After Death

After Death
Bab 147: Jago Putih Langka



Usai menghabiskan salad, Pram dan Raja Ramadhana pun keluar rumah untuk memulai latihan jurus pemanggil roh pencabut nyawa. Kharon membantu Philemon berjalan keluar. Ia tak tega meninggalkan Philemon sendirian. Selain itu, putra kedua raja Shaman itu pun merasa telah membaik dan ingin melihat Pram berlatih.


Kharon mengajak Philemon untuk duduk di bawah pohon logistik, sementara Pram dan Raja Ramadhana berada sekitar sepuluh meter dari mereka. Kharon sebenarnya merasa konyol. Sebab ia memperlakukan pesaingnya itu seperti seorang majikan. Ia merasa semakin konyol karena justru ia yang tidak ingin melihat pesaingnya itu tersakiti. Kharon nyengir kuda. Ia tak mengerti mengapa mesti menghadapi hal semacam itu.


Melihat Kharon dan Philemon duduk berdampingan seperti saat ini, siapa yang akan mengira kalau mereka berdua adalah rival. Mereka sama sekali tidak terlihat sedang berkompetisi memperebutkan Pram. Memang tidak ada lagi yang harus diperebutkan sebab Pram jelas jelas telah memilihku, kata Kharon dalam batin.


Pram tengah bersiap. Ia kini berdiri dengan kaki kanannya. Sedangkan kaki kirinya menekuk ke samping, yakni telapak kaki kiri diletakkan menempel di samping kiri lutut. Sementara kedua tangannya menyatu telapaknya dan diletakkan di depan dada. Pram menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan. Ia mengatur pernafasannya dengan baik agar darah mampu mengalir dengan baik pula. Pram memejamkan mata. Lalu bibirnya komat kamit mengucapkan mantra yang digunakan untuk memanggil roh itu.


Angin berdesir sangat kencang hingga pepohonan dan juga tanaman bergoyang-goyang seperti terkena angin ribut. Bahkan tidak sedikit dedaunan hijau yang gugur. Awan awan bergerombol dan menghitam. Diikuti kilatan petir yang menggelegar berulang kali. Kharon mulai was was, semua itu adalah pertanda bahwa roh dewi pencabut nyawa itu telah datang. Membuat setiap orang begidik dan berdiri bulu romanya.


"Tetap fokus dan konsentrasi. Terus panggil dia." kata Raja Ramadhana setengah berteriak di tengah terpaan angin dan gemuruh kilat.


Pram tak bergerak sama sekali. Hanya mulutnya yang tidak berhenti membaca mantra. Bahkan saat angin kencang datang dan membuat sang raja sedikit sempoyongan, gadis itu tetap berdiri tegak dan seimbang di atas satu kakinya.


Tiba tiba Pram membuka mata. Matanya terlihat sangat merah. Lalu ia memekikkan  tawa dengan sangat lantang dan panjang sampai membuat telinga orang yang mendengarnya terasa sakit. Semua tawa itu membuat angin semakin kencang bertiup dan awan juga semakin hitam. Suasana di pulau Amsleng Sufir Matdrakab berubah menjadi begitu mencekam dan seperti diselimuti kelabu, sama sekali tak terlihat sinar matahari.


Raja Ramadhana tersenyum. Ia tahu bahwa kini roh itu telah ada di dalam tubuh Pram.


"Untuk apa kau memanggilku?" kata Pram dengan suara begitu berat. Ia melotot ke arah sang raja dengan kepala yang selalu bergerak gerak.


"Gadis ini adalah anak purnama ketujuh. Dia ingin kau menjadi sahabatnya. Dan jika kau diminta datang untuk membantunya, kau akan datang." jawab sang raja tenang.


"Apa imbalannya untukku?" tanya roh dewi itu lagi.


"Lihatlah di dalam kurungan itu terdapat jago putih berekor dua kesukaanmu. Kau tentu tahu kalau ayam siluman itu hanya ada satu di Shaman. Dan kau juga tidak akan pernah menemukannya di dimensi lain. Kau boleh mengambilnya jika kau mau." sang raja menunjuk ke arah ayam yang letaknya tak jauh di depan Pram. Tubuh Pram kemudian mengambil ayam itu dengan kasar lantas memakannya. Mencabik-cabik dagingnya.


Beberapa darah berceceran di tanah, juga di sekeliling mulut Pram. Roh dewi pencabut nyawa itu membuat Pram mengunyah ayam jago putih itu hidup hidup. Kharon memejamkan matanya beberapa saat. Ia sama sekali tidak mengenali gadis itu. Itu sangat jauh berbeda dengan Pram. Dan ia semakin takut jika roh itu menguasai Pram seterusnya.


"Terima kasih untuk jamuannya. Aku akan membantu gadis ini jika dia membutuhkanku." kata Pram lagi masih dengan mulut yang penuh dengan darah.


Raja Ramadhana tersenyum lebar. Pram telah berhasil membuat roh itu menyukai aura tubuhnya. Juga berhasil membuat roh itu bersedia membantunya saat mengalami masa sulit. Sang raja sangat bangga kepada Pram.


Pram yang baru saja menghabiskan seekor ayam jago mentah dan hidup, kini telah tergeletak tak sadarkan diri. Ternyata roh Dewi pencabut nyawa itu sungguh teramat kuat dan membuat energi Pram banyak terkuras olehnya.


