After Death

After Death
Bab 92: Sebuah Oleh-oleh



Dalam pelariannya bersama anak bungsunya, Raja Ramadhana tidak bisa berhenti memikirkan negerinya, rakyatnya, dan kerajaannya. Ia mengenal baik anak sulungnya itu. Ia tahu betul bahwa Bemius memiliki tingkat kekejaman yang tidak terukur. Entah bagaimana anaknya itu bisa tumbuh menjadi sangat jahat dan sama sekali tak punya rasa belas kasihan. Itu sebabnya Raja Ramadhana khawatir kalau Bemius menghajar penduduk Shaman tanpa ampun, membuat mereka menderita, atau bahkan melenyapkan semua rakyatnya.


Namun, Raja Ramadhana juga sadar bahwa ia telah kalah. Benar-benar kalah. Dengan keadaannya yang belum pulih betul, mendatangi Bemius saat ini sama halnya dengan menyerahkan diri. Dan itu artinya tidak ada lagi kesempatan untuk menyelamatkan. Tapi ia harus melakukan sesuatu untuk mengurangi semua kegundahannya memikirkan nasib rakyatnya. Raja Ramadhana pun akhirnya meminta Philemon untuk mencoba melihat keadaan Shaman sekarang.


“Tentu aku akan melakukannya bahkan tanpa ayah minta. Aku mencemaskan penduduk Shaman sama seperti ayah mengkhawatirkan mereka. Tapi, aku tak bisa meninggalkan ayah sendiri dalam keadaan begini. Terlalu bahaya. Mata-mata Bemius mungkin saja telah menantiku untuk keluar, telah bersiap menangkap ayah. Aku tak ingin mereka menyerang ayah, melukai ayah lagi.”


“Tapi nak, ayah sungguh gelisah memikirkan keadaan penduduk sekarang. Ayah merasa tak pantas sembunyi saat di luar sana mereka sedang bertahan menghadapi siksaan Bemius. Sebagai raja, seharusnya ayah menyelamatkan mereka, melindungi mereka, bukan malah sembunyi dan memikirkan keselamatan diri sendiri.”


“Mereka akan senang jika tahu sang raja selamat. Mereka akan sangat sedih jika tahu pengorbanan mereka berakhir sia-sia.”


Raja Ramadhana duduk tertunduk. Ia ingin pergi tapi keadaan tak memungkinkan. Namun, jika ia tetap tinggal, ia tidak bisa duduk dengan tenang. Philemon sangat tak tega melihat ayahnya bingung dan sedih.


“Baiklah ayah, aku akan pergi melihat keadaan Shaman. Tapi aku akan membawa ayah pada gadis itu, gadis yang lahir di purnama ketujuh. Aku akan tenang meninggalkan ayah pada orang yang tepat.”


Raja Ramadhana menyetujui permintaan putranya untuk sementara tinggal bersama Prameswari.


“Ayah tunggu sebentar, aku akan berkomunikasi dengannya dulu untuk memastikan keberadaannya. Aku khawatir dia sudah tidak di Gyan Bhandar lagi.”


Philemon duduk bersila dan memejamkan mata. Ia memusatkan pikirannya sambil terus memanggil nama Prameswari dalam hati. Di tempat yang berbeda Pram merasa seperti ada yang terus memanggilnya. Ia pun secara otomatis melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Philemon, yakni bersila dan memejamkan mata.


Saat Philemon merasa gelombang suara batinnya telah diserap Pram, ia lantas menanyakan keberadaan gadis itu. Pram pun menjelaskan lokasinya dengan sangat detail agar penolongnya itu tak kebingungan mencarinya di Kepulauan Tuvalu.


“Dia sedang mempelajari buku Anak Purnama Ketujuh di Tuvalu, ayah.”


Raja Ramadhana tersenyum bahagia mendengar kabar itu. Ia pun meminta Philemon untuk lekas mempertemukan mereka agar putranya itu bisa langsung pergi meninjau keadaan rakyat Shaman.


“Dia gadis yang sangat baik, tulus, dan ceria. Aku akan membawakan makanan kesukaannya. Juga membuatkan ramuan untuk Kharon agar dirinya semakin bugar. Tunggulah sebentar, ayah.”


Raja Ramadhana mengangguk. Ia memperhatikan putranya sedang meracik sebuah ramuan dengan cekatan dan terburu-buru.


“Sudah, ramuannya sudah siap. Sekarang aku akan menyiapkan bubur kacang hijau.”


“Ya ayah, dicampur ketan hitam dengan kuah santan yang banyak.”


“Bagaimana kau tahu soal itu, nak?”


“Dia gadis yang menarik untuk diperhatikan. Apa ayah keberatan jika aku menyiapkannya sebentar?”


“Tentu saja tidak. Siapkanlah, aku akan berbaring sambil menunggumu selesai.”


Raja Ramadhana melihat ada yang berbeda dari tingkah putranya itu. Sama seperti saat dirinya selalu berusaha memperhatikan Tri Laksmini, istrinya.


Dengan sangat cepat dua bungkus bubur kacang hijau telah siap. Philemon menggunakan kekuatannya untuk membantunya menyelesaikan semua. Ia hanya meletakkan biji kacang hijau, biji ketan hitam, dan sebuah kelapa. Dengan kekuatannya, ia mengubah semua menjadi matang dan siap diracik untuk dihidangkan.


“Sudah siap. Ayo ayah kita segera pergi.”


“Apa kau suka pada Pram?” kata sang raja dengan senyum khasnya. Dan Philemon tak menjawab, ia hanya tersenyum saja.


“Jadi, tunggu apalagi? Ayo berangkat dan kita temui gadis menarik itu.” tambah sang raja mencoba menggoda putranya.


*******


Halo semua.... Terima kasih author sampaikan untuk kalian yang masih setia menanti update dari novel After Death ini. Oh ya, author mau curhat sedikit nih 😄


Author sedang kejar target untuk menulis sebanyaj 60 ribu kata dalam sebulan ini. Mohon dukungan semangatnya dari kakak reader semoga author berhasil menggenapi 60 ribu kata sebelum bulan maret berakhir 😄😄


Karena sedang dalam posisi mengejar sebuah target yang tergolong berat, author berharap kualitas cerita dalam novel ini tidak menurun. Meski demikian, untuk mewanti-wanti hal tersebut, author sangat terbuka dengan segala kritik dan saran. Jika dirasa ada penurunan kualitas cerita, mohon kesediaan kakak reader untuk memberi peringatan dan masukan di kolom komentar. Jika memang cerita dalam novel ini tetap baik dan stabil, mohon beri dukungan berupa like di setiap chapter yg diupdate.


Jangan lupa untuk share Novel ini ke teman-teman agar semakin banyak yang membaca novel-novel bergenre Fantasi 😅😅😅