After Death

After Death
Bagian 28 : Rencana-Rencana



 Kharon telah memikirkan banyak


rencana. Dia tidak pernah membiarkan dirinya sedetik pun untuk tidak berpikir. Siluman yang terbiasa menjadi Khodam memang patut diacungi jempol kesetiannya.


            “Aku tidak cukup kuat jika harus melindungimu sendirian, Pram. Kecuali kau cukup kuat atau setidaknya berada sedikit di bawah kemampuanku, aku akan tenang.”


            “Bisakah Kau berhenti mengungkit


persoalan bahawa aku tidak bisa apa-apa?”


            “Buka begitu maksudku. Maksudku adalah, mau tak mau kita membutuhkan sekutu. Apakah kau memiliki pandangan siapa yang bisa kita ajak menjadi sekutu?”


            “Tentu saja tidak. Kau pikir aku tahu apa?”


            “Hem… aku sudah memikirkan satu nama yang mungkin akan sangat menguntungkan kita. Dewi Thalassa. Dia memiliki kemampuan yang sangat kita butuhkan.”


            “Memangnya dia mau bergabung menjadi sekutu kita? Apa untungnya bagi dia?”


            “Tidak ada untungnya. Maka dari itu, kita harus membuat sebaliknya. Kita buat pasukan Bemius mengusik keberadaannya dan aku yakin dia akan datang untuk meminta bergabung bersama kita.”


            “Mengapa Kau begitu yakin?”


            “Dewi Thalassa hidup beratus-ratus tahun sendirian dalam pengasingan. Dante, paling tidak adalah manusia pertama yang ia temui setelah ratusan tahun. Kurasa, jika ia ingin kabur atau bergabung, dia akan mencari seseorang yang setidaknya dia kenal. Lagipula aku punya firasat bahwa Dewi Thalassa sepertinya menaruh hati pada pacarmu itu.”


            “Hem… baiklah.. ada baiknya rencana itu dicoba. Ngomong-ngomong, apa rencana selanjutnya, atau selain yang tadi?”


            “Aku akan membelah diriku lagi dan membawa surat ke Raja Shaman. Memberitahukan tentang pergerakan Bemius yang semakin besar dan meluas. Aku akan meminta beberapa panglima perang dari kerajaan Shaman untuk membantu kita.”


            “Rencana lain?”


            “Tentu saja menemukan buku Anak Purnama ke Tujuh.”


            “Apakah menurutmu aku akan


mendapatkan kekuatan khusus jika kita telah memiliki buku tersebut?”


            “Semoga saja begitu.”


            “Boleh kutanya? Menurut mitos yang beredar di negeri kalian, bagaimana bocah purnama ke tujuh bisa menghabisi


nyawa para jin Hitam?”


            “Aku juga tidak begitu mendengarkan mitos tersebut tetapi sedikit yang kupahami, anak purnama ke tujuh memiliki bakat untuk mempelajari ilmu gaib apa pun.”


            “Banyak. Yang paling umum adalah ilmu mengubah energy, menciptakan halusinasi, dan ilmu kemurnian. Nah yang terakhir itu yang paling sulit dipelajari. Ilmu kemurnian energy adalah teknik penyelarasan dengan energy apa pun. Maksudnya begini, semua jin Hitam memiliki kekuatan-kekuatan merusak, nah bagi jin yang memiliki ilmu kemurnian energy, mereka bisa mengubah semua serangan jahat menjadi hawa energy yang netral.”


            “Lalu apa hebatnya kekuatan


kemurnian tersebut?”


            “Tidak ada. Karena memang ia


dipelajari bukan untuk menyerang melainkan ilmu pertahanan diri. Dengan


pertahanan diri yang bagus, Jin Hitam dengan level kekuatan mana pun akan kehabisan energy dan menyerah jika musuh mereka tak mempan diserang menggunakan berbagai


macam kekuatan.”


            “Lalu, menurutmu, apakah aku bisa menguasai teknik ilmu kemurnian?”


            “Kurasa jika kau mulai serius dan


bersungguh-sungguh, kau akan bisa berlatih ilmu apa pun.”


            “Kira-kira, ilmu apa dulu yang harus kupelajari?”


            “Tubuhmu belum siap menerima ilmu apa pun. Lebih baik kau berkonsentrasi untuk menyembuhkan aneka luka tembak kenang-kenangan dari Dante tersebut.”


            “Bagaimana caranya?”


            “Mulailah sebuah meditasi. Pusatkan pikiranmu pada luka-luka di tubuhmu. Pusatkan instruksimu kepada sel-sel regenerasi dalam tubuhmu. Perintahkan sel-sel regen untuk bekerja cepat dan giat. Bangunkan semua sel-sel regen yang bermalas-malasan. Pusatkan semua, Kau adalah pemilik segala yang di tubuhmu, maka, sel-sel dalam dirimu juga harus menurut. Katakan berulang kali dan diamlah dengan tenang setelahnya.”


*********


Episode-episode


ini dibuat dengan agak ngawur dan kemungkikan besar akan segera saya revisi


besok. Terpaksa saya up demi memenuhi persyaratan keikutsertaan kontes


Noveltoon yang mewajibkan batas minimal Novel adalah 20 ribu kata. Sementara


sampai saat ini masih belum mencapai. Maka sepertinya chapter-chapter setelah


ini aka nada versi revisinya. Mohon map dan terima kasih…