After Death

After Death
Bagian 34: Diadem Naga Perak I



Kharon melihat Dante dan Pram yang kini tengah tertidur pulas di gubuk sementara yang barusan ia bangun. Melihat raut muka lelah mereka, Kharon sedikit merasa bersalah telah membuat ulah pada siang hari sebelumnya.


Gara-gara ulah Kharon, mereka harus rela memendam kelaparan karena hewan buruan mereka kabur sementara setelah peristiwa berubahnya anak panah Pram menjadi Cobra, mendadak hujan turun begitu lebat. Membuat semuanya harus berteduh sementara.


Tetapi hujan yang datang tak mau pergi hingga malam semakin larut. Membuat Pram dan Dante harus tidur dalam kondisi kelaparan. Kharon melihat wajah dua manusia itu dengan tatapan iba, ia pun hampir-hampir tak bisa tidur malam itu.


Baru saja tidur beberapa saat, Kharon terbangun oleh mimpi buruknya sendiri. Sejak mengawal Prameswari, ia memang selalu dihantui mimpi buruk setiap tidur. Dan mimpi buruknya, selalu tentang Pramseswari.


Kharon menengok ke arah Pram yang tidur, wajah Pram kini nampak tentram meski nyata-nyata anak itu sedang dilanda kegelisahan. 


Prameswari adalah manusia yang tak memiliki niat buruk pada Kharon, maksudnya, tak ingin memanfaatkan kekuatan Kharon untuk kepentingan pribadi. Kahron bisa merasakan hal itu. Manusia sebenarnya bisa menyedot kekuatan siluman demi meraih ilmu-ilmu tertentu. Kharon yakin kini Pram telah bisa melakukan penyedotan energy milik Kharon, tapi sekali pun, Pram tak berniat melakukannya.


Kharon telah jatuh hati pada Prameswari, dan semakin jatuh hati dari hari ke hari. Ia semakin takut jika suatu saat peristiwa memilukan yang membuatnya terpisah dari tuannya dulu akan terulang. Yang tidak lain disebabkan oleh diadem yang melingkar di kepalanya.


Sebetulnya, sudah berulang kali ia berusaha untuk melepaskan diadem tersebut. Namun, semua usahanya sia-sia.


Dan ia tahu, seperti apapun usaha yang dilakukan pasti akan sia-sia, karena yang bisa melepas diadem tersebut adalah pemasangnya saja. Sedangkan sejak perpisahannya dengan Si Tuan dulu, Kharon tidak lagi mampu mencium energi yang dimiliki tuannya itu. Setiap kodam memiliki ikatan batin yang kuat dengan empunya.


Pancaran cakra, aroma, bahkan bayangan penglihatan atas apa yang terjadi terhadap tuannya pun dapat dirasa meski berkilo-kilo jauhnya. Batin kodam dengan empunya sudah terkait otomatis dan semakin erat seiring bertambahnya waktu.


***


Sebelum menjadi siluman hebat, Kharon hanyalah siluman harimau putih biasa yang hampir mati karena ulah manusia. Sebuah ilmu kebatinan milik manusia tamak telah membuat energinya dikuras habis demi menguasai ilmu kekebalan tubuh.


Kharon yang masih menjadi siluman tanpa kekuatan, tak bisa berbuat apa-apa ketika energinya diserap manusia itu. Ia sekarat dan hampir mati sebelum akhirnya seorang manusia lain berlari menghampirinya dan mengusir manusia tamak yang hendak menyedot habis energi silumannya.


Mahanta Sadawira, itulah orang yang menyelamatkannya. Dia adalah tuannya terdahulu. Sadawira merupakan manusia yang memiliki ilmu kebatinan yang cukup tinggi. Dengan telaten ia mampu merawat dan mengobati Kharon yang sekarat.


Kharon sangat tertarik pada manusia. Terlebih pada Sadawira yang telah menyelamatkan hidupnya. Telah berminggu-minggu ia tidak kembali ke Shaman dan lebih memilih untuk mengikuti Sadawira.


