
Satu kelemahan dari mata dewi pencabut nyawa yang telah menyatu dengan mata Pram adalah hanya mampu menerawang saja tanpa bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan. Dan Pram, ia sebenarnya cukup paham atas tayangan yang baru saja ia sudahi. Tapi ia tak mengerti mengapa Ghozie menjadi steward. Apa yang sebenarnya terjadi pada keluarganya hingga Ghozie harus bekerja sebagai tukang cuci piring di restoran.
Maka, Pram pun mengulangi gerakan yang tadi telah ia lakukan. Lantas kembali mengucapkan mantra.
"Tunjukkan aku keadaan Candy." kata Pram penuh dengan kegusaran.
Dan yang terlihat adalah sebuah nisan bertuliskan Candy binti Suwignyo. Makam itu berada persis di samping makam ibunya, Arimbi. Tidak hanya itu, Pram semakin tercengang karena tepat di sebelah makam Candy juga terdapat nisan bertuliskan nama ayahnya.
Kharon semakin erat menggenggam tangan Pram. Ia tahu kini perempuan yang sungguh sangat ia kasihi itu tengah sesak dadanya oleh luka. Hingga Pram mengeluarkan air mata tanpa ada suara isakan.
Pram lagi lagi menghentikan tayangan itu karena tak kuat. Ia tertunduk dengan deraian air mata yang sangat banyak. Baik Raja Ramadhana maupun Philemon hanya diam. Mereka takut berkata kata kalau kalau justru akan mengusik Pram.
"Cobalah kau lihat apa yang terjadi di masa lalu mereka sebelum meninggal." kata Kharon masih dengan suara dan wajah yang dingin. Ia sebetulnya juga tengah menahan lara batinnya melihat sang kekasih bersedih lagi karena memikirkan keluarganya. Itu juga salah satu alasan Kharon tak setuju kalau Pram mempelajari jurus pemanggil roh dewi pencabut nyawa. Sebab Kharon tahu kalau kekasihnya itu pasti akan menggunakan kelebihan mata dewi tersebut untuk melihat keluarganya yang sama artinya dengan sengaja mengundang kesedihan. Sedangkan Kharon mengerti bahwa mau melakukan apapun juga tidak akan mengubah keadaan, semua yang menimpa keluarga Pram telah terlanjur terjadi.
Pram memejamkan mata dan mengucapkan sesuatu panjang lebar tanpa terdengar suaranya. Komat kamit seperti mbah dukun. Dan saat matanya terbuka dan mulutnya tak lagi mengucap mantra, tayangan perihal keluarganya muncul kembali.
Pada layar yang terpancar dari tengah dahi Pram itu terlihat jelas kalau Ghozie tengah panik atas keadaan yang menimpa Candy. Lelaki itu bahkan tampak kesal pada dokter yang memeriksa Candy hingga terlihat seperti mengusirnya. Kemudian kakak laki lakinya itu tertunduk sedih di samping Candy, yang sepertinya telah meninggal.
Batin Pram terkoyak lagi kala menyaksikan ayahnya tersungkur penuh darah di lantai kamarnya. Ia juga sangat terharu atas semua yang dilakukan Ghozie kemudian. Dan ketika sang dokter tiba, beberapa saat kemudian wajah kakak pertamanya itu terlihat semakin gusar lantas pergi menggendong ayahnya ke garasi. Tampak Ghozie menangis mengantar ayahnya ke rumah sakit. Pram juga menyaksikan bagaimana saudara laki laki satu satunya itu ambruk dan dirawat di rumah sakit yang sama dengan ayahnya. Sementara di tempat lain, Pram melihat lelaki yang sudah tak asing di matanya, yakni dokter pribadi ayahnya, mengatur seluruh prosesi perawatan jenazah Candy.
Hal yang membuat Pram tak mampu lagi menahan emosi, lantas menjerit keras ialah saat ia melihat beberapa orang membopong tubuh Candy untuk dimandikan. Tenyata ada banyak sekali belatung yang menggerogoti punggung dan kepala bagian belakang saudaranya itu hingga seperti bekas gigitan pada apel yang menyebabkan buah itu tak utuh lagi.
Kharon langsung mendekap Pram. Membuat semua tayangan mengerikan di hadapannya buyar. Pram meronta-ronta mengeluarkan semua sakit hatinya atas apa yang menimpa seluruh keluarganya. Ia memukuli dan mencakari Kharon. Raja Ramadhana dan Philemon yang terkejut melihat Pram berusaha untuk membantu. Tapi Kharon memberi isyarat pada mereka untuk mundur dan membiarkan Pram melampiaskan luka hatinya.
Raja Ramadhana turut mengeluarkan air mata. Ia merasa bersalah pada gadis yang telah ia anggap sebagai putrinya sendiri itu. Ia sungguh tak menyangka bahwa putra kejinya Bemius akan memperlakukan keluarga Pram sesadis itu. Philemon yang memahami perasaan ayahnya mencoba untuk menenangkan Raja Ramadhana dengan mengelus pundak lelaki yang telah berusia ratusan tahun itu.
"Biadab! Biadab! Aku akan membunuhmu sekarang juga!" teriak Pram masih diselingi tangisan histeris.
