After Death

After Death
Bab 71: Kharisma Sang Bemius Kecil



Dalam suasana bahagia seluruh penghuni kerajaan atas kelahiran Bemius, sebuah wabah aneh menyerang para penduduk Shaman. Di hari pertama kelahiran anak pertamanya, sang raja menerima laporan penderitaan para penduduk yang melepuh tubuhnya dengan cairan hitam yang terus keluar. Cairan itu berbau busuk, layaknya bangkai orang mati. Beberapa orang bahkan dikabarkan meninggal karena tak tahan dengan rasa panas yang seperti membakar tubuh penderita wabah.


Raja Ramadhana menepis semua firasat buruknya. Ia menyuruh dirinya sendiri untuk yakin bahwa itu adalah wabah biasa dan sama sekali tak ada kaitannya dengan kelahiran Bemius. Dan meminta para dokter dan ilmuwan untuk segera menemukan obatnya.


Seluruh dokter dan ilmuwan bahkan hingga melakukan kunjungan kerja ke para ahli kesehatan di Bumi karena tak kunjung menemukan obat penawar wabah. Berbagai uji laboratorium yang dilakukan juga tak mendatangkan hasil. Semua nihil.


Berbagai balai kesehatan diserbu penduduk yang beramai-ramai untuk berobat. Meski mereka tahu, orang-orang yang datang untuk berobat pada akhirnya harus pulang tanpa nyawa dan hanya menyisakan duka, setidaknya mereka telah berusaha untuk memperpanjang napas.


Namun, anehnya semua wabah itu hilang dengan sendirinya di hari ketujuh pascakelahiran Bemius. Benar-benar bersih bahkan pada penderita yang hampir mati sekalipun.


Dari hari itu, Raja Ramadhana beranggapan bahwa Bemius membawa berkah pada kerajaan. Semua kekhawatiran yang muncul akibat mimpi buruk itu sudah tak ada lagi.


Seiring berjalannya waktu Bemius kecil terlihat sangat menonjol dalam pendidikan di lingkungan sekitar kerajaan. Kecerdasannya membuat para petinggi kerajaan optimis akan masa depan Shaman.


Semua orang bahkan tak bisa berhenti untuk memuji kehebatan Bemius. Belum pernah dijumpai anak sehebat itu di Shaman sebelumnya.


Tiga tahun setelah Bemius lahir, Tri Laksmini mengandung kembali. Menurut ramalan dari chanayang kerajaan, kehamilan tersebut akan membawa berkah dan kedamaian bagi semua penduduk Shaman.


Chanayang tua itu adalah orang yang sama yang juga meramal janin Bemius. Namun, saat itu ia memilih untuk menutupi semuanya karena tak ingin raja dan ratunya kecewa. Ia hanya mengatakan bahwa anak pertama Raja Ramadhana sangat misterius, banyak kejutan yang akan muncul seiring pertumbuhan dan perkembangan Bemius.


Sebetulnya chanayang tua itu mendapat penglihatan sebuah kabut asap hitam pekat di kerajaan ketika ia meletakkan tangannya di atas perut Tri Laksmini. Penglihatannya itu sontak membuat matanya terbelalak. Itu adalah pertanda bahwa si jabang bayi akan sangat menyusahkan, membawa kesengsaraan, dan malapetaka pada seluruh penghuni kerajaan.


"Bayi ini juga akan membela kebenaran, Ratuku." tambah chanayang itu membuat Tri Laksmini tersenyum lebar seraya melihat perut buncitnya di usia kehamilan 13 bulan. Chanayang mengungkapkan ramalannya itu seraya melihat ke arah Bemius.


Ketika itu Bemius kecil sedang duduk tenang di sebelah ibunya. Chanayang tak tahu jika anak kecil yang selalu tersenyum itu menyimpan amarah yang sangat besar mendengar semua ramalannya.


Memang tak seperti anak-anak pada umumnya, Bemius yang baru berusia tiga tahun lebih suka duduk antheng dan cenderung diam. Ia bahkan lebih suka tersenyum daripada tertawa. Ia sangat pandai menyembunyikan perasaannya.


Dan yang lebih mengejutkan lagi, Bemius kecil telah memiliki banyak pengikut dari jin dan siluman jahat. Ia sering pergi diam-diam ke suatu tempat di Shaman yang merupakan tempat perkumpulan para jin hitam. Semua ia lakukan selalu pada tengah malam saat semua penghuni istana terlelap, termasuk orang tuanya. Ia selalu pergi sendiri tanpa ada sedikitpun takut. Dan para penjaga yang masih bangun bisa dengan mudah ia lewati setelah sebuah mantra ia ucapkan. Entah bagaimana Bemius telah menguasai banyak ilmu di usianya yang masih belia. Padahal ia tidak pernah diajari ayahnya karena masih belum cukup umur. Sedangkan di lembaga pendidikan kerajaan, hanya diajarkan tata krama dan sopan santun, serta aturan-aturan kerajaan.


Secara sembunyi-sembunyi Bemius mengambil buku tentang cara menguasai ilmu-ilmu. Bemius hanya membaca sekali dan mempraktikkannya. Dan seketika itu pula ia langsung menguasai ilmu tersebut. Namun, di depan orang tuanya dan para penghuni kerajaan, Bemius bersikap biasa, hanya lebih diam dan tenang. Hal itulah yang justru membuat semua orang senang padanya. Bahkan banyak ibu di negeri Shaman yang mengidamkan anak seperti Bemius, yang cerdas, sopan, tenang, tampan, juga berwibawa sejak belia.