After Death

After Death
Bab 170: Misi Penyelamatan V



Kini seluruh jin dan siluman hitam yang berada di dalam tempat pengungsian di istana telah mati, beserta empat panglima yang bersama mereka. Yang tersisa di Shaman saat ini hanyalah mereka yang berjaga di luar sekitar istana dan yang berada di dalam penjara.


 


Philemon menyobek bajunya dan mengikat paha Raja Ramadhana yang terkena pedang panglima. Lantas ia menyobek lagi bajunya untuk membebat luka sayat di lengannya


"Apa kau masih kuat Phil?" tanya Raja Ramadhana yang membantu membebatkan kain ke lengan Philemon.


"Tentu saja ayah, sebentar lagi, sebentar lagi kita akan berhasil menyelamatkan para penduduk." jawab Philemon dengan penuh semangat sekaligus meringis menahan perih.


"Bagus. Ayah bangga padamu." ucap sang raja sambil memeluk putranya.


"Ya sudah ayah, ayo kita temui Pram dan Kharon lantas segera bergerak keluar." ajak Philemon.


Raja Ramadhana dan Philemon pun berjalan cepat menuju ruang pertemuan istana. Di sana Pram dan Kharon tengah duduk duduk di depan ruangan, telah menunggu kedatangan keduanya.


"Pram, bagaimana? Apa sudah selesai?" kata Raja Ramadhana sambil berlari menghampiri Pram.


"Sudah paman." jawab Pram dengan senyum lebar.


"Selamat Ron, kurang sedikit saja, misi penyelamatan ini akan selesai." kata Philemon sumringah.


"Terima kasih tuan Philemon. Lalu apa rencana kita selanjutnya?"


"Kita mesti lebih berhati hati karena di penjara ada Bemius. Kita bergerak bersama sama saja sehingga bisa saling melindungi." ucap sang raja.


Ketika Pram dan rombongan berjalan menuju keluar istana dengan senyum kemenangan tetapi masih sangat siaga, betapa terkejutnya mereka mendengar suara langkah kaki dan denting benda logam dari luar istana. Kharon berlari untuk mengintip apa yang terjadi melalui jendela.


Gila, Kharon menelan ludah melihat apa yang ada di hadapannya. Hamparan jin dan siluman hitam yang jumlahnya tak terhitung olehnya mengelilingi istana Shaman dengan baju pelindung racun lengkap dengan persenjataan untuk perang. Kharon menoleh ke ketiga rekannya yang menunggu dua meter di belakangnya.


"Ada apa Ron?" tanya Pram cemas melihat gugup di wajah Kharon


"Mereka telah mengepung kita."  jawab Kharon ringkas membuat Pram, Philemon, dan juga Raja Ramadhana berlari mendekatinya untuk melihat keadaan di luar istana.


"Paman, bagaimana ini?" tanya Pram panik dan lemas melihat banyaknya jumlah lawan yang harus dikalahkan. Rasa rasanya banyaknya jin dan siluman hitam yanh baru saja ia lenyapkan sudah begitu banyak dan melelahkan. Apa lagi ini yang mungkin jumlahnya ribuan atau bahkan jutaan.


"Tenanglah Pram. Kita berdua belas. Kau gunakan panahmu untuk menyerang mereka dari sini saja. Philemon juga akan melakukan hal yang sama. Sementara kita Ron, kita tak punya senjata jarak jauh, jadi terpaksa kita akan ke bawah untuk menghadapi mereka dari dekat." kata Raja Ramadhana menjelaskan.


Kharon mengangguk mantap. Sementara Pram ia kini memeluk Kharon erat. Ia sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada kekasih sekaligus khodamnya itu. Rasanya demikian berat jika ia harus berpisah dalam peperangan tersebut. Namun Pram tak punya pilihan selain setuju dengan perkataan Raja Ramadhana, sebab memang hanya ia dan Philemon yang memiliki senjata serangan jarak jauh.


"Semua akan baik baik saja. Kau tembak mereka dengan panah saktimu. Jangan kecewakan aku. Habisi mereka." kata Kharon memberi semangat.


