
Kharon memberikan peluk perpisahan pada Eliztanu. Ia tampak senang karena telah selesai membantu meringankan tugas sahabatnya.
Kharon mengubah wujudnya menjadi seekor harimau putih dan Pram bergegas menaiki punggungnya. Dalam perjalanan menuju hutan tropis di Pulau Sumatra, salah satu pulau besar di Bumi, tidak ada percakapan antara Pram dan Kharon. Keduanya merasa sedikit kikuk setelah apa yang terjadi di Białowieża.
Kharon merasa segan karena telah bertingkah cengeng di depan Pram. Ia menyesal karena sudah sangat emosional.
"Mungkin aku tadi tampak seperti orang gila. Berbicara dan bahkan menangis sendiri." benak Kharon.
Sementara Pram, memilih diam karena khawatir akan mengganggu Kharon yang mungkin masih sangat sedih. Meski sebetulnya ia ingin mendengar cerita lengkap soal inti percakapan antara Kharon dan Eliztanu.
Setelah beberapa saat perjalanan mereka senyap, Kharon memberanikan diri memulai percakapan.
"Kita akan ke hutan tropis yang di dalamnya terdapat bunga padma raksasa."
"Iya, aku mengenal tempat itu." Pram masih terkesan kikuk.
"Kata Eliztanu, kau akan bertemu guru baru yang akan membantumu menyempurnakan ketujuh cakra."
"O ya, baguslah kalau begitu." Pram sama sekali tak marah. Ia hanya ingin membuat Kharon merasa nyaman dan tidak terganggu olehnya.
"Pram."
"Ya."
"Maafkan aku. Maafkan aku karena di Hutan Białowieża tadi aku membuatmu bingung dan takut. Aku tidak bisa mengendalikan perasaanku melihat Eliztanu seperti demikian." kata Kharon lirih.
"Tidak masalah. Aku mengerti. Memangnya ada apa dengan Eliztanu?" Pram sedikit ragu untuk menanyakannya. Namun akhirnya ia memberanikan diri karena keingintahuannya yang begitu besar.
Kharon menceritakan semuanya. Dan ia menangis lagi. Pram juga terisak. Ia ingin sekali bertemu dan melihat Eliztanu.
***
Kharon dan Pram mendarat di sebuah hutan yang lebat. Terdapat banyak sekali flora dan fauna di sana. Mereka mendarat tepat di samping bunga Padma Raksasa.
Ternyata bunga padma raksasa atau memiliki nama Latin Rafflesia arnoldii adalah tumbuhan parasit obligat yang ukurannya luar biasa besar, bahkan merupakan bunga paling besar seantero Bumi.
Rafflesia arnoldii hidup menumpang pada sebuah tanaman rambat (liana)Tetrastigma yang letaknya berada di dekat Sungai Manna, Lubuk Tapi, Kabupaten Bengkulu Selatan.
Meski Pram sudah pernah melihat bunga itu ketika masih hidup di Bumi, ia masih tampak takjub. Sedangkan Kharon, ia hampir tak berkedip mengamati bunga di hadapannya dengan seksama selama berjam-jam.
Pram merebahkan tubuhnya di samping bunga itu. Membiarkan Kharon sibuk dengan ketakjubannya.
Dari hasil pengamatannya, Kharon tahu bahwa bunga parasit itu tidak berakar, tidak berdaun, dan tidak bertangkai. Diameter bunga ketika sedang mekar bisa mencapai 1 meter dengan berat sekitar 11 kilogram. Bunga menghisap unsur anorganik dan organik dari tanaman inangnya.
Bunga raksasa berwarna terang dengan bintik-bintik putih yang menyebar rata di permukaan bunganya itu mempunyai lima daun mahkota yang mengelilingi bagian yang terlihat seperti mulut gentong. Di dasar bunga terdapat bagian seperti piringan berduri. Ada banyak lalat yang berseliweran di sekitar bunga karena mencium bau busuk yang dikeluarkan.
Kata Eliztanu, bau busuk itulah yang akan menyamarkan keberdaan Pram dan Kharon dari endusan anak buah Bemius.
Setelah merasa cukup, Kharon membangunkan Pram.
"Aku sempat meminta Eliztanu untuk mengenalkan kita dengan Thalassa. Lantas, Eliz mengirim sebuah pesan berisi maksud itu. Inilah balasan atas pesan yang dikirim Eliztanu."
Pram melihat Kharon membuka telapak tangan kanannya. Tapi, tak ada apapun di dalamnya.
"Aku tak melihat apapun."
"Maaf, maaf. Akan kubuka buntelan putih ini, sehingga kau akan melihat apa yang ada di dalamnya."
Benar saja, setelah buntelan dibuka, Pram melihat sebuah kuncup bunga putih dengan diameter sekitar 10 cm menyeruak dan melayang-layang di hadapannya.
