After Death

After Death
Bab 68: Ketulusan Kasih Sang Khodam



Dalam silir angin yang berhembus di antara awan-awan yang dilalui, Pram terdiam. Ia mengingat saat-saat bersama Dante. Lelaki petugas kematian yang membuatnya masuk ke rumah sakit itu memang sangat mengesankan. Pram merasa belum pernah menemukan pria seperti itu sebelumnya di Bumi.


"Lalu gelandangan itu, aku pernah cerita padamu bahwa mata-mata Bemius yang pertama kali tahu bahwa kau adalah anak yang lahir di purnama ketujuh penanggalan Shaman, juga berwujud gelandangan. Bisa jadi mereka sama. Dan mengapa gelandangan itu memintamu untuk tetap bersama Dante, padahal sebagai seorang yang sakti tentu dia tahu kalau Dante tak punya kekuatan istimewa untuk menjagamu.


Kemudian soal susuk yang ada di tubuh Dante dan bagaimana dia bisa bangun dengan cepat dari tidurnya yang telah aku mantrai. Padahal normalnya dia membutuhkan waktu setidaknya satu hari untuk tersadar." lanjut Kharon setelah beberapa saat terdiam.


Pram pun lagi-lagi hanya diam menunggu adakah lagi yang ingin dikatakan Kharon padanya. Ia lega karena semua rahasia yang disembunyikan Kharon darinya hanya soal kecurigaan pada Dante. Bukan karena yang lainnya.


"Dengarkan aku Ron, aku mengerti semua yang kau katakan. Aku juga paham mengapa kau tak suka Dante. Tapi ayolah, meski mungkin kau benar soal semuanya, apakah itu cukup untuk menjelaskan bahwa Dante adalah mata-mata Bemius? Kau tidak lupa kan, bahwa Dante memotong tubuhnya untuk diberikan kepada ikan-ikan ganas di Danau Orakel demi untukku?"


"Inilah sebabnya aku merahasiakannya darimu. Aku tahu kau tak akan mau menerima kenyataan bahwa orang yang kau cintai telah menghianatimu. Sungguh aku hanya tak ingin kau terluka, semua kecurigaanku sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan perasaan pribadi. Bahkan aku tak keberatan jika kau menikah dengan Dante asalkan dia benar-benar orang yang baik."


"Iya-iya." Pram menahan tawa. Entah mengapa ia merasa sangat bahagia saat melihat Kharon tampak seperti orang cemburu.


"Lalu bagaimana soal kekhawatiranmu saat hendak meninggalkan Dewi Thalassa? Apa itu juga karena Dante?" Pram tampak sumringah. Jauh berbeda dengan raut muka yang tadi ditunjukkannya.


"Aku menanyakan tentang kecurigaanku pada Dante ke Dewi Thalassa."


"Lalu?" Pram masih tersenyum-senyum.


"Dewi Thalassa mengatakan bahwa intinya Dante itu orang yang baik. Tapi semua bisa berubah sesuai keadaan. Dan dia mengatakan sejenis teka-teki yang masih belum aku ketahui dengan jelas maksudnya. Dia juga bilang bahwa ada kekuatan besar yang melingkupi Dante sehingga membuat penglihatannya buram."


"Terserah jika kau tak percaya atau menganggapku hanya sedang cemburu. Tapi kau sendiri tahu aku tak bisa berbohong. Kuharap kau bisa lebih berhati-hati dan waspada pada siapapun, terlebih pada Dante. Dan lagi, aku cukup tahu diri, sebagai khodam aku sudah bahagia melihat kau selamat. Itu sudah cukup. Aku tidak pernah mengharapkan lebih."


Cerita Kharon soal penglihatan Dewi Thalassa terhadap Dante dan soal ketulusannya menjaga dan mencintai Pram, membuat gadis yang biasanya tertidur nyenyak di punggung Kharon itu tak bisa terlelap. Ia terus terjaga bersama khodamnya yang terus menempuh jalan memotong jauhnya jarak, dengan rasa bercampuran.


Kharon selalu risau saat mengingat Dante. Ia menjadi serba salah. Ia tak ingin mengambil resiko Pram terluka karena lelaki itu. Tapi di lain sisi, ia juga tak mau membatasi tuan puterinya untuk tetap menjaga hubungan yang lebih dari teman itu. Saking was-wasnya, Kharon bahkan tak sempat memikirkan perasaannya pada Pram yang kian lama kian tertanam.


 \=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Halo-halo kakak reader... Makasih ya untuk votenya selama ini. Sebenarnya kalau boleh jujur dan terkesan agak gimana gitu,,, saya lebih senang kalau novel ini ga usah divote, tetapi votenya dikasihkan ke novel saya yg saya tulis di akun lain, yaitu novel Pendekar Pedang Naga


saya akan sangat senaaaaaang sekali jika vote kakak2 dialihkan ke sana saja. Maaf ya sebelumnya 😁🙏🙏🙏🙏🙏