After Death

After Death
Bab 157: Niat Sang Raja



Hari ini Kharon memang sengaja mengajak Pram segera pulang dari tempat tinggal Raja Ramadhana sebelum melakukan penerawangan pada Anathemus. Kharon tidak ingin Pram kehabisan energi dan meminta sang raja untuk mengerti. Selain itu, Kharon juga menjelaskan kepada semua orang bahwa ia sangat yakin kalau mata dewi pencabut nyawa tidak akan berguna untuk melihat Anathemus sebab Bemius sudah barang tentu memasang selubung pelindung agar tidak ada satu pun orang yang mampu melihat aktivitas negerinya.


 


Berbeda dengan Shaman, sebaliknya, Bemius sengaja membuka selubung pelindung yang telah dipasang Raja Ramadhana sebelumnya, agar sang raja dan Philemon bisa melihat keadaan Shaman saat ini. Bemius pasti telah memperhitungkan bahwa suatu saat akan ada orang yang melihat Shaman dari kejauhan.


Dan semua yang dikatakan Kharon memang benar. Bemius sengaja membuka selubung perlindungan dari Shaman agar Raja Ramadhana yang sudah barang tentu merindukan para rakyatnya serta sangat ingin tahu keadaan mereka pasti akan berupaya mencari tahu kondisi Shaman. Dan jika sang raja sedang bersembunyi atau dalam pelarian, pastilah ia akan menggunakan jurus penerawangan untuk mendapatkan informasi seputar Shaman.


Bemius tahu benar bahwa ayahnya sudah tidak mampu melakukan penerawangan semenjak ia melukai tangan ayahnya. Juga Philemon yang sudah pasti tak menguasai ilmu tinggi itu sebab ilmu penerawangan termasuk ilmu hitam. Sementara adiknya itu adalah jin dari golongan lurus. Bemius juga tahu bahwa Kharon tidak menggunakan ilmu itu sebab tuannya terdahulu tidak suka terhadap ilmu hitam. Satu satunya orang yang mungkin melakukan penerawangan adalah anak purnama ketujuh karena memiliki kesempurnaan cakra ajna. Dan Bemius juga menebak kalau mungkin saja ilmu itu diajarkan dalam buku Anak Purnama Ketujuh. Faktanya semua perkiraan Bemius memang sangat tepat tanpa meleset sedikit pun.


Oleh sebab itu, Bemius memang sengaja memerintahkan pasukannya untuk berhenti mencari keberadaan Pram yang bersembunyi bersama ayahnya. Sebaliknya, Bemius mengubah komandonya, meminta agar semua pengikutnya menyiapkan diri dan berlatih terus menerus sebab ia sangat yakin bahwa orang orang yang ia cari itu pasti akan datang sendiri menghampiri Shaman.


Dan lagi lagi Bemius benar. Kini ayahnya sang raja Shaman, Raja Ramadhana, telah kelimpungan tak tenang, mondar mandir ke sana ke mari semenjak menyaksikan sendiri kondisi Shaman dengan mata kepalanya. Raja Ramadhana bersikukuh ingin pergi ke Shaman dan berjuang menyelamatkan rakyatnya yang masih tersisa.


Namun, ia tahu bahwa semua niatnya itu pasti tidak akan disetujui oleh putranya, Philemon. Maka, malam ini di saat semua orang sedang terlelap, sang raja akan mengendap keluar dan berteleportasi ke Shaman seorang diri.


Sang Raja telah menyiapkan semuanya, tentang strateginya, juga menyiapkan pusaka apa saja yng sekiranya bisa memperkokoh kekuatannya. Meski Bemius adalah putranya, dan kondisi sang raja kini juga telah bugar, namun tak dapat dipungkiri bahwa usia memengaruhi kekuatannya. Ia sudah tak segagah dan sekuat dulu.


Dan setelah lama tidak bertemu dengan Bemius, Raja Ramadhana tidak tahu pasti seberapa saktikah putranya itu saat ini. Namun, jika melihat kedahsyatan Bemius menakhlukan Shaman, mengalahkan seluruh panglimanya, juga para petinggi dan jin jin sakti Shaman, tentu anak pertamanya itu kini memiliki kekuatan yang sangat besar.


Setelah memastikan Philemon tertidur nyenyak, Raja Ramadhana mengendap seperti seorang maling. Ia berjalan melayang menuju pintu. Sang raja menutup pintu dengan perlahan agar tidak terdengar suara deritan. Ia lantas memejamkan mata dan mulai merapalkan doa.


"Apa paman akan meninggalkanku?" tanya Pram mengagetkan Raja Ramadhana hingga ia tak menuntaskan mantranya.


"Pram, Kharon? Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Raja Ramadhana pada kedua orang yang sedari tadi duduk di kursi teras rumahnya. Karena hari masih gelap dan sang raja terlalu fokus memerhatikan Philemon, ia tak menyadari kalau Pram dan Kharon telah duduk di depan rumahnya.


