
Jam menunjukkan pukul 23.45, suasana rumah sedang sangat hening sehingga saat Candy berteriak histeris suaranya menggema dan membangunkan Ghozie yang baru saja terbangun. Ghozie berlari menuju kamar saudari kembarnya itu, tangannya bergetar, ia takut Candy bunuh diri, sebagaimana itu adalah cita-cita Candy dari beberapa tahun terakhir.
“Candy, ada apa… Candy ceritakan padaku…”
Ghozie melihat Candy meringkuk di bibir ranjang. Rambutnya berantakan, kaki dan tangannya basah dingin. Candy terlihat seperti orang depresi dan hilang arah.
“Candy… jawab pertanyaanku, ada apa?”
Candy menangis dalam diam, bibirnya bergetar-getar, ia tak tahu harus memulai dari mana. Gadis yang menghantuinya pun kini sudah tak lagi di kamarnya. Candy membiarkan dirinya dipeluk oleh Ghozie, pelukan yang begitu hangat dan ia rindukan.
“Candy, kamu bermimpi buruk… Itu Cuma mimpi, Candy… Tenanglah…”
Seolah memahami ketakutan Candy, Ghozie berusaha keras menyembuhkan ketakutan Candy yang sepertinya tak teratasi. Ghozie mengelus-elus kepala saudaranya itu, mengecup hangat rambutnya, dan perlahan menidurkan kepala Candy ke bantal. Sementara ia memosisikan Candy berbaring di ranjang, Ghozie rebahan dan memiringkan tubuhnya seolah sedang menidurkan seorang anak kecil.
“Candy, maukah kuceritakan dongeng jenaka? Baiklah, aku toh tak hendak meminta pendapatmu, akan kumulai ya ceritanya. Bersiap-siaplah tertawa…”
Ghozie memulai membacakan dongeng yang jenaka dengan deraian air mata yang menjadi-jadi. Ternyata kalimat yang barusan ia katakana adalah kalimat milik Prameswari yang pernah Pram gunakan untuk menenangkan Ghozie setelah Ghozie dipukuli ayahnya karena kedapatan mencuri uang sewaktu kecil.
Waktu itu usia Ghozie baru 12 tahun, itu artinya Prameswari berusia 9 tahun. Pram kasihan melihat kakaknya dipukuli oleh sang ayah, begitu Ghozie meringkuk di kamar, Pram mendekatinya dan rebahan miring sambil mengelus-elus lengan Ghozie.
“Ghozie, maukah kuceritakan sebuah dongeng jenaka? Baiklah, aku toh tak hendak meminta pendapatmu, akan kumulai ya ceritanya. Bersiap-siaplah tertawa…”
Mengenang masa itu, Ghozie menangis memeluk Candy. Membisiki Candy bahwa ia sangat menyayangi Pram. Ada rasa terpukul di hati Candy. Rasa takutnya memudar, terganti dengan rasa sakit hati yang seperti sebuah luka lama terungkit kembali.
Candy membenci dirinya sendiri. Sebagaimana ia selalu menganggap semua orang membencinya. Sebaliknya, semua orang selalu menyayangi Prameswari. Bahkan, saudara kembarnya yang sudah bersamanya sejak dalam kandungan, kentara sekali bahwa ia lebih menyayangi Prameswari. Begitu menurut Candy.
Pada suatu pagi saat usianya 8 tahun, Candy berlari pulang ke rumah karena ia telah memenangkan kuis di sekolah. Kuis itu berhadiah sebuah syal. Ia bahagia karena syal itu manis dan sepertinya akan sangat disukai oleh Mamanya. Begitu sampai di depan rumah, Candy mendengar percakapan yang tak semestinya ia dengar,
“Papa, lihatlah anakmu ini, manis dan canti sekali… Ini baru mirip denganku yang cantik…” Candy mendengar ibunya sedang memuji kecantikan Prameswari yang sedang terlelap tidur.
“Ya enggak lah, Pa… Candy lebih mirip sama Papa, item… Jelek…!”
Candy yang masih belia, menganggap ucapan ibunya itu sebagai luka yang tak kasat mata. Ia merasa kecewa pada dirinya sendiri, pada ibunya yang menganggap dirinya buruk rupa. Meski ucapan ibu candy hanya sebatas gurauan bersama suaminya, Candy mendengar di saat-saat yang tidak tepat. Membuatnya semakin membenci Prameswari, sekaligus membenci dirinya.
Bagi Candy, Prameswari adalah sesosok mimpi buruk. Sebuah kenangan yang selalu membuatnya merasa seperti manusia terbuang, manusia tersisih. Bahkan saat dirinya kini sedang sangat butuh pelukan, dia harus menerima bahwa Ghozie masih menyimpan kasih sayang pada saudari perempuannya yang telah mati itu.
***
Keesokan paginya, Ghozie dan Candy terbangun dalam keadaan mata mereka bengkak. Ghozie memeluk Candy dan bertanya,
“Candy, semalam Kau kenapa?”
“Ghozie, Pram telah menjadi setan. Dan dia menghantuiku semalaman. Mulai malam iini, aku tak mau tidur sendirian. Kamu harus menemaniku selalu. Jika Kau hendak pergi hingga larut, Kau harus sesekali meneleponku dan aku berjanji tidak akan tidur sebelum Kau menemaniku!”
“Hei hei… sejak kapan saudariku yang jutek menjadi parno begini? Dan apa yang kau bilang? Setan? Sejak kapan pula kau percaya setan?”
“Ghozie, aku tak main-main. Semalam suntuk aku dihantui Pram, dan dia mengerikan sekali. Tolong percayalah!”
“Baiklah… aku percaya, percaya bahwa Kau telah bermimpi buruk. Sudah, lekas mandi, setelah ini kita masih punya banyak wawancara terkait kematian Prameswari. Dan ingat, jaga sikap, jaga ekspresi, dan ingat apa kata guru. Selama kita tenang, semua akan baik-baik saja.”
Ghozie beranjak dari ranjang saudarinya dan segera menghilang dari pandangan. Candy mencoba mencerna keadaan. Ya, mungkin saja itu semua hanya mimpi. Bukankah ia telah hidup selama 20 tahun dan selama itu juga ia tak pernah melihat hantu.
Merasa lega bahwa kejadian menakutkan semalam hanyalah sebuah mimpi, Candy bergegas mandi dengan gembira. Ia bernyanyi dengan riang di kamar mandi, lalu keluar kamar mandi dan hendak men-charge ponselnya yang low bat.
Hatinya mencelos melihat sebuah kabel yang putus. Ya, itu adalah kabel TV yang semalam ia putuskan.
Itu artinya, ia tak bermimpi. Ia sedang diteror dan akan dibunuh oleh setan memgerikan itu.