"Pram, Pram, bangunlah." Raja Ramadhana menepuk pelan pipi Pram. Ia tahu benar bahwa jika Pram tak kunjung bangun akan sangat berbahaya baginya. Bisa mengalami kelumpuhan.


Sedangkan Kharon ia kini berdiri masih di bawah pohon logistik. Ia sungguh ingin datang menghampiri kekasihnya, tapi ia telah berjanji untuk tidak akan mengganggu prosesi pemanggilan roh dan hanya akan diam melihat walau apapun yang terjadi.


"Apa Pram baik-baik saja?" tanya Philemon kemudian setelah tidak mampu menahan kegelisahannya.


"Semoga saja begitu tuan. Tapi aku yakin Pram akan segera bangun. Gadis itu sungguh kuat dan keras kepala. Dia tidak akan menyerah begitu saja." kata Kharon sambil tersenyum agar Philemon tak semakin khawatir. Padahal Kharon sendiri serasa hampir mati karena was was.


Dan yang dikatakan Kharon benar. Beberapa saat kemudian Pram bangun sambil memegangi kepalanya. Ia meringis menahan sakit di badannya, meski badannya tak terlihat luka sedikit pun.


"Apa yang terjadi Paman? Mengapa badanku terasa seperti mau remuk begini?" tanya Pram sambil menahan sakit. Ia juga meludah berulang kali, mengeluarkan sesuatu yang terasa aneh di lidahnya.


"Mari kita duduk bersama Philemon dan Kharon. Akan aku ceritakan semuanya di sana nanti." ucap sang raja.


Raja Ramadhana pun memberi isyarat agar Philemon dan Kharon datang menghampirinya. Ia kemudian meminta kedua lelaki muda yang sama sama mencintai Pram itu untuk membopong tubuh Pram. Memapah Pram agar kuat berjalan dan beristirahat di bawah pohon saja.


Kharon dan Philemon pun membantu Pram berjalan menuju pohon tempat mereka menahan cemas. Sepanjang berjalan Pram masih merintih kesakitan.


Dan saat telah sampai, Raja Ramadhana yang telah memegang air minum membantu Pram untuk meminum air tersebut. Sang raja mengatakan bahwa itu bukanlah air biasa, melainkan air suci dari dalam goa yang ada di ujung pulau Amsleng. Raja Ramadhana sengaja mengambil air itu beberapa hari yang lalu untuk diberikan kepada Pram agar tenaga gadis itu segera pulih pasca perasukan pertama. Air itu juga membantu Pram menghilangkan rasa aneh dari mulutnya.


Setelah minum, Pram diminta sang raja untuk berbaring saja dulu sambil mengunyah buah jambu untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuhnya. Sebuah jambu merah mulus dan segar segera menyembul di hadapan sang raja ketika diminta. Ia pun dengan segera meminta Pram untuk mengunyahnya sampai habis. Pram yang masih lemas pun hanya manut saja tanpa banyak bicara seperti biasanya.


"Pram, selamat ya. Kau sudah berhasil menguasai jurus pemanggil roh dewi pencabut nyawa. Kau melakukannya dengan sempurna. Semua rasa sakit yang kau rasakan ini biasa terjadi karena ini baru kali pertama tubuhmu dirasuki roh itu. Roh dewi pencabut nyawa memang memiliki kekuatan yang sangat dahsyat sehingga seseorang yang tidak mampu mengendalikannya justru akan dikuasai oleh roh itu sampai akhir hayat. Tapi kau, kau luar biasa." kata sang raja tak mampu menyembunyikan kekagumannya.


"Terima kasih, paman. Tapi mengapa aku mencium bau anyir? Apa merah merah di wajahku ini darah?" kata Pram sambil mengelap darah dari wajahnya. Pram sudah tampak lebih kuat dari sebelumnya. Rasa lemas dan sakit yang sebelumnya sangat terasa, kini sudah mulai hilang.


Raja Ramadhana memandang Kharon dan Philemon. Ia lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Eeeeem, itu...." Raja Ramadhana bingung harus menjelaskan dari mana. Ia memang tidak menceritakan pada Pram sebelumnya, bahwa roh dewi pencabut nyawa selalu meminta nyawa saat datang. Terlebih untuk kedatangan pertamanya di tubuh orang lain, ia akan meminta santapan nyawa istimewa yang langsung ia habiskan di tempat. Yang artinya akan membuat orang yang dirasuki memakannya juga.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halo readers... Numpang promosi ya... Saya lagi rilis novel baru, genre Adult Romance (hehe lagi nantang diri sendiri buat nulis di genre ini, setelah sebelumnya nantangin diri buat nulis di genre Kependekaran).


Judul novel baru saya: Menikah Karena Taruhan (dari judulnya saja sudah klise ya hehe)


Ini novel mau saya ikutkan ke lomba You are Writer 3 dari Noveltoon. Pengennya After Death yg maju tapi After Death sudah kontrak, Pendekar Pedang Naga juga sudah kontrak, jadi musti bikin novel baru buat ikut lomba.


Mohon kakak2 kalau ga keberatan bisa mampir ya, buat sekadar naruh like atau komen hehe... Makasih sebelumnya....