After Death

After Death
Bab 122: Sepasang Burung



Pagi di Pulau Amsleng Sufir Matdrakab sangat menakjubkan. Sinar matahari terbit yang terlihat dari balik gunung selalu membuat Pram terkagum-kagum. Ia yang selalu meminta Kharon menemaninya menyambut pagi selalu tersenyum lebar menyapa mentari.


“Ron, menurutmu apa yang membuat matahari pagi selalu mengagumkan?” kata Pram sambil meletakkan kepalanya di pundak Kharon.


Dua anak muda yang sedang kasmaran itu duduk di atas batang pohon layaknya sepasang burung. Seperti beberapa ekor burung yang juga bertengger di samping mereka. Turut menyimak pembicaraan mereka.


“Ron? Apa kau mendengarku?” kata Pram sambil menoleh ke arah Kharon yang memandang matahari terbit.


“Semua bergantung suasana hati.” kata Kharon tanpa melihat Pram.


“Mengapa jawabanmu begitu. Seharusnya kau bilang, kilauan sinar keemasannya Pram, rasa hangat yang turut terbit, atau apalah.” Pram berkata dengan cepat.


Kharon tersenyum dan memandang Pram. Ia mengelus rambut gadis yang sangat ia cintai itu lalu memeluknya erat.


“Kau ini. Tidak pernah mengatakan sesuatu yang ingin aku dengar.” suara Pram terdengar marah, tapi sebetulnya ia sangat senang hingga berusaha keras menyembunyikan senyumnya.


“Kau tahu Pram, aku sering takut kehilangan dirimu.” Kharon masih mengelus-elus rambut Pram. Suaranya sangat lirih hampir tak terdengar karena kalah lantang dengan kicauan burung.


Kali ini Pram hanya diam. Ia ingin membuat khodamnya itu dongkol.


“Pram? Apa kau tidur?”


Pram masih diam sambil meringis.


“Pram?” Kharon melepaskan pelukannya dan melihat wajah Pram. Ia merasa jantungnya hampir lepas karena perempuan itu mengejutkannya dengan menirukan bunyi tebakan secara tiba-tiba. Lantas terkekeh-kekeh sambil memegangi perut.


“Kau ini. Suka sekali membuatku terkejut.” Kharon kembali memeluk Pram. Kali ini dengan sangat kuat untuk memberi sedikit pelajaran pada gadis usil itu.


“Apa kau ingin membunuhku?” Pram mengucapkan kata-kata yang sering dikatakan Kharon. Membuat siluman harimau putih itu tertawa.


“Pram, bagaimana kalau ada lelaki lain yang sangaaaat baik yang mencintaimu? Apa kau akan tega menolaknya?” kata Kharon lirih dengan nada yang terdengar sedih sambil memandang matahari yang sudah lebih tinggi.


“Mengapa kau bicara begitu? Apa masalahnya jika ada lelaki lain yang mencintaiku. Itu hal biasa. Aku kan cantik dan baik hati.” Pram mengedip-ngedipkan matanya dengan genit.


“Pram, aku serius.” Kharon mengusap pipi Pram tanpa tersenyum, menunjukkan keseriusannya pada apa yang ia tanyakan.


“Emm, mengapa kau tiba-tiba menanyakan hal aneh begitu?” Pram mulai serius.


“Jawab saja, Pram.” Kharon menahan dongkol.


“Siapa yang akan mencintai seorang arwah sepertiku? Aku ini kan hantu, Ron.” Pram sengaja terus menggoda khodamnya itu.


“Tapi kau hantu yang cantik dan baik.” Kharon tersenyum. Ia tahu bahwa Pram tidak ingin terlibat dalam pembicaraan yang terlalu kaku dan serius pagi itu. Ia tahu bahwa Pram sengaja menggodanya agar semakin dongkol.


“Itu memang benar.” Pram menggangguk dan memasang wajah sombong.


“Lalu?”


“Lalu apa?” kata Pram santai tanpa memperhatikan wajah Kharon yang sangat serius menunggu jawaban darinya.


“Iya, apa?” Kharon mulai tak mampu menahan kekesalan karena Pram hanya berbicara berputar-putar dan tidak segera menjawab pertanyaannya.


“Ya apa, Ron? Kau ini sangat aneh. Memangnya apa pengaruhnya padaku? Meski aku dicintai seorang pangeran dari kerajaan besar yang sangat baik sekalipun, aku tidak peduli. Aku lebih memilih kau, siluman harimau putih yang galak, kasar, dan tidak sopan, hahaha.”


Kharon terkejut bukan karena ejekan Pram, melainkan karena gadis itu menebak dengan sangat tepat latar belakang lelaki yang ia maksud. Meski Pram tak benar-benar tahu siapa orang yang dimaksud dari ucapan itu.


“Kalau kau?” tanya Pram, kali ini dengan wajah serius.


“Aku kenapa?” Kharon ingin balik menggoda gadis itu.


