After Death

After Death
Bab 114: Memiliki Kehilangan



Hutan Krisan yang biasanya sunyi, kini menjadi sedikit gaduh karena tangisan Pram. Pram meronta-ronta meminta untuk dilepaskan agar bisa kembali berteleportasi ke Anastasia Cato, menyusul Dante yang tergeletak sendiri di semak bambu kuning.


"Lepaskan, lepaskan aku, Ron. Biarkan aku menyusul Dante. Kasian dia sendirian di sana."


Kharon hanya diam dan terus memeluk Pram dengan kuat. Beberapa sayatan bekas kuku Pram yang panjang mengundang beberapa titik darah di lengannya. Sedangkan Raja Ramadhana dan Philemon memandang Pram penuh empati.


"Danteee!!" Pram memanggil dengan seluruh kekuatannya. Membuat beberapa burung terbang meninggalkan dahan karena kaget dan takut. Beberapa serangga juga langsung masuk ke sarangnya untuk sembunyi.


"Ron! Apa kau tak punya hati? Kau lihat Dante mati malah memaksaku meninggalkan dia sendiri? Haaah!!" kini Kharon menerima beberapa pukulan di wajahnya. Tapi ia tetap diam dan mempererat pelukannya.


"Ayo jawab!! Apa kau sudah tuli?"


"Naak..." suara Raja Ramadhana lirih dan bergetar. Ia tahu bahwa mau diapakan juga Dante tidak akan kembali. Tapi ia juga mengerti jika Pram sangat terpukul. Ia mengingat saat-saat Tri Laksmini, istrinya, meregang nyawa tepat di depan matanya dan ia hanya diam tidak bisa berbuat apa-apa. Tentu saat ini Pram sedang merasakan kecewa dan sesal yang mendalam.


"Ron!! Ayo jawab!!" bentak Pram dengan suara yang lebih keras.


"Apa kau ingin kita semua mati di sana dan membiarkan Bemius menguasai semuanya?" kata Kharon ikut membentak sambil melepaskan pelukannya.


"Jadi ini karena kau takut mati? Cuih... Ternyata kau ini pengecut!" Pram semakin menjadi-jadi. Sebetulnya ia tidak sedang marah pada Kharon. Tapi ia tidak punya tempat untuk melepas semua kesedihan dan amarahnya pada Bemius.


"Ya sudah, kau kembali saja ke sana sendiri! Aku memang pengecut."


"Baik. Aku tidak takut ke sana tanpamu." kata Pram sambil mengusap air mata.


"Pram, jangan naak. Terlalu berbahaya." Raja Ramadhana tampak gelisah.


"Iya, Pram. Saat ini tidak ada yang bisa kita lakukan selain lari." kata Philemon menambahkan.


"Biarkan dia pergi paduka. Biar, kita lihat apa yang akan dia lakukan di sana."


"Aku memang akan pergi menemui Dante di Loket Registrasi Pascakematian. Dia pasti sudah menungguku."


"Dante itu sudah mati! Mengapa kau tidak sadar juga. Sampai kapanpun dia tidak akan kembali." kata Kharon dengan suara sangat keras sambil memegang kedua pipi Pram. Suaranya bahkan membuat kelelawar berhamburan dan beberapa daun yang masih hijau gugur.


Pram juga tampak sangat ketakutan. Ia belum pernah melihat Kharon semarah itu sebelumnya.


Kharon yang menyadari bahwa tindakannya telah membuat Pram takut, cepat-cepat mendekap gadis itu. Benar, Kharon merasa tubuh Pram bergetar.


"Pram, Dante tidak akan kembali sampai kapanpun. Dia tidak akan muncul lagi di Loket Registrasi Pascakematian. Semua yang mati dalam keadaan terikat janji pada Bemius, rohnya akan terkurung di kepompong roh dan akan tergantung di penjara roh di kerajaan Anathemus." suara Kharon lirih. Pram mendapati pipinya basah oleh air mata Kharon yang menetes. Ia lantas memeluk khodamnya itu dengan keras dan menenggelamkan wajahnya di dada lelaki itu. Pundaknya tampak turun naik karena terisak.


"Jika kita bertahan di sana sebentar saja, pasti pasukan Bemius akan menangkap kita. Dan itu artinya kematian Dante menjadi sia-sia. Tidakkah kau tahu, siluman di tubuh Dante bereaksi karena Dante berusaha membocorkan rencana Bemius. Jika sebelumnya kita melihat Dante berkali-kali memegangi lehernya yang sakit, itu artinya sudah sejak di Tuvalu ia ingin mengatakan niat jahat Bemius kepada kita. Tapi ia tak kuat menahan sakit sehingga tidak jadi mengatakan apa-apa. Jadi, Pram, jernihkanlah pikiranmu. Dante sudah berjuang keras menahan sakit hingga akhirnya dia tewas mengenaskan begitu. Semua karena dia ingin kita selamat." jelas Kharon panjang lebar sambil mengusap air mata Pram.


Raja Ramadhana mengusap air matanya. Juga Philemon yang tampak sesenggukan.


"Kami mengerti jika kau merasa sangat kehilangan, nak. Tapi larut dalam kesedihan justru membuat semua menjadi lebih buruk." kata sang raja sambil mengusap rambut Pram.


"Iya, Pram. Kau harus kuat. Ada banyak pihak yang berharap padamu." tambah Philemon.