Kharon dan Raja Ramadhana bergerak cepat menuju dasar istana meninggalkan Pram dan Philemon di atas. Pram mencoba membantu Philemon untuk mencari lokasi yang paling pas untuk meluncurkan serangan.


"Di sini Phil. Kau bisa melihat jin dan siluman hitam yang berada di sebelah kanan dengan baik. Sementara aku akan menyerang yang bagian kiri." usul Pram.


"Bagus. Sini sini. Lihatlah mereka telah menunggu tombak mata saktimu menancap di perut mereka." kata Pram lagi masih dengan semangat.


 


Philemon pun menghampiri Pram dan melihat musuh dari tempat yang dimaksud Pram. Itu memang tempat yang sempurna untuk menyerang.


Kini Pram dan Philemon telah bersiap dengan senjata mereka masing masing. Keduanya saling menoleh seolah ingin bersamaan melayangkan serangan.


"Jlep.. jlep.. jlep.. jlep.. ! ! !"


Tombak mata sakti Philemon menancap di perut perut lawan, lantas kembali pada Philemon. Sementara itu, panah naga emas yang dilesatkan Pram berubah menjadi seekor naga yang menyemburkan api biru. Kini ada sekitar sepuluh naga yang berkerumun di langit Shaman.


"Phil, ayo kita pergi ke sebelah sana, lalu kita susul paman dan Kharon." ajak Pram. Ia sudah sangat cemas memikirkan Kharon yang jauh darinya.


Tapi, ketika Pram mau melesatkan panah naga api dari sisi selatan, ia dan juga Philemon sangat terkejut karena naga naga yang ia buat telah diserang dengan tembakan naga merah dengan ukuran yang lebih besar. Tembakan tersebut berasal dari wilayah sekitar penjara.


"Itu naga merah kakak." celetuk Philemon mengagetkan Pram


"Ayo kita susul ayah dan Kharon." teriak Philemon memberi komando dengan perasaan yang was was.


Pram dan Philemon berlari menghampiri Raja Ramadhana dan Kharon yang berada di bawah melawan para jin dan siluman hitam.


"Ron! Paman!" teriak Pram panik.


"Pram. Pram ayo panggil roh dewi pencabut nyawa!" kata Raja Ramadhana memberi aba aba sambil terus melawan jin di hadapannya.


Pram melakukan gerakan gerakan tertentu untuk memanggil roh dewi pencabut nyawa. Dan kini mata Pram telah memerah dengan tatapan sangar setengah melotot, tanpa ada senyum di wajahnya. Kharon mengamati Pram yang seperti orang kesurupan menghajar para jin dan siluman hitam di hadapannya tanpa ampun.


Lagi lagi Kharon selalu ngeri saat menjumpai Pram dimasukki roh dewi pencabut nyawa. Gadis itu seolah lupa pada karakter asli dirinya dan berubah menjadi seorang gadis yang sangat mengerikan.


Melihat hal itu, Bemius tak mau tinggal diam. Ia melesat mendekati Pram. Lantas melayangkan beberapa jurus yang sebagian dari itu telah mengenai Pram.


"Apa kau anak purnama ketujuh itu?" kata Bemius dengan kedua tangan berpangku di belakang.


Pram tidak menjawab. Tapi ia menyerang Bemius dengan menggunakan berbagai jurus.


"Paduka raja dan tuan Philemon, kita ganti tugas. Keadaannya tidak memungkinkan untuk melakukan penyerangan sesuai rencana. Jadi cepatlah paduka raja dan tuan Philemon pergi ke penjara dan membawa rakyat Shaman ke pulau Amsleng Sufir Matdrakab. Aku dan Pram akan menahan di sini sebisa kami." kata Kharon meminta Raja Ramadhana untuk meninggalkannya.


Dengan langkah ragu Raja Ramadhana dan Philemon pergi. Sebenarnya mereka tidak ingin meninggalkan Pram dan Kharon menghadapi semuanya, namun Kharon terus memaksa untuk menyelamatkan para penduduk asli Shaman sebelum semuanya terlambat.


