After Death

After Death
Bab 146: Menjenguk Philemon



Pram tengah bersiap. Seperti permintaan Kharon, gadis itu merias sedikit wajahnya agar matanya tak terlihat sembab. Juga membiarkan Kharon mengepang rambutnya agar lebih rapi.


Kharon mengepang rambut panjang Pram yang hitam dan tebal menjadi satu kepangan saja. Membuat Pram terlihat lebih anggun dan menawan. Ia beberapa kali menerima sentilan lembut dari Kharon sebab membandel, menoleh ke kanan dan ke kiri seperti hendak melihat hasil kepangan Kharon. Padahal khodamnya itu belum menuntaskan kepangannya. Sehingga banyaknya gerakan kepala Pram itu membuat Kharon mengalami kesulitan kesulitan dalam mengepang.


"Kau ini, selalu saja bandel!" kata Kharon setelah menyentil telinga kiri Pram.


Pram tertawa dan menunjukkan senyum nyengirnya kepada Kharon. Membuat khodamnya itu kewalahan menangkap rambut Pram yang hampir lepas.


"Kalau kau terus membandel, sampai tuan Philemon sembuh pun kepangan rambutmu ini tidak akan selesai. Duduklah yang manis dan jangan banyak bergerak! Apa kau mengerti?" Kharon mengeluarkan kalimatnya itu dengan nada agak tinggi. Pram benar benar membuatnya kesal sebab beberapa kali ia harus mengulangi kembali kepangan rambut Pram di saat kepangan itu sudah hampir selesai.


Pram menahan tawa mendengar Kharon mengoceh seperti ibunya dulu. Arimbi, ibu Pram, dulu sering dongkol karena gadis itu tidak pernah mau memotong rambutnya. Rambut Pram selalu panjang, tetapi tidak pernah rapi karena gadis itu selalu lari atau berteriak-teriak saat ibunya merapikan rambutnya yang acak-acakan.


Pram yang telah menghadap ke depan itu tidak menyahuti ocehan Kharon hingga khodamnya itu menanyakan kembali apakah ia telah mengerti atau tidak dengan nada yang lebih tinggi sambil terus berusaha menyelesaikan kepangannya. Pram pun refleks menjawab pertanyaan Kharon dengan mengangguk-angguk.


"Kau ini, jawablah dengan mulutmu, Praaam. Jangan pakai kepalamu! Sudah kubilang jangan banyak bergerak, kau malah menggerak-gerakkan kepalamu." kali ini Kharon sewot sebab ia yang mau menali kepangan rambut Pram yang telah selesai jadi melepaskan rambut dan talinya sekaligus saat Pram mengangguk.


"Iya, Ron." kata Pram dengan lirih dan sedikit melas agar Kharon tak memarahinya lagi.


"Sudah. Akhirnya jadi juga." Kharon langsung menggeletakkan tubuhnya ke lantai usai menali dan memberi pita pada kepangan rambut Pram.


 


Pram langsung berlari menuju cermin. Dan ia terpukau pada dirinya sendiri. Pram sangat senang hingga ia melompat-lompat kegirangan. Hasil kepangan rambut itu sangat indah dan rapi, jauh lebih bagus dari hasil kepangan ibunya. Melihat Pram melompat bahagia seperti anak kecil, Kharon pun tersenyum dan membuat semua otot ototnya yang terasa kaku menjadi tak sakit lagi. Semua lelahnya telah pergi.


"Apa kau suka?" tanya Kharon sambil duduk dan tersenyum lebar.


Pram pun tersenyum dan mengangguk tanpa berbicara apapun. Lantas berjalan centil ke sana ke mari seperti seorang putri. Membuat Kharon semakin lebar tersenyum.


Usai membersihkan dan merapikan dirinya sendiri, Kharon mengambil keranjang berisi buah buah segar untuk Philemon. Kemudian ia dan Pram berjalan beriringan menuju tempat tinggal Philemon dan Raja Ramadhana yang ada di samping tempat tinggalnya, yang jaraknya hanya sekitar seratus meter saja.


 


"Tok...tok...tok...!" Kharon mengetuk pintu.


Pram berdiri menunggu seseorang membuka pintu itu dengan gugup. Ia sungguh merasa bersalah telah kasar pada Philemon. Dan yang membuatnya semakin gugup adalah sebab ia merasa sakitnya Philemon ada hubungannya dengan tindakan buruk yang telah ia lakukan pada putra raja itu.


"Tidak apa. Semua akan baik baik saja. Bersikaplah sebagaimana sebelumnya kau bersikap pada tuan Philemon. Tidak usah khawatir, tuan Philemon adalah orang yang pemaaf." kata Kharon seperti tahu isi hati Pram. Dan kata kata itu cukup membantu Pram menjadi lebih tenang.