Kharon terus mendekap Pram yang mencoba untuk melepaskan diri. Meski Kharon tahu Pram tidak akan bisa pergi dari Pulau Amsleng Sufir Matdrakab tanpa bantuan Raja Ramadhana, untuk menemui Bemius dan membalaskan semua rasa sakitnya, Kharon tak ingin Pram pergi ke mana pun dan membahayakan dirinya sendiri. Maka dari itu, ia menahan semua luka memar akibat pukulan Pram yang menjadi sangat kuat, juga rasa perih akibat cakaran kekasihnya yang membuat beberapa bagian tubuhnya hingga mengeluarkan darah karena sobek. Kharon menahan semua tanpa mengatakan apapun. Ia tahu kalau Pram akan berhenti dengan sendirinya karena lemas.
Dan benar, kini Pram sudah tidak meronta lagi. Hanya tertinggal beberapa isakan yang terkadang membuat dadanya terasa sesak. Ia juga sudah berhenti memukuli dan mencakari Kharon. Kini ia duduk tertunduk sambil sesekali menghela nafas panjang guna melapangkan dadanya, mencoba menerima kenyataan.
"Maafkan aku, Ron. Aku tak berniat untuk melukaimu." kata Pram lirih penuh sesal mendapati kekasihnya itu terluka.
"Kuatkan batinmu lagi. Dan lihatlah mengapa Ghozie menjadi tukang cuci piring agar semua rasa ingin tahumu terbayar tuntas." kata Kharon tanpa menghiraukan luka lukanya.
"Tapi Ron, tidakkah sebaiknya Pram menenangkan dirinya dahulu?" tanya Philemon cemas. Ia khawatir Pram akan kembali histeris jika melihat hal buruk terjadi pada keluarganya lagi.
"Biarkan. Gadis ini tidak akan pernah tenang sebelum dia tahu apa yang menyebabkan ayahnya meninggal. Juga akan terus memikirkan apa yang terjadi pada Ghozie." Kharon berkata sangat dingin. Ia memang sangat dikuasai rasa dongkol.
Pram menuruti perkataan Kharon. Ia memang sangat ingin tahu mengapa ayahnya meninggal dan apa yang dialami Ghozie. Maka ia mengulangi semua prosesi yang dilakukan sebelum melakukan penerawangan.
Dalam tayangan yang ditampilkan mata dewi pencabut nyawa terlihat bahwa Ghozie mengeluarkan banyak biaya untuk perawatannya dan sang ayah. Ia juga tampak bolak balik ke kantor polisi. Tampak pula berkunjung ke kantornya yang telah dibatasi garis polisi, menjenguk para satpam, mentransfer uang phk pada karyawan, dan juga menjual rumah mewah beserta barang barang berharga untuk memberikan uang ganti rugi kepada para costumer. Ghozie juga tampak mendiami rumah sederhana bersama ayahnya. Ada banyak kejadian mengharukan di rumah mungil itu. Lalu tibalah pada saat ayahnya meregang nyawa dengan kondisi jasad yang tak biasa. Tentu saja Pram yang sudah sedari tadi menangis, menjadi semakin berlinang air mata. Namun, gadis itu masih mampu mengontrol emosinya.
Tapi kemudian yang dikhawatirkan Philemon terjadi juga. Pram kembali histeris saat menyaksikan jasad ayahnya terbakar bersama rumah mungil itu. Terlebih ketika polisi bahkan sudah tidak menemukan jasad ayahnya. Lalu Ghozie menjadi gelandangan dan hidup sangat berbeda dari hidup sebelumnya, sangat kekurangan dan menyedihkan. Pram tak bisa menghentikan terikan dan tangisannya. Tapi Kharon kali ini tak mendekap Pram. Lelaki itu membiarkan Pram menghentikan sendiri terawangannya.
"Aku akan membunuhmu, Bemius!" kata Pram dengan sangat keras setelah menyudahi penerawangannya.
Philemon dan Raja Ramadhana mencoba menenangkan Pram. Tapi gadis itu semakin meronta, semakin histeris, dan semakin tidak terkendali.
Baru saat Pram hendak menyerang Raja Ramadhana sebagai ayah dari Bemius, Kharon mendekap Pram. Ia juga meminta Philemon mengajak sang raja pulang agar Pram tidak melukainya.
Philemon melakukan apa yang dikatakan Kharon. Ia sebenarnya tak tega melihat siluman harimau putih itu menjadi bulan-bulanan Pram. Menerima semua pukulan dan cakaran. Tapi ia juga tak ingin situasi semakin tak terkondisikan jika ayahnya masih ada di dekat Pram.
Sedangkan Raja Ramadhana, ia pulang dengan berderai air mata. Ia sungguh menyesal atas apa yang menimpa keluarga Pram. Yang kesemuanya adalah karena ulah anak kandungnya. Sang raja merasa sangat bersalah karena selama ini telah berharap anak pertamanya itu akan berubah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Author mohon dukungannya untuk menaikkan popularity novel baru author yg berjudul: Menikah Karena Taruhan.
Novel tersebut author ikutkan untuk lomba You are Writer 3 😉😉😉
Jika sempat, kakak2 bisa ninggal rate, like, atau komen ke novel tersebut... Makasih sebelumnya... InshaAllah After Death akan lebih rutin update 😍😍😍