After Death

After Death
Bab 12 : Jiwa-Jiwa yang tersesat



            Dante sudah memeriksa semua database di Negeri Bagian Cato, dia tak menemukan informasi keberadaan ibunya Prameswari. Begitu juga, dia telah menghubungi teman-temannya sesama Petugas Kematian, mereka semua juga tak memiliki informasi tentang keberadaan ibunya Prameswari. Itu artinya, Arimbi tidak


berada di alam Anastasia baik di negeri bagian mana pun. Dan itu artinya juga,


bahwa ada kemungkinan Arimbi masih ada di bumi.


            Jika Prameswari benar-benar mengatakan sejujurnya bahwa ia melihat ibunya meninggal, itu artinya Arimbi juga tak sedang di Bumi. Maka, bisa jadi Arimbi saat ini tengah berada di Negeri Shaman. Negeri para Jin dan mahluk astral. Jika


demikian, kemungkinannya ada dua: Arimbi dengan sengaja memasuki negeri Shaman


dan terjebak di sana, atau dia ditarik oleh makhluk halus di negeri Shaman dan jiwanya terjebak di sana. Maka, pasti ada yang tidak beres dengan kehidupan keluarga Prameswari.


            Makhluk dari golongan Jin dari negeri Shaman memang memiliki kemampuan untuk menjebak ruh


manusia agar terpisah dari jasadnya kemudian membawa ruh itu masuk ke negeri Shaman, dan mengurung mereka dalam waktu yang sangat lama. Dante pernah mendengar banyak cerita tentang seorang yang telah mati kemudian mencari


kerabat mereka di Cato. Ternyata kerabat mereka belum mati, usut punya usut


kerabat mereka masih tersesat di negeri Shaman. Biasanya mereka ini adalah yang


membuat perjanjian-perjanjian dengan mahkluk ghaib atau mereka yang secara


sengaja maupun tak sengaja telah mengusik makhluk di negeri Shaman dan membuat ruh mereka diseret ke sana.


            ***


            “Pram, maaf harus kusampaikan, tapi kurasa ibumu sedang tersesat di suatu tempat. Namanya belum pernah ter-registrasi di sini, dan di Negara bagian lain pun demikian. Itu artinya, ruhnya masih tersesat, sepertinya dia tersesat di negeri Shaman.” Dante segera memberi tahu Prameswari ketika ia sudah tiba di Rumah Sakit. Prameswari melotot


memandangi Dante,


            “Memangnya ada berapa dimensi alam semesta ini?”


            “Banyak. Dan kita tak perlu mengetahui segalanya. Masing-masing dunia memiliki rute mereka masing-masing. Manusia penghuni Bumi akan otomatis melewati Cato setelah mereka mati di sana. Tapi Bumi merupakan salah satu tempat yang unik, di mana, Bumi memiliki letak geografis yang sama persis dengan negeri Shaman. Negeri para Jin. Sementara itu, kehidupan kedua bagi penghuni Shaman bukanlah di sini. Aku tak paham, ruh manusia yang tersesat di Shaman apakah akan dikembalikan di sini atau mengikuti rute mereka.”


            Prameswari berpikir keras. Diam-diam ia memiliki sebuah rencana. Luka di dadanya masih belum cukup kering, tetapi dia sudah memaksa Dokter Musa untuk mengakhiri proses penyembuhan. Pram yakin lukanya bisa sembuh dengan sendirinya. Ia pun


keluar dari Rumah Sakit dan mengurus administrasi untuk mengikuti kelas


Pengenalan Dunia Pasca Kematian. Dengan demikian ia bisa menghemat tabungannya dan tak perlu terburu-buru membayar penginapan.


            Keesokan harinya saat Prameswari memulai Kelas Pasca Kematian, ia mendapat kabar gembira dari Dante. Dante mengecek saldo Prameswari secara berkala, dan ia dikagetkan dengan sebuah mutasi kredit yang masuk ke rekening Prameswari, jumlahnya sangat besar dan setara untuk hidup mewah di negeri Cato selama berpuluh-puluh tahun. Dante


mengatakan, ada sebuah yayasan yang dibangun di Bumi menggunakan uang


            Prameswari menolak saran Dante untuk membeli rumah di perumahan mewah di Cato. Pram memiliki rencana lain. Pram meminta Dante untuk mengantarnya ke Loket Penukaran Kesialan. Pram sadar, jika ia hidup mewah pun pastinya ia tak akan bahagia sebab aneka kesialan pasti akan menghantuinya sepanjang hari. Maka, sore menjelang malam, Pram diantar Dante ke sebuah gedung yang tak begitu jauh


dengan gedung Registrasi Kematian.


            Sayang sekali, Loket Penukaran Kesialan sedang sangat ramai dan antrian mengular hingga diperkirakan 3 hari baru Pram akan mendapat giliran. Maka Pram dan Dante hanya mengambil nomor antrian kemudian mereka keluar gedung.


            “Dante, apakah di sini ada taman kota?”


            “Tentu. Kau mau ke sana?”


            “Ya, jika Kau mau menemani.”


            “Dengan senang hati.”


            “Ngomong-ngomong


kenapa Kau selalu mengiyakan ajakanku? Apakah kau tak memiliki kesibukanmu


sendiri?”


            “Aku punya kehidupan, tapi aku tidak hidup. Kurasa berjalan bersama dan mengobrol denganmu akan lebih menyenangkan ketimbang rebahan sendirian di rumah.”


            “Apa itu artinya, Kau menyukaiku?”


            “Kurasa tidak. Seseorang berkata padaku, tanda-tanda jatuh cinta adalah sensasi berdebar-debar di jantung, dan perasaan bahagia yang berbunga-bunga saat berjumpa dengan seseorang yang kita sukai. Sedang kurasa, aku tak merasakan apa pun.”


            “Bagaimana jika aku yang berdebar-debar dan berbunga-bunga saat bertemu denganmu?” Prameswari


yang terbiasa blak-blakkan mencoba berkata jujur kepada Dante.


            “Hem… Aku tak tahu bagaimana semestinya pria dewasa menjawabnya. Katamu Kau akan mengajariku menjadi pria dewasa?”


            Prameswari memandangi Dante yang diam termangu. Sepertinya Dante memang tak merasakan apa-apa di hatinya. Berbeda dengan Dante, Prameswari tampak sangat tertarik dengan


pria lugu di hadapannya. Pram pun berjinjit dan mencoba mengecup pipi Dante. Lalu,


Pram berucap sambil berbisik di telinga Dante,


            “Ini pelajaran pertama untuk menjadi pria dewasa.”