Raja Ramadhana membuka pintu dengan senyum lebarnya. Lantas menyilakan Pram dan Kharon untuk masuk. Dan ketika mereka masuk, Philemon tampak masih tertidur di ranjangnya dengan wajah yang sedikit pucat.


"Aku tak tahu dia sakit apa. Semalam saat aku pulang dari rumah kalian, Philemon demam dan menggigil kedinginan. Tapi kalian tidak perlu cemas karena sekarang keadaannya sudah membaik." kata sang raja sambil menyilakan Pram dan Kharon duduk.


Pram semakin merasa bersalah melihat keadaan Philemon. Kharon menoleh ke arah Pram dan mendapati cemas di wajah perempuan itu. Kharon lantas memegang dan mengelus tangan Pram seolah meminta Pram untuk tenang.


"Phil, bangunlah. Lihat siapa yang datang." Raja Ramadhana menepuk pelan pipi putranya. Sebenarnya Kharon telah meminta sang raja untuk membiarkan Philemon tidur saja. Tapi sang raja tetap membangunkan putranya itu sebab ia tahu bahwa anaknya akan sangat senang kalau tahu Pram datang untuk menjenguknya.


Philemon membuka matanya perlahan dan tersenyum pada Kharon juga Pram. Ia tak berkata apapun.


"Ini buah buahan segar yang dipetik Pram tadi pagi sebelum matahari terbit. Semoga dengan memakan buah ini, tuan menjadi lebih cepat pulih." kata Kharon sambil meletakkan keranjang buah yang ia bawa di atas meja di samping tempat tidur Philemon.


Philemon lagi lagi hanya tersenyum dan tidak berkata apapun juga.


"Apa tuan bersedia hamba buatkan salad buah?" tanya Kharon sambil memegang punggung tangan Philemon.


"Tidak usah, Ron. Tidak perlu repot. Kau duduklah saja. Maafkan aku sudah membuat kalian repot datang ke sini." kata Philemon untuk pertama kalinya. Suara lelaki itu memang terdengar agak parau, menandakan bahwa ia memang sedang tidak sehat.


"Tidak apa tuan. Aku akan membuat salad buah dari buah buah segar ini. Selagi menunggu, tuan bisa ngobrol dengan Pram atau beristirahat saja." ucap Kharon sambil berlalu menuju dapur membawa keranjang buah. Ia sengaja meninggalkan Pram agar kekasihnya itu tak canggung lagi dan lebih leluasa untuk berbicara dan meminta maaf, tidak takut akan melukai perasaannya.


"Aku akan membantu Kharon. Pram, paman titip Philemon sebentar ya." Raja Ramadhana berlalu mengekori Kharon diiringi anggukan dari Pram.


"Pram. Terima kasih sudah datang. Pasti ayah yang berlebihan menceritakan keadaanku hingga membuat kau dan Kharon datang ke mari." kata Philemon masih dengan senyum. Lelaki itu tidak tampak sedikitpun menyimpan kesal atau amarah kepada Pram. Ia bersikap biasa saja seperti telah melupakan sikap dan ucapan kasar Pram waktu itu.


Philemon tersenyum dan memejamkan matanya.


"Paman sangat mengkhawatirkanmu. Dia tak tahu kau sedang sakit apa. Apa kau merasakan sakit di bagian tubuhmu?" tanya Pram membuat Philemon kembali membuka matanya.


Philemon diam sejenak memandang Pram. Baru kemudian menggeleng dan menjawab pertanyaan Pram.


"Tidak. Mungkin aku hanya kelelahan. Dan istirahat beberapa waktu pasti akan membuat kesehatanku pulih kembali." kata Philemon, kemudian kembali memejamkan mata.


"Phil."


"Ya."


"Aku minta maaf karena telah berlaku dan berkata tak baik padamu waktu itu. Aku hanya sedang pusing memikirkan suatu masalah hingga tanpa aku sadari, aku telah bertindak kasar padamu. Aku sungguh menyesal." kata Pram lirih sambil menunduk.


Philemon membuka matanya dan tersenyum lagi. Namun kali ini dengan senyum yang lebih sumringah. Berbeda dari senyum senyum sebelumnya. Ia seperti telah mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang mengganggunya selama ini, yang hingga membuatnya jatuh sakit.


"Tidak apa Pram. Aku mengerti. Aku juga tidak marah padamu. Terkadang keadaan membuat kita bertingkah lain dari biasanya."


Pram mengangkat kepalanya dan tersenyum. Senyumnya sungguh manis sekali, membuat Philemon seperti mendapat obat dari sakitnya. Itu adalah senyuman Pram yang sangat ia rindukan. Yang terakhir kali bertemu dengan Pram, senyum itu menghilang entah kemana.