Itu adalah bunga wijayakusuma atau yang dikenal dengan nama Latin Epiphyllum oxypetalum, yakni salah satu jenis tanaman kaktus yang mempunyai kelas dicotiledoneae.
Bunga ini berasal dari Kabupaten Cilacap [Amerika tropika (Venezuela dan Caribia)] dan dapat hidup pada daerah dengan iklim sedang sampai beriklim tropis.
Wijayakusuma bukanlah bunga biasa. Dalam mitologi Jawa, tumbuhan ini dianggap pohon sakti dan dapat menghidupkan orang mati. Keberadaannya sangat berharga. Sesuai namanya, dalam bahasa Jawa Kuno, wijaya berarti kemenangan/keberhasilan dan kusuma berarti bunga.
Setelah kuncup merekah, keluar sosok perempuan cantik dengan rambut panjang berwarna perak. Perempuan itu mengenakan gaun putih dan memiliki aroma wangi yang tajam.
"Eliztanu telah menyampaikan niatmu padaku. Datanglah ke Lembah Namea. Aku akan menemuimu."
Setelah perempuan itu berhenti berkata, wijayakusuma kembali menutup dan terbungkus buntelan kain putih seperti sediakala.
Pram dan Kharon masih tercengang atas apa yang mereka lihat. Keduanya lantas menoleh dan saling menatap.
"Apa kita harus kembali ke Cato?" tanya Pram kemudian.
"Tidak. Kita tidak bisa kembali sekarang. Anak buah Bemius tengah berjaga di sana. Kita tinggal di sini dulu dan mencari seorang kakek yang dimasud Eliztanu."
***
Setelah seharian Pram dan Kharon berkeliling hutan hujan tropis Bengkulu demi untuk bertemu dengan sang guru yang dimaksud Eliztanu. Namun, beberapa lelaki tua yang ia temui, hanyalah manusia biasa yang mencari kayu. Kharon bisa mendeteksi hal itu tanpa harus bertanya. Semua kakek yang ia temui bahkan tidak memiliki pancaran cakra yang utuh. Malahan ada pula yang tertutup semua cakranya.
Hingga suara burung hantu dan beberapa serangga nokturnal lainnya terdengar, sang guru belum juga ditemukan. Akhirnya mereka memutuskan untuk melanjutkan pencarian esok hari.
Keterjagaannya semakin sempurna karena mendengar suara seperti ular yang sedang melata. Dan entah bagaimana, saat angin berdesir sangat kencang, ia mencium wewangian.
Pram terjaga dengan mata tertutup rapat. Ia bahkan tidak berani sekadar melihat Kharon yang terlelap sekitar satu meter di sampingnya. Dan ia begitu khawatir kalau-kalau ternyata Kharon sudah tak di sebelahnya lagi, pergi entah kemana meninggalkannya sendiri, seperti yang terjadi pada Dante.
Ketakutan dan kekhawatiran Pram sudah mencapai titik kesempurnaan. Ia lantas menggelindingkan tubuhnya ke arah Kharon. Dan ia begitu bahagia ketika tubuhnya menabrak siluman harimau putih itu.
"Syukurlah." kata Pram dalam hati.
Ia mencolek dan memanggil Kharon beberapa kali masih tanpa membuka mata. Tapi tak ada respons apapun. Pram mengira kodamnya itu mungkin merasa sangat lelah hingga tertidur pulas tak seperti biasanya.
Meski berbaring tepat di sebelah Kharon, Pram masih belum juga tidur. Wewangian yang tercium, kini semakin bertambah. Dan Pram merasa hampir mati karena kaget ketika terdengar suara tokek.
Jauh di dasar hati, Pram merasa konyol. Bukankah dirinya sudah mati? Dan kini kembali ke Bumi bukan sebagai makhluk hidup lagi, melainkan sebagai makhluk halus.
Jika keluarga dan teman dekatnya melihatnya sekarang, tentu ia akan mendapat julukan 'hantu' atau roh gentayangan. Tapi malam ini ia benar-benar takut kalau-kalau tiba-tiba muncul hantu di depannya.
Pram meringkuk di samping Kharon. Ia bahkan memaksa tubuh Kharon yang sedang tak sadar itu untuk memeluknya. Ia meletakkan kepalanya di atas lengan Kharon, lantas menelungkupkan tangan Kharon ke tubuhnya. Dan benar sekali, semua dilakukannya tanpa membuka mata.
Ketika Prameswari berusaha keras untuk tertidur, ia justru merasa ada angin yang ditiupkan ke ubun-ubunnya. Ia ingin memaksa dirinya sendiri untuk percaya bahwa itu hanyalah angin biasa yang bertiup, bukan angin yang sengaja ditiupkan ke kepalanya.
Tapi, semakin lama angin yang berhembus di kepalanya semakin kencang. Pram lantas memberanikan diri untuk menggerak-gerakkan tangannya di atas kepala. Dan beberapa kali tangannya mengibas, tidak menyentuh suatu apapun.
