After Death

After Death
Bab 78: Menjelajahi Gyan Bhandar



Matahari di Jaisalmer benar-benar membuat Pram takhluk. Tangan yang tadinya ia letakkan di mulutnya untuk mengunci kata, kini sudah ia kibas-kibaskan lagi.


"Apa masih jauh?"


"Bersabarlah. Kita akan sampai."


Kharon tak tega melihat Pram yang berpeluh-peluh. Namun, sudah tidak ada lagi waktu untuk beristirahat atau mengantre di kedai minuman. Kharon khawatir pada malam hari nanti mata-mata Bemius sudah memenuhi Jaisalmer untuk menemukan mereka.


Perpustakaan kuno yang menyimpan buku-buku tua dan otentik itu berada di dekat kuil Sambhavanth Jain di dalam kompleks Benteng Jaisalmer.


Gyan Bhandar didirikan pada tahun 1500 Masehi oleh Acharaj Jin Bhadra Suri. Koleksi di dalamnya banyak berasal dari abad ke-11.


"Kita sudah sampai."


Pram tak berkata apapun. Ia memandangi bangunan di sekeliling perpustakaan. Sangat unik dan berkarakter. Ia bahkan memasuki perpustakaan masih dengan celingukan, tak memerhatikan jalan yang ia lalui. Ia seperti hidup di zaman lampau.


Meski perpustakaan telah tutup, sebagai makhluk tak kasat mata, Pram dan Kharon tetap dapat masuk. Ketika itu hari sudah menjelang sore, sedangkan Gyan Bhandar buka dari pukul 10.00 hingga 11.00 pagi saja. Akses untuk masuk ke perpustakaan kuno tersebut memang dibatasi.


"Kalau kita beruntung, buku Anak Purnama Ketujuh itu akan cepat kita temukan." kata Kharon optimis.


Sepanjang mata memandang, Pram melihat rak-rak besar yang berisi buku-buku yang tertata rapi. Di dalam perpustakaan itu, Pram dapat menjumpai manuskrip kuno, ilustrasi orang suci Jain, grafik astrologi, artefak tradisi Jain, prasasti, kain kafan Sahib Jin Bhadra Suri yang dihormati, dan lain sebagainya bernuansa sejarah.


"Apa kita akan membaca sampul buku sebanyak ini satu per satu?" tanya Pram telah membayangkan lelah yang akan dirasa.


Kharon memegang kedua pundak Pram. Lantas berkata dengan lirih tapi penuh penekanan.


Pram mengangguk. Dan dengan semangat berjalan menuju rak pertama. Satu demi satu judul buku dibaca, dan tidak ketemu juga. Ia lantas berpindah rak. Mengulangi apa yang dilakukannya. Hasilnya juga masih sama, buku itu tak tampak juga. Demikian pula yang dilakukan Kharon. Matanya seperti tak berkedip memandangi buku demi buku.


Telah berpuluh-puluh rak buku mereka habiskan. Tapi buku itu tak kunjung ditemukan. Dan sekarang malam telah larut. Kharon berpikir untuk berhenti sejenak dan pergi mencari makan.


"Kharon, haaaah, aku sudah, tak kuat lagi. Mataku, mataku ini seperti, daun jendela yang telah bertahun-tahun, haaaaah, tak dibuka. Dan tubuhku, rasanya, sudah, haaaaaah, mau ambruk karena capek." Pram bersusah payah menyelesaikan kalimatnya yang panjang.


Ia pun terjatuh di pangkuan Kharon yang bergegas menuju Pram saat tahu Pram akan tertidur. Siluman harimau putih itu menggendong Prameswari di punggungnya. Lantas kembali melanjutkan pencariannya.


Kharon memang tak membiarkan Pram terbaring sendiri dalam keadaan tidur. Ia khawatir kalau-kalau secara tiba-tiba mata-mata Bemius datang dan menangkap Pram.


Beberapa kali Kharon mendengar perut Pram keroncongan. Ia ingin membangunkan gadis itu untuk mengajaknya keluar mencari makan. Namun, ia tak tega membuat Pram tersadar dari istirahatnya yang nyenyak.


Kharon mulai putus asa. Sesekali ia membenahi posisi Pram yang melorot dari punggungnya. Kantuk dan lelah juga telah mulai menyerangnya. Namun Kharon tetap memaksa dirinya melahap semua judul buku yang tersisa. Padahal setidaknya masih ada 10 rak yang masih belum ia tengok.


Satu demi satu judul buku dibaca tak secepat sebelum-sebelumnya. Ya, kali ini Kharon merasakan apa yang telah dirasakan Pram. Matanya seperti daun jendela yang sudah terkorosi dengan parah dan mustahil untuk dibuka. Ia pun menguap tanpa jeda. Namun, setiap kali ia mau menghentikan pencariannya, selalu muncul harapan akan menemukan buku itu di rak berikutnya.


Beberapa kali Kharon hampir terguling karena Pram terasa kian berat. Kadang-kadang juga hendak tersungkur karena punggungnya mulai lemah dan beberapa detik tak sadarkan diri. Keseimbangannya sudah tak tersisa lagi.


Akhirnya tinggal satu rak buku yang belum ia jelajahi. Kharon pun merasa seolah mendapat suntikan semangat. Dengan sigap ia membaca satu demi satu judul buku. Dan hingga semua buku telah ia baca judulnya, buku Anak Purnama Ketujuh tak ada.


Kharon langsung ambruk tanpa sempat memperkuat selubung perlindungan yang ia buat tadi. Pikirannya masih tak bisa menerima kenyataan bahwa semua pencariannya sia-sia. Tapi ia hanya diam, karena kini batinnya bahkan sudah tak kuat berucap.