
Ketika waktu istirahat bagi para jin dan siluman hitam telah usai, banyak di antara mereka yang tak dapat bangun. Banyak jin dan siluman yang mati karena telah menghirup udara yang bercampur racun pencabut nyawa. Terutama para jin hitam yang tinggal jauh dari sungai yang lingkungannya telah tercemar oleh racun. Satu bibit racun pencabut nyawa memang mampu menyebar hingga jauh dari lokasi penanaman bibit sebab mampu merambat melalui udara.
Sementara mereka yang tinggal di dekat sungai tak mengirup racun sebab telah larut dalam air. Namun, kematian juga menimpa mereka ketika air tersebut diminum, bahkan hanya dipakai mandi atau mencuci muka dan tangan saja, jin dan siluman hitam dapat terbunuh karena racun masuk ke dalam pori pori kulit.
Wilayah yang masih steril dari racun hanya kerajaan. Maka mereka yang bertugas di dalam kerajaan kebingungan menerima banyak laporan dari warga yang menunjukkan telah terserang suatu wabah mematikan dengan ciri badan demam tinggi hingga menggigil, lantas dada sesak sampai akhirnya tak bisa bernapas.
Dari kesemua korban, dua di antaranya adalah panglima kerajaan. Praktis hanya ada dua panglima tersisa di Shaman. Maka, seorang panglima kini tengah mondar mandir memikirkan solusi atas masalah yang terjadi, sementara seorang panglima lainnya bergerak cepat pergi ke kerajaan Anathemus untuk melaporkan kejadian keluar biasa itu kepada Bemius.
"Bagaimana bisa 1.349 rakyatku meninggal dalam waktu semalam dan 251 lainnya dilaporkan menghilang? Apa kau sudah menjaga mereka dengan baik Panglima V ?" ucap Bemius dengan nada tinggi karena terlalu terkejut.
"Sudah paduka. Sebelum waktu istirahat tiba, hamba telah memastikan bahwa semua baik baik saja. Tapi ketika waktu istirahat berakhir banyak warga yang tidak bisa bangun karena telah meninggal. Sementara itu, warga yang masih sehat juga banyak yang menunjukkan gejala terserang penyakit. Mula mula badan mereka panas dengan suhu mencapai 40 derajat celcius dan tubuh mereka menggigil. Lalu sesak napas dan akhirnya meninggal. Entah apa wabah yang telah menyerang warga yang tinggal di Shaman paduka. Sangat mematikan." kata Panglima V dengan tubuh bergetar karena takut.
"Pergilah ke pusat laboratorium. Minta mereka meneliti setiap sudut tempat. Aku akan ke sana nanti." kata Bemius memberi perintah.
Panglima V bergegas melaksanakan perintah rajanya. Meninggalkan Bemius yang masih duduk tenang di atas kursi kerjanya. Bemius lantas bangun dan berjalan menghampiri lukisan Raja Ramadhana.
"Sepertinya kau telah datang ayah." kata Bemius sambil tersenyum.
***
Dari dalam gudang kerajaan Pram dan rombongan sedang berdiskusi untuk menentukan langkah berikutnya yang akan dilaksanakan pada waktu istirahat nanti.
"Bemius bukan orang yang bodoh. Dia pasti tahu bahwa apa yang menimpa Shaman tidak terjadi begitu saja. Dan satu satunya pihak yang ingin kehancuran bagi jin dan siluman hitam adalah kita." kata Raja Ramadhana setelah menghabiskan sepotong macaron dari Dewi Thalassa.
"Ya, tentu kakak tidak akan membiarkan masalah yang terjadi begitu saja. Petugas di laboratoriumnya pasti akan bergerak cepat, juga para panglima." tambah Philemon.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Paman?" tanya Pram.
"Tidak apa. Aku dan Philemon akan menyerang istana, kau dan Kharon pergi ke penjara. Kalian bertiga akan aku beri mantra untuk bisa masuk dan keluar ke Pulau Amsleng Sufir Matdrakab. Selagi aku dan Philemon membuat orang dalam istana repot, kau dan Kharon membawa para penduduk Shaman untuk berteleportasi ke sana. Bawalah sebanyak yang kau bisa. Dan jika semua penduduk Shaman sudah selamat, lalu sewaktu waktu terjadi keadaan darurat, mantra itu bisa diucapkan." kata Raja Ramadhana menahan tangis. Ia masih belum bisa percaya bahwa kerajaannya yang aman damai menjadi demikian menyedihkan. Yang membuat sang raja semakin tak habis pikir adalah kerusakan Shaman justru terjadi karena ulah putra pertamanya, dan malah Pram yang menolongnya, yang sebenarnya merupakan orang asing yang tidak ia kenal sebelumnya.
