After Death

After Death
Bagian 14 : Insting Prameswari



            Saat mengecup pipi Dante, Pram


merasakan aura dingin yang hambar. Ada sesuatu yang lain dalam diri Dante yang


terselubung selimut. Prameswari tak mengerti apa itu, hanya saja ia merasakan


sebuah selimut tebal menutupi tubuhnya, dan selimut itulah yang membuat hati


Dante dingin dan hambar. Pram pun seperti mencari-cari sesuatu di balik Seragam


Kerja Dante.


            “Hei, apa yang kau cari?” Dante protes


begitu kerah-kerah bajunya dibuka oleh Prameswari.


            “Entahlah, seperti ada sesuatu yang


mengganjal. Rasanya seperti sesuatu yang menghalangi. Aku risih, ingin


kulepaskan saja.”


            “Lha iya, apa?” Dante mulai kesal


karena kelakuan Prameswari terlalu vulgar di depan umum.


            “Ah… entahlah. Rasanya mengganggu


sekali. Tapi apa ya. Aku sendiri juga bingung.”


Prameswari


kemudian menyerah dan menggandeng Dante berjalan cepat menuju Taman Kota. Dia


masih merasa risih dengan sesuatu yang mennutupi tubuh Dante. Tapi dia toh tak


tahu juga itu apa, dan bagaimana, dan mengapa dia tak nyaman dengan sesuatu


yang tak diketahuinya itu.


Di


tengah perasaan risihnya itu, Pram melihat ada seorang gelandangan, seorang Pria.


Pria itu tengah mengawasinya sejak tadi. Ia berulang kali melemparkan senyum


ramah kepada Prameswari dan memberi isyarat pada Prameswari untuk mendekatinya.


            Pram berpikir sejenak, ia takut jika


kedatangan gelandangan itu akan menimbulkan kesialan pada dirinya mengingat


jatah kesialannya yang cukup tinggi dan belum ditebus menggunakan saldo pahala.


            “Tenang, Cah Ayu… Kedatanganku bukan untuk membawa kesialan. Aku datang karena


kau memanggilku dalam mimpi. Kau meminta tolong, dan kemarilah, kukira aku bisa


menolongmu.” Gelandangan itu hanya tersenyum saja bibirnya, tapi telinga


Prameswari menangkap percakapan yang berasal dari diri gelandangan itu.


            “Kau tidak sedang salah dengar, Kau


juga tidak sedang melamun, Cah Ayu… Baiklah, sepertinya Kau sedang sibuk kali


ini, jika tak sedang sibuk, silakan menemuiku di ujung taman kota di bawah semak


bambu kuning. Aku biasa tidur di bawah bambu kuning itu.” Lagi, gelandangan


tersebut hanya tersenyum tapi ucapannya didengar oleh Prameswari.


Pram


terheran, apakah itu sejenis keanehan yang biasa terjadi di Cato? Pram pun


menoleh ke arah Dante yang terlihat begitu fokus melihat ke depan.


            “Dante, coba lihat gelandangan itu!”


Prameswari menarik lengan baju Dante dan menunjuk kea rah kirinya, ternyata


kosong.


            Dante mengernyitkan kening dan


bertanya pada Prameswari, apa yang ada di samping kiri? Tak ada apa pun, begitu


ucap Dante, membuat Prameswari semakin kebingungan.


            “Dante, apakah manusia di sini bisa


berbicara tanpa menggunakan mulut, dan mendengar ucapan yang tak disampaikan


oleh bibir?”


            “Tentu saja. Semua orang di sini


bisa berkomunikasi menggunakan gadget, dan saling bisa mengirim dan menerima


pesan tanpa harus mengatakannya menggunakan mulut. Bukankah di Bumi juga ada


gadget?”


            “Ya ampuuun… Bukan begitu maksudku. Aduh,


bagaimana ya, tadi kau tak dengar ya, ada gelandangan yang berbicara kepadaku, tapi


dia kok sudah menghilang ya?”


            “Bicara apa, gelandangan mana, kamu


ini.”


            Insting Prameswari mengajaknya untuk


berhenti membicarakan gelandangan tersebut di hadapan Dante. Pram pun


mencari-cari topik lain guna mengalihkan pembicaraan.


