After Death

After Death
Bab 107: Sebenarnya Cinta I



Setelah mengantar Dante untuk beristirahat dalam gubuk, Pram memilih untuk keluar, meninggalkan petugas kematian itu bersama dengan Raja Ramadhana dan Philemon. Pram ingin memaksa banyak oksigen untuk masuk ke hidungnya, berharap akan melapangkan dadanya yang masih sesak. Ia duduk bersandar di bawah pohon kelapa. Pram menutup matanya sambil terus menghirup udara dalam-dalam. Sesekali ia mengelap pipinya yang basah.


Dalam malam gelap itu, Pram menantang ombak agar lebih ganas mendatangkan angin. Ia benar-benar ingin diterpa angin agar hal yang mengganggu pikirannya ikut terbang.


Dan betapa terkejutnya ia ketika matanya terbuka, hal yang mengganggu pikirannya justru duduk anteng tepat di depannya. Pram bahkan hingga refleks menggeser mundur pantatnya.


“Apa yang kau lakukan di sini?” kata Pram sambil memegang dadanya.


“Aku baru saja ingin menanyakan hal yang sama padamu.” Kharon memasang senyum lebar berharap dapat mengurangi keterkejutan Pram.


Pram berdiri dan hendak beranjak meninggalkan Kharon. Tapi Kharon tak melepaskan tangan Pram.


“Duduklah.”


Pram duduk tanpa menatap wajah Kharon. Ia tidak pernah bisa menatap wajah orang yang membuat hatinya sakit. Pram dulu sering berbicara pada ayahnya tanpa memandang wajah karena tak sanggup melihat mata orang yang telah memukuli kakaknya, Ghozie.


“Aku minta maaf jika telah menyakiti perasaanmu.” Kharon sungguh merasa bersalah karena telah membuat Pram sedih. Tapi ia sama sekali tidak menyesal telah mencengkeram tangan Dante hingga memerah. Ia bahkan sebenarnya sangat bernafsu untuk menelan petugas kematian itu.


Pram yang duduk di samping Kharon menghadap ke lautan menekuk kakinya yang selonjoran dan memindah tangan yang sedari tadi ia pangku hingga melingkari lututnya. Ia mengembuskan nafasnya yang berat.


“Kau tahu Ron, aku tidak pernah bisa membenci Ghozie dan Candy. Padahal mereka telah membunuhku dengan keji. Aku bahkan tidak bisa untuk tidak peduli. Setiap hari nasib mereka masih aku sesali. Mungkin itu terdengar bodoh. Tapi aku tidak bisa lupa bahwa mereka adalah saudara yang aku kasihi.”


Kharon hanya terdiam. Ia mencoba menerka arah pembicaraan Pram.


“Saat pertama kali hidup sebagai penduduk baru Cato, aku mengalami masa-masa sulit. Aku yang dulu di Bumi hidup kaya, di Cato saldoku bahkan tidak cukup untuk makan enak. Aku bahkan harus menahan sakit karena dijahit tanpa obat penghilang rasa nyeri. Belum lagi rasa asing dengan semua yang serba baru, rasa kesepian, kehilangan, dan lain-lain. Tapi Dante ada bersamaku.”


Kharon kini menghembuskan nafasnya dengan berat mendengar nama pria sial*n itu. Ia sungguh ingin bersiap menutup telinga sebelum Pram ceramah panjang lebar soal Dante yang bukan merupakan mata-mata Bemius. Kharon telah muak mendengar hal yang sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang ada.


“Ketika aku belum tahu apapun soal jurus, ilmu, dan sebagainya, aku telah mencium aroma aneh yang membuatku tak nyaman di dekat Dante. Dan sebetulnya aroma itu semakin lama semakin kuat.”


Kharon tersenyum karena yang ia dengar adalah kata-kata logis yang seharusnya diucapkan Pram sejak dulu. Ia merasa mungkin angin segar di sekitar pantai membuat pikiran Pram menjadi lebih jernih.


“Semua keganjilan yang kau rasakan tentang Dante, juga aku rasakan. Soal Dante yang pernah begitu sadis menembakiku, berubah menjadi sangat perhatian dan memikatku. Soal apa hubungan gelandangan yang memberiku kalung medalion dengan Dante, hingga dia memintaku untuk tetap bersama Dante, apa mereka saling mengenal? Soal Dante yang menggunakan susuk pemikat. Soal Dante yang bisa berteleportasi kemari. Soal Dante yang tahu keberadaan kita. Soal Dante yang meninggalkan pekerjaan yang katanya tak bisa dia tinggalkan, tapi nyatanya kini dia tertidur di gubuk kita. Dan semua yang pernah kau katakan padaku.”