Karena kecemasannya sudah melampaui batas, dan hembusan angin itu tak kunjung berhenti, Pram memberanikan diri. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Setelah mengulanginya sekitar tiga sampai empat kali, Pram memiliki kekuatan untuk mememaksa kepalanya mendongak dengan mata terbuka.
"Aaa...!" teriak Pram nyaring sekali. Namun, tidak juga membangunkan Kharon. Rasa-rasanya ia ingin memarahi Kharon yang molor seperti kerbau.
Entah apa yang terjadi pada Kharon. Seletih dan sepulas apapun dia, sangat tidak wajar jika tidak terbangun karena dikagetkan oleh teriakan Pram yang mendadak dan keras itu. Lagipula, selama ini setiap malam Kharon tidak pernah tertidur pulas. Jangankan suara teriakan, suara langkah kaki saja selalu membangunkannya.
Kali ini usai berteriak, Pram benar-benar seperti telah mati karena terkejut melihat seorang kakek duduk di atas kepalanya yang sedang rebah di atas rontok dedaunan.
Kakek itu berambut putih dengan ikat kepala juga putih, berkumis putih, jenggot panjang sedada pun putih, lengkap dengan jubah yang berwarna putih tulang sedang terkekeh-kekeh.
Tubuh Pram yang terasa lumpuh sejenak langsung refleks terduduk.
"Mengapa kau susah dibangunkan?" kakek serba putih itu masih terkekeh.
"Aku bahkan belum tidur." kata Pram dalam hati menahan kesal. Ketakutannya telah berubah menjadi rasa jengkel yang tak terhingga.
"Apa kau sudah siap?"
Belum juga Pram menjawab, tubuhnya kini berdiri tegak setelah si kakek menggerak-gerakkan tangannya.
"Bagus. Tetaplah di belakangku." si kakek berjalan.
Pram tak mengerti mengapa tubuhnya bisa bergerak sendiri. Badannya terasa seperti mobil mogok yang diderek. Benar-benar manut mengikuti si kakek.
Pram berhenti di sebuah gubuk bambu dekat Rafflesia arnoldii. Sebetulnya peri Eliztanu meminta Pram dan Kharon untuk berada tidak jauh dari bunga raksasa itu. Namun, di pengujung sore mereka menyerah karena tak sanggup lagi menahan bau daging busuk.
Kakek Putih, begitu sebutan yang diberikan pada kakek-kakek yang hobinya terkekeh itu, sedang duduk menunggunya di atas gubuk bambu. Entah mengapa, Pram yakin bahwa sepanjang hari tadi ia sama sekali tidak melihat ada gubuk di situ.
Pram mendekat dan duduk di depan Kakek Putih. Kali ini ia telah mampu menguasai tubuhnya.
"Apakah kakek adalah orang yang akan membantuku menyempurnakan cakraku?" lirih Pram bertanya.
Si kakek membuka matanya. Lalu terkekeh lagi. Terkadang tawa kakek itu terdengar sangat panjang sehingga sedikit menakutkan.
Untuk beberapa saat Pram menyalahkan Eliztanu yang memilihkan guru yang sangat aneh itu.
"Atau jangan-jangan kau adalah antek-antek Bemius!" sentak Pram tiba-tiba seraya berdiri dan sedikit mundur.
Tawa si kakek kini semakin lantang dan panjang.
"Bagaimana bisa kau mengetahui keberadaanku? Mantera apa yang kau gunakan pada Kharon hingga ia tertidur pulas dan tak bangun-bangun? Apa sebenarnya yang kau inginkan? Katakan pada rajamu itu, aku tak takut."
Tubuh Pram bergetar dan kini ia tak lagi berada di dalam gubuk itu.
"Sebagai seorang arwah kau sungguh ceriwis." kata Kakek Putih setelah tawanya mulai berhenti.
Pram semakin yakin bahwa kakek itu adalah jelmaan jin jahat. Ia lantas mencoba menggunakan ilmu ilusi untuk mempengarui kakek itu.
Kakek itu terkekeh lagi. Ia hanya diam memperhatikan tingkah polah Pram.
Pram semakin gugup karena semua skenario yang ia gunakan untuk membuat si kakek berhalusinasi tak juga berhasil. Membuat Kakek Putih terkekeh sampai lemas.
Pram hendak berlari ke tempat Kharon. Namun, tubuhnya kini justru terduduk kembali. Dan lagi-lagi si kakek terkekeh.
"Diamlah! Kau sudah terlalu banyak bicara!" bentak si kakek membuat Pram merasa terancam.
Seperti ada kain besar yang menyumpal mulutnya. Pram sama sekali tak mampu mengatakan satu patah kata pun. Selain itu, Pram juga merasa ada sesuatu yang melilit badannya sehingga membuatnya kesulitan untuk bergerak.