            “Eh, ngomong-ngomong tadi pas aku


cium kamu, kamu kok diam mematung gitu sih? Pria dewasa harusnya responnya gak


begitu.” Pram langsung mengalihkan pembicaraan agar Dante tak lagi bertanya


soal gelandangan misterius tersebut.


            “Oh, eh… Iya, entahlah… Memangnya


respon pria dewasa bagaimana seharusnya?”


            “Ya, paling tidak, senang. Atau,


membalas mencium balik, atau, paling tidak merespon apalah… Tidak seperti


tingkahmu tadi. Diam membisu, dan tak ada respon. Untung aku orang yang tak


tahu malu. Kalau wanita di Bumi kau perlakukan demikian, pasti bakal bunuh diri


mereka. Haha…”


            “Mengapa harus bunuh diri?” Dante


bertanya sangat serius sambil menghentikan langkah kakinya, tak mengerti jika Pram


bicara setengah bercanda.


            “Ya, yang namanya perempuan itu notabene


mereka selalu menuntut untuk disayangi. Kalau mereka menunjukkan kasih sayang


mereka di tempat umum, itu artinya mereka juga menuntut untuk dibalas kasih


sayangnya dengan balasan yang lebih.”


            “Jadi, seharusnya apa yang


kulakukan? Jawab, dan mari kita ulangi lagi. Aku yakin tidak akan membuat


kesalahan jika kamu mengajariku terlebih dahulu.”


            Prameswari menepuk keningnya


sendiri. Sepertinya Dante memang kehilangan saraf jatuh cintanya.


***


            Setelah mengobrol lama di kursi


taman, Dante mengajak Prameswari kembali ke Camp Kelas Pasca Kematian. Pram


menolak dan berkata masih ingin sendirian di taman kota, ia akan pulang sendiri


jika sudah ingin pulang. Dalam hati Prameswari, dia ingin menemui gelandangan


tadi di bawah semak bamboo kuning di ujung taman kota.


sendirian. Kesialanmu belum kau tebus, bisa saja kau tertembak lagi, atau


tertabrak kereta, atau keruntuhan bangunan, atau yang lainnya. Lagipula luka


lamamu kan belum sembuh total.”


            “Memangnya dengan adanya dirimu di


sampingku akan dapat mengurangi jatah kesialanku?”


            “Tidak juga. Setidaknya jika aku


berada di dekatmu dan kau mengalami musibah, Kau tak perlu menunggu pertolongan


terlalu lama.”


            “Baiklah… Kalau begitu tunggu aku di


sini. Aku ingin memetik bunga sebentar untuk kutaruh di kamarku nanti.” Prameswari


berbohong, dan pria selugu Dante tak pernah menyadari bahwa mereka dibohongi.


             Setelah Dante mengangguk dan memberi pesan


kepada Prameswari untuk berhati-hati, Pram setengah berlari menuju ke arah semak


bamboo kuning. Ia mulai dapat mencium aroma gelandangan tadi, baunya khas,


seperti aroma kayu gaharu. Semakin dekat dengan semak bamboo, semakin aroma


gaharu itu menusuk hidung prameswari. Pram merasa sedikit ngeri dengan alasan yang


tak jelas. Langkah kakinya mulai terdengar jelas karena hari sudah semakin


malam, semak bamboo juga sangat sepi dan seolah tak memiliki aroma manusia. Ada


hawa yang tak biasa yang dirasakan oleh Prameswari, hawa yang sepertinya sedang


berseliweran di sekitar rambut dan tubuhnya. Bulu kuduknya berdiri tapi dia


tetap maju karena instingnya memaksanya untuk terus maju.


            “Halo.. Cah Ayu…” Sesosok hitam


muncul dari semak bamboo kuning, ia berwujud seperti genderuwo yang diketahui


Prameswari sebagai hantu iconic di dunianya yang dulu. Matanya merah menyala


dan suaranya memberat, ia bertaring dan memiliki rambut-rambut panjang di


alisnya, sehingga sebagian matanya tertutup rambut.


            Prameswari mundur beberapa langkah


dan mulai berpikir bahwa instingnya salah total. Ia yakin saat ini sedang


menerima jatah kesialan, ia yakin genderuwo itu akan segera menerkamnya dan mencabik-cabik


dagingnya dengan taring dan cakarnya yang tajam. Kemudian, keesokan paginya


Pram akan terbangun di ruang Registrasi Kematian.