"Maafkan aku jika sudah kekanak-kanakan. Seharusnya aku bisa berpikir jernih dalam keadaan yang keruh begini."


"Sudah, sekarang kau fokus lagi pada belajarmu. Masih ada banyak jurus yang belum kau kuasai." tambah Raja Ramadhana sambil memeluk Pram.


"Sekarang kita harus lebih waspada. Aku yakin keberadaan kita saat ini sedang tidak aman. Kita mengatakan akan ke hutan Krisan di depan Dante. Aku yakin, informasi yang di dengar Dante telah disadap." kata Kharon sedikit panik.


"Lalu bagaimana sekarang, Ron?" tanya Pram tak kalah panik. Bemius telah mengambil satu per satu orang yang ia sayangi dengan sadis.


"Kita akan pergi ke tempat rahasia, yang Bemius pun tidak akan tahu." Raja Ramadhana berkata dengan pandangan menerawang jauh.


***


"Biarkan dulu, mereka sedang berkabung. Biarkan bunga-bunga krisan yang berjatuhan menghibur mereka." kata Bemius yang masih duduk memandangi lukisan ayahnya tanpa melihat ke arah Panglima III yang sedang ada di belakangnya.


"Bagaimana jika nanti mereka kabur lagi, paduka?" kata Panglima ragu-ragu.


Ia sangat takut salah bicara dan membuat Bemius semakin marah. Namun, tidak seperti biasa, kegagalan Panglima III seolah tidak membuat Bemius murka. Bemius masih tampak tenang duduk di kursi kayu kerjanya. Dan hal itu justru membuat Panglima III was-was, apakah ia dan pasukannya memang diampuni atau ada hal lain yang sedang disiapkan Bemius.


"Pergilah. Beristirahatlah dengan tenang bersama para pasukanmu. Kau butuh rehat tanpa diganggu." kata Bemius membuyarkan lamunan Panglima III.


"Baik, paduka."


Panglima III berjalan keluar dengan langkah ragu-ragu. Ia masih tidak percaya jika Bemius memaafkannya.


Benar, saat sang panglima keluar, ia mendapati para pasukan yang mendampinginya telah tergeletak di lantai dengan bersimbah darah. Ia lantas kembali masuk ke ruangan dengan kejut yang tersangkut jelas di wajahnya.


"Paduka, apa yang...."


"Apa kau terkejut dengan hadiah yang kuberikan?" tanya Bemius memotong perkataan Panglima III. Ia juga memutar kursi putihnya sehingga tepat menghadap sang panglima sambil tersenyum lebar.


Panglima III tidak mengatakan apapun. Ia hanya terdiam dengan mulut terbuka.


Bemius berdiri menghampiri sang panglima. Membuat Panglima III semakin takut.


"Apa sekarang kau takut?" tanya Bemius sambil menatap sang panglima.


"Paduka, maafkan hamba kalau...."


Sleeeesh...


Sebuah kepala menggelinding keluar dari dalam ruang kerja Bemius. Berbarengan dengan suara sesuatu yang ambruk.


"Prajurit, letakkan kepala itu di depan istana. Dan sampaikan kepada semua, bahwa aku sendiri yang memberikan hadiah itu karena sang panglima telah lalai dalam tugas."


Prajurit menelan ludah menyaksikan peristiwa pembantaian di hadapannya. Ia lekas-lekas melaksanakan perintah Bemius. Sebelumnya ia telah melihat para pasukan sang panglima yang menggorok sendiri leher mereka sebelum mati. Dan kini ia menyaksikan sang panglima juga telah tewas dengan cara yang tak kalah sadis.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halo kakak-kakak readers, mohon izin untuk promosi novel author di sini ya… Skip aja kalau kurang berkenan hehe,


 


Well selain di akun Banin SN, author juga punya akun lain yaitu Hashirama Senju. Nah berikut novel-novel author yang barangkali kakak-kakak berminat juga untuk membacanya:


1.       Pendekar Pedang Naga, novel ini ada di akun Hashirama Senju. Novel genre pendekar/wuxia yang pertama saya tulis.


2.       After Death, novel yang sedang kalian baca ini hehe.


3.       Kumpulan Cerpen Menang Lomba, tulisan ini ada di akun Hashirama Senju. Bukan jenis novel tetapi kumpulan cerpen. Di sana saya memposting kumpulan cerpen saya yang pernah memenangkan lomba baik skala lokal maupun Nasional, ada juga beberapa cerpen yang pernah dimuat di media. Silakan baca-baca untuk sekadar menambah referensi kakak-kakak sekalian.


4.       Menikah karena Taruhan, novel ini ada di akun Banin SN. Ini adalah novel bergenre Adult Romance yang pertama saya buat, meskipun bergenre Adult Romance, saya berencana memberikan konflik-konflik rumit atau informasi-informasi yang bermanfaat yang saya rangkum di dalam sana.


5.       Pacar Kecilku, novel ini ada di akun Banin SN. Sementara novel ini Hiatus dulu karena butuh banyak bacaan untuk melanjutkannya. Seperti sebagaimana yang saya tulis di Bulrb, novel ini mengangkat tema tentang Mental illness dan beberapa pengetahuan tentang ilmu psikologi lainnya, jadi saya butuh banyak bacaan lagi untuk melanjutkannya (dan sekarang belum ada waktu hehe)


 


Well, itu dia tulisan-tulisan saya yang ada di platform Noveltoon/Mangatoon. Mohon maaf sekali karena promosi panjang lebar di sini^^