
Kharon telah mengenal Bemius dengan cukup baik ketika ia tinggal di dalam kerajaan. Saat itu kejahatan Bemius tidak tercium oleh siapapun, bahkan ia digadang-gadang sebagai calon raja Shaman berikutnya.
Kharon mengawasi gerak gerik Bemius kecil yang menurutnya tidak biasa. Tubuhnya mengeluarkan energi yang terasa sangat dingin. Kharon bahkan sering merasa kedinginan saat makan bersama di ruang makan.
Kharon memang lebih banyak menghabiskan waktu dengan Philemon. Selain karena Philemon adalah jin yang membawanya ke istana, Philemon juga memancarkan energi yang membuat dirinya hangat, sangat berbeda dengan energi Bemius.
Meskipun begitu, Kharon suka secara diam-diam mengamati Bemius. Dalam keadaan sekilas Bemius memang sungguh menawan. Ia cerdas, tampan, tidak banyak bicara, dan sopan.
Namun, selama beberapa hari tinggal di kerajaan, Kharon selalu menjumpai Bemius pergi diam-diam saat semua penghuni kerajaan telah tidur. Ia memang tidak tahu kemana Bemius pergi karena tidak ingin berlaku tidak patut terhadap anggota keluarga Raja Ramadhana yang telah memberikan tempat singgah untuknya.
Namun, satu yang pasti dan selalu sama adalah aura tubuh Bemius saat kembali ke istana. Baunya lebih tajam dari aroma jin hitam paling sakti yang pernah ia takhlukan bersama tuannya Sadawira. Sangat menyengat. Dan bau itu telah hilang kemudian hari, saat semua orang telah bangun.
Itu sebabnya Kharon selalu was-was saat memikirkan Bemius, terutama ketika merasa putra pertama Raja Ramadhana itu sedang mengincar nyawa Pram.
Ia sangat berhati-hati jika sudah menyangkut Bemius. Sebab jika jin hitam yang aromanya tidak sekuat aroma yang dikeluarkan Bemius saat sepulang pergi, sudah begitu licik dan cenderung tidak berperasaan, apalagi Bemius yang baunya sangat tajam, pikir Kharon.
"Ron, apa yang kau pikirkan?" kata Raja Ramadhana lirih namun mengagetkan siluman harimau putih yang tengah termangu mengingat Bemius kecil.
"Tidak, paduka. Hamba hanya...." Kharon berusaha keras menahan ucapannya karena ia tidak bisa berbohong, tetapi di sisi lain juga tidak ingin menyakiti hati sang raja.
"Semua sedang bersiap untuk berangkat. Tapi kau, aku perhatikan dari tadi melamun saja. Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" kata Raja Ramadhana lagi.
"Hamba hanya...."
"Apa dia Bemius? Yang sedang mengganggu pikiranmu?" kata sang raja dengan senyum ramah.
Kharon hanya diam dan tersenyum. Tapi kepalanya mengangguk dengan sendirinya. Untuk kesekian kali ia mengutuki diadem di kepalanya yang selalu membuatnya berkata dan bertindak jujur. Yang membuat ia terjebak dalam situasi yang tidak mengenakkan atau membahayakan.
"Apa selama ini diadem itu sangat merepotkanmu?"
Kharon tersenyum dan menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Dan lagi-lagi kepalanya mengangguk sendiri tanpa terkendali.
"Hahaha, maafkan aku. Semua memang salahku. Jika saja aku tak memaksa Sadawira menerima hadiah diadem naga perak itu dulu, tentu pusaka itu tidak akan menyusahkanmu."
"Tidak, paduka. Ini bukan salah paduka."
"Kau tahu Ron, aku sangat ingin memberikan hadiah pengasuh kepada Bemius dan Philemon saat mereka masih kecil. Aku ingin pengasuh itu dari bangsa siluman sepertimu. Bisa menjadi pengasuh sekaligus kawan bukan? Heeem, coba saja kita bertemu lebih awal, mungkin Bemius tidak akan sekeji sekarang karena memiliki pengasuh yang bisa diandalkan sepertimu." kata Raja Ramadhana berandai-andai.
Kharon lagi-lagi hanya tersenyum. Ia memang merasa sangat segan kepada Raja Ramadhana. Baginya, ia seperti sedang bersama tuannya Sadawira ketika berbincang dengan sang raja. Menurut Kharon keduanya sama-sama memiliki kharisma yang istimewa. Membuatnya tidak bisa berbicara dengan lantang, bahkan cenderung diam dan lebih banyak mendengarkan.
"Kau tahu Ron, aku dulu sempat mau membunuh Bemius tiga kali. Tepatnya saat ia baru lahir, masih kecil, dan saat telah remaja."
Pengakuan Raja Ramadhana membuat Kharon sedikit melotot ke arah sang raja. Ia sangat terkejut. Lalu lekas-lekas mengalihkan pandangan karena tak enak hati sudah memandang sang raja dengan tatapan demikian.
"Seandainya aku mendengarkan dan menuruti isi hatiku, serta tidak terpengaruh oleh perasaanku, sudah barang tentu kedamaian masih menjadi milik penduduk Shaman."
