After Death

After Death
Bab 99: Dilema Philemon



Philemon terbang dengan tergesa-gesa hingga jauh dari kerajaan Shaman. Sepanjang pelariannya ia dibingungkan dengan laporan yang harus ia berikan kepada raja negeri Shaman, ayahnya. Ia tidak terbiasa berbohong, terlebih pada ayah yang sangat ia sayangi dan sangat memercayainya.


 


 


Namun, mengatakan yang sejujurnya soal negeri Shaman yang telah hancur untuk saat ini justru mendekati mustahil. Ia tahu bahwa ayahnya itu pasti akan bersikeras untuk bertolak ke kerajaan dengan segera kalau ia mendengar kabar buruk tentang rakyatnya. Sedangkan kondisi ayahnya kini masih terlalu lemah. Ia khawatir jika pergi ke Shaman akan membuat nyawa ayahnya terancam. Ia tahu benar bahwa kakak satu-satunya yang sebetulnya sangat ia sayangi itu tidak akan berat hati untuk melenyapkan nyawa ayahnya. Ayah yang sangat dibenci oleh sang kakak.


Philemon pun tak pernah tahu pasti apa yang menyebabkan kakaknya begitu membenci sang ayah. Padahal selama yang ia tahu, ayahnya itu sangat menyayangi Bemius. Philemon bahkan sempat iri karena merasa baik ayah maupun ibunya menaruh kasih sayang yang lebih besar kepada Bemius. Entah apa yang menjadikan Bemius berperilaku sebagai seorang yang tak berperasaan.


Maka, setelah berkutat dengan pemikirannya, Philemon memutuskan untuk tidak mengatakan yang sebenarnya terjadi pada Raja Ramadhana hingga waktu yang tepat tiba. Ia yang sedari tadi menghentikan kepak sayapnya dan bertengger di pohon yang telah kering, tak berdaun, tak berserangga, telah membulatkan tekadnya. Batinnya mengatakan bahwa semua demi keselamatan ayahnya. Kemudian ia bersiap untuk berteleportasi ke Kepulauan Tuvalu.


Hari di Kepulauan Tuvalu sudah mulai gelap. Pram, Kharon, dan Raja Ramadhana membuat sebuah gubuk tempat tinggal sementara yang didirikan dengan memanfaatkan batang dan daun kelapa yang telah kering. Kharon membuat perapian kecil untuk mengusir dingin angin pantai yang telah berani menerobos gubuk buatannya. Di atas api unggun itu pula, Kharon membakar beberapa ekor ikan yang dipanah Pram.


Raja Ramadhana dan Pram tengah terlelap. Kharon sengaja meminta sang raja beristirahat agar kondisinya segera pulih dan lantas bisa lekas pergi untuk menengok para rakyatnya di Shaman. Sedangkan Pram, ia terlelap karena kelelahan, baik fisik maupun mental.


Kharon memandangi wajah Pram yang menurutnya kian lama kian ayu. Gadis itu terlihat jauh lebih tegar daripada kenampakannya. Kharon tak tahu seberapa besar lara batin yang diderita Pram lantaran mengetahui ulah busuk ayahnya. Juga soal roh ibunya yang hingga kini masih terperangkap di kerajaan Anathemus, selama sekian tahun lamanya menjadi budak Bemius yang keji. Ia yakin saat mengetahui fakta seputar keluarganya di masa lalu, tentu ingatan Pram juga tertuju pada keadaan keluarganya saat ini, yang juga tidak kalah menyedihkan.


Kharon mengusap rambut Pram dengan lembut. Ia tersenyum mengingat tingkah polah tuan puterinya itu, sikap dan cara bicara Pram pada Raja Ramadhana, juga semua permintaan anehnya yang membuat sang raja tertawa terpingkal-pingkal. Dahulu saat Kharon sempat tinggal di kerajaan Shaman beberapa hari, berkumpul bersama anggota keluarga Raja Ramadhana, ia sangat yakin bahwa sang raja tidak pernah terlihat begitu bahagia hingga tidak bisa menahan rasa untuk tertawa.


Gadis gila itu tanpa segan mengajak sang raja berlomba menangkap ikan tanpa sihir atau jurus atau ilmu apapun, murni secara alami. Dan tentu saja ia menjadi pemenang karena saat sang raja berlari ke sana ke mari hingga basah kuyup untuk menangkap seekor ikan, ia dengan cepat mendapatkan berekor-ekor ikan dengan panahnya. Dan Pram merasa sangat bangga mampu mengalahkan raja yang gagah perkasa.


Kharon tidak bisa menahan senyumnya saat mengingat wajah Raja Ramadhana yang sangat sumringah dan semangat menangkap ikan. Terlebih tawa kemenangan ketika mampu menangkap seekor ikan. Pram memang mampu membuat seorang raja sekalipun bertingkah sebagai seorang biasa.


“Tuan Philemon.” kata Kharon terkejut dan tersadar dari lamunannya ketika tiba-tiba kepala Philemon menyembul masuk ke dalam gubuk. Lelaki itu terlihat meletakkan telunjuknya di depan bibir.


“Apa semua baik-baik saja?” kata Philemon setengah berbisik seraya duduk di samping Kharon dan merapatkan kedua telapak tangannya ke perapian.


“Ya, tuan. Semua baik, sangat baik. Pram membuat paduka raja bahagia sepanjang hari ini. Tuan sendiri bagaimana?” Kharon menyerahkan seekor ikan bakar yang telah siap untuk disantap kepada Philemon.


Philemon menerima pemberian dari Kharon. Lantas membiarkan Kharon menunggu jawaban atas pertanyaannya. Philemon memakan ikan bakar itu dengan perlahan sambil memikirkan apa yang harus ia katakan untuk menjawab Kharon. Sedangkan siluman harimau putih yang menangkap gugup di wajah Philemon itu hanya diam dan bersabar menunggu jawaban.


“Bisakah kita berbicara di bawah langit saja?” jawaban Philemon jelas membuat kecurigaan Kharon semakin besar.


Kharon mempersilakan Philemon untuk lebih dahulu keluar dari gubuk. Lantas ia mengikuti dari belakang.