
Hari ini Suwignyo telah diizinkan untuk pulang. Sedangkan Ghozie telah lebih dulu membaik sehingga sudah boleh pulang kemarin lusa. Ia juga telah menyelesaikan segala persoalan menyoal perusahaan. Ghozie juga telah memberikan semua hak karyawannya termasuk pada dua satpam yang menjadi korban penjarahan. Kini langkah Ghozie menjadi lebih ringan sekaligus lebih berat. Suster Ana dan perawat Pramudi mengantar Ghozie dan ayahnya keluar rumah sakit. Kedua perawat itu telah menjadi sahabat Ghozie selama ini. Menemani pria kesepian yang menyedihkan itu.
"Ayah, setelah sampai di tempat tinggal kita yang baru mungkin ayah akan menerima banyak kejutan. Aku harap ayah akan kuat." kata Ghozie setelah duduk dan menutup pintu taxi berwarna biru.
"Iya Ghozie. Tapi nak, dimana adikmu Candy? Ayah kira dia akan datang menjemput kita." kata Suwignyo sambil mengernyitkan dahi.
"Ada. Tapi dia tidak bisa datang. Biar kita saja nanti yang menemuinya." Ghozie berkata tanpa menatap ayahnya. Ia takut, ayahnya akan melihat kaca-kaca di matanya.
"Apa dia baik-baik saja? Apa Candy masih suka menjerit seperti dulu?"
Suwignyo memang tak pernah melihat Candy yang selalu kerasukan. Kamar keduanya berjauhan dan Ghozie selalu mengunci kamar Candy saat pergi ke kantor. Suwignyo memang sering mendengar suara Candy berteriak, tanpa tahu bahwa anaknya telah kerasukan dan seperti orang gila. Stroke yang menimpa Suwignyo memang berbarengan dengan Candy yang mulai menunjukkan tanda-tanda skizofrenia, yakni setelah kematian Pram. Dan sejak saat itu, Suwignyo yang hanya mampu berjalan dengan bantuan kursi roda tak pernah melihat keadaan Candy kecuali jika Ghozie yang mengantarkannya. Dan Ghozie, anak itu hanya akan mengantar ayahnya menemui sang adik jika Candy dalam keadaan tertidur. Jika Candy masih bertingkah aneh dan di saat yang sama ayahnya meminta untuk diantarkan kepada adiknya, Ghozie selalu berdalih ini dan itu. Dan ujung-ujungnya sebuah atau beberapa pukulan akan mendarat di kepalanya. Jika sudah begitu, Ghozie hanya diam menunduk, lantas pergi saat ia rasa Suwignyo telah puas melampiaskan kekesalannya.
Demikian pula saat Ghozie bekerja dan Suwignyo mendengar teriakan dari kamar Candy. Ghozie akan disambut dengan cacian, bentakan, dan pukulan ketika pulang pada jam istirahat siang ataupun saat jam kerja telah usai. Itu semua karena ayahnya hanya bisa menggedor pintu kamar Candy ketika adiknya itu sedang teriak-teriak. Tapi Ghozie lagi-lagi hanya diam dan menelan semuanya sendiri. Ia tidak pernah sekalipun menceritakan kondisi Candy yang sebenarnya pada Suwignyo. Ia merahasiakan semuanya selama ini, bahkan hingga kembarannya itu telah tiada.
Ketika ayahnya bertanya macam-macam soal Candy, Ghozie menjawab bahwa adiknya sedang latihan teaterlah, sedang olah vokallah, sedang takut melihat kecoa di kamar, atau lain sebagainya. Meski Suwignyo terkadang tak langsung percaya padanya, Ghozie memilih diam saja dan mendengarkan semua ocehan pedas itu.
"Aku rasa Candy terlalu mendalami perannya, sampai-sampai berteriak setiap hari." kata Suwignyo sambil tertawa kecil. Ghozie menoleh ke arah ayahnya yang duduk di samping kiri dan ikut tersenyum, namun hatinya tengah tersayat. Maka ia buru-buru membelokkan kepala ke kanan dan secara sembunyi-sembunyi mengelap air matanya yang jatuh.
"Maafkan ayah, karena tidak pernah memercayai ucapanmu. Ayah justru selalu memarahi dan memukulmu." Suwignyo lirih berkata. Ia sungguh ingin meraih tangan anaknya atau merangkulnya. Tapi ia sama sekali tak bisa menggerakkan tubuhnya.
Ghozie tersenyum dan memeluk ayahnya sebentar. Sebetulnya hati Ghozie seperti tersambar petir ketika mendengar perkataan ayahnya itu. Sebab sebenarnya memang ada banyak sekali kebohongan yang telah ia lakukan.