“Aku telah memintamu kembali. Mengapa kau tetap mengikutiku?” pertanyaan Sadawira membuat Kharon yang bersembunyi di dalam bambu—tempat menyimpan air bagi orang yang melakukan perjalanan jauh—terkejut.


“Pulanglah. Berhenti mengikutiku,” Sadawira melanjutkan perkataannya tanpa menghiraukan pandangan melas si siluman harimau.


Kharon pun kembali ke Shaman namun masih membawa ketertarikan yang besar pada manusia. Ia bahkan berharap suatu saat bisa memiliki kekuatan hebat sehingga mampu berubah wujud menjadi manusia.


Lantas, ia pun mempelajari ilmu meditasi, ia berpuasa, dan berguru pada siluman harimau senior yang memiliki kekuatan hebat. Terakhir, Kharon melakukan pertapaan panjang di Goa Bursheid selama 1000 hari 1000 malam, tanpa beranjak sedikit pun dari tempat duduknya. Dalam pertapaan itu, Kharon mengucap mantera-mantera yang diajarkan oleh gurunya.


Mantera tersebut ternyata merupakan mantera yang dapat menarik siluman-siluman lain mendekat. Mantera itu juga membuat siluman yang mendekat ingin menyerang Kharon yang bertapa sebab mengalahkan siluman yang melakukan pertapaan akan meningkatkan ilmu siluman yang mengalahkannya.


Dengan demikian, seorang petapa akan diterpa serangan demi serangan yang datang. Jika seorang siluman tak kuat dengan serangan yang datang, ia akan mati begitu saja dan pertapaannya akan gagal. Kuncinya adalah satu, yakin dan tak ingin meninggalkan pertapaan meski sedang sekarat. Keyakinan tersebut akan membawa kemenangan dan keberhasilan pertapaan.


Kharon mengalaminya, ia dililit siluman ular dan hampir mati karenanya. Dalam kondisi terjepit, ia ingin berhenti bertapa dan mulai melakukan serangan balik ke siluman yang ular itu. Tapi ia ingat pesan gurunya, sedetik pun, ia tak boleh menghentikan pertapaan meski nyawanya terancam.


Kharon pun berusaha membiarkan tubuhnya terlilit. Semakin lama semakin sakit dan terasa tulang belulangnya remuk, ia sekarat dan segera menuju ajal. Begitu ia merasakan kepalanya diterkam siluman ular, ia yakin ia akan mati saat itu juga. Tetapi ia ingat perintah gurunya. Sedetik pun ia tak boleh menghentikan pertapaan, menghentikan ucapan mantera.


Kharon mulai merasakan keanehan. Lilitan siluman ular terasa melemah dan kemudian hilang. Seiring dengan melemahnya lilitan ular itu, terdengar jeritan pilu siluman ular. Kharon meyakini ular tersebut binasa dan energy siluman itu telah masuk ke tubuhnya. Ia merasakan tubuhnya bertambah kuat.


Selama pertapaan berlangsung, kejadian ia diserang siluman lain dan kemudian sekarat selalu terulang-ulang. Ia kesakitan dan hampir mati, lalu menang. Begitu seterusnya. Hingga pertapaannya selesai, ia telah mendapati tubuhnya memiliki kekuatan yang lumayan tinggi.


Setelah menjadi siluman berilmu, Kharon ingin mendatangi gurunya untuk berterima kasih. Tetapi, ia mendapati ternyata gurunya telah lama mati akibat sebuah pertempuran bersama siluman lain. Kharon baru menyadari, semakin seorang siluman memiliki kekuatan, semakin ia akan diburu siluman lain untuk dikalahkan. Ia bergidik ngeri, dan berpikir untuk meninggalkan negeri Shaman karena yakin ia pasti akan menjadi target buruan siluman yang lebih kuat darinya.