After Death

After Death
Bab 123: Buket Bunga



Hari ke-3 di Pulau Amsleng Sufir Matdrakab, ilmu dan jurus yang dikuasai Pram semakin banyak. Ia kini sudah mampu terbang seperti Kharon. Ia dan tiga lelaki yang selalu siaga menjaganya sering menghabiskan sore dengan terbang mengelilingi pulau ajaib itu.


Pulau Amsleng ternyata memiliki luas seperempat dari Anastasia, atau hampir sama luasnya dengan kota Cato. Sungguh tempat yang tidak pernah membosankan.


Untuk menguji kemampuannya terbang, Pram sering melakukan balap terbang dengan burung penguasa angkasa, yaitu elang. Terhitung dalam dua belas kali bertanding, Pram dua kali unggul dari burung tersebut, yakni mengalami kemenangan tujuh kali dan kekalahan lima kali.


Tidak hanya terbang, Pram juga telah mampu berjalan di atas air. Ia selalu sumringah ketika mampu berjalan di atas sungai seperti jalan di tanah biasa. Awalnya ia selalu kuyup karena tercebur ke sungai sebab kurang seimbang. Ia bahkan sempat tenggelam hingga pingsan. Untung saja Kharon dengan sigap menceburkan diri ke sungai dan lekas menyelamatkannya.


Dalam peristiwa tenggelamnya Pram itu pula, Kharon merasa tak enak hati pada Philemon. Putra Raja Ramadhana itu telah berusaha menekan perut Pram yang pingsan agar air yang masuk ke tubuh Pram mampu keluar. Namun, air yang keluar hanya sedikit dan Pram tetap saja pingsan. Kharon tanpa pikir panjang langsung memberikan nafas buatan sehingga Pram terbatuk dan memuntahkan semua air yang ia telan.


Kharon tahu bahwa Philemon menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa. Itu bukan tatapan kemarahan atau apalah, tapi tatapan itu membuat Kharon merasa sungkan, tak enak hati.


"Maafkan aku, tuan Philemon. Aku hanya...."


"Tidak apa, Ron. Kau memang harus melakukannya. Aku berterima kasih karena kau selalu siaga menjaga Pram. Mungkin jika kau tak segera memberikan nafas buatan, entah apa yang akan terjadi pada Pram." kata Philemon memotong ucapannya sambil tersenyum. Lelaki itu juga memeluk dan menepuk pundak Kharon sebagai ucapan terima kasih. Lantas duduk di samping Pram yang masih lemas.


Kharon sendiri bingung, mengapa ia merasa perlu untuk meminta maaf pada Philemon karena telah memberikan nafas buatan pada Pram. Bukankah Pram itu kekasihnya? Jadi buat apa ia meminta maaf.


"Apa aku boleh menggendong Pram ke rumahnya? Biar Pram istirahat di kamar saja." kata Philemon meminta izin pada Kharon selaku khodam Pram, membuyarkan lamunannya yang heran pada sikapnya sendiri.


"Silakan, tuan." jawab Kharon pelan.


Kharon berkata dalam hatinya, kekasih macam apa dia yang membiarkan kekasihnya digendong lelaki lain?


Kharon yang kini masih terduduk di bawah pohon mengutuki dirinya sendiri karena membiarkan situasi seperti itu terjadi. Ia tidak bisa melarang Philemon membawa kekasihnya karena lelaki itu terlalu baik untuk disakiti.


Lagipula Philemon hanya berniat menolong Pram, bukan hendak mencelakainya. Begitulah kira-kira batin Kharon berusaha menghibur dirinya sendiri.


Siluman harimau putih itu dilema. Kalau Philemon tahu bahwa ia dan Pram saling mencintai, tentu putra raja Shaman itu akan patah hati pada cinta pertamanya. Tapi jika Philemon tak juga tahu, tentu lelaki itu berharap bisa hidup bersama Pram sehingga terus berusaha agar Pram juga mencintainya. Dan itu jelas menyakitkan bagi Kharon.


