
Sebagian besar penduduk Shaman bekerja sebagai petani sekaligus pedagang. Mereka menanam dan menjual sendiri hasil tani ke pasar. Ada juga yang menjadi penyuplai kebutuhan pangan di mall dan pusat perbelanjaan. Selain itu, banyak yang menjadi buruh. Di Shaman banyak terdapat pabrik parfum. Hal itu karena parfum adalah kebutuhan dasar bagi para jin dan siluman.
Parfum dapat memperkuat karakter masing-masing penggunanya. Bahkan salah satu tolok ukur seorang jin atau siluman berasal dari golongan elite atau proletar adalah ditentukan oleh kualitas parfum yang digunakan. Semakin buruk kualitas parfum semakin rendah derajat sosialnya. Tak heran jika di Shaman terdapat mall yang khusus menjual parfum dengan variasi harga dari yang termurah sampai yang paling mahal.
Jika dilihat dari lingkungan hidup, penduduk Shaman memiliki kesadaran yang tinggi untuk menjaga kebersihan. Bahkan jin dan atau siluman yang tidak bisa menjaga kebersihan diidentikan dengan jin hitam yang memiliki kekuatan jahat untuk menyakiti.
Itu sebabnya sungai-sungai yang banyak mengalir di Shaman sangat jernih dan airnya pun segar. Banyak penduduk yang menggunakan air untuk kebutuhan sehari-hari. Saking jernih dan murninya air sungai hingga bisa langsung diminum. Hal itu juga didukung oleh kebijakan raja, bahwa siapa saja yang merusak sungai; misalnya membuang sampah, buang air besar, menggunakan racun ikan, membuang limbah pabrik, dan lain sebagainya, akan dikenai sanki berat berupa kurungan penjara minimal 10 tahun, juga sanki berat misalnya diubah wujudnya menjadi lebih hina, seperti awalnya jin diubah menjadi binatang, yang semula binatang diubah ke bentuk binatang yang menjijikkan.
Malam itu seluruh penduduk melakukan aktivitasnya seperti biasa. Ke sawah, berjualan, bekerja, belajar, dan sebagainya. Namun, saat hari menjelang pagi malapetaka mulai muncul di negeri itu.
Banyak penduduk yang tiba-tiba jatuh terkapar dan tak sadarkan diri. Semua dengan mata terbuka bahkan seperti hendak keluar. Lalu beberapa menit kemudian tubuh mereka membiru dan diikuti dengan bau busuk bangkai. Dan akhirnya tubuh mereka seperti terbakar lama alias menjadi gosong. Para anak kecil yang menjumpai ibu atau bapak mereka menjadi demikian mengerikan menangis menjerit-jerit. Membuat suasana menjadi semakin gaduh. Dan kegaduhan bertambah riuh karena setelah 1x3 jam mereka yang teracuni akan mati dan keluar asap dari tubuhnya.
Para peneliti Shaman melakukan otopsi terhadap mayat yang memiliki ciri-ciri seperti demikian. Para petugas keamanan juga melakukan investigasi dan wawancara kepada keluarga korban tentang apa yang sebelumnya dilakukan oleh korban. Dan mengapa korban tiba-tiba tak sadarkan diri.
"Bapak tadi malam pergi ke sungai untuk mengambil air. Sudah sejak kemarin air minum di rumah kami habis dan belum sempat mengambil lagi di sungai. Karena bapak tak kunjung pulang sedangkan kami sudah sangat haus akhirnya kami membeli air minum dalam kemasan. Lalu hingga hari hampir pagi bapak tak kunjung pulang. Kami pun mencarinya di sungai. Kami melihat bapak sudah seperti ini." kata seorang anak korban sambil menahan tangis.
Lalu, para petugas keamanan mengambil air sungai untuk diteliti di laboratorium pusat. Di sana Raja Ramadhana yang sedang melihat mayat korban kasus yang sama, turut mengamati penelitian terhadap air sungai.
Dari hasil penelitian terdapat senyawa racun yang terkandung di sungai, dan senyawa itu juga ditemukan di tubuh korban. Itu artinya dari hasil penelitian diketahui bahwa penyebab merebaknya wabah tidak menular itu adalah kandungan racun dalam sungai. Raja Ramadhana pun kekeh ingin melihat langsung kondisi air sungai, tapi para panglima melarang beliau pergi dan diminta untuk tetap tinggal demi keselamatan.
Para petugas keamanan segera memberikan garis keamanan di pinggir sungai serta memperingatkan warga agar tidak mengambil air sungai karena mengandung racun.
Tentu saja Raja Ramadhana tidak bisa diam saja menyaksikan para penduduknya menderita. Ia memaksa untuk keluar dan meninjau langsung sungai serta para korban keracunan yang terpaksa tak dirawat di Balai Pusat Kesehatan karena di sana belum ada penawarnya. Selain itu, para korban keracunan yang dibawa berobat ke sana justru langsung meninggal dalam perjalanan karena guncangan pada tubuh korban mempercepat persebaran racun.
Raja Ramadhana pun bersiap untuk pergi. Beliau dikawal oleh para panglima dan pasukan keamanan raja yang jumlahnya lebih dari 70 personil. Hal itu karena jarak antara laboratorium pusat dengan kerajaan yang sangat jauh yakni hampir 9.000 kilometer. Perjalanan ditempuh melalui jalan udara agar lebih cepat, yakni sekitar satu malam satu hari.
Belum selesai soal penduduk yang keracunan air sungai, Raja Ramadhana dikejutkan dengan kabar dari panglima petugas keamanan, bahwa terjadi penjarahan besar-besaran. Para pelaku hanya menguras habis uang dalam bank, sedangkan perhiasan ataupun pusaka langka ditinggal saja. Hal itu memicu munculnya demonstrasi di mana-mana. Semua menuntut uang kembali. Tapi pihak bank tak memiliki sereceh pun uang karena semua telah diambil.
Bemius yang mendengar penjelasan pakar informatika menyoal hasil pemutaran cctv tertawa terbahak-bahak. Ia begitu senang melihat negeri ayahnya, yang sebetulnya juga merupakan negerinya sendiri, tidak stabil dan ricuh.
"Paduka Raja, hamba ingin melaporkan suatu hal." kata seorang siluman srigala yang menjadi panglima di Anathemus.
"Katakan."
"Kami telah melakukan pemantauan terhadap berbagai aktivitas di Shaman. Kami menemukan adanya energi positif yang sangat besar di langit Shaman. Setelah kami tinjau, ternyata ada banyak pasukan yang mengawal keberangkatan Raja Ramadhana ke kerajaan.
Jumlah mereka tidak banyak. Formasi para panglima tidak lengkap dan selebihnya hanya ada petugas keamanan yang jumlahnya tidak mencapai 100 personil. Bagaimana jika kita langsung menyerang mereka tanpa menunggu mereka tiba di kerajaan Shaman? Hamba yakin kita akan dengan mudah merebut Raja Ramadhana dari mereka."
"O, begitu. Sesungguhnya itu ide yang bagus. Akan sangat mustahil bagi mereka untuk menang melawan kita. Tapi panglima, ini bukan hanya soal menang atau kalah. Aku tidak rela membiarkan Raja Ramadhana mati tanpa rasa bersalah, dan tanpa rasa menyesal karena telah membiarkan dirinya sendiri hidup. Jika kita menyerang sekarang dan menjadikannya tawanan, dia tidak punya kesempatan untuk meratapi penderitaan rakyatnya." Bemius berkata lirih saja dengan mata menerawang jauh ke depan.
"Lalu, bagaimana rencana kita berikutnya Paduka?"