“Lalu, mengapa kau mengabaikan semuanya dan bertindak bodoh mmembahayakan nyawaku dengan bersama lelaki itu? Mengapa kau menutup mata atas semua kecuriganmu dan justru mengatakan hal-hal receh padaku?” Kharon dikuasai amarah. Ia melepaskan semua kata-kata itu dengan penekanan di mana-mana.


Pram hanya diam. Membuat Kharon merasa menyesal telah berkata sangat kasar. Hal itu sejujurnya karena Kharon merasa sangat terkejut mendengar semua pengakuan Pram.


“Apa karena kau mencintainya?” kata Kharon lirih dan ragu-ragu.


Pram lekas menoleh menatap Kharon tajam. Ia telah memaksa sakit hatinya pergi hingga sekarang ia mampu menatap mata khodamnya itu lekat-lekat.


“Karena aku tahu kau tak akan membiarkanku terluka.” kata-kata itu dilontarkan Pram dengan sangat lirih hingga hampir-hampir tak terdengar.


“Mengapa kau selalu mengira kalau aku mencintai Dante?” Pram masih mengintimidasi Kharon dengan tatapan tajamnya.


“Aku, aku, aku hanya mengingat kalau kau ingin menikah dengannya.” Kharon tak berani menatap wajah Pram. Ia menggeser pandangannya pada ombak, pasir, dan benda di sekitarnya.


“Lalu, mengapa kau selalu mengkhawatirkan keselamatanku?” Pram tak sedikitpun menggeser pandangannya. Ia sungguh menunggu jawaban dari khodamnya itu. Itu adalah pertanyaan yang telah lama ingin ia sampaikan.


“Aku, aku....” lidah Kharon terasa begitu berat.


“Mengapa kau selalu takut kalau aku akan celaka?” Pram tahu bahwa khodamnya tidak bisa bohong. Maka ia dengan sengaja mencercahi Kharon dengan pertanyaan yang intinya mengharap jawaban yang sama.


"Apa semua hanya karena kau khodamku yang bertugas menjagaku? Apa benar hanya karena itu?"


"Aku...."


"Ayo jawab!"


Kharon ingin mengatakan yang sebenarnya. Tapi bibirnya terasa berat sebab sudah sejak lama ia merasa kalah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halo kakak-kakak readers, mohon izin untuk promosi novel author di sini ya… Skip aja kalau kurang berkenan hehe,


 


Well selain di akun Banin SN, author juga punya akun lain yaitu Hashirama Senju. Nah berikut novel-novel author yang barangkali kakak-kakak berminat juga untuk membacanya:


1.       Pendekar Pedang Naga, novel ini ada di akun Hashirama Senju. Novel genre pendekar/wuxia yang pertama saya tulis.


2.       After Death, novel yang sedang kalian baca ini hehe.


3.       Kumpulan Cerpen Menang Lomba, tulisan ini ada di akun Hashirama Senju. Bukan jenis novel tetapi kumpulan cerpen. Di sana saya memposting kumpulan cerpen saya yang pernah memenangkan lomba baik skala lokal maupun Nasional, ada juga beberapa cerpen yang pernah dimuat di media. Silakan baca-baca untuk sekadar menambah referensi kakak-kakak sekalian.


4.       Menikah karena Taruhan, novel ini ada di akun Banin SN. Ini adalah novel bergenre Adult Romance yang pertama saya buat, meskipun bergenre Adult Romance, saya berencana memberikan konflik-konflik rumit atau informasi-informasi yang bermanfaat yang saya rangkum di dalam sana.


5.       Pacar Kecilku, novel ini ada di akun Banin SN. Sementara novel ini Hiatus dulu karena butuh banyak bacaan untuk melanjutkannya. Seperti sebagaimana yang saya tulis di Bulrb, novel ini mengangkat tema tentang Mental illness dan beberapa pengetahuan tentang ilmu psikologi lainnya, jadi saya butuh banyak bacaan lagi untuk melanjutkannya (dan sekarang belum ada waktu hehe)


 


Well, itu dia tulisan-tulisan saya yang ada di platform Noveltoon/Mangatoon. Mohon maaf sekali karena promosi panjang lebar di sini^^