
Kali ini Kharon tidak mampu lagi menahan kesedihan, membuat Pram yang tak mampu melihat peri ataupun mendengar perkataan Eliztanu ikut menangis.
Kharon menangis karena telah membayangkan apa saja yang dilakukan anak buah Bemius pada sahabatnya itu. Ia berulang kali mengusap air matanya.
"Apa mereka mengambil semua bulu sayapmu?"
Eliztanu tersenyum. Sebetulnya ia tidak ingin Kharon tahu tentang apa yang dialaminya. Namun, sahabatnya itu terus mendesak dan membuatnya tidak bisa menutupi lagi peristiwa mengerikan itu.
"Berhentilah bertanya tentangku dan ambilah pesan balasan dari Dewi Thalassa." Eliztanu menunjukkan sebuah bungkusan kain.
Kharon terisak dan menunduk. Ia tahu benar bahwa saat Eliztanu mencabut tiga bulu sayap untuk diberikan padanya, wajah peri itu sedang menahan sakit. Dan darah segar terus keluar dari bekas tiga bulu yang tercabut itu.
Lantas, kini ia mendapati sayap sahabatnya itu telah hilang. Tentu saja anak buah Bemius memaksa Eliztanu untuk mencabut semua bulu sayapnya, karena bulu-bulu itu tidak bisa dicabut oleh siapapun. Mereka menginginkan bulu itu agar Pram tidak bisa berteleportasi lagi.
Melihat Kharon terisak, Pram mengelus-elus punggung kodamnya itu.
"Apa kau yang menawarkan sayapmu sebagai imbalan untuk menyelamatkan hutan ini?" tanya Kharon sembari mengangkat kepalanya, membuat Pram terkejut untuk yang kesekian kali.
"Ambillah jawaban dari Dewi Thalassa ini." kata Eliztanu mengalihkan pembicaraan.
"Jawablah Eliz!"
Eliztanu menghela napas.
"Aku tak punya pilihan. Hutan ini harus selamat. Mereka menginginkan bulu sayapku."
"Astaga Eliz!" Kharon mencengkeram kepalanya sendiri menahan amarah. Suara Kharon yang meninggi berhasil membuat Pram terkejut lagi sekaligus takut. Ia belum pernah melihat Kharon seemosional itu.
Kharon menoleh ke arah Pram yang ada di sampingnya. Tangan Pram yang semula ada di punggung Kharon telah berpindah melingkari lututnya sendiri.
"Maafkan aku, Pram." kata Kharon menurunkan suaranya sambil memeluk Pram sesaat.
"Kau tentu tahu betapa bengis dan kuatnya Bemius. Kau juga tahu bahwa Bemius ingin menjadi penguasa jagat raya. Ia terus memperluas wilayah kerajaannya. Sampai saat ini belum ada kekuatan yang mampu menghentikan Bemius dan para pengikutnya. Pram adalah harapan agar kejahatan itu lenyap. Apa aku akan membiarkan satu-satunya harapan itu mati? Dan kau tahu sendiri bahwa Pram masih belum siap untuk semuanya." kali ini Eliztanu tak mampu membendung air matanya.
Kharon memeluk Eliztanu yang sedari tadi duduk di telapak tangannya. Ya, sejak sayap Eliztanu hilang, ia sudah tak mampu terbang lagi. Ia hanya mampu menghilang dari satu tempat ke tempat lain.
"Ambilah buntelan kain putih ini. Di dalamnya terdapat bunga wijayakusuma pemberian Dewi Thalassa. Bukalah buntelan ini saat kau telah sampai di hutan tropis yang memiliki bunga bangkai raksasa. Di sana kalian akan aman. Kau juga akan bertemu dengan seorang lelaki tua dari bangsa manusia yang bisa membantu Pram menyempurnakan ketujuh cakranya. Aku telah mengirim pesan padanya tentang kedatangan kalian."
Kharon menggeleng.
"Ambil dan pergilah. Kau bisa menemuiku lagi di lain waktu." Eliztanu menyodorkan kembali buntelan putih kepada Kharon.
"Aku tidak akan kemana-mana sebelum membantumu memperbaiki semua. Aku dan Pram akan tinggal sejenak untuk menanam benih pohon."
"Kharon, pasukan Bemius bisa sewaktu-waktu kembali." Eliztanu sedikit kesal.
"Kumohon, kali ini biarkanlah aku menemanimu. Apa kau ingin aku mewek sepanjang hari?"
Eliztanu tersenyum dan membuka kedua tangannya. Kharon mengambil buntelan putih dan menyodorkan wajahnya ke Eliztanu. Peri hutan itu kini memeluk hidung sahabatnya.
Pram mengusap air matanya dan tersenyum melihat Kharon tersenyum.