Merasa belum cukup, ia juga membenturkan kepalanya ke pohon hingga sebuah apel merah jatuh di sampingnya. Kharon pun melampiaskan kekesalannya pada apel tersebut. Mengunyahnya tanpa ampun. Dan lekas-lekas menelannya. Padahal itu adalah makanan yang sangat tidak ia sukai. Maka yang terjadi kemudian adalah ia mengeluarkan semua remahan apel di mulutnya hingga terbatuk-batuk.


Kharon terus memandang ke arah rumah Pram. Ia sangat ingin ke sana dan memastikan bahwa Pram sudah membaik. Tapi, ia tidak mau mengganggu Philemon, atau sebenarnya ia tak kuat melihat Philemon terlalu perhatian pada Pram. Sedangkan ia juga tidak sanggup untuk melarang. Ditambah lagi di sana ada Raja Ramadhana. Ia khawatir kalau sang raja mengutarakan kembali keinginannya untuk menjadikan Pram sebagai menantu kepada dirinya. Melihat besarnya cinta Philemon pada gadis itu.


Maka, yang dilakukan Kharon kemudian adalah kembali membenturkan kepala ke pohon dan menunggu apel jatuh untuk dimakan. Dan dimuntahkan.


***


Pagi ini Kharon sibuk merangkai buket bunga untuk Pram. Itu sebagai ucapan maaf karena tak mengunjungi Pram setelah tenggelam di sungai. Ya, Kharon memilih untuk tidur di rumah yang lain. Di Pulau Amsleng memang terdapat banyak rumah yang berjejer rapi dan indah. Biasanya ia selalu tinggal bersama Pram. Sedangkan Philemon dan Raja Ramadhana tinggal di rumah samping kanan tempat tinggalnya.


Karena itu kali pertama bagi Kharon dalam merangkai bunga, ia merasa sangat kesulitan. Ia berkali-kali menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Untunglah setiap bunga yang dipetik akan tumbuh bunga baru lagi yang sama persis seketika itu juga. Kalau tidak, sudah pasti taman bunga itu hanya akan menjadi taman daun lantaran bunganya habis dipetik Kharon. Yang membuat Kharon semakin tak merasa bersalah karena telah memetik banyak bunga adalah setiap bunga yang ia buang akan tumbuh menjadi tanaman baru ketika menyentuh tanah. Jadi, Kharon sudah secara tidak sengaja menanam banyak bunga pagi itu. Ia tersenyum geli.


Kharon juga selalu tersenyum geli mendapati kekonyolannya sendiri yang tak bejus merangkai bunga. Dan yang membuatnya merasa semakin konyol adalah pada akhirnya dari sekian banyak rangkaian yang ia susun, rangkaian pertamalah yang tampak paling indah. Jadi, setelah lebih dari sepuluh kali mencoba merangkai bunga, ia memutuskan untuk memberikan buket bunga kepada Pram dengan formasi rangkaian yang sama persis dengan rangkaian pertamanya. Sungguh menggelikan, pikir Kharon.


Kharon memasang wajah paling sumringah dipadu dengan wajah melas agar Pram tak marah padanya. Ia berjalan menuju rumah yang didiami Pram dengan semangat dan setengah berlari. Namun, langkahnya terhenti saat dari balik jendela kaca tampak bahwa Pram sedang membaui buket bunga yang sangat indah dengan senyum tak kalah indah. Sebuah buket yang berisi beberapa bunga lili aneka warna yang bergerombol di tengah dikelilingi dengan bunga lavender yang tebal. Membentuk sebuah buket yang sangat besar. Sangat berbeda dari buket bunga miliknya.


Pram terlihat sangat senang menerima buket itu. Kharon tak ingin merusak kebahagiaan itu dengan buket bunga yang sangat buruk darinya.


Jadi, buket bunga buatan Kharon hanya berakhir di tong sampah. Ia pun diam-diam berjalan menjauh dari rumah itu.


Kharon bertengger di atas pohon logistik. Ia merasa sejak berada di pulau Amsleng dirinya lebih mirip burung daripada harimau. Ia nyengir kuda.


Sekilas dalam pikirannya, Philemon memang lebih pantas bersanding dengan Pram daripada dirinya. Ia melihat dirinya sendiri dengan tatapan yang seolah berkata, "Memangnya kau pikir kau ini siapa?"


Pagi itu untuk pertama kalinya, Kharon merasa tak pantas menjadi kekasih Pram.