“Kalau kau bagaimana? Seandainya ada perempuan lain yang lebih cantik dan baik, yang sangat mencintaimu, apa yang akan kau lakukan? Apa kau juga akan mencintainya dan meninggalkanku?” Sebentar saja wajah Pram sudah tampak sedikit menakutkan karena terlalu serius. Nada bicaranya juga semakin tinggi.


“Cintaku sudah habis kuberikan padamu. Sudah tidak ada sisa cinta untuk perempuan lain.” jawab Kharon sambil menatap wajah Pram.


“Benar begitu?” Pram semakin serius.


“Tentu saja. Aku kan tidak bisa berkata bohong.” Kharon membuang pandangannya kembali ke sisi gunung yang tinggi gagah berwarna hijau di hadapannya.


“Baguslah kalau begitu.” Pram tersenyum-senyum sendiri, kegirangan mendengar jawaban Kharon yang menurutnya sangat manis itu.


“Tapi....”


“Tapi apa?” Pram mengernyitkan dahi.


“Aku ragu, apa aku bisa membuat lelaki baik hati menjadi patah hati.” Kharon serius dengan ucapannya. Ia benar-benar tidak ingin membuat Philemon patah hati, yang secara otomatis juga akan membuat Raja Ramadhana bersedih.


“Maksudmu?” suara Pram semakin tinggi, membuat beberapa ekor burung memilih untuk terbang dan bertengger di pohon lain.


“Lihatlah, suaramu itu membuat burung-burung menjadi terancam.” Kharon berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Ayo katakan, maksud ucapanmu itu tadi apa?” kali ini tidak ada seekor pun burung yang bertengger di pohon itu.


“Ya, aku juga tidak tahu, Pram. Aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri.” kata Kharon lirih.


“Apa itu artinya kau akan meninggalkanku?” Pram kini mencengkeram lengan Kharon. Membuat lelaki itu nyengir karena kuku tajam Pram yang terbenam di kulitnya.


“Itu tidak mungkin. Aku kan khodammu. Aku akan selalu mengikutimu kemana pun kau pergi.”


“Bukan, bukan begitu. Aku tidak ingin kau ada di sampingku hanya sebagai khodamku saja. Aku ingin kita menikah. Kau akan menikahiku atau tidak?” kata Pram dengan nada agak tinggi. Ia sangat sewot mendengar jawaban Kharon. Lelaki itu tidak pernah menjawab pertanyaannya dengan baik, benak Pram.


Kharon tersenyum dan memeluk erat Prameswari yang mulai keluar tanduknya.


“Berhenti memelukku dan jawablah dulu apa kau akan menikah denganku atau tidak?” Pram melepas dengan kasar pelukan Kharon. Ia tampak menitikan air mata.


Kharon diam, tidak segera menjawab pertanyaan Pram. Itu membuat Pram semakin deras menitikan air mata. Gadis itu sangat takut jika harus kehilangan Kharon, atau melihat khodamnya itu menikah dengan perempuan lain.


“Aku sangat ingin menikah denganmu, Pram. SANGAT INGIN!!” jawab Kharon dengan nada tinggi pula. Tapi ia tersenyum, tidak sedang marah.


“Benarkah?” Pram menghapus air matanya.


“Benar, sungguh. Apa kau senang?” Kharon memasang wajah seserius mungkin untuk meyakinkan Pram.


“Tentu saja.” Gadis itu mulai tersenyum.


“Kalau begitu, sini, biarkan aku memelukmu sampai penyet.”


Pram tertawa terbahak-bahak. Kharon yang ia sayang itu membuat ia tidak bisa bergerak dan sangat sesak karena pelukan yang terlalu erat. Tidak cukup sampai di situ, Kharon juga membuatnya tidak berhenti tertawa karena ia terus menggelitikinya.


“Stoooop!”


“Kenapa? Apa kau menyerah?” Kharon semakin banyak menyerang Pram dengan gelitikkannya.


“Berhenti...! Aku punya pertanyaan serius ini.”


“Apa?” seketika itu pula Kharon berhenti menggelitiki Pram. Ia bahkan melepas pelukannya.


“Dimana kita akan melangsungkan pernikahan, di Bumi, Anastasia, atau Shaman? Lalu, apa yang akan kita hidangkan pada para tamu? Kemenyan, bunga-bunga, darah ayam, atau apa? O, iya siapa yang saja yang akan kita undang? Jin, arwah, siluman, hantu. Duh, berapa banyak biaya yang harus kita habiskan untuk pernikahan kita? Apa kita perlu mengundang Bemius?” Pram mulai ngoceh tanpa jeda. Ia semakin menjadi-jadi karena melihat Kharon menepuk jidatnya sendiri, lantas terkekeh-kekeh mendengar ucapannya.


Kharon berkata jujur saat mengatakan ingin menikahi Pram. Tapi ia juga tidak bohong ketika berkata bahwa ia ragu bisa menyakiti perasaan lelaki lain yang mencintai Pram. Kharon sungguh tidak ingin membuat Philemon patah hati dan membiarkan Raja Ramadhana bersedih. Kharon pasrah, menyerahkan semuanya pada waktu yang akan menjawab. Apakah ia atau Philemon yang akan menjadi suami gadis purnama ketujuh itu.