
Kharon masuk ke tubuh Prameswari dan
meminjam jasadnya untuk mencoba melakukan teleportasi menggunakan kalung Medalion milik Prameswari. Saat portal pusaran angin terbuka, Dante berteriak bahwa ia akan ikut. Kharon hanya menanggapinya dengan kesal. Kharon mengatur koordinat lokasi tujuan yaitu Hutan Krisan. Sayang sekali hantaman meteor yang bertubi-tubi membuat getara gempa yang besar dan berhasil merubah koordinat Medalion yang digenggam Prameswari yang dirasuki Kharon.
“Sial… aku tak tahu kita akan
mendarat di mana!” Batin Kharon.
***
Begitu proses teleportasi selesai,
mereka mendapati diri mereka berada di daratan Es kutub utara. Karena masih
kehabisan energy, Kharon tidak bisa menyalakan medallion untuk melakukan teleportasi ulang. Kalung tersebut disetting menggunakan batterai yang bisa diisi ulang
menggunakan saluran energy khusus. Sementara itu Kharon masih butuh pemulihan dan dia sedang menyerap banyak Chakra milik Prameswari.
“Dante, carikan aku sebuah batu Giok yang tersembunyi di kedalaman 3 meter danau es ini.”
“Yang menyuruhku ini Kharon atau Prameswari?”
“Memangnya apa bedanya, itu demi kebaikan kita bersama!”
“Untuk apa mencari batu Giok?”
“Kuberitahu Kau, gadismu ini tak
memiliki kekuatan apa-apa sedangkan pihak-pihak yang mengincarnya memiliki
banyak kekuatan supranatural yang sangat tinggi.”
“Lalu?”
“Tentu gadismu ini membutuhkan
banyak pusaka untuk melindungi dirinya dari mara bahaya. Salah satunya Batu
Giok tadi.”
“Apa kegunaan Batu Giok?”
“Batu giok merupakan batu murni yang tercipta secara alami dari bahan-bahan mineral tertentu. Saat dipakai, batu giok akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh bagi manusia normal. Bagi manusa setengah jin yang tak normal seperti gadismu ini, keberadaan batu Giok di tubuhnya akan meningkatkan daya tahan tubuhnya beratus kali lipat, sehingga saat
ia terluka proses regenrasi sel dan penyembuhannya akan sangat cepat. Kau juga lemah, kukira Kau juga membutuhkan Pusaka Batu Giok untuk memperkuat tubuhmu!”
“Mengapa harus aku yang mencarinya? Kau mau apa?”
“Aku? Tentu saja aku mau istirahat. Kau kira selama ini usahaku melindungi gadismu tak menguras tenaga?”
Dante kesal disuruh-suruh oleh
siluman yang sepertinya juga tertarik dengan Prameswari. Rasanya aneh sekali
melihat Prameswari marah dan ketus menggunakan suara Pria. Ia jadi penasaran
apa yang dirasakan Prameswari saat tubuhnya dirasuki Siluman.
***
Kharon berbicara menggunakan mulut Prameswari dan mencoba mengajak Prameswari berbicara.
“Hei, iya aku mendengarmu. Tapi di mana aku? Aku bahkan tak mengetahui keberadaanku.”
“Kau berada di alam bawah sadarmu sendiri. Di alam bawah sadar, kewaspadaanmu meningkat, coba jawab beberapa pertanyaanku.”
“Baiklah. Silakan.”
“Saat melakukan teleportasi tadi,
apa kau merasakan atau melihat sesuatu yang janggal?”
“Hem… coba kuingat-ingat… oh, ya… Ada semacam cahaya berkedip-kedip berwarna merah di bawah medallion.”
Kharon sudah menduga. Baginya,
merupakan hal yang tak wajar jika keberadaan mereka selalu diketahui dengan pasti oleh pengikut Bemius. Pasti ada pusaka yang ditaruh di suatu tenpat
sebagai radar penunjuk arah.
“Berarti kalung ini tidak boleh kita
simpan lama-lama. Aku akan membelah sebagian tubuhku dan membawa kalung ini
pergi sejauh-jauhnya dari kita untuk membuat kamuflase. Tapi, untuk membelah
sebagian diriku, aku membutuhkan banyak sekali kekuatan. Apakah kau keberatan
jika kita bersembunyi di daratan es ini untuk waktu sekitar dua minggu? Aku
butuh memulihkan tenagaku, kecuali jika pacarmu menemukan batu giok yang berharga.”
“Aku tak mengapa. Tapi, menurutmu apa mereka akan tahu keberadaan kita jika medallion itu sudah tak bersama kita?”
“Bisa jadi. Semua kekuatan Ghaib
memancarkan gelombang khusus. Sesame makhluk ghaib bisa mendeteksi keberadaan suatu gelombang tersebut. Aku belum pernah mencobanya, tapi aku harap batu Giok juga akan sedikit menyamarkan keberadaan kita. Giok adalah batu alam, batu dengan kemurnian tinggi. Aku harap jika kita memiliki banyak persediaan Pusaka
Giok, jin jahat tidak akan bisa mengendus keberadaan kita. Tapi itu masih dugaan
dan harapanku.”
“Lalu, apa rencana kita selanjutnya?”
*********
Episode-episode
ini dibuat dengan agak ngawur dan kemungkikan besar akan segera saya revisi
besok. Terpaksa saya up demi memenuhi persyaratan keikutsertaan kontes
Noveltoon yang mewajibkan batas minimal Novel adalah 20 ribu kata. Sementara
sampai saat ini masih belum mencapai. Maka sepertinya chapter-chapter setelah
ini aka nada versi revisinya. Mohon map dan terima kasih…