
Pram dan Kharon yang berada dalam tubuh yang sama tampak tergesa-gesa. Sepanjang perjalanan menuju semak bambu kuning, Pram tak mengatakan apapun. Tampaknya kemarahan masih bersemayam di hatinya.
"Bersiaplah Pram. Kita akan segera berteleportasi."
Tak ada jawaban. Kharon mengerti jika Pram masih marah padanya. Ia segera keluar dari tubuh Pram dan menggandeng erat tangan tuan puterinya itu sebelum pergi ke Hutan Aokigahara.
Hutan Aokigahara adalah sebuah hutan yang terdapat di Jepang, tepatnya di sebelah Barat Laut Gunung Fuji, membentang dari kota Kawaguchiko hingga desa Narizawa, Prefektur Yamanashi.
Aokigahara disebut juga sebagai "hutan lautan pohon" dan "lautan pohon gunung Fuji". Hal itu karena jika angin meniup pepohonan di sana terlihat seperti keadaan ombak di laut.
Hutan Aokigahara dikenal sebagai tempat bunuh diri paling populer di Jepang. Bahkan hutan itu berada pada peringkat kedua di dunia sebagai destinasi bunuh diri setelah Jembatan Golden Gate di San Francisco.
Hutan yang sepi di kaki Gunung Fuji itu benar-benar gelap. Sepanjang jalan, di beberapa titik hanya bisa terlihat pita-pita merah, tas ransel yang ditinggalkan pemiliknya, botol-botol sake kosong, kartu kredit, dan kaus kaki bekas. Benda itu adalah peninggalan orang-orang yang putus asa dan memilih mengakhiri hidupnya di sana.
Gelapnya hutan Aokigahara bahkan tidak hanya di malam hari saja. Di siang hari pun hutan tampak begitu gelap. Hal itu karena rata-rata pohon-pohon di sana memiliki tinggi sekitar sepuluh kaki. Pepohonan tersebut juga mempunyai daun-daun yang rimbun dan padat sehingga seperti membentuk kanopi pada hutan. Akibatnya, cahaya matahari tak sepenuhnya dapat menyinari area hutan.
Selain kekelaman yang sangat kental, Hutan Aokigahara juga begitu sunyi. Di sana jarang sekali ditemukan hewan liar yang berkeliaran layaknya hutan pada umumnya. Mungkin karena tak banyak sumber makanan di sana, para hewan menjauhi hutan tersebut. Bahkan bagi para pengunjung hutan, munculnya suara burung merupakan hal yang jarang ditemui, sehingga dapat memunculkan kejut ketika mendengarnya. Karena kesunyian dari hutan tersebut, suara-suara rintihan dan tangisan terkadang terdengar dari jarak yang jauh.
"Bisakah kita segera pergi dari sini, Ron?" Pram mencengkeram tangan Kharon dengan kepala yang celingukan memandangi pepohonan yang membuatnya merasa begitu kerdil.
Sebaliknya, Kharon justru tampak senang karena Pram memanggilnya dengan sebutan yang belum pernah ia dengar, dan terkesan lebih akrab.
"Tenanglah, Pram. Apa kau lupa, bahwa kau sudah pernah meninggal?"
"Kau benar, untuk apa aku takut." Pram melepaskan tangan Kharon.
"Kita harus berjalan hingga keluar hutan. Di hutan ini aku tak bisa terbang."
"Kharon."
"Aku lebih suka jika kau memanggilku Ron. Terdengar lebih bagus."
"Kau lihat pohon-pohon di sini sangat rimbun dan seragam. Ini dapat dengan mudah membuat pejalan kaki tersesat. Pita merah itu digunakan sebagai penanda jalan."
Kau tahu Pram, hutan ini terkenal sebagai tempat bunuh diri. Itu sebabnya mungkin kau melihat ada banyak roh yang berseliweran di sini. Roh mereka tak dapat pergi ke Anastasia, tak seperti dirimu."
Sepanjang jalan yang telah ia lewati, tak sedetik pun terlewat tanpa hadirnya suara-suara aneh. Kadang Pram mendengar rintihan, kadang tangisan, juga jeritan. Ia bahkan sesekali terkejut karena jeritan itu melengking tiba-tiba.
"Pram." suara seorang perempuan terdengar memanggil.
"Ron, apa kau mendengar suara perempuan memanggilku?" Pram memeluk erat tangan Kharon. Ia yakin pendengarannya tidak salah.
"Iya. Aku dengar."
"Apa kau melihat di mana perempuan itu?" Pram celingukan mencari sosok perempuan yang memanggilnya.
"Abaikan saja. Penduduk di sini menamainya Yurei. Dia adalah roh perempuan yang pernah bunuh diri di sini. Wajahnya pucat, rambutnya hitam, dan ia mengenakan baju berwarna putih. Ia tak punya kaki. Jangan terkejut jika nanti kau tiba-tiba melihatnya. Ia suka muncul secara mendadak dan mengejutkan para manusia maupun jin yang melintas di hutan ini."
Cengkeraman Pram semakin kuat. Bahkan membuat Kharon sedikit meringis menahan sakit.
*****
Halo semua.... Terima kasih author sampaikan untuk kalian yang masih setia menanti update dari novel After Death ini. Oh ya, author mau curhat sedikit nih 😄
Author sedang kejar target untuk menulis sebanyaj 60 ribu kata dalam sebulan ini. Mohon dukungan semangatnya dari kakak reader semoga author berhasil menggenapi 60 ribu kata sebelum bulan maret berakhir 😄😄
Karena sedang dalam posisi mengejar sebuah target yang tergolong berat, author berharap kualitas cerita dalam novel ini tidak menurun. Meski demikian, untuk mewanti-wanti hal tersebut, author sangat terbuka dengan segala kritik dan saran. Jika dirasa ada penurunan kualitas cerita, mohon kesediaan kakak reader untuk memberi peringatan dan masukan di kolom komentar. Jika memang cerita dalam novel ini tetap baik dan stabil, mohon beri dukungan berupa like di setiap chapter yg diupdate.
Jangan lupa untuk share Novel ini ke teman-teman agar semakin banyak yang membaca novel-novel bergenre Fantasi 😅😅😅