
Kharon sedang meringkuk di tengkuk Prameswari dalam bentuk energy. Dia tak mewujudkan dirinya dalam bentuk apa pun kecuali hanya sebuah dzat yang tak kasat mata normal. Dalam masa pemulihan
kekuatan di tengkuk Pram itulah Kharon merasakan sesuatu. Ia merasakan
getaran-getaran energy yang dipancarkan Prameswari. Semua energy itu merupakan energy pertahanan. Taka da secuil pun energy perlawanan yang dikeluarkan oleh
Prameswari. Itu artinya, Pram kemungkinan besar tidak memiliki bakat menyerang,
meski kekuatan pertahanan diri dan healingnya sungguh luar biasa. Hal tersebut
tentu sedikit merepotkan mengingat pasukan Bemius hampir didominasi oleh Jin Hitam yang ganas dan tipikal penyerang.
Jika Pram hanya bisa bertahan, ada kemungkinan saat terjadi peperangan, Pram akan terpojok dan kalah akibat
kehabisan energy. Jalan satu-satunya adalah menanamkan banyak siluman ke tubuh Prameswari. Jika Pram memiliki banyak siluman yang disegel di tubuhnya, mereka akan membantu Pram saat berperang. Siluman-siluman yang tersegel akan bertarung sesuai kehendak tuan mereka. Sayangnya, memiliki banyak siluman yang tersegel di tubuh juga akan membawa dampak buruk. Jika ada satu energy siluman yang tak selaras dengan tubuh tempat dia disegel, bisa dipastikan hubungan mereka akan seperti inang dan parasite.
“Pram, sepertinya kita harus kembali lagi ke Cato.” Dante yang sudah mulai pulih dari Hipotermia mulai bangkit dan duduk mendampingi Prameswari.
“Aku tidak tahu caranya kembali ke Cato, Dante.”
“Bukankah kita memiliki kalung teleportasi?”
“Saat Kau berburu Giok tadi, Kharon membelah dirinya dan membawa pergi kalung tersebut sejauh mungkin. Jika tidak, keberadaan kita akan selalu diketahui mereka.”
“Lalu, sampai kapan kita akan lari
dan bersembunyi?”
“Aku tak tahu.” Jawab Prameswari pasrah. Ia pun menutupi wajahnya menggunakan kedua lututnya, merasakan depresi yang mulai melanda pikirannya. Alam semesta seolah berlari dengan kecepatan yang berada jauh dari kemampuannya berjalan. Dia sudah berusaha keras untuk mengejar, namun seolah alam semesta kian berlari menjauh. Dia tak paham tentang apa pun, tapi dituntut untuk segera memahami dan menguasai semuanya.
“Di saat-saat yang seperti ini, aku
terkenang cita-citaku beberapa hari lalu. Hidup dengan sederhana, bekerja di
pagi dan sore hari kemudian mengajakmu jalan-jalan saat malam tiba.” Dante menepuk-nepuk pundak Prameswari sambil mengenang hari-hari sebelumnya. Melihat Pram hanya diam membisu, Dante mencoba mengatakan apa yang ia dengar dari Dewi Thalassa.
“Semua mimpi buruk ini pasti akan
segera berakhir. Dan kita berdua akan kembali di Cato. Aku tak begitu yakin,
tapi kurasa Kau mampu melakukannya. Berdasarkan informasi dari Thalassa, Kau
memiliki kekuatan bawaan khusus yang sungguh luar biasa. Kau harus segera
mengaktifkannya, karena ilmumu itu memiliki masa berlaku. Jika di penanggalan
lenyap menguap bersama energy yang sedang menggelayut di atmosfir Shaman. Sebaliknya, jika Kau mampu menguasai ilmu-ilmu agungmu, Kau menjadi sulit terkalahkan di Purnama ke tujuh karena ilmumu akan menyerap energy suci yang menyelimuti atmosfer Shaman, dan kemampuanmu menjadi berlipat-lipat karenanya.”
“Aku bahkan tak mengusai apa pun. Bodoh dan tak bisa diandalkan. Setidaknya begitu kata Kharon. Dan itu fakta.”
Kharon yang mendengar pengakuan Prameswari menjadi merasa bersalah telah membuat gadis itu bersedih karena ucapannya. Baru saja Kharon hendak berbisik meminta maaf, Dante
tiba-tiba memeluk Prameswari dan menepuk-nepuk punggung Prameswari.
“Katamu, wanita akan merasa nyaman dan bahagia jika ditepuk punggungnya dan dipeluk begini. Apakah sudah benar yang kulakukan?” Dante bertanya polos. Dia ingin selalu melihat Pram tersenyum dan ceria, dia ingin bersama Pram di setiap saat, tapi dia juga merasa bahwa tak ada getaran apa pun di hatinya.
“Kau melakukannya dengan sangat baik, Dante. Hanya saja, pelukanmu terasa hambar karena Kau memang tak jatuh cinta padaku. Tapi aku tak keberatan Kau memelukku lebih lama lagi.” Antara
senang dan sedih, Pram bingung dengan suasana hatinya. Jika dipikir-pikir, dia
juga bingung mengapa dengan begitu tiba-tiba, dia jatuh hati pada Dante, yaitu
beberapa menit setelah Dante membuatnya sekarat dan masuk Rumah Sakit.
“Di saat-saat yang genting sepertu ini, membicarakan soal pelukan yang hambar itu terlalu receh, Tuan Puteri.
Seharusnya kita sudah membicarakan rencana-rencana. Dasar perempuan cengeng!” Tiba-tiba Kharon muncul begitu saja menyeruak di tengah-tengah Dante dan Pram, membuat pelukan Dante terlepas dengan kasar.
“Kau… Brengs*k!!” Dante yang santun tiba-tiba mengumpat dan meluncurkan tinjuan ke wajah Kharon. Sayang sekali tinjuan Dante hanya menghantam angin sebab Kharon berpindah tempat dengan
kecepatan yang tak tertangkap mata.
“Jangan tersulut emosi Asisten
Malaikat Maut, setidaknya aku berbicara jujur dan apa adanya.” Kharon tersenyum
sinis kea rah Dante yang masih emosi.
“Baiklah, baiklah… Berhubung Kau kelihatannya sudah pulih, ayo kita jalan-jalan mencari makan. Berubahlah
menjadi Macan raksasa dan biarkan aku dan Dante menunggangimu!”
“Dengan satu syarat, Kau boleh duduk di punggungku, tapi Dante, duduklah di ekorku!” Lagi-lagi Kharon tersenyum
sinis ke arah Dante, Kharon seperti menyadari sesuatu hal tentang Dante, dan
firasatnya itu tak baik. Ia masih menebak-nebak dan belum berani mengambil kesimpulan. Tapi yang ia yakini, ia harus mengawasi Prameswari dari Dante, tak boleh lengah.