After Death

After Death
Bab 69: Kasak-kusuk di Kerajaan Anathemus



Kudeta terhadap raja yang merupakan ayahnya sendiri, yang digagalkan oleh saudaranya, tak membuat Bemius berhenti. Bahkan kerajaan Anathemus yang dibangunnya berkembang sangat pesat. Bukan hanya pelebaran wilayah kekuasaan, kerajaan jin hitam itu pun sangat maju di bidang teknologi. Banyak penemuan-penemuan baru yang tidak ditemukan oleh kerajaan Shaman sebelumnya. Tidak hanya sampai di situ, kekuatan pasukan Bemius juga sangat ditakuti dan membuat para panglima dari jin putih sangat khawatir.


Namun, kini kerajaan Anathemus sedang mengalami krisis kepercayaan. Para pengikut Bemius begitu gelisah tentang kabar kehebatan Prameswari, anak yang lahir di purnama ketujuh penanggalan Shaman.


Mereka merasa sangat terancam akan kehadiran Pram yang ditakdirkan untuk memusnahkan jin-jin jahat. Meski kehebatan Bemius sangat disegani oleh para penduduk, mitos yang selama ini diyakini, yakni kekuatan anak purnama ketujuh yang akan sangat berkembang pesat di malam bulan purnama mampu mengalahkan dan menghabisi Bemius, raja mereka. Jika Raja Bemius yang sakti saja mampu dilenyapkan, apalagi mereka yang hanya penduduk biasa. Itu sebabnya, rasa was-was tak bisa dicegah. Para penduduk mulai tak percaya pada raja dan petinggi kerajaan.


Ya, berita tentang Pram yang mampu melewati hadangan dari Roh Yurei di Hutan Aokigahara merebak dengan sangat cepat ke seluruh wilayah kekuasaan Anathemus. Para jin dan siluman jahat bahkan takut untuk keluar dari tempat tinggal mereka. Beberapa kegiatan perekonomian tidak berjalan normal. Hal itu terlihat dari kondisi pasar yang lengang, beberapa gerai di pusat perbelanjaan tutup, dan aktivitas impor ekspor yang menurun.


Tidak hanya itu, kabar kesaktian Pram juga membuat para orang tua melarang anak-anak mereka bermain di luar. Tiba-tiba mereka begitu rajin menjemput dan mengantar anak-anak ke sekolah. Semua dilakukan karena mereka takut kalau-kalau Pram datang dan menculik anak mereka lantas menghabisinya tanpa ampun.


Beberapa pusat pelayanan kesehatan dan klinik pengobatan juga merasa perlu untuk membatasi jam buka. Jika biasanya buka setiap saat hanya tutup di hari libur, kini jam kerja hanya setengah hari. Berita yang mengatakan bahwa Pram dan pasukannya akan menyerang di waktu gelap membuat mereka tak mau mengambil resiko.


Semua kegaduhan yang muncul di Anathemus tentu membuat Bemius sangat geram. Dengan cepat ia mengumpulkan para panglima untuk melakukan rapat koordinasi guna mengatasi kekrisisan yang terjadi. Karena jika dibiarkan terus-menerus hal itu dapat memicu munculnya krisis multidimensional yang akan membuat kerajaan melemah dan akhirnya runtuh, bahkan sebelum pertarungan dengan Prameswari dimulai.


"Siapa yang bertanggung jawab atas menyebarnya rumor yang beredar?" Bemius tak mampu menahan kekesalannya. Ia bahkan tak bisa duduk dengan tenang. Berkacak pinggang dan mondar-mandir di singgahsananya.


"Ini bermula dari beberapa jin yang pada saat kejadian berada di Hutan Aokigahara. Mereka menyaksikan gadis bumi itu menakhlukan Roh Yurei yang terkenal memiliki kekuatan hebat, tanpa melakukan perlawanan sedikit pun. Mereka melihat gadis itu membuat Yurei menangis dan menyerah tanpa melayangkan pukulan atau jurus apapun." kata Panglima I.


"Padahal sebelumnya siluman harimau putih yang bersama gadis itu telah berusaha melawan Roh Yurei dengan mengeluarkan berbagai jurusnya, dan tak berhasil. Kita semua tahu kalau Kharon bukan siluman biasa. Kekuatannya menandingi para petinggi jin putih Shaman." kata Panglima II menambahkan.


"Kurang aj*r! Anak ingusan itu bahkan membuat perputaran uang di kerajaan kita menurun. Nilai mata uang dan berapa saham anjlok. Ini tidak bisa dibiarkan atau kita akan mengalami inflasi dan pailit."


"Itu memang harus dilakukan. Yang perlu kita pikirkan adalah caranya. Kita bahkan tidak tahu sekarang dia ada dimana, seberapa hebat kekuatannya, dan seberapa banyak sekutunya. Aku juga tidak tahu apakah dia sudah menemukan buku "Anak Purnama Ketujuh" atau belum. Jika sudah." Bemius tak meneruskan kalimatnya. Ia tak mau membuat para panglimanya takut pada gadis itu.


"Paduka, hamba memiliki rencana. Bagaimana kalau kita serang kerajaan Shaman dan kita tawan Raja Ramadhana. Kita gunakan hal itu untuk membuat mereka takhluk dan mau menuruti perkataan kita untuk menjadi sekutu, menambah armada kita untuk melawan gadis itu. Hamba yakin mereka tidak akan melawan karena takut raja mereka tersakiti." kata Panglima IV memberikan sedikit senyum di wajah Bemius.


"Ide bagus Panglima. Apa ada rencana lain? Kita harus memiliki banyak rencana agar bisa menang."


"Paduka raja, bagaimana kalau kita memperbanyak mata-mata di India. Seperti informasi yang pernah kita dapatkan dari mata-mata kita, mereka akan mencari buku petunjuk itu di India. Kalau pun mereka kini telah sampai di India dan telah menemukan buku itu, kita harus tetap melacak keberadaan mereka untuk mengambil buku itu. Namun, jika ternyata mereka masih belum mendapatkan buku itu, kita bisa menemukannya terlebih dahulu, lantas mengeroyok mereka. Dengan pasukan yang kita miliki, anak itu pasti akan kesulitan mengalahkan kita." Panglima VI tak mau ketinggalan.


"Dan jika kita sudah menemukan anak ingusan itu, aku sangat ingin melihat siluman harimau putih itu celaka. Selama ini dia sudah sangat merepotkan." tampak dendam dan amarah di wajah Bemius.


Ya, semenjak Kharon berada di sisi Pram, semua usaha yang dilakukan Bemius dan anak buahnya belum berhasil juga. Bahkan karena siluman harimau putih itu pula kemampuan Pram meningkat.


Semua rencana-rencana yang disusun Bemius dan para panglima segera ditindaklanjuti. Mereka membentuk beberapa devisi dan memantapkan strategi penyerangan.


Di lain sisi, kerajaan juga menggelar konferensi pers untuk menenangkan para penduduk. Mereka menyampaikan bahwa kerajaan telah memperkuat pertahanan yang tidak akan mampu ditembus dengan mudah oleh kekuatan anak purnama ketujuh. Berita-berita tentang kesiapan kerajaan untuk memghadapi serangan juga terus ditayangkan di televisi.