After Death

After Death
Bab 60: Dukungan dari Dewi Thalassa



Setelah Pram meletakkan botol air murni dan macaron dari tangannya, nyaris tak ada aktivitas apapun di meja tamu Dewi Thalassa. Hening beberapa saat.


"Tapi bukankah kami wajib bertahan dan melindungi diri, juga kedamaian di jagat alam semesta? Kami hanyalah target pembunuhan. Bahkan anak ini tak tahu menahu soal semua kegaduhan ini, tapi toh nyawanya terancam setiap saat. Menjadi target utama." sambung Kharon semakin serius setelah menarik napas panjang.


Kali ini Pram tak tersinggung disebut Kharon sebagai 'anak'. Ia mengingat segala perbuatan dan ucapan recehnya, sedang Kharon selama ini begitu fokus pada keselamatannya. Pram menarik napas panjang, mencoba menetralisasi perasaan dan emosi yang belum pernah ia rasakan di Bumi ataupun saat telah di Cato.


Kharon meneguk air murni. Itu hidangan yang pertama kalinya ia nikmati. Lantas menghela napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.


"Mungkin kau telah mendengar bencana yang menimpa Eliztanu." tergambar jelas kesedihan di wajah Kharon.


"Apa yang terjadi padanya?"


"Tepat seperti ramalanmu, pesan yang kau sampaikan padanya soal Hutan Białowieża benar terjadi."


"Soal penyerangan dari kekuatan jahat?" tanya Dewi Thalassa untuk memastikan kebenaran pikirannya.


"Ya, tepat sekali. Bemius bahkan tega menghancurkan hutan itu dan juga membunuh peri penjaga hutan yang tak berdosa tanpa ampun. Mereka bahkan membuat Eliztanu tak dapat terbang lagi untuk selamanya."


Pram melihat kemarahan dan duka di mata Kharon. Mata itu bahkan sedikit berkaca.


Dewi Thalassa meletakkan kedua tangannya di mulut. Ia hampir tak percaya dengan pendengarannya. Kabar dari Kharon tentang Eliztanu itu sungguh mengejutkannya.


"Apa dari ceritaku tadi tampak bahwa kami ingin perang?"


Dewi Thalassa dan Pram kompak menggeleng.


"Bocah ini bahkan tak tahu kekuatan seperti apa yang akan dihadapinya nanti." Kharon menunjuk ke arah Pram.


"Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu kalian?" tanya Dewi Thalassa.


"Dewi Thalassa, sebenarnya kami sama sekali belum siap untuk menghadapi Bemius dan kawan-kawannya. Pram bahkan belum menguasai banyak ilmu. Kami membutuhkan buku petunjuk " Anak Purnama Ketujuh" agar Pram bisa mempelajari apa saja yang harus ia siapkan sebelum serangan Bemius datang.


Menurut kabar yang beredar buku itu berada di Gondwana. Namun, semenjak superbenua itu terpecah tak diketahui secara pasti apakah buku itu tenggelam di samudra ataukah berada di daratan. Bisakah kau memberi tahu kami keberadaan pasti buku "Anak Purnama Ketujuh?"


"Aku akan mencoba mendeteksi keberadaannya." jawab Dewi Thalassa.


Ia mulai memejamkan matanya dan merapatkan kedua telapak tangannya, kemudian meletakkannya di depan dahi, dengan kedua ujung ibu jari menyentuh bagian tengah antara kedua alis.


Pram dan Kharon menunggu dengan hati was-was. Buku itu adalah satu-satunya harapan untuk memenangkan pertarungan melawan Bemius.


"Pergilah ke negara India." kata Dewi Thalassa beberapa saat kemudian.


"Kau tahu tempat itu, Pram?"


"Ya, aku pernah dua kali ke India." jawab Pram penuh semangat.


"Tapi negara itu sangat besar. Ke tempat mana kami harus mencari?" lanjut Pram.


"Di sana terdapat sebuah kota bernama Jaisalmer. Di Kota Emas itu ada sebuah museum tua bernama Gyan Bhandar. Buku itu tersimpan di sana."


"Terima kasih, Dewi. Kau sungguh baik. Maafkan aku jika bertingkah konyol. Macaron dan teh hijau buatanmu sungguh nikmat. Keduanya adalah kesukaanku saat aku masih hidup di Bumi. Aku tak menyangka bisa menemukannya di sini."


Dewi Thalassa tersenyum senang. Ia sangat menyukai energi yang terpancar dari Pram, juga menyukai kejujuran dan ketulusannya.


"Baiklah, ayo kita pergi sekarang!" kata Kharon sambil berdiri.


"Tunggu, bolehkah aku ke kamar mandi?"


"Silakan. Masuk saja. Di dalam nanti kau hanya perlu berjalan lurus."


Pram berlalu meninggalkan Kharon dan Dewi Thalassa.


"Dewi Thalassa, ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan."


"Katakanlah."


"Kau masih ingat Dante? Lelaki yang memotong tubuhnya untuk diserahkan ke ikan-ikan di Danau Orakel."


"Masih, aku masih ingat jelas dengan lelaki itu. Ia melakukannya untuk bisa membuat Pram bangun."


"Bisakah kau ceritakan padaku sedikit tentang lelaki itu? Entah mengapa aku merasa tak nyaman di dekatnya, bahkan sejak kali pertama bertemu."


"Sebentar."


Dewi Thalassa mengulangi apa yang ia lakukan sebelum menjawab letak buku "Anak Purnama Ketujuh".


"Sebelum menjadi petugas kematian di Cato, dia adalah seorang anak berumur satu tahun yang mati karena demam. Karena jiwanya masih belia, Dante menjadi orang yang polos di Cato. Dia juga tulus apa adanya. Namun semua hal tentu mengalami perubahan, bergantung kondisi dan situasi. Bisa menjadi lebih baik atau buruk. Tapi bukankah anak-anak selalu suka mainan baru, apalagi jika itu lebih bagus. Dan bukankah anak-anak selalu luluh jika diiming-imingi sesuatu yang diinginkan?"


Pram datang dengan senyum lebar. Tapi Kharon masih terpaku memikirkan maksud Dewi Thalassa.


" Ayo, aku sudah siap." kata Pram penuh semangat.


"Bisakah kau jelaskan padaku maksud semuanya?"


"Maafkan aku. Aku juga tidak tahu pasti. Ada kekuatan besar yang menutupi penglihatanku. Semua tampak kabur."


Kharon dan Pram berpamitan. Pram memeluk erat Dewi Thalassa karena jamuan dan keramahannya yang luar biasa. Dan mengatakan akan kembali berkunjung jika ada kesempatan.


Pram semakin sumringah karena Dewi Thalassa memberinya buntelan besar berisi macaron. Ia memberikan pelukan lagi sebagai ungkapan kebahagiaannya.


Namun Kharon, pikirannya berkejaran ke sana ke mari, mencoba mengingat saat-saat bersama Dante untuk menemukan petunjuk yang mungkin terlewat, yang mungkin bisa menjawab semua teka-teki yang disampaikan Dewi Thalassa.