"Terima kasih Pram. Nanti aku akan menanamkan racun pencabut nyawa di dalam istana secara sembunyi sembunyi. Kalian bisa menyasar jin hitam di sekitar penjara juga secara sembunyi sembunyi. Intinya jika memasng masih bisa diam diam, kita lakukan penyerangan ini tanpa dilihat siapa pun, walau Bemius tahu kita pelakunya, usahakan untuk tidak menampakkan diri." ucap Raja Ramadhana mengingatkan.
Semua orang telah siap untuk kembali menyerang. Rasa lelah mereka seolah hilang karena saking senangnya melihat musuh banyak yang mati. Namun mereka masih menahan niat mereka menunggu semua orang kembali terlelap. Kini mereka memantau keadaan Shaman melalui penerawangan yang dilakukan Pram dengan mata roh dewi pencabut nyawa.
"Benar kata tuan Philemon, mereka bergerak sangat cepat. Para peneliti yang menggunakan alat pelindung diri lengkap itu telah mengambil beberapa sampel untuk diuji di laboratorium." kata Kharon melihat tayangan penerawangan.
"Ya, tapi mereka tidak akan bisa mendeteksi itu semua adalah racun. Sebab bibit racun pencabut nyawa bisa menjaga identitas asli mereka sendiri dengan sangat baik." Raja Ramadhana menimpali.
"Siapa dua orang itu?" sergap Pram tiba tiba.
"Itu pasti panglima kerajaan Bemius. Aku dengar Bemius membagi tugas kepada para panglimanya. Lima di Shaman lima di Anathemus. Itu artinya di Shaman masih tersisa dua panglima." jawab Philemon.
"Pram, jika nanti Bemius datang untuk melihat langsung Shaman, akan aku tunjukkan padamu wajah orang paling kejam itu." ucap Raja Ramadhana menahan amarah mengingat kejahatan putranya.
Dari penerawangan yang dilakukan Pram, tampak bahwa keadaan di Shaman semakin mencekam sebab jin dan siluman hitam yang meninggal karena racun pencabut nyawa itu semakin banyak. Para warga yang masih sehat dan sengaja datang untuk melihat warga yang mati mendadak, dengan cepat menunjukkan gejala tertular wabah. Meski tidak terjadi sentuhan, tubuh mereka langsung demam tinggi hanya beberapa saat setelah melihat para korban mati bibit racun.
Kini tercatat hanya tersisa sekitar 421 jin dan 207 siluman hitam yang masih bertahan hidup. Mereka pun diungsikan ke dalam istana sebab menurut mereka hanya istana saja tempat yang paling aman dan tidak tercemar.
Pram dan ketiga lelaki Shaman tersenyum senang mendapati pergerakan warga yang menuju istana. Itu artinya mereka bisa lebih mudah untuk menyerang karena tidak perlu berpindah dari satu rumah ke rumah lain, para jin dan siluman hitam itu telah mengumpulkan diri menuju malapetaka yang telah disiapkan Raja Ramadhana.
"Tapi kita tetap harus waspada karena jumlah mereka tetap saja masih cukup banyak. Itu belum termasuk para jin dan siluman hitam yang tinggal di Anathemus. Aku yakin jumlahnya tentu jauh lebih banyak." kata Raja Ramadhana.
Saat Pram hendak menutup penerawangannya, Bemius datang beserta rombongan dan dikawal oleh ketiga orang bertubuh gagah dan kekar yang sepertinya merupakan panglima istana.
"Lihatlah itu, bajunya yang kuning dengan celana hitam itu adalah putraku, sang penghancur. Bemius. Hari ini kita hindari dia dulu. Selalu waspada sebab dia mungkin akan tinggal di Shaman sampai dengan kondisi rakyatnya membaik." ucap sang raja sambil terus menatap Bemius tanpa berkedip.
Pram yang baru pertama kali melihat Bemius juga terus menatapnya tanpa berkedip. Sebagai seorang yang kejam dan tidak punya hati nurani, Bemius memiliki wajah yang terlalu tampan, kalem, santun, dan sama sekali tidak mengandung unsur ngeri. Sungguh berbeda dari apa yang selama ini ada dalam bayangan Pram.