"Paman sendiri mau kemana malam malam begini?" tanya Pram sambil berdiri dan menghampiri Raja Ramadhana.


"Em... paman... paman mau pergi sebentar. Ada hal yang harus paman selesaikan." jawab Raja Ramadhana tergagap.


 


"Mengapa tidak mengajak kami dan mau pergi diam diam? Apa Philemon tahu kalau paman mau pergi?" sergap Pram membuat sang raja semakin terpojok.


Akhirnya Raja Ramadhana menyerah. Ia tidak terbiasa berbohong dan merasa sangat bersalah jika harus membohongi orang yang ia sayangi.


"Baiklah, paman menyerah. Paman mau pergi ke Shaman." kata Raja Ramadhana sambil menghembuskan nafas panjang dan menunduk lesu.


"Mengapa paduka pergi diam diam? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada paduka?" tanya Kharon cemas.


Kharon sudah menduga bahwa Raja Ramadhana tidak akan bisa lebih lama menahan keinginannya untuk pergi ke Shaman. Maka ia dan Philemon memang sengaja seolah tak tahu rencana sang raja.


"Aku hanya khawatir kau tak mengizinkan ayah untuk pergi." kata sang raja lirih.


"Tentu, tentu aku akan melakukannya. Membiarkan ayah pergi sekarang hanya akan membuat nyawa ayah terancam." kata Philemon tanpa kompromi.


"Lalu sampai kapan ayah harus menunggu?"


"Setidaknya bersabarlah dulu hingga Pram menyempurnakan ilmunya. Kita akan menyerang saat purnama ketujuh. Dan itu tidak lama lagi ayah. Tunggulah sebentar lagi." kata Philemon memelas.


"Iya paduka. Jika kita memaksa pergi sekarang semua akan sia sia. Kita tidak cukup kuat untuk melawan Bemius dan para pengikutnya." kata Kharon menambahkan.


"Siapa yang bilang kita akan pergi? Aku yang akan pergi. Kalian tetap di sini." kata Raja Ramadhana dengan nada agak tinggi.


"Ayah, mengapa ayah menjadi kolot?" suara Philemon ikut meninggi.


"Kolot? Ya, mungkin ayah memang kolot. Apa kau tidak mengerti juga? Sekarang masih purnama ke lima, dan kau memintaku untuk menunggu hingga purnama ketujuh untuk pergi? Apa kau tak berpikir kalau mungkin dalam waktu dekat sudah tidak ada lagi rakyat yang bisa diselamatkan? Apa kau kira dengan siksaan yang begitu kejam dari raja iblis itu, mereka bisa bertahan lama? Tidak, tidak. Mungkin nanti di purnama ketuju kekuatan kita memang menjadi sangat kuat hingga tak terkalahkan karena ada Pram di kubu kita. Tapi untuk siapa kemenangan itu akan kita berikan jika seluruh rakyat Shaman telah mati? Cobalah kau pikirkan itu baik baik. Ayah lebih rela mati sekarang daripada mendapatkan kemenangan semu." kata Raja Ramadhana panjang lebar tanpa jeda dan dengan nada tinggi. Ia sangat emosional mengingat perlakuan Bemius kepada rakyat Shaman.


"Paman." kata Pram lirih dan menahan air mata.


Pram menghampiri Raja Ramadhana dan memeluknya. Ia mengerti apa yang sedang dirasakan oleh sang raja.


"Paman jangan khawatir. Aku tidak akan menahan paman untuk pergi, tapi dengan syarat, aku ikut bersama paman." kata Pram sambil mengelap air mata. Membuat Raja Ramadhana tersenyum lebar.


"Iya, paduka. Hamba juga akan turut serta melawan Bemius bersama paduka raja." kata Kharon mantap.


"Terima kasih Pram, Kharon. Bantuan dari kalian pasti akan sangat berarti untuk rakyat Shaman." kata sang raja tanpa bisa menahan air matanya.


Sementara itu, Philemon masih diam dan memandangi ayahnya.


"Phil, kau akan ikut juga kan?" tanya Pram.


"aku tak mau tinggal di sini sendiri dan mati bersama sepi." jawab Philemon, membuat sang raja dan yang lainnya tersenyum.


"Aku akan mendukung ayah." lanjut Philemon sambil memeluk ayahnya.


"Bagus. Berarti yang harus kita lakukan sekarang adalah menyusun rencana penyerangan." kata Pram penuh semangat.


 


Keempat orang itu lantas masuk ke dalam rumah untuk merundingkan strategi perang melawan Bemius. Mereka bertekad untuk maju meski masih memiliki banyak kekurangan. Akan melawan Bemius dan pengikutnya dengan segenap kekuatan yang dimiliki.