            Pram teringat bagaimana rasanya


mati, dia sudah muak untuk mengulanginya lagi. Maka, sekuat tenaga ia berbalik


dan bersiap lari sekuat yang dia bisa.


            “Tunggu dulu…” Genderuwo itu


memanjangkan tangannya dan menarik Prameswari ke dalam semak. Pram dihimpit di


sela lengan dan badannya yang berbulu. Pram mencoba berteriak tapi mulutnya


dibekap tangan yang penuh bulu. Dingin.


            “Aku perlu berbicara denganmu, Cah


Ayu… tenanglah dulu…” Genderuwo itu berbicara dengan suara yang berat dan


napasnya menyerupai dengkuran sapi jantan. Ia mendudukkan Prameswari di bilik semak


bamboo kuning. Dari luar semak bamboo itu hanya sepanjang tiga sampai empat


meter saja, tetapi begitu masuk ke dalamnya, ternyata semak bamboo itu adalah


hutan bamboo yang suram dan berkabut.


            “Aku datang kemari untuk membantumu


bertemu dengan Arimbi, ibumu. Jangan takut dengan wujudku, tenanglah dulu…” Genderuwo


itu mengelus-elus kepala Prameswari dengan lembut, seperti seekor induk kucing


yang memanjakan anaknya. Prameswari memberanikan dirinya untuk perlahan


mendongak dan memandang wajah menyeramkan itu. Sesaat sebelum mata Pram dan


Genderuwo itu bertemu, seseorang berteriak


            “Jangan tatap wajahnya!!!!”


Pram


menoleh…. Dia si gelandangan tadi, dan mendadak Genderuwo itu lenyap dari


pandangan Prameswari. Pria berpakaian gelandangan tersebut menarik tangan


Prameswari dengan kasar sebelum Prameswari masuk ke sebuah pusaran angin.


            Bug…..


Prameswari


dan gelandangan itu terjungkal ke tanah. Pram kembali ke semak bamboo di ujung


taman. Sementara Prameswari masih terengah-engah ketakutan dan kebingungan, gelandangan


itu mengecek siku dan kaki Prameswari, adakah yang terluka, atau adakah sebuah jimat


yang dipasangkan ke tubuh Prameswari.


            “Kau tidak papa, Cah Ayu?”


            “Siapa dia, siapa Anda?” Prameswari berbicara


dengan setengah terbata-bata.


            “Seperti yang Kau tahu, dia


Genderuwo. Hanya bandit kecil. Untung dia bukan mata-mata Bemius. Kurasa dia tak


sengaja membuntutiku ke sini dan merasa beruntung telah menemukanmu. Kau tahu,


ruhmu dihargai sangat tinggi di Negeri Shaman.”


            “Aku? Mengapa?”


            “Panjang ceritanya. Sambil jalan,


nanti kuceritakan. Oh ya, jangan pernah sepelekan insting dan inderamu. Meski


di bumi usiamu 17 tahun, tapi kau 25 tahun di sini, itu artinya tubuhmu sudah


siap mengembangkan kekuatan supranaturalmu. Pesanku, pelajarilah teknik Lucid


Dream untuk berjaga-jaga jika ada yang ingin menculikmu lewat alam mimpi.”


            “Sungguh, aku tak mengerti semua


ucapanmu.”


            “Maaf, tapi memang aku sedang sangat


terburu-buru. Ini bukan alamku, kau juga lihat tadi bandit kecil yang bersamamu


itu, dia sudah ngos-ngosan menahan sesak. Aku harus segera kembali. Bawa ini


bersamamu. Dan ingat, jangan dibuka sebelum aku memerintahkannya!”


            “Mengapa aku harus menurutimu. Aku


tak mengenalmu.”


            “Jangan membantah! Aku belum bisa


percaya sepenuhnya padamu, tapi aku percaya pada instingmu. Sudah, pulanglah. Dan


hati-hati.  Tetaplah bersama Dante. Aku


harus pergi sebelum kehabisan napas di sini.”


            Gelandangan itu berlari masuk ke


semak bamboo kuning dan lenyap dari pandangan.