adikmu itu. Ayah selalu menyesal saat melihat Pram. Mengapa ayah begitu bodoh telah menyerahkan nyawa putri sebaik itu pada jin hitam, hanya demi kesenangan sesaat." Suwignyo terisak. Dadanya sampai sesak. Punggungnya turun naik mencoba melapangkan dada agar sesak yang dirasakan berkurang.


"Tidak ayah, Pram meninggal karena aku yang membunuhnya. Usianya bahkan baru 20 tahun. Belum sampai 25 tahun seperti pada perjanjian itu." Ghozie juga ikut terisak tapi ia mencoba menahan diri melihat ayahnya yang sangat sesenggukan.


"Tidak, jin hitam itu memang suka bertindak sesuka hati. Mereka mengubah perjanjian sesuai keinginan mereka. Ayah, ayah sangat menyesal. Ayah sungguh menyesal untuk semuanya. Sebelum adikmu, di tengah-tengah perjanjian, saat kehidupan kita sudah sangat berkecukupan, bahkan berlebih. Mereka meminta ibumu sebagai tumbal. Ayah tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan saja. Karena jika ayah menolaknya, mereka akan mengambil nyawamu sebagai gantinya. Ayah sungguh tidak berdaya waktu itu. Ayah sangat menyayangi kalian berdua. Ayah sudah menawarkan diri sebagai ganti, tapi orang yang melakukan perjanjian tidak bisa memberikan nyawanya sebagai tumbal." Suwignyo semakin terisak. Ghozie kini mengerti mengapa Suwignyo selalu kasar kepadanya. ghozie selalu mengingatkan ayahnya pada kematian ibunya, mengingatkan sang ayah pada perjanjiannya dengan jin hitam.


"Sudahlah ayah. Jangan terus menyalahkan diri ayah sendiri. Ayah harus bisa memaafkan diri sendiri dan lebih fokus pada kesembuhan ayah. Semua yang sudah terlanjur terjadi tidak bisa diulang untuk diganti. Lebih baik kita memperbaiki diri sekarang, ayah." sebenarnya Ghozie sangat marah mendengar pengakuan ayahnya, terutama menyangkut kematian ibunya. Tapi Ghozie sadar mau seperti apapun meluapkan amarah, tidak akan membuat nyawa ibunya kembali. Dan ia tidak ingin lagi kehilangan, ia harus menjaga ayahnya agar bisa terus bertahan dan menemaninya menjalani hidup.


"Tidak hanya itu, mereka juga mengambil Pram lima tahun lebih cepat dari perjanjian yang telah disepakati. Itu sangat menyakitkan. Ayah bahkan belum sempat memberikan ucapan selamat ulang tahun pada Pram. Tapi mereka, mereka membuat Pram-ku pergi selamanya. Dan ayah, ayah tidak melakukan apapun untuk menyelamatkan adikmu. Yang ayah lakukan hanya mengurung diri di kamar selama dua hari dua malam menghabiskan air mata." Suwignyo tidak bisa menghentikan isakannya. Ia sangat berusaha untuk tenang, tapi tak bisa. Kekecewaannya pada diri sendiri terlalu besar dan sangat menyakitkan untuk ditahan.


"Ayah, aku mohon tenanglah." Ghozie berkata sangat lirih dengan wajah begitu melas.


"Seharusnya ayah mendengarkan nasihat kakek buyutmu untuk tidak masuk ke lembah hitam. Tapi ayahmu ini terlalu angkuh dan malah pergi menjauh, juga melarangmu, adik-adikmu, serta ibumu untuk sekadar menengoknya. Seandainya aku tidak angkuh dan egois, tentu saat ini kita masih berkumpul sebagai keluarga yang utuh dan hidup bahagia di pedesaan." Suwignyo tidak henti-hentinya mencela diri sendiri. Ia merasa sangat tidak berguna dan menyusahkan.


"Ayah." Ghozie tak tega melihat ayahnya menangis tersedu-sedu begitu lama. Tapi ia juga tidak mampu berbuat apa-apa selain mengelap semua air mata itu.