Ghozie mengembalikan Suwignyo kembali ke posisi semula. Ia menggenggam erat tangan Suwignyo seperti tahu isi hati sang ayah.
"Sekarang aku rindu dengan pukulan ayah. Rasanya ada yang kurang dalam hidup ini jika tidak ada pukulan sayang dari ayah." Ghozie tertawa kecil. Membuat ayahnya tersenyum.
"Sudah sampai, mas." kata sopir taxi mengingatkan.
Taxi berhenti di depan sebuah rumah kecil bercat hijau. Rumah itu tampak bersih dan asri dengan pepohonan di sekitarnya dan juga berbagai jenis bunga. Ghozie lekas keluar dan menata kursi roda lipat milik ayahnya. Lantas mendudukkan ayahnya di kursi roda itu.
"Terima kasih, Pak." kata Ghozie sambil menganggukkan kepalanya.
Ghozie mendorong ayahnya hingga sampai di depan pintu rumah itu. Lantas beranjak mengambil dua buah koper yang masih berada di depan pagar bambu.
"Tunggu apa lagi? Ayo lekas masuk." Suwignyo juga tersenyum tanpa bertanya perihal rumah mewah dan megah mereka sebelumnya yang seperti istana itu.
Ghozie membuka pintu dan membaringkan tubuh ayahnya di sebuah ranjang kecil. Ia menata semua baju yang ada di koper, dipindahkan ke dalam almari.
Ghozie lantas pergi ke belakang meninggalkan ayahnya, dan kembali membawa sepiring nasi dengan sayur sop berlauk tempe dan tahu. Ia menyuapi ayahnya dengan telaten. Dan memberikan segelas air putih dengan perlahan.
"Setelah ini ayah beristirahatlah. Semua akan aku ceritakan nanti." kata Ghozie lembut sambil menyalakan sebuah kipas angin kecil yang terduduk di meja.
Suwignyo tersenyum dan menutup matanya. Lelaki itu tidak menanyakan apapun. Ia manut saja pada perkataan putranya. Meski pikirannya tengah dipenuhi banyak tanda tanya.
Ghozie meletakkan sejumlah obat dari rumah sakit di sebelah kipas angin. Lantas membaringkan tubuhnya di kasur lantai tak jauh dari tempat tidur ayahnya.
***
Malam itu usai makan, Ghozie memberikan beberapa pil pada ayahnya. Suwignyo melahap semua obat itu sekaligus, kemudian meneguk segelas air. Ghozie mematikan kipas angin dan menyelimuti ayahnya hingga ke dada.
Malam itu memang begitu dingin. Angin berhembus beberapa kali dan sangat kencang. Ghozie membuatkan wedhang jahe untuk ayahnya. Dan entah bagaimana suasana kelam dan mencekam, Ghozie rasakan kembali di rumah itu, suasana yang menyelimuti rumahnya yang dulu setelah Pram terbunuh, lebih tepatnya ia bunuh. Ghozie sama sekali tidak takut, namun firasatnya menjadi tak enak karena itu.
"Ayah, semua yang akan aku katakan ini pasti akan sangat menyakiti ayah. Aku harap ayah bisa menerimanya dengan lapang dada. Dan bersedia memaafkanku." Ghozie mengusap air matanya.
"Katakanlah, nak. Semuanya. Tidak usah takut pada ayah. Ayah sekarang sudah tidak bisa memukulmu lagi." kata Suwignyo sambil tersenyum.
"Aku sebenarnya bingung harus memulai dari mana. Tapi aku akan mencoba menceritakannya dari awal saja."
Ghozie beberapa kali menarik nafas panjang. Melapangkan dadanya, menguatkan batinnya, dan mengumpulkan segenap keberaniannya sebelum menceritakan apapun. Sebetulnya ia sama sekali tak takut jika Suwignyo akan memarahinya atau bahkan kalau bisa hingga membunuhnya karena kesal. Yang Ghozie khawatirkan adalah ayahnya itu akan sangat kecewa padanya lantas berpengaruh pada kesehatan pula.
"Baiklah ayah, entah bagaimana aku menjadi begitu bodoh hingga terjerat utang yang sangat fantatis jumlahnya. Dan melihat banyaknya nilai asuransi Pram, aku menjadi gelap mata." Ghozie tertunduk dan terisak. Ia sungguh menyesali perbuatannya yang sangat tidak beradab dan tidak manusiawi sebagai seorang kakak.
"Aku yang tahu kalau Candy selalu iri pada Pram, menghasudnya hingga Candy setuju untuk...untuk terlibat dalam rencana pembunuhan Pram."