Kharon menggeser pandangannya kembali ke Raja Ramadhana. Ia melihat ada duka dan sesal yang mendalam di wajah raja yang sangat lembut hatinya itu. Kharon yakin saat itu sang raja pasti sedang meratapi nasib rakyatnya yang menyedihkan.
"Semua memang sudah takdir, paduka." kata Kharon mencoba menghibur.
"Hamba yakin semua akan baik-baik saja paduka. Jika sudah tiba waktunya, Bemius tentu bisa kita kalahkan." tutur Kharon semangat. Namun, segera disambut dengan wajah muram sang raja.
"Ya, maafkan aku karena telah memiliki anak iblis sepertinya. Aku sama sekali tak mengira bahwa anakku akan bertingkah melebihi iblis dan menyusahkan banyak orang."
Kharon diam sejenak. Tiba-tiba ia menyesal telah mengatakan hal demikian. Ia kemudian membiarkan sang raja menyelesaikan lamunannya akan sang anak sulung.
"Paduka." panggil Kharon. Kali ini ia yang membuat sang raja kaget.
"Ya, Ron."
"Apakah jika nanti ada kesempatan, paduka akan mengakhiri nyawa Bemius?" tutur Kharon sangat serius. Membuat sang raja semakin kaget. Baginya jawaban sang raja akan berpengaruh pada tindakan dan sikap yang akan diambil waktu berperang melawan Bemius kelak.
Raja Ramadhana terdiam. Ia teringat pada niatnya untuk membunuh Bemius yang selalu gagal dulu.
"Aku berharap bisa menebus semua dosa-dosaku dengan menghabisi nyawa anak itu. Tapi aku tak tahu Ron, apa aku bisa atau akan gagal seperti yang sudah-sudah. Aku tidak pernah bisa lupa bahwa dia adalah anakku. Anak yang jauh di lubuk hatiku, selalu aku harapkan untuk kembali ke jalan yang benar dan memelukku penuh dengan kasih sayang. Tapi aku tahu semua adalah kemustahilan belaka."
Sang raja kerap merasa bersalah pada Bemius. Ia sering berpikir bahwa sikap Bemius yang sangat kejam adalah karena merasa tak diinginkan kelahirannya. Sang raja tahu bahwa sejak kecil Bemius tidak seperti bayi pada umumnya. Ia sudah mengerti apa yang terjadi dan juga memiliki perasaan yang peka. Ia kerap takut bahwa yang menyebabkan putra pertamanya sangat kejam adalah dirinya, karena perlakuan yang ia berikan sebagai ayah yang membuat trauma.
Kharon melihat lelaki yang telah berusia ratusan tahun itu berkaca-kaca matanya. Sang raja bahkan tampak sedang berusaha menahan air mata itu agar tidak jatuh dan menghilang tersapu angin.
"Mari, paduka. Pram dan tuan Philemon sudah menunggu." Kharon merasa perlu untuk memegang pundak sang raja untuk menguatkan.
"Ya, sebaiknya kita memang harus bergegas pergi. Sebelum anakku tersayang bertandang kemari." kata sang raja sambil tetsenyum. Membuat Kharon turut tersenyum.
Mereka pun berjalan menghampiri Pram dan Philemon untuk segera berteleportasi ke tempat rahasia. Tempat tersembunyi yang tidak ditemukan di peta Bumi, Anastasia, ataupun negeri Shaman.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Halo kakak-kakak readers, mohon izin untuk promosi novel author di sini ya… Skip aja kalau kurang berkenan hehe,
Well selain di akun Banin SN, author juga punya akun lain yaitu Hashirama Senju. Nah berikut novel-novel author yang barangkali kakak-kakak berminat juga untuk membacanya:
1. Pendekar Pedang Naga, novel ini ada di akun Hashirama Senju. Novel genre pendekar/wuxia yang pertama saya tulis.
2. After Death, novel yang sedang kalian baca ini hehe.
3. Kumpulan Cerpen Menang Lomba, tulisan ini ada di akun Hashirama Senju. Bukan jenis novel tetapi kumpulan cerpen. Di sana saya memposting kumpulan cerpen saya yang pernah memenangkan lomba baik skala lokal maupun Nasional, ada juga beberapa cerpen yang pernah dimuat di media. Silakan baca-baca untuk sekadar menambah referensi kakak-kakak sekalian.
4. Menikah karena Taruhan, novel ini ada di akun Banin SN. Ini adalah novel bergenre Adult Romance yang pertama saya buat, meskipun bergenre Adult Romance, saya berencana memberikan konflik-konflik rumit atau informasi-informasi yang bermanfaat yang saya rangkum di dalam sana.
5. Pacar Kecilku, novel ini ada di akun Banin SN. Sementara novel ini Hiatus dulu karena butuh banyak bacaan untuk melanjutkannya. Seperti sebagaimana yang saya tulis di Bulrb, novel ini mengangkat tema tentang Mental illness dan beberapa pengetahuan tentang ilmu psikologi lainnya, jadi saya butuh banyak bacaan lagi untuk melanjutkannya (dan sekarang belum ada waktu hehe)
Well, itu dia tulisan-tulisan saya yang ada di platform Noveltoon/Mangatoon. Mohon maaf sekali karena promosi panjang lebar di sini^^