Sementara Pram, ia sungguh lega bisa mengucapkan permohonan maaf kepada Philemon. Ia sungguh senang sebab semua yang dikatakan Kharon memang benar adanya. Bahwa Philemon adalah seorang yang pemaaf.


"Taraaaa... Salad buah sudah siap." teriak Raja Ramadhana membawa nampan berisi semangkuk salad buah. Lelaki itu juga tampak lebih sumringah.


Ya, sedari tadi sang raja mengawasi dan mendengarkan pembicaraan Philemon dengan Pram dari balik tembok. Ia sungguh senang sebab semua prasangka Philemon terhadap penyebab perubahan sikap Pram yang telah ia dengar malam kemarin ternyata tidak terbukti. Ya, malam itu Philemon sudah menceritakan semuanya pada ayahnya. Dan kini sang ayah sungguh bahagia karena semua Praduga Philemon tidak benar.


"Di mana Kharon?" tanya Pram agak cemas sebab kekasihnya itu tak kunjung menyembul dari dapur. Pram lagi lagi masih khawatir jika perbuatannya akan membuat Kharon cemburu.


"Dia sedang membuat salad lainnya untuk kita, Pram. Tunggulah sebentar, dia pasti akan segera keluar." kata sang raja sambil menyodorkan semangkuk salad kepada Pram.


Pram hanya diam tak mengerti. Tapi ia menerima mangkuk itu juga.


"Tolong kau suapi anakku ya Pram. Pastikan dia menghabiskan makanannya. Dia sudah kehilangan selera makan sejak sakit. Paman ingin merebahkan badan sebentar." kata sang raja sambil berjalan menuju sofa panjang yang letaknya dekat dengan meja makan.


Pram melakukan apa yang dikatakan sang raja. Philemon dengan lahap menerima suapan dari Pram dengan wajah tersenyum lebar hingga mendatangkan cekungan di kedua pipinya.


Kharon menghentikan langkah kakinya mendapati Pram menyuapi Philemon. Lantas memasang kembali senyumnya yang jatuh melihat Pram bersama Philemon. Ia lantas meletakkan dua mangkuk salad di atas meja. Kemudian Kharon kembali masuk ke dapur untuk mengambil semangkuk lainnya.


Pram yang melihat Kharon kembali ke dapur merasa tak enak hati. Ia menduga, Kharon pasti kini sedang marah di dapur karena melihat kelakuannya itu. Tapi Pram yang ingin sekali menyusul Kharon ke dapur, hanya bisa duduk saja di samping Philemon. Ia tak bisa berbuat apapun.


Dan Pram menjadi sungguh bahagia melihat Kharon yang kembali keluar membawa semangkuk salad lagi dengan wajah yang sangat sumringah. Kharon tak terlihat sedang kesal atau marah padanya. Meski sebenarnya kekasihnya itu merasa cemburu melihat Pram menyuapi Philemon, Kharon mencoba bersikap bijak.


Pram terus menatap Kharon, berharap lelaki itu juga melihatnya. Dan saat Kharon melihat Pram memandanginya dengan wajah bingung, ia pun berjalan menghampiri Pram.


"Ayo, Pram. Suapi lagi tuan Philemon. Pokoknya apapun yang terjadi tuan Philemon harus menghabiskan semua salad ini. Jangan berhenti sebelum semuanya telah habis." kata Kharon sambil menepuk punggung kiri Pram.


Kharon pun berjalan menuju meja makan tanpa menoleh ke belakang. Ia pun menyantap sendiri salad buah yang telah ia buat dan berusaha keras menahan rasa ingin tahunya soal perkembangan hubungan Pram dan Philemon. Apakah Pram telah meminta maaf atau belum.  Dan apakah hubungan keduanya telah kembali baik seperti dulu. Kharon juga mencegah dirinya untuk melihat ke arah Pram dan Philemon. Hingga kini kursi tempat ia duduk, menghadap berlawanan dengan posisi Pram. Kharon melakukannya untuk meredam semua rasa sakit.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halo readers... Numpang promosi ya... Saya lagi rilis novel baru, genre Adult Romance (hehe lagi nantang diri sendiri buat nulis di genre ini, setelah sebelumnya nantangin diri buat nulis di genre Kependekaran).


Judul novel baru saya: Menikah Karena Taruhan (dari judulnya saja sudah klise ya hehe)


Ini novel mau saya ikutkan ke lomba You are Writer 3 dari Noveltoon. Pengennya After Death yg maju tapi After Death sudah kontrak, Pendekar Pedang Naga juga sudah kontrak, jadi musti bikin novel baru buat ikut lomba.


Mohon kakak2 kalau ga keberatan bisa mampir ya, buat sekadar naruh like atau komen hehe... Makasih sebelumnya....