"Pergilah paduka, tuan, jika nanti keadaannya sudah tidak memungkinkan bagi kami untuk bertarung, kami akan menyusul ke Amsleng." kata Kharon lagi meyakinkan sang raja untuk segera pergi.


Raja Ramadhana dan Philemon pun bergegas cepat menuju penjara. Mereka bersiap siap dalam sikap siaga karena mungkin saja ada beberapa panglima atau petinggi Anthemus yang ada di dalam penjara.


Sementara itu, Pram dan Bemius terus berbalas jurus. Namun Bemius sama sekali tidak terlihat bersungguh sungguh menggunakan jurusnya. Ia membiarkan Pram melayangkan serangan demi serangan kepadanya, hingga napas Pram tersengal sengal karena kelelahan.


"Hanya itu kemampuanmu?" tanya Bemius yang melihat Pram membungkuk dengan punggung turun naik mengatur napasnya.


"Sama sekali tak berkelas, tak sesuai dengan rumor konyol soal kehebatanmu." ucap Bemius lagi.


Di lain sisi, Kharon masih sangat sibuk untuk melawan satu per satu prajurit Anathemus yang datang khusus hari itu untuk memberi kejutan kepada rombongannya.


"Menyerahlah maka aku tidak akan melukaimu!" ucap Bemius sombong dan sangat percaya untuk bisa menang.


"Tidak! Lebih baik aku mati daripada takhluk pada orang biad*p sepertimu."  kata Pram sambil meludah.


Kini roh dewi pencabut nyawa telah meninggalkan Pram. Ia kemudian memanahi Bemius secara terus menerus. Tapi tidak ada satupun anak panah yang berhasil menancap di tubuh Bemius.


"Ha ha ha ha, kau tidak akan pernah bisa membunuhku." kata Bemius sesumbar lagi.


"Bruuuk ! ! !" Pram ambruk terkena hempasan angin kencang yang ditiupkan Bemius. Saking kuatnya angin yang menerpa hingga membuat Pram mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Pram!" teriak Kharon melihat Pram tersungkur sambil mengelap ceceran darah di pinggir mulutnya.


Sementara itu di penjara telah banyak prajurit dan pengawal yang berjaga. Dan dari setiap bagian penjara yang terdiri atas tiga jenis, diperkuat penjagaannya oleh seorang panglima.


Raja Ramadhana dan Philemon kini berada di penjara kotak. Para tahanan yang masih selamat yang merupakan para petinggi kerajaan tersenyum haru melihat kedatangan kedua orang yang sangat mereka hormati itu.


Tapi pertarungan melawan panglima tidak mudah. Panglima yang dibantu oleh para siluman sakti itu memberikan banyak luka pada tubuh Raja Ramadhana dan Philemon.


Tapi sang raja sama sekali tak gentar. Melihat rakyatnya menderita di hadapannya membuat semangat juang Raja Ramadhana berkobar berkali lipat. Ia kembali memberikan serangan pada sang panglima.


"Hia.... ! ! !" teriak Raja Ramadhana ketika meminjam tombak Philemon dan menancapkannya di punggung panglima hingga menembus ke perutnya.


"Itu untuk semuanya." kata Raja Ramadhana yang memandang sang panglima memegangi mata tombak di perutnya.


Philemon langsung bergerak cepat untuk membebaskan para tahanan. Terdapat dua puluh tujuh tahanan yang masih berhasil bertahan hidup. Sudah tidak dapat dijelaskan lagi betapa menyedihkannya keadaan mereka. Ketika mereka dikeluarkan dari penjara kotak, mereka bahkan tidak mampu berjalan dengan baik. Kaki mereka bergetar meski hanya berjalan pelan, seperti seorang bayi yang baru belajar berjalan. Dengan keadaan tubuh kurus tinggal kulit dan tulang, berbau sangat tidak sedap, baju compang camping seperti gembel. Sama sekali tidak tersisa segala kegagahan yang pernah dimiliki.