After Death

After Death
Bab 143: Mencari Tersangka



Pram mencoba menguasai dirinya dan menetralkan segala gejolak dalam hati yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Ia menarik nafas dan mengalirkan energi positif dalam dirinya. Lantas berusaha tersenyum dan lebih tenang.


“Apa kau baik-baik saja, Pram?” tanya Raja Ramadhana melihat Pram beberapa kali menghela nafas sambil menutup mata.


“Iya, paman. Aku baik-baik saja. Aku akan mengajak Kharon untuk menjenguk Phil jika sudah ada waktu senggang. Tapi, sampai sekarang aku tidak juga melihat Kharon. Dimana orang itu sebenarnya? Apa saat paman datang ia telah tak ada dan pintu tidak terkunci atau bagaimana paman?” nada Pram terdengar jelas bahwa ia sedang cemas. Semua kata kata itu menyembul seperti rentetan petasan.


“Bagaimana kalau kita makan dulu? Aku tadi melihat dua mangkuk mie goreng dan dua gelas es jus alpukat coklat di belakang. Setelah semedi tentu kau sangat lapar karena energi terus terpakai tanpa ada suplai makanan. Benar kan? Nah, sepertinya Kharon telah memasak untukmu. Kau bisa leluasa menghabiskan jatah makanmu. Sementara aku, aku akan membantu Kharon menghabiskan jatah makanannya.” semenjak kenal dan akrab dengan Pram, sifat usil dari Raja Ramadhana menjadi sedikit terasah. Ia kini berjalan ke belakang dan tak menghiraukan Pram yang masih kebingungan mencari Kharon.


Dan saat Pram tiba di tempatnya semedi tadi, ia sudah mendapati sang raja tengah melahap mie goreng dengan begitu bersemangat. Es jus alpukat coklat di depannya juga tinggal separuh saja.


“Makanlah Pram. Meski mie ini sudah tidak hangat dan es jus ini juga sudah tidak terasa dingin sama sekali, tapi tidak mengurangi kenikmatannya. Masakan Kharon memang paling juara. Masakan Philemon yang enak saja masih kalah nikmat dengan masakan Kharon. Aku sudah sejak lama ingin menikmati olahan makanan Kharon tapi terlalu sungkan untuk berterus terang. Aku khawatir akan melukai perasaan Philemon dan membuatnya berpikir bahwa masakannya tidak enak, hahaha.” Raja Ramadhana berceloteh panjang lebar dengan begitu semangat.


Ia sangat senang bisa memakan masakan Kharon setelah sekian lama. Ia sebetulnya telah lama menunggu kesempatan bisa berkunjung ke tempat tinggal Pram dan Kharon. Lalu secara diam diam menikmati hidangan yang disajikan Kharon. Ia tahu benar bahwa siluman harimau putih itu pasti akan memasakkan sesuatu untuknya. Dan ketika tadi Kharon menawarinya makanan tepatnya saat ia baru saja datang dan Pram masih dalam semedinya, Raja Ramadhana sungguh menahan diri untuk mampu menolak tawaran itu.


Semua celoteh Raja Ramadhana soal masakan Kharon dan masakan Philemon membuat Pram tersenyum lebar. Ia menjadi begitu bersemangat mendengar sang raja memuji kebolehan kekasihnya dalam memasak. Ia pun langsung duduk dan menyantap mie goreng buatan Kharon serta menyeruput jus alpukat coklat dengan nikmat. Semua yang dikatakan raja barusan memang benar. Dan bagi Pram, Kharon tidak hanya menang dalam hal memasak, tetapi juga menang di segala bidang. Baginya lelaki itu adalah yang nomor satu.


Pram tertawa cukup keras, menertawakan isi benaknya sendiri. Membuat sang raja terkejut dan kemudian turut tertawa. Keduanya seperti sedang berlomba makan dan minum paling cepat. Sesaat membuat Pram lupa bahwa ia belum bertemu Kharon sejak menyelesaikan semedinya.


“Pram, kau sudah bangun? Astaga, apa yang kau lakukan?” Kharon terkejut melihat dua mangkuk dan dua gelas telah kosong. Tergeletak begitu saja di samping Raja Ramadhana dan Pram yang tidur terlentang memanjakan perut yang telah penuh makanan.


“Aku tidak tidur.” jawab Pram sekenanya. Ia menjadi begitu semangat untuk meneruskan saja menjaili kekasihnya itu setelah Kharon menampakkan sedikit kekesalan di wajahnya, mendapati makanannya telah ludes dimakan tanpa permisi.


“Maksudku, sejak kapan kau menyudahi semedimu? Dan apa yang terjadi pada raja? Apa yang telah kau lakukan, Pram?” Kharon jelas menahan dongkol melihat gestur tubuh Pram yang seperti sengaja tak begitu menghiraukannya.


“Tadi saat aku bangun kau tidak ada. Aku mencarimu kemana mana. Tapi kau tidak ketemu juga. Ya sudah, aku lapar. Aku makan saja makanan makanan ini. Daripada terbuang, mending aku makan. Siapa juga yang meletakkan makanan sembarangan begitu? Bagaimana kalau tanpa sengaja aku menabraknya? Kan akan tumpah dan terbuang sia-sia. Sungguh tidak punya adab itu, membiarkan makanan seenak ini begitu saja.” Pram berkata dengan nada malas dan terdengar begitu memojokkan.


Raja Ramadhana yang memejamkan mata sedari tadi meski tidak sedang tidur, berusaha keras menahan tawa. Mendengar keusilan dan drama yang dibuat Pram untuk khodamnya. Sedangkan Kharon, ia berusaha menenangkan dirinya. Ia menghela nafas panjang. Kharon telah hafal dengan kelakuan Pram. Ia tahu kalau Pram memang sengaja ingin membuatnya marah. Maka, ia bertekad untuk menjadi lelaki sabar agar tidak kalah begitu saja.


“Apa kau yang menghabiskan semua ini sendiri, Pram?” tanya Kharon dengan nada disabar-sabarkan.


“Kalau iya, kenapa? Apa kau keberatan? Makanan itu nganggur saja sedari tadi. Kau harusnya berterima kasih karena aku telah membuat makanan dan minuman ini menjadi bermanfaat. Kalau kau memang ingin memakannya mengapa kau tak menghabiskannya segera. Lihatlah betapa buruknya kelakuanmu. Kau membuat es jus alpukat ini sudah kehilangan kesejukannya dan membuat mie goreng ini kehilangan kehangatannya. Es kalau tak sejuk bukan es namanya. Dan mie goreng kalau tak hangat jadi tak enak rasanya. Apa kau mengerti?” Pram duduk dan berkata sambil menunjuk-nunjuk mangkuk dan gelas yang telah kosong dengan suara yang tinggi.


“Ya, meskipun tadi es jus dan mie goreng ini tetap enak rasanya.” Pram melanjutkan celotehnya namun dengan suara yang jauh lebih pelan hingga terdengar samar samar tak jelas.


“Apa? Apa yang barusan kau katakan?” kata Kharon dengan nada yang mulai tinggi.


“Apa? Aku tak berkata apa apa.” kata Pram dengan nada yang jauh lebih tinggi.


Raja Ramadhana mengubah posisi berbaringnya menjadi miring ke arah Pram dengan satu tangan yang ia letakkan di atas kepala. Membuat sebagian wajahnya tak terlihat tertutup lengan. Sang raja demikian sebab sudah hampir tak kuat menahan tawa. Jadi, ia perlu menyembunyikan wajahnya untuk setidaknya bisa tertawa tanpa bersuara.


Kharon yang semula berdiri, kini duduk di hadapan Pram. Ia sempat kehilangan kendali dan hampir saja membuat Pram menang. Ia kemudian memasang wajah melas dan berkata dengan lirih.


“Bisakah kau memelankan suaramu? Kau sepertinya telah mengganggu tidur Raja Ramadhana. Lalu apakah kau tahu Pram, selama kau semedi aku setia menunggumu di atas tikar ini. Aku bahkan belum makan sejak tadi pagi. Aku sengaja menyiapkan makanan dan minuman ini untuk kita makan bersama. Tapi, ya sudahlah, aku akan masak lagi.” Kharon beranjak dan hendak berdiri.


Pram menahan Kharon dengan memegang tangan lelaki itu. Kharon dalam hati menahan tawa sebab kekasihnya itu telah hampir kalah dengan wajah melas dan kata kata lembutnya. Kharon sengaja berkata sangat lirih agar Pram lebih mengerti bahwa ia benar benar tengah menahan lapar.


Kharon menuruti permintaan Pram tanpa berkata apapun.


“Kau memasak mie goreng dan membuat jus ini untuk kita, kan?”


Kharon hanya mengangguk.


“Sebenarnya bukan aku sendiri yang menghabiskan ini semua. Aku tidak salah karena telah menghabiskan jatah makanku. Tapi, orang ini, orang yang kau khawatirkan tidurnya akan terganggu oleh suaraku ini, yang menghabiskan jatah makananmu dan sekarang dia hanya sedang pura pura tidur.” Pram berkata berbisik. Tapi perkataannya tetap terdengar oleh Raja Ramadhana.


Sang raja yang merasa terpojok segera bangun dari kepura-puraan tidurnya untuk membela diri.


“Semua bisa aku jelaskan Ron. Ini tidak murni seperti yang diceritakan Pram.” kata sang raja sedikit terburu-buru.


“Benarkah? Coba paman jawab siapa yang memakan mie goreng dan meminum jus alpukat coklat terlebih dahulu, aku atau paman?” kata Pram menelisik.


“Ya.... aku.” jawab sang raja sedikit ragu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Bagus. Lalu siapa yang mengajakku untuk ikut makan dan minum?” tanya Pram lagi membuat sang raja merasa semakin terpojok.


“Aku juga.” jawab Raja Ramadhana semakin lirih.


“Apa paman sudah meminta izin Kharon sebelum melakukan semua ini?" Pram tak juga menyudahi pertanyaannya.


“Eeeem.... Belum. Aku belum mendapat izin.” kini sang raja tertunduk.


“Jadi, siapa yang bertanggung jawab atas kelaparan yang kini diderita Kharon?” Pram bahkan menepuk lembut lengan kanan sang raja.


“Aku. Ron, lihatlah bagaimana gadis ini membuatku merasa terpojok dan seolah menjadi orang yang paling tak punya hati.” kata Raja Ramadhana agar khodam Pram itu tak marah padanya.


Kharon tertawa melihat Pram membuat Raja Ramadhana bertingkah seperti seorang kanak-kanak. Ia sangat bahagia bisa melihat sang raja menikmati kebersamaan dengan gurauan yang dibuat Pram.


"Krucuk...krucuuuk..."


Suara perut Kharon berbunyi. Lelaki itu memang tengah menahan lapar. Dan nyanyian di perutnya itu membuat Pram dan Raja Ramadhana merasa bersalah. Namun. Karena Kharon tertawa, keda orang itu pun ikut tertawa.


“Heeem, kau ini Pram, Pram, tidak pernah berubah. Selalu berhasil membuat orang lain bahagia, sekaligus jengkel.” kata Kharon tanpa mengeluarkan suara. Ia hanya berbicara pada dirinya sendiri sembari memandangi Pram, lalu menggeleng-gelengkan kepala. Membuat Pram meletakkan kedua tangannya di telinga sambil nyengir kuda, tanda permohonan maaf atas semua tindakannya.


“Sudahlah, biar aku membuat makanan dan minuman spesial untuk kita makan bersama. Lagi.” Kharon memberi penekanan pada kata 'lagi'. Tapi baik Pram maupun Raja Ramadhana seperti tak merasa tersinggung. Bahkan kata kata Kharon barusan membuat sang raja tersenyum lega sekaligus bahagia sebab ia akan bisa menikmati masakan Kharon lagi.


Kharon pun berlalu meninggalkan Raja Ramadhana dan Pram.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Terima kasih untuk kakak-kakak readers yang masih setia membaca After Death sampai episode-episode ini. Saya mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang berpuasa